NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Intrik Kopi Pagi

Sisa-sisa embun subuh yang dingin di kawasan Tambora berangsur-angsur menguap, digantikan oleh berkas sinar matahari pagi yang mulai memapar jalinan kabel listrik semrawut di atas gang. Di sudut arteri pangkalan ojek online legendaris "PODOMORO", aroma gurih dari uap nasi uduk hangat dan pekatnya seduhan kopi hitam dari Warkop Mbak Sri menguar kuat ke udara, berpadu dengan kepulan asap rokok kretek dari beberapa driver senior yang sedang duduk selonjoran. Namun, pemandangan pangkalan tanah kosong beratapkan seng berkarat itu kini telah berubah total berkat intervensi dana gaib para dewi ibu kota. Sebuah shelter kaca premium berdesain minimalis modern dengan mesin pendingin ruangan (AC) yang menyala sejuk berdiri tegak di sana, menciptakan kontras kosmik yang sangat tidak masuk akal di tengah kumuhnya kawasan padat penduduk Jakarta Barat.

Di dalam shelter ber-AC tersebut, Bang Jay dan Dedi "Gacor" sedang duduk di atas sofa kulit hitam yang super empuk. Kedua pasang mata mereka tidak berkedip menatap layar ponsel pintarnya masing-masing yang menampilkan grafik performa harian yang masih stagnan. Sesekali, mereka menyeruput kopi di dalam gelas kaca tebal yang diletakkan di atas meja kayu solid bergaya industrial. Di luar shelter, Mbak Sri sibuk mengelap permukaan meja kayu warungnya menggunakan selembar kain pel basah dengan gerakan yang sedikit menghentak, menandakan suasana hatinya yang sejak subuh tadi tidak sepenuhnya tenang. Wanita pemilik warkop bersahaja itu berulang kali melirik ke arah ujung gang, menanti kepulangan satu-satunya motor bebek tua yang selalu berhasil menggetarkan batinnya.

Tepat pukul 06.15 WIB, suara deru silinder tunggal yang sangat khas memecah keriuhan gang Tambora. Mesin Honda Supra Fit tahun 2006 itu berbunyi dengan ketukan yang begitu presisi, stabil, dan luar biasa halus—sebuah bukti tak terbantahkan dari sisa-sisa energi Sistem Godjek yang semalam baru saja membimbing motor legenda tersebut melintasi aspal elitis Kebayoran Baru. Rantai rodanya yang biasanya mengeluarkan bunyi derit murah seharga sepuluh ribu rupiah kini seolah terbungkus oleh lapisan pelumas gaib tak kasat mata.

Begitu roda depan motor bebek itu menggilas tanah berdebu di depan pangkalan, sosok pengemudinya langsung merebut seluruh atensi visual yang ada di tempat tersebut. Arya Prasetya menurunkan standar samping motor tuanya dengan satu sentakan kaki yang mantap dan presisi. Pria itu melepaskan helm INK butut penuh goresan miliknya dengan gerakan perlahan yang terkesan sangat dramatis. Rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan jatuh dengan estetika tinggi di atas dahinya. Garis rahangnya yang kokoh, tatapan sepasang mata elangnya yang tajam namun meneduhkan, serta postur tubuh bidangnya yang dibalut sempurna oleh jaket premium Anti-Gosong Indestructible berwarna hijau-perak memancarkan karisma setingkat aktor drama Korea papan atas yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata.

Namun, bukan kontras visual itu yang membuat Bang Jay dan Dedi mendadak menghentikan aktivitas mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih aneh, gila, dan melanggar hukum alam bawah sadar seorang driver ojol Tambora yang sedang terpampang nyata di wajah Arya.

