Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Virgin
Virgin
Sebulan sebelum kelulusan....
“Aku minta maaf. Tapi sebaiknya kita saling menjauh, Rud.”
“Karena Om Jordy?”
“Karena aku. Aku ingin menjaga perasaannya.”
“Jona, kita teman satu sekolah. Gimana bisa kita saling menjauh?”
“Pasti bisa. Aku sangat berterima kasih atas semua kebaikanmu, Rud.”
“Tapi aku nggak bisa.”
“Pasti bisa, bantulah aku.”
“Nggak bisa, Jona.”
“Kenapa?”
“Karena aku … suka sama kamu.”
*
Jona turun di sebuah deretan rukan baru yang belum semuanya berpenghuni. Dia melihat mobil Honda milik kekasihnya dan segera tahu ke mana harus melangkah. Jordy tampak sedang mengerjakan sesuatu ketika menyadari kehadiran pacarnya.
“Tunggu sebentar ya, duduk dulu,” pintanya. Jona mengamati ruangan yang masih beraroma cat baru. Mereka bisa melihat keluar dengan jelas dari dinding depan yang terbuat dari kaca.
“Kamu di sini sendiri?” tanyanya.
“Sementara.”
“Oh.”
“Mulai pekan depan akan ada rekan-rekan baru.”
“Bagus.”
Jordy bangkit dari meja kerjanya lalu duduk di sebelah Jona. Tempat mereka berada sekarang tidak begitu jauh dari rumah Jordy, karena masih ada dalam satu kawasan perumahan. Jordy melangkah ke bagian belakang diikuti oleh Jona. Mereka berhenti di depan sebuah meja di balik partisi.
Jordy memegang kedua bahu Jona.
“Maaf ya, seharusnya tadi aku menjemputmu.”
“Nggak masalah.”
“Ada hal penting yang harus aku katakan.”
“Apa itu?”
“Menikahlah denganku, Jona.” Tanpa menunggu persetujuan, Jordy memasangkan sebuah cincin emas polos seberat 3.3gram. Cincin pilihan Jordy tidak memuat batu hiasan apapun, polos seperti cintanya.
“Ini aku yang pilih. Kuharap kamu suka.” Jona belum dapat mengatakan apapun, dia hampir saja menangis saking bahagianya.
“Lagipula, ini tidak akan meyangkut di rambut indahmu.” Jordy membelai rambut sang kekasih, menunduk untuk menatap mata indahnya menyelidiki setiap mili wajah rupawan itu. Dengan penuh harapan dan keyakinan, Jordy menatap dalam jauh ke dalam mata Jona.
“Menikahlah denganku, Sayang,” pintanya lagi tak memberikan kesempatan untuk menjawab tidak. Itu bukan seperti pertanyaan apakah kamu mau atau tidak. Jona mendorong ayah Livi sehingga dia berada di tepi meja. Mereka berpelukan erat.
“Ya, tentu. Aku mau.”
Wajah keduanya bertemu. Dengan hati-hati Jordy ******* bibir merona kekasihnya. Jona mendongak ketika merasakan tangan kekar Jordy di pinggangnya. Lalu dia membalas dengan melingkarkan tangan kiri di tengkuk dan tangan kanan membelai rahang Jordy. Rahang yang selalu membuatnya jatuh cinta. Kini, dia memilikinya secara utuh.
Sejenak, mereka berhenti untuk kembali saling menatap. Keduanya berada dalam fase yang sama, yaitu bahagia. Jona mendorong sekali lagi tubuh kekasihnya sehingga Jordy duduk di atas meja. Dia segera masuk di antara dua kaki Jordy dan mereka berciuman lagi dengan semangat lebih menggebu. Napas yang menderu, detak jantung yang berkali lipat lebih cepat, juga desahan Jona yang menjadi musik pengiring mereka. Keduanya benar-benar terbakar asmara.
Jona menurunkan tangan kirinya dari tengkuk Jordy menuju ke leher, lalu turun dan berhenti di dada. Tempat jantung kekasihnya berdetak. Jona merasakan sesuatu yang kuat di sana. Otot dada yang cukup terlatih.
Tiba-tiba Jordy menghentikan ciuman. Dengan lembut didorongnya tubuh Jona menjauh.
“Maaf, Sayang.”
“Kenapa?”
“Kamu tahu aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.”
Jona mendekat lalu memeluk kekasihnya lagi. Menciumi rahang, lalu leher dan dada. Jordy terbuai. Aroma tubuh Jona saat ini sangat melenakan. Jona memegang salah satu kancing kemeja berusaha membukanya. Jordy segera menangkap dan memegangi tangan gadis itu.
“No, Dear. In time,” peringatnya.
Jona mundur beberapa langkah sehingga punggungnya beradu dengan tembok di belakangnya. Gadis itu melorot terduduk di lantai.
“Maaf, Sayang. Apa aku melukaimu?” Jordy ikut duduk di lantai berusaha menenangkan Jona. Gadis itu tergugu, menutup wajah dengan kedua tangan. Lelakinya tak bisa berbuat banyak selain merangkulnya, menunggu tangisnya reda.
“Maaf,” katanya lagi.
“Tadi ada yang datang ke kontrakan.”
“Siapa?” Jordy memusatkan perhatian pada apa yang akan dikatakan kekasihnya.
“Seseorang yang mengaku sebagai ibuku. Dia datang untuk mengajakku pergi. Lebih parah lagi Mbah tidak melarangnya sama sekali. Mbah tidak mempertahanku.”
“Jadi benar orang itu ibumu?”
“Entahlah….” Jona kembali menangis dalam pelukan Jordy yang mengecup keningnya. Kali ini kecupan itu sangat berbeda dengan ciuman beberapa menit sebelumnya. Karena kecupan yang baru saja itu lahir dari hati dan murni menyalurkan perasaan kasih. Bukan cinta bercampur nafsu.
“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”
Jordy meyakinkan sang kekasih. Namun sebenarnya dia juga sedang meyakinkan diri sendiri yang mulai ragu apakah semuanya benar akan baik-baik saja. Mengingat, orang yang mungkin akan dihadapinya adalah orang yang paling berhak atas Jona. Jika boleh dianggap begitu.
Jika Mbah saja tidak melarangnya, apalagi Jordy? Apakah cintanya bisa dan cukup untuk mempertahankan Jona tetap di sisinya?
#cantiktigabenua
#ArwenCTB
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta