Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Bisik-Bisik di Balik Dapur Megah.
Di area dapur belakang yang terpisah dari bangunan utama rumah megah Pramoedya, Bik Sumi, sedang sibuk memotong sayuran. Di dekat pintu yang menghadap ke taman samping, Mang Jaja, pengurus kebun yang rambutnya sudah memutih sedang beristirahat sambil memegang segelas teh hangat.
Kedua orang ini bukan pekerja baru. Mereka sudah puluhan tahun mengabdi di keluarga Pramoedya, bahkan sejak almarhumah ibunya Nadia masih hidup dan bekerja di rumah ini. Mereka tahu betul bagaimana manis dan pahitnya sejarah keluarga ini, termasuk bagaimana setianya ibunya Nadia dulu hingga akhir hayatnya.
Suara sayuran yang dipotong mendadak melambat saat Bik Sumi menoleh ke arah Mang Jaja. Suara bising blender sengaja ia matikan agar obrolan mereka tidak bergema ke lorong tengah.
"Mang..." bisik Bik Sumi, matanya melirik ke atas, ke arah deretan kamar lantai dua tempat Axel sedang terkapar. "Kayaknya Tuan Muda Axel itu kena karma, ya?"
Mang Jaja yang sedang meniup teh hangatnya langsung mendongak, keningnya berkerut. "Kena karma apa maksudmu, Sum? Jangan asal mangap, kalau kedengaran Nyonya bisa dipecat kita."
Bik Sumi memajukan badannya, bersandar pada meja dapur dengan raut wajah serius. "Bisa jadi, toh, Mang? Coba dipikir pakai logika. Nadia itu diusir sebulan setengah yang lalu dengan cara yang ndak manusiawi. Dituduh yang ndak-ndak, padahal kita semua tahu bocah itu alimnya kayak apa. Jangan-jangan... Nadia hamil di luaran sana akibat perbuatan Tuan Axel, dan sekarang dia lagi menderita sendirian. Mereka itu sudah menzalimi anak yatim, Mang! Gusti Allah mboten sare. Penyakit mual-mual Tuan Axel yang ndak bisa sembuh sama dokter itu, ya obatnya karma!"
Mendengar ucapan Bik Sumi yang begitu blak-blakan, Mang Jaja langsung meletakkan gelas tehnya dengan cepat. Wajah tuanya tampak panik. Dengan sigap, Mang Jaja langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
"Sssuutt!! Jangan keras-keras, Sum!" potong Mang Jaja setengah berbisik, matanya melirik liar ke arah pintu pembatas dapur takut-takut ada Nyonya Sarah atau pelayan yang baru, pengganti Nadia lewat. "Jangan sampai Nyonya Sarah dengar! Kamu tahu sendiri kupingnya Nyonya itu setajam silet kalau soal nama baik anaknya."
Mang Jaja menghembuskan napas panjang, lalu ikut memajukan badannya, berbicara dengan suara yang sangat pelan. "Tapi... kalau dipikir-pikir, obrolanmu itu ya masuk akal. Aku yang puluhan tahun di sini baru lihat ada orang sakit kepalanya berdenyut sama mual sampai muntah berwajah pucat begitu tapi dokter bilang sehat. Wong di kampungku dulu, kalau ada laki-laki mendadak ngidam dan pusing ndak sembuh-sembunyi, biasanya itu nular dari perempuan yang lagi mengandung anaknya di luar sana."
"Nah, bener kan, Mang!" timpal Bik Sumi dengan nada puas karena dugaannya diperkuat. "Bukan cuma kita berdua yang curiga. Anak-anak yang jaga pos depan sama sopir juga bisik-bisik. Mereka herannya sama, kok pas bener habis Nadia diusir, Tuan Muda langsung ambruk penyakitan kayak orang hamil muda."
"Sudah, sudah, jangan diteruskan," sahut Mang Jaja, kembali menegakkan punggungnya. "Tugas kita di sini cuma kerja, bukan hakim. Biar alam yang membalas. Kalau bener itu si Nadia sedang mengandung, kasihan bocah itu... entah sekarang dia terlantar di mana setelah diusir sini, mana dia nggak punya saudara lagi."
Bik Sumi hanya bisa menghela napas berat, kembali melanjutkan potongan sayurnya dengan hati yang dongkol. Di balik kemegahan dinding marmer rumah Pramoedya, gosip miring tentang penyakit misterius Axel perlahan mulai menjalar di antara para pekerja, menjadi rahasia umum yang dibisikkan dari sudut ke sudut, menanti waktu sampai kebenaran itu meledak dengan sendirinya.