Pria yang biasanya berwajah lempeng, dingin, dan selalu mengeluhkan tagihan beras ibunya itu kini turun dari motor dengan wajah yang luar biasa sumeringah. Bibirnya yang tipis dan maskulin tampak melengkung membentuk senyuman manis yang konstan tanpa alasan yang jelas. Sepanjang melangkah menuju warkop, Arya sesekali menyentuh bibir bawahnya menggunakan ibu jari kanan dengan pandangan mata yang menerawang kosong ke langit-langit, seolah jiwanya masih tertinggal di sebuah gerbang besi menjulang tinggi di kawasan Kebayoran Baru pasca-insiden ciuman lembut yang penuh gairah dari Alya Nindita.

"Astaga naga... Dedi, lu lihat apa yang gua lihat gak?" bisik Bang Jay dengan mata melotot sempurna hingga rokok kretek yang baru dinyalakannya hampir jatuh dari bibir bawahnya yang agak maju. Pria senior berambut putih setengah itu langsung bangkit dari sofa empuknya, menempelkan wajahnya ke dinding kaca shelter modern.

"Gua lihat, Bang! Gua gak katarak!" sahut Dedi "Gacor" dengan ekspresi tidak percaya yang sama hebohnya, ikut berdiri di samping Bang Jay. "Itu si Arya... dia senyum-senyum sendiri kayak orang abis nemu duit cepek ceng di bawah karpet masjid. Mana bibirnya diusap-usap mulu lagi! Ini tidak bisa dibiarkan, Bang. Ini adalah sebuah anomali navigasi asmara tingkat tinggi!"

Di dalam kepalanya, Arya sebenarnya sedang mengalami krisis eksistensial dan perang batin yang luar biasa meronta-ronta. Logika kewarasannya sebagai seorang pekerja mandiri yang mengutamakan ulasan Bintang 5 benar-benar telah diguncang hebat oleh peristiwa subuh tadi.

Ya Allah... monolog Arya di dalam batinnya yang terdalam sembari meraba saku jaket premiumnya yang berisi God-Phone gaib. Tadi itu beneran Nona Alya nyium gua? Di bibir? Lembut banget lagi... baunya wangi stroberi campur mint yang bikin merinding sampai ke tulang ekor. Tapi tunggu dulu, sistem kenapa gak ngasih peringatan pelanggaran kode etik operasional ojol ya? Apa adegan intens begitu emang dihitung sebagai bagian dari bonus kepuasan pelanggan kasta atas? Aduh, kalau diingat-ingat lagi, jantung gua rasanya mau copot dari dudukannya! Padahal gua cuma pengen narik ojol dengan tenang dan damai demi beli beras grosir buat Ibu! Kenapa malah keperjakaan bibir gua yang jadi korban taktik darurat ini?!

"Woy! Ganteng Tambora!" teriak Bang Jay langsung melangkah keluar dari shelter kaca ber-AC, memecah monolog batin Arya dengan suara cemprengnya yang sangat mengintimidasi nurani. "Sini lu! Gak usah sok-sokan jalan tegap kayak model Paris kalau muka lu udah kelihatan kayak cucian basah yang kelamaan dijemur! Sini!"

Arya tersentak dari lamunannya, buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin demi mempertahankan wibawa maskulin alaminya sebagai seorang pria sejati. "Eh, Bang Jay, Dedi... ada apa? Ini tumben subuh-subuh udah pada stand by di luar? Akun kalian pada anyep ya?" tanya Arya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan nada suara yang berat dan tenang.

"Halah! Gak usah mengalihkan rute navigasi lu, Arya Prasetya!" Dedi mendekat, mengitari tubuh Arya dengan pandangan mata seorang detektif kepolisian yang sedang memeriksa tempat kejadian perkara. "Lu gak bisa bohongin indra penglihatan gua yang sudah terlatih melihat kerlingan mata penumpang wanita selama sepuluh tahun di jalanan! Coba lihat muka lu... sumeringah banget! Senyum-senyum sendiri, mata agak sayu-sayu bahagia, terus itu tangan lu kenapa dari tadi megangin bibir mulu? Lu abis kena tilang polisi apa abis kena tilang asmara, hah?!"

