NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Luka Lama

"Apa?" tanya Nadhira.

Rayhan tidak melepaskan tangannya.

"Kamu sudah tahu potongan-potongannya. Bu Sri meninggalkan saya saat lima tahun. Dini berselingkuh dan meninggal dalam kecelakaan. Tapi saya belum pernah menghubungkan semuanya di depan siapa pun."

Nadhira menunggu.

"Kalau malam ini terlalu berat, kita bisa lanjut besok."

"Tidak. Kalau saya berhenti, saya mungkin kembali menyimpannya sebagai alasan untuk menjaga jarak."

Rayhan menatap taman yang gelap.

Setelah Bu Sri pergi, ayahnya menyerahkan banyak pengasuhan sehari-hari kepada seorang rekan bisnis yang tinggal tidak jauh. Rumah itu menyediakan sekolah, makanan, dan aturan. Tidak ada kekerasan, tetapi juga tidak ada orang yang bertanya mengapa seorang anak duduk dekat gerbang setiap sore.

"Ayah saya mengira menyediakan biaya berarti semua kebutuhan selesai," katanya. "Orang yang mengasuh saya baik, tapi saya tetap anak titipan. Saya belajar tidak meminta dijemput, tidak sakit saat ada rapat, dan tidak membuat diri terlalu sulit dirawat."

"Karena takut dikembalikan?"

"Karena takut dianggap beban."

Nadhira merasakan genggamannya mengencang tipis.

"Bu Sri datang lagi beberapa tahun kemudian," lanjut Rayhan. "Dia membawa dua anak dari keluarga barunya. Dia ingin saya memanggil mereka adik dan bertindak seolah jeda itu tidak pernah ada. Ketika saya menolak, dia menangis dan mengatakan saya menghukum ibu sendiri."

"Jadi kamu memotong semuanya."

"Iya. Lebih mudah menganggap saya tidak punya ibu daripada terus berharap ia memilih saya setelah punya keluarga lain."

Rayhan menunduk. "Dini datang ketika saya sudah dewasa dan mengerti pernikahan sebagai susunan tanggung jawab. Dia menyukai status, jaringan, dan rumah yang bisa saya beri. Saya tahu itu, tapi saya pikir kejelasan kepentingan lebih aman daripada membutuhkan cinta."

"Lalu Arkan lahir."

"Saya mengira anak membuat kami menjadi keluarga."

Nadhira sudah mengetahui perselingkuhan dan kecelakaan. Rayhan tidak mengulang bukti, rute mobil, atau pesan terakhir. Ia memberi tahu bagian yang dulu disembunyikan di balik fakta.

"Saat tahu Dini ingin pergi dengan laki-laki itu, saya tidak hanya marah karena dikhianati. Saya malu karena ternyata saya kembali menunggu orang yang sudah memilih rumah lain. Ketika telepon terakhirnya masuk, saya sengaja tidak menjawab. Setelah dia meninggal, saya menghukum diri dengan pikiran bahwa satu panggilan mungkin mengubah rute mereka."

"Polisi sudah membuktikan kamu bukan penyebab kecelakaan."

"Pengetahuan tidak selalu menghentikan rasa bersalah."

"Tidak. Tapi rasa bersalah juga tidak boleh memalsukan tanggung jawab. Kamu tidak mengemudi, tidak menyuruh mereka pergi, dan tidak tahu kecelakaan akan terjadi."

Rayhan menatapnya.

"Kamu tidak perlu membela saya."

"Saya tidak membela. Saya mengembalikan peristiwa kepada orang yang melakukan. Sama seperti ketika orang bertanya kenapa saya tidak pergi lebih cepat."

Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengar air kolam.

"Itu sebabnya saya menawarkan pernikahan dengan batas," kata Rayhan. "Saya pikir kalau tidak meminta apa-apa, saya tidak akan takut kehilangan. Kalau semua bisa ditulis, tidak ada yang bisa mengkhianati hal yang tidak pernah dijanjikan."

"Tapi kamu tetap takut saya pergi."

"Setiap hari."

Jawaban jujur itu membuat dada Nadhira nyeri.

Ia menarik tangannya sebentar, bukan untuk menjauh, melainkan membalik telapak Rayhan ke atas. Ada bekas tipis serbuk kayu di garis jarinya yang belum sepenuhnya hilang.

"Ibu kandung saya meninggal ketika saya masih terlalu muda untuk mengerti mengapa rumah berubah setelah pemakaman," kata Nadhira. "Ketika Bu Parti masuk, saya belajar bahwa kebutuhan saya selalu datang setelah suasana hatinya."