**
Di tengah bisik-bisik yang kian memanas di area dapur belakang, sebuah mobil sedan mewah berwarna putih mulus berbelok memasuki pelataran luas rumah keluarga Pramoedya. Dari pintu kemudi, turunlah Larasati. Penampilannya sore itu tampak sangat modis dengan gaun kasual bermerek, kacamata hitam yang bertengger di atas hidung mancungnya, serta tas jinjing branded yang melingkar di pergelangan tangan.
Kedatangan Larasati ke rumah itu bukan tanpa alasan. Ia sudah mendengar kabar dari Nyonya Sarah bahwa Axel, tunangan sekaligus calon suaminya, jatuh sakit misterius selama satu minggu terakhir.
Sebagai sesama anak dari keluarga kaya raya terpandang, Larasati sebenarnya merasa agak risih dan enggan. “Hih, lagian sakit kok pakai mual-mual sama muntah segala, kayak penyakit orang rendahan aja,” gerutu Larasati di dalam hatinya saat melangkah melewati pintu utama.
Namun, egonya yang tinggi langsung ia tekan dalam-dalam. Larasati tahu betul cara bermain cantik. Ia ingin menunjukkan citra sebagai calon menantu idaman yang teramat perhatian di hadapan Nyonya Sarah, demi mengamankan posisinya sebagai calon pewaris tunggal pendamping Axel.
"Eh, Laras... kamu sudah datang, sayang?" sapa Nyonya Sarah yang baru saja turun dari tangga dengan wajah yang tampak lelah dan cemas.
Larasati langsung mengubah raut wajahnya menjadi super manis dan penuh empati. Ia mendekati Nyonya Sarah, lalu mencium pipi kanan dan kiri calon mertuanya itu dengan takzim. "Iya, Ma. Laras khawatir banget waktu denger dari Mami kalau Mas Axel sakitnya nggak sembuh-sembuh. Makanya hari ini Laras sempetin datang bawa bubur organik khusus dari restoran langganan Laras."
Nyonya Sarah tersenyum haru, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan fiktif yang ditampilkan Larasati. "Ya ampun, calon menantu Mama bener-bener perhatian. Untung ada kamu, Ras. Axel itu di atas, dari pagi muntah-muntah terus sampai badannya lemas. Ayo, Mama antar ke kamarnya."
Kedua wanita kelas atas itu berjalan beriringan menuju lantai dua. Begitu pintu kamar mewah itu dibuka, aroma minyak angin dan obat-obatan langsung menyengat indra penciuman Larasati, membuatnya refleks ingin menutup hidung, namun buru-buru ia tahan dengan senyuman paksa.
Di atas ranjang, Axel tampak terbaring pasrah dengan kompres hangat di dahinya. Wajahnya yang biasa tampan dan angkuh kini kuyu dan pucat pasi.
"Mas Axel..." panggil Larasati dengan suara yang dilembut-lembutkan, berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia meletakkan tasnya, lalu dengan gerakan perlahan menyentuh lengan Axel. "Gimana kondisinya, Mas? Kok bisa sampai drop begini, sih? Laras sedih banget lihatnya."
Axel membuka matanya yang sayu, berdenyutnya kepala membuat ia hanya bisa mendesah lemah. "Masih pusing, Ras... mual banget."
Larasati mengambil mangkok bubur organik yang ia bawa, lalu mulai menyendoknya dengan telaten. "Ini Laras suapin ya, Mas? Harus dipaksa makan sedikit, biar obat dari dokter bisa masuk. Laras sengaja pilihkan bubur yang paling lembut buat Mas Axel."
Nyonya Sarah yang berdiri di ambang pintu kamar tersenyum lega melihat pemandangan itu. Di dalam hatinya, ia merasa sangat beruntung memiliki calon menantu sekelas Larasati yang tidak hanya kaya dan bermartabat, tetapi juga sangat perhatian pada anaknya.
Nyonya Sarah sama sekali tidak mengetahui, bahwa di balik senyum manis Larasati saat menyuapi Axel yang sesekali masih menahan mual, gadis kaya itu sedang merutuki bau minyak angin di dalam kamar.