Mbak Sri yang sedang berada di balik etalase warkop langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang menuangkan air panas ke dalam gelas kopi. Telinganya mendadak tegak setinggi lima centimeter mendengar kata 'asmara'. Wanita itu menatap Arya dengan pandangan mata yang menuntut penjelasan, dadanya yang dibalut kaos ketat tampak naik turun menahan luapan cemburu yang mulai membakar batin bersahajanya. "Iya, Arya... tumben banget mukanya cerah begitu. Biasanya kan kalau pulang narik subuh mukanya lecek kayak kanebo kering. Abis dapet penumpang model gimana sih semalam?" tanya Mbak Sri dengan nada suara yang diusahakan sehalus mungkin, meski ada getaran ketegangan yang pekat di dalamnya.

Arya menggaruk kepalanya yang tidak gatal menggunakan tangan kanannya yang bebas, merasa benteng pertahanannya mulai goyah akibat kepungan pertanyaan dari lingkaran pertemanannya yang sangat tidak tahu diri ini. "Aduh, Mbak Sri, Bang Jay... gak ada apa-apa kok. Ini murni karena performa harian saya subuh ini sangat stabil 100 persen. Notifikasi misinya selesai dengan evaluasi sempurna dari Sistem... eh, maksudnya dari aplikasi ojol saya," jawab Arya dengan keluguan tingkat tinggi yang sama sekali tidak peka terhadap situasi romantis di sekitarnya.

"Halah! Bohong! Kalau cuma urusan performa stabil mah lu paling cuma ngangguk-ngangguk doang sambil ngitungin duit di dompet!" Bang Jay langsung merangkul pundak Arya yang tegap dengan paksa, menarik sang driver tampan untuk duduk di bangku panjang kayu depan warkop Mbak Sri. "Ayo cerita! Jangan sampai gua panggil anak-anak pangkalan sebelah buat interogasi lu pake kuah soto tangkar yang masih mendidih! Lu abis diapain sama cewek kaya yang semalam lu antar? Jangan-jangan... lu abis di-unboxing ya?!"

"Hah?! Di-unboxing?!" Arya terbelalak, wajah ketampanannya mendadak merona merah sehangat kepiting rebus akibat keluguan moralnya yang masih sangat suci dalam urusan cinta. "Ngomong apa sih, Bang Jay! Gak ada yang di-unboxing! Saya ini pria sejati, menjaga kehormatan profesi pekerja mandiri di aspal jalanan! Nona Alya itu... dia cuma... cuma..." Arya mendadak menghentikan kalimatnya, menyadari bahwa ia hampir saja membocorkan rahasia intensitas bibirnya ke publik Tambora.

"Cuma apa?! Ayo lanjutin rutenya, jangan diputus di tengah jalan kayak koneksi internet provider murah!" Dedi makin bersemangat, ikut duduk di sebelah Arya dengan mata yang berbinar penuh intrik komedi. "Cuma apa, Ya? Dia meluk lu dari belakang erat-erat? Atau... dia ngajak lu mampir ke kamarnya yang pakai AC sentral?!"

Mbak Sri yang mendengar kata 'Nona Alya' langsung meletakkan gelas kopi di atas meja dengan bunyi KRAK! yang cukup keras, membuat Bang Jay dan Dedi agak tersentak. "Oh, jadi yang diantar semalam itu mahasiswi kedokteran yang cantik itu ya? Yang rumahnya di Kebayoran Baru yang pagarnya setinggi rumah susun Tambora?" ketus Mbak Sri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, memancarkan aura cemburu yang kian membara. "Pantesan betah banget di jalan... pulangnya bawa senyuman misterius lagi."