Ia tidak menyusun daftar seluruh luka. Ia hanya menceritakan bagaimana langkah kaki Suparti di lorong membuat tangannya otomatis menyembunyikan benda yang disukai, bagaimana Pak Darmo memakai kata biaya sekolah untuk mengingatkan bahwa anak perempuan bisa menjadi utang, dan bagaimana ia tumbuh dengan kebiasaan meminta maaf sebelum tahu kesalahannya.

"Nita masih kecil di rumah itu," katanya. "Saya sering mencoba membuat Pak Darmo tidak marah supaya dia tidak ikut kena. Setelah saya menikah dengan Hendra, saya pikir sudah keluar."

"Hendra menyakitimu?"

Nadhira menimbang jawabannya. "Dia tidak seperti Bu Sumini atau Agus. Dia juga tidak cukup berani menghentikan mereka. Ketika hidup, ia sering menyerahkan masalah rumah kepada ibunya. Setelah meninggal, tidak ada lagi orang yang bahkan bisa saya minta berdiri di tengah."

Rayhan tidak menjelekkan orang mati untuk membuat dirinya tampak lebih baik.

"Kamu sudah keluar dari dua rumah dan masih berani membangun yang ketiga," katanya.

"Saya belum tahu apakah saya membangun atau hanya menumpang di rumahmu."

"Rumah kita."

"Kata-kata itu mudah."

"Kalau begitu lihat tindakannya. Namamu ada dalam keputusan rumah. Kartu aksesmu tidak bergantung pada saya. Pendidikanmu tidak bergantung pada kepatuhan. Kalau kita bertengkar, tidak ada yang boleh mengancam tempat tinggal anak."

Nadhira mengangguk pelan. Itu bukan janji bahwa mereka tidak akan saling melukai. Itu mekanisme agar cinta tidak berubah menjadi alat kuasa.

"Saya juga perlu belajar," katanya. "Saya tidak boleh memakai pengalaman lama untuk menganggap setiap perlindungan adalah penjara atau setiap diam berarti akan ditinggalkan. Tapi kalau saya takut, saya akan mengatakannya."

"Saya akan mendengar sebelum mengatur."

Rayhan juga tidak meminta Nadhira memaafkan Bu Sri untuknya, dan Nadhira tidak menyuruh Rayhan membuka pintu hanya karena perempuan itu ibu kandung. Mereka boleh menentukan jarak berbeda dengan keluarga masing-masing. Dukungan pasangan berarti menjaga pilihan tersebut, bukan memakai luka sendiri sebagai ukuran keputusan orang lain.

"Kalau suatu hari kamu ingin bertemu Bu Sri, saya ikut kalau diminta," kata Nadhira. "Kalau tidak, saya tidak akan mengatur pertemuan diam-diam."

"Dan kalau Nita meminta keluar dari rumah Pak Darmo, kita membantu sesuai pilihannya. Bukan menukar satu pengendali dengan pengendali lain."

"Dan saya akan bertanya sebelum percaya pada foto anonim."

"Kesepakatan yang sangat spesifik."

Nadhira tersenyum. "Kita punya keluarga yang membutuhkan aturan spesifik."

Rayhan mengambil napas panjang. "Ada satu hal lagi."

"Masih ada rahasia?"

"Bukan rahasia. Perjanjian kita."

Ia tidak menyebut akad mereka palsu. Pernikahan itu sah sejak hari di masjid dan tercatat di KUA. Yang mereka sebut kontrak adalah kesepakatan pribadi tentang kamar, harta, pengasuhan, serta kebebasan untuk keluar melalui prosedur hukum.

"Saya tidak mau menghapus pemisahan harta, hakmu bekerja, hak Alif, atau jalan hukum kalau hubungan menjadi tidak aman," kata Rayhan. "Semua itu tetap."

"Kamar terpisah?"

"Tidak lagi sebagai kewajiban. Hanya pilihan ketika salah satu membutuhkan ruang."

"Dan tidak ada yang menganggap kedekatan malam ini sebagai izin untuk besok."

"Setiap kali tetap pilihan."

Mereka sepakat akan membaca perubahan bersama notaris, bukan merobek dokumen dalam ledakan emosi. Perlindungan tetap ada. Yang diubah adalah anggapan bahwa pernikahan mereka hanya tempat singgah sampai ancaman selesai.

Rayhan mengusap punggung tangan Nadhira dengan ibu jari.

"Jadi, kontrak ini... kamu mau kita ubah?"

"Ubah jadi apa?"

Rayhan menatapnya tanpa berlindung di balik nada datar.

"Jadi nyata."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!