**
Satu minggu setelah ketuk palu di KUA dan syukuran nasi kotak yang bersahaja itu, suasana di rumah tua peninggalan neneknya Ubay mulai menemukan ritme barunya. Status mereka memang sudah resmi di atas kertas, namun secara prinsip, pembagian wilayah kekuasaan tetap berjalan sesuai kesepakatan setelah menikah. Nadia di paviliun belakang, dan Ubay menguasai bangunan rumah depan.
Sabtu pagi yang cerah, Nadia keluar dari paviliun dengan pakaian kasualnya. Berbeda dengan seminggu lalu saat ia selalu didera ketakutan setiap kali melangkah ke dapur bersih, kini gerakannya jauh lebih bebas. Rasa aman yang diberikan Ubay lewat pengumuman resmi ke Pak R, terbukti ampuh. Karena pasti tidak ada tatapan curiga dari tetangga kanan-kiri.
Nadia mengikat rambutnya, lalu mulai sibuk di depan kompor. Ia berniat membuat sarapan sederhana, nasi goreng kampung dengan telur dadar tipis yang diiris-iris.
Sreeek... sreeek...
Suara spatula beradu dengan wajan memenuhi ruangan dapur. Di saat yang sama, pintu kamar depan terbuka. Ubay keluar hanya dengan mengenakan celana jins belel dan kaus dalam putih, rambut gondrongnya acak-acakan khas orang baru bangun tidur.
Begitu mencium aroma bawang merah dan terasi yang digoreng, perut Ubay refleks berbunyi. Ia berjalan ke wastafel dapur untuk mencuci muka.
"Mas Ubay sudah bangun?" tanya Nadia, menoleh sekilas sambil melempar senyum tipis yang kini mulai sering terlihat di wajahnya. "Ini... saya bikin nasi goreng. Mas Ubay mau sarapan sekalian?"
Ubay menyeka wajahnya dengan handuk kecil yang menggantung di dekat wastafel, lalu menatap wajan. "Boleh. Buat porsi kuli ya, gue mau langsung keliling habis ini."
Nadia terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang sempat hilang berminggu-minggu dari tenggorokannya. "Iya, Mas. Porsinya saya banyakin."
Melihat perubahan fisik Nadia yang perlahan mulai membaik karena tidak lagi tertekan secara batin, Ubay diam-diam merasa lega. Meskipun sesekali di pagi hari Nadia masih kedengaran mual di kamar mandi, intensitasnya tidak separah minggu lalu. Setidaknya, wajah pucat gadis itu kini sudah berganti dengan rona segar.
Nadia menyajikan sepiring penuh nasi goreng hangat di atas meja makan kayu, lengkap dengan segelas kopi hitam pekat kesukaan Ubay. Ubay langsung duduk dan menyendok sarapannya tanpa banyak bicara, khas pembawaannya yang lempeng.
Nadia ikut duduk di kursi seberang, namun ia hanya memakan sepiring kecil bubur sumsum yang ia beli dari penjaja keliling tadi subuh, perutnya masih sensitif terhadap makanan berminyak di pagi hari.
"Mas..." panggil Nadia pelan di sela-sela kunyahan Ubay.
"Hm?" Ubay menyahut tanpa mendongak.
"Uang bulanan yang Mas Ubay taruh di meja kemarin... itu kebanyakan," ucap Nadia agak sungkan. "Uang kuliah saya kan sudah aman dari tabungan saya yang lama. Buat makan kita berdua di rumah ini nggak habis sebanyak itu, Mas."
Ubay menghentikan sendoknya sejenak, lalu mendongak menatap Nadia lurus-lurus. "Gak ada yang kebanyakan. Lu sekarang harus makan yang bener. Nutrisi... atau apalah itu namanya kata orang-orang kalau lagi hamil, harus dijaga. Lu jangan mikirin duitnya dari mana, itu urusan gue yang nyari di jalanan. Tugas lu cuma kuliah yang bener sama jaga kesehatan."
Nadia tertegun, matanya mendadak hangat. Di balik kalimat-kalimat ketus dan nada bicaranya yang kasar khas anak jalanan, Ubay selalu menyelipkan perhatian yang begitu besar untuknya dan janin di rahimnya.
"Terima kasih ya, Mas... untuk semuanya," bisik Nadia tulus.
Ubay tidak menjawab, ia hanya berdehem pendek lalu kembali melahap nasi gorengnya sampai tandas. Sandiwara satu atap ini berjalan jauh lebih mulus dari yang mereka perkirakan.
***