Arya merasa suhu di sekitar warkop mendadak melonjak drastis mengalahkan panasnya mesin Supra Fit miliknya. "Bukan begitu, Mbak Sri... semalam itu situasinya bener-bener darurat ganda. Nona Alya sama Nona Tiara si atlet nasional itu sempat terjebak masalah di Senayan. Sebagai mitra ojol yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan penumpang, saya cuma menjalankan tugas navigasi takdir dengan sebaik-baiknya," jelas Arya dengan nada polos tanpa dosa, mencoba mengembalikan segalanya ke ranah profesionalisme kerja.

"Halah, alasan klasiknya driver ganteng mah begitu!" Bang Jay tertawa terbahak-bahak hingga perutnya yang sedikit buncit bergoyang heboh, diikuti oleh tawa Dedi yang menggelegar mengocok perut seisi pangkalan. "Arya, Arya... lu tuh muka doang kayak aktor drakor papan atas yang siap beli gedung SCBD, tapi urusan cewek lu masih polos banget kayak kertas buram pembungkus gorengan! Muka lu gak bisa bohong, Ya! Tadi lu megangin bibir mulu... jujur sama gua, lu abis dicipok kan sama dia?!"

DEG! Pertanyaan telak dari Bang Jay langsung menghantam telinga Arya bagaikan hantaman shockbreaker mati saat melindas polisi tidur tanpa direm. Arya ternganga, matanya melotot menatap Bang Jay dengan ekspresi kaget yang luar biasa konyol. Keluguannya yang murni tanpa manipulasi sistem membuat rahasia besar itu langsung terbaca dengan sangat mudah oleh kedua seniornya.

"ANJIRAAANNN!! BENERAN DONG LU ABIS DICIPOK!! Hahahahaha!" Dedi "Gacor" langsung memukul-mukul meja kayu warkop dengan heboh, tawanya pecah memenuhi seluruh area pangkalan Podomoro hingga beberapa driver lain yang sedang selonjoran ikut menoleh sambil ikut tertawa tanpa tahu masalahnya. "Gila lu, Arya! Supir ojol gang sempit Tambora berhasil menaklukan bibir bidadari kasta tertinggi Kebayoran Baru! Ini rekor baru dalam sejarah per-ojolan duniawi, Bang Jay!"

"Hahaha! Mantap bener anak didik gua yang satu ini!" Bang Jay menepuk-nepuk punggung Arya dengan keras hingga jaket premiumnya mengeluarkan bunyi kilau satin yang halus. "Gimana rasanya, Ya? Empuk gak? Wangi gak? Atau lu langsung lemes sampai lupa cara mindahin gigi motor Supra lu?!"

Wajah Arya kini benar-benar sudah merah padam sampai ke daun telinganya. Kepekaan asmaranya yang sangat rendah membuatnya tidak tahu harus merespons komedi slow-burn ini dengan cara apa lagi. "Bang Jay! Dedi! Kecilin suaranya! Takutnya Ibu saya di rumah keburu dengar, nanti dikira saya dapet duit tambahan dari jalur yang gak halal!" seru Arya dengan nada panik di dalam hati, namun di luar ia tetap berusaha tegak mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang sudah ambyar ke kerak bumi. "Itu... itu murni ucapan terima kasih yang tertunda dari Nona Alya karena saya pernah menyelamatkan nyawanya waktu tawuran warga dulu! Gak ada maksud apa-apa lagi! Sumpah, saya cuma diam doang tadi, dia yang tiba-tiba menunjuk ke arah belakang saya terus langsung cium..."

"Hahahahaha! Modus klasik penumpangan VVIP itu mah, Arya polosku sayang!" Bang Jay makin terpingkal-pingkal mendengar penjelasan jujur nan lugu dari Arya yang malah semakin membuka kartu rahasianya sendiri. "Dia menjahili lu pake taktik tipuan spion, lu nengok, pas balik badan langsung disikat! Aduh, gua gak kuat... perut gua mules banget ketawa subuh-subuh gini! Lu bener-bener pendekar aspal yang tak berdaya di depan wanita populer, Ya!"

