Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Pratama Group Bangkrut
Tiga hari setelah pesta Oma, angka merah memenuhi layar ruang rapat Pratama Group.
Saham anak perusahaan utama menyentuh batas penurunan harian dua kali sebelum Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan. Angka di bursa belum bisa turun sembilan puluh persen dalam tiga sesi, tetapi penilaian gabungan seluruh grup bisa.
Bank menilai ulang saham yang dijadikan jaminan. Dua fasilitas kredit dibekukan. Pemasok meminta pembayaran tunai sebelum mengirim barang. Tujuh klien besar menghentikan kontrak berdasarkan klausul risiko hukum dan reputasi.
Penilai independen memperhitungkan kehilangan kontrak, utang yang dipercepat, aset yang disita pajak, dan saham yang tak bisa diperdagangkan. Dalam tiga hari, nilai wajar Pratama Group turun hampir sembilan puluh persen dari laporan terakhir.
Pada hari pertama, bursa meminta keterbukaan informasi mengenai penyelidikan internal dan transaksi rumah sakit. Pada hari kedua, auditor menolak mengesahkan laporan lama sebelum aliran dana lapas dijelaskan. Pada hari ketiga, rapat kreditor menyatakan beberapa pinjaman melanggar syarat kepatuhan.
Perdagangan saham yang dihentikan tidak berarti kerugian lenyap. Justru tidak ada harga pasar yang bisa dipakai untuk memenuhi margin jaminan. Bank memakai penilaian konservatif, lalu meminta tambahan aset yang sudah tidak dimiliki perusahaan.
Tidak ada satu surat pun dari Hartono yang memaksa klien pergi.
Mereka melihat sendiri berita Evelyn, KK tanpa nama Keira, nol kunjungan ke lapas, Vanessa yang merusak karya Rp 30 miliar, dan penyelidikan terhadap penggunaan uang perusahaan. Tidak ada dewan direksi yang ingin menjelaskan kepada pemegang saham mengapa mereka tetap terikat dengan keluarga tersebut.
Sekretaris Nia membagikan laporan arus kas.
"Dana gaji untuk satu bulan sudah dipisahkan ke rekening yang membutuhkan dua tanda tangan direktur independen," katanya. "Setelah itu, kas operasional tidak cukup jika bank meminta pelunasan dipercepat."
Edmond duduk di ujung meja dengan tungkai kanan berbalut gips. Ia meraih gelas dan melemparkannya ke layar. Kaca pecah di lantai.
"Hubungi semua bank lagi! Tawarkan gedung pusat sebagai jaminan!"
"Gedung pusat sudah menjadi jaminan fasilitas pertama," jawab Nia.
"Jual lahan Jakarta Timur."
"Kepemilikannya dibekukan karena audit sumber dana."
Edmond menyapu map dari meja. "Kalian semua dibayar keluarga Pratama. Lakukan sesuatu!"
Para direktur tidak bergerak. Dua orang telah menyerahkan pengunduran diri. Yang lain menunggu keputusan kreditor.
Kevin masuk dengan tongkat bantu dan perban di kedua lutut. Ia meletakkan tiga dokumen di meja: pernyataan koreksi kesaksian yang sudah dinotariskan, pengunduran diri dari seluruh jabatan Pratama Group, dan pelepasan hak suara yang berasal dari perjanjian keluarga.
"Aku sudah mengirim pernyataan koreksi kepada penyidik dan pengadilan," katanya. "Nama Lucas dan Papa tercantum sebagai pihak yang menyusun serta meminta tanda tanganku."
Edmond memucat. "Cabut sekarang."
"Tidak."
"Kalau pernyataan itu masuk berkas, bukan hanya Papa yang jatuh. Kamu bisa dituntut karena kesaksian palsu."
"Aku akan menjawab bagian yang kulakukan."
Yolanda berada di kursi roda dengan tungkai kiri digips. Ia mendorong roda mendekati Kevin, lalu turun dengan bantuan meja. Satu lutut menyentuh karpet sementara kaki yang patah tetap lurus.
"Kev, tolong kami," katanya. "Kalau perusahaan hancur, kita semua tidak punya apa-apa. Mama tahu kami salah kepada Kei. Mama akan minta maaf lagi."
"Mama meminta maaf karena bank menarik kredit, bukan karena Kei kehilangan lima tahun."
"Kamu kakaknya. Selamatkan dulu perusahaan, setelah itu kamu bisa membela dia."
"Membela dia setelah menyelamatkan sistem yang menghapus buktinya hanya mengulang hal yang sama."
Edmond menghantam meja. "Pratama Group adalah warisanmu!"