Sementara Bang Jay dan Dedi terus tertawa terbahak-bahak menikmati keluguan Arya yang sangat menghibur nurani pekerja mandiri, Mbak Sri di balik etalase warkop hanya bisa mengembuskan napas panjang dengan wajah yang ditekuk sedalam-dalamnya. Wanita itu memotong pisang goreng di atas talenan dengan kecepatan tinggi dan bunyi dentuman yang cukup intimidatif. Sialan... batin Mbak Sri dengan perasaan cemburu yang kian membuncah hingga dadanya terasa sesak. Si mahasiswi kedokteran itu bener-bener agresif banget! Berani-beraninya dia ngambil ciuman pertama Arya di depan gerbang mewahnya! Padahal gua yang tiap hari bikinin kopi item penuh cinta buat Arya aja belum pernah sedekat itu! Awas ya lu, Arya... besok-besok kopi lu gua kasih garem biar lu tahu gimana asinnya rasa cemburu seorang wanita pangkalan!

Arya yang melihat reaksi Mbak Sri hanya bisa menggaruk kepalanya lagi dengan pasrah, bergumam dalam hati dengan tingkat ketidakpekaan asmaranya yang legendaris. Ini Mbak Sri kenapa motong pisang gorengnya heboh banget ya? Apa pisangnya agak keras atau talenannya yang emang udah lapuk dimakan usia? Ah lupakan dulu. Yang jelas gua harus segera menyelamatkan diri dari terkaman komedi dua senior gua ini sebelum akun Godjek gua mendadak kena suspend sistem gara-gara terlalu banyak tertawa di jam operasional subuh.

Arya segera bangkit dari duduknya, membetulkan letak helm INK bututnya dengan gerakan yang sangat mantap dan penuh wibawa maskulin yang alami untuk memimpin navigasi takdirnya kembali.

"Sudah, sudah, Bang Jay, Dedi," kata Arya akhirnya dengan nada suara yang kembali tenang namun penuh penekanan emosional yang kuat. "Karena tugas darurat saya sudah selesai dan performa harian saya subuh ini harus tetap stabil 100 persen, saya mohon izin untuk melanjutkan pencarian orderan pertama reguler hari ini. Takutnya Ibu saya di rumah keburu nungguin beras di pasar grosir buat jualan nasi timbel nanti siang. Mari kita kembali fokus narik, performa pangkalan kita harus tetap stabil!"

Tanpa menunggu balapan kata-kata atau godaan lebih lanjut dari Bang Jay dan Dedi yang masih menyeka air mata akibat terlalu banyak tertawa, Arya segera menyalakan kembali mesin Supra Fit-nya yang menderu halus berkat modifikasi gaib sistem.

TING-TONG! Di dalam saku jaket premiumnya, God-Phone 13 Pro Max bergetar lembut memancarkan warna hijau cerah yang sangat menyegarkan batin pekerja keras. Notifikasi sistem baru berkedip di layar holografis transparan: [EVALUASI BASECAMP SELESAI!] Tingkat Keharmonisan Pangkalan: 100% (Komedi Slow-Burn Berhasil Menjaga Stabilitas Mental Driver). Poin God-Pay Tambahan: +50.000 Poin. Status Hubungan Terbuka: Aliansi Pangkalan Podomoro Tingkat 2 Aktif.

Dengan satu tarikan gas yang presisi dan mantap, Arya memacu motor bebek tuanya membelah jalanan gang Tambora yang kian benderang oleh sinar matahari pagi, meninggalkan riuh rendah candaan pangkalan dan intrik cemburu Mbak Sri di belakangnya. Di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah komitmen jangka panjang sebagai seorang pria sejati telah terkunci rapat, bersiap untuk menavigasi pusaran takdir asmara baru para dewi ibu kota yang dipastikan akan semakin absurd, rumit, dan membakar aspal Jakarta!

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!