Kevin melepas kartu akses direksi dan meletakkannya di atas surat pengunduran diri.
"Papa sendiri yang berbuat dosa, Papa sendiri yang menanggung."
Ia tidak mengambil kendaraan perusahaan, saham tambahan, atau kantor. Tabungan pribadinya yang dapat dibuktikan berasal dari gaji akan menjadi modal awal. Ia berencana membangun usaha konsultasi kecil setelah kewajiban hukum dan pemeriksaan kesehatannya selesai.
Sebelum keluar, Kevin menyerahkan satu usul terakhir kepada direksi independen: dana gaji diprioritaskan sebelum bonus pemilik, asuransi kesehatan pegawai tetap dibayar selama restrukturisasi, dan tidak ada pemutusan massal tanpa perundingan. Ia melepaskan hak atas bonus tahun berjalan agar kasnya masuk ke rekening gaji.
"Aku tidak akan menyelamatkan kendali Papa," katanya. "Tapi pegawai tidak boleh dijadikan sandera agar aku kembali."
Tiga direktur menandatangani penerimaan usul tersebut. Hasil akhirnya tetap bergantung kreditor, namun perlindungan itu memberi waktu bagi pekerja untuk mencari pilihan lain.
"Aku mulai dari nol," katanya. "Tanpa memakai nama Kei sebagai cerita pemasaran."
Sekretaris Nia menutup tablet dan berdiri di belakangnya.
"Kamu ikut dia?" tanya Edmond.
"Kontrak saya berakhir hari ini," jawab Nia. "Seluruh dokumen audit sudah disalin sesuai hukum. Saya tidak membawa rahasia dagang, hanya bukti yang wajib dipertahankan."
Kevin dan Nia keluar bersama.
Di lift, Kevin menahan napas saat pintu tertutup. Tidak ada rasa menang. Ia kehilangan jabatan yang membentuk seluruh hidup dewasanya. Namun untuk pertama kalinya, keputusan ayahnya tidak menentukan arah berikutnya.
Sore itu, petugas menyegel garasi rumah Pondok Indah. Dua mobil mewah menjadi jaminan pajak. Staf rumah yang gajinya tertunggak memilih pulang. Karya seni dan perhiasan yang dibeli melalui perusahaan dicatat satu per satu.
Vanessa tiba dengan kendaraan sewaan.
Pengadilan kembali menangguhkan penahanannya selama penyidikan dengan gelang elektronik, wajib lapor, dan larangan mendekati Evelyn maupun Keira. Pengacaranya mengajukan jaminan tambahan sebelum kartu Jessica dibekukan. Kebebasan itu sempit, tetapi cukup untuk membawanya pulang.
Ia berdiri di depan rumah yang gelap. Kepala gundulnya tertutup syal. Tidak ada pelayan membuka pintu. Di dalam, bekas-bekas lukisan meninggalkan kotak pucat pada dinding.
Kartu akses garasi tidak bekerja. Lemari pakaian Vanessa masih penuh, tetapi tas dan jam tangan yang dibeli melalui akun perusahaan sudah diberi stiker inventaris. Ponselnya menerima tiga notifikasi: kartu tambahan dibekukan, biaya apartemen jatuh tempo, dan sekolah bisnis menangguhkan status alumni kehormatannya.
Di meja foyer, sebuah surat dari pengacara menyatakan rumah Pondok Indah masuk daftar aset restrukturisasi. Keluarga belum diusir, tetapi tidak lagi bebas menjual atau menjadikannya jaminan baru.
Vanessa berjongkok di anak tangga.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya apa yang tersisa jika nama Pratama tidak lagi membuka pintu. Ia telah memilih kebohongan berulang kali, dan setiap pilihan memotong satu jalan pulang.
Pikiran itu bertahan kurang dari satu menit.
Vanessa mengeluarkan ponsel dan menelepon Daniel.
"Ko Daniel, aku butuh bantuanmu."
Daniel mendengarkan tanpa berjanji. Setelah panggilan berakhir, ia membuka laci meja di sebuah ruang kerja yang tidak diketahui Vanessa.
Di dalamnya ada satu map.
`Laporan Tes DNA: Vanessa Pratama.`
Daniel membaca dua baris kecocokan biologis. Probabilitas hubungan Vanessa dengan Edmond Pratama nol persen. Hasil terhadap Yolanda Pratama juga menyingkirkan hubungan ibu dan anak.
Laporan itu belum menyebut siapa orang tua sebenarnya. Namun cukup untuk membuktikan Vanessa bukan putri biologis siapa pun di rumah yang baru saja kehilangan seluruh kekuasaannya.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jadi... ternyata kamu juga bukan orang Pratama."