Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Perempuan Tanpa KTP
"Saya belajar karena tidak punya pilihan lain."
Laras menjawab pertanyaan Bulik Endah tanpa mengangkat kepala dari pola.
"Di konveksi, orang yang hanya bisa memotong benang dibayar untuk memotong benang. Orang yang bisa membaca pola dibayar lebih baik. Saya ingin hidup dari kemampuan yang tidak mudah dirampas orang lain."
Jawaban itu benar, meski belum lengkap.
Endah tidak memaksanya menambahkan apa pun. Ia hanya mengembalikan kertas pola dengan hati-hati. "Kalau begitu, jangan berhenti belajar."
Laras mengangguk. Saat itu ia belum tahu bahwa beberapa hari kemudian, selembar dokumen akan memaksanya membuka bagian hidup yang selalu ia sembunyikan.
***
Pada akhir minggu pertama, Pak Hardjono memanggil Laras dan Bram ke ruang kerjanya.
Di atas meja ada daftar persyaratan pengajuan izin kawin dari satuan, formulir data calon pasangan, serta catatan hasil konsultasi awal dengan Dukcapil.
Pak Hardjono menunjuk kolom identitas Laras yang masih kosong.
"Tanpa KTP elektronik atau setidaknya NIK yang bisa diverifikasi, berkas ini tidak bergerak. Litsus juga tidak dapat memeriksa alamat dan riwayatmu dengan benar."
Laras menatap garis kosong tersebut. "Saya tahu, Bapak."
"Kamu pernah punya KTP?"
"Belum pernah memegang kartunya sendiri."
Bram yang duduk di sampingnya menoleh. "Maksudmu?"
"Dulu Pak Rusdi bilang dia mengurusnya. Saya pernah dibawa rekam data, tapi setelah itu kartunya tidak pernah diberikan. Saya tidak tahu apakah sudah terbit, hilang, atau sengaja ditahan."
Pak Hardjono tidak langsung bertanya siapa Pak Rusdi. Ia membaca catatan di depan.
"Petugas Dukcapil bisa menelusuri biometrik dan NIK kalau rekam datanya benar pernah dilakukan. Kalau datanya bermasalah, perlu verifikasi dari daerah asal, KK lama, atau keterangan lain. Prosesnya tidak selesai sehari."
"Saya tidak punya KK."
"Akta lahir?"
Laras menggeleng.
"Ijazah?"
"Ada salinannya, mungkin. Saya simpan pada teman lama di Bandung."
"Hubungi dia. Jangan minta dokumen dikirim ke alamat lama sebelum kita tahu siapa yang bisa mengaksesnya." Pak Hardjono menutup map. "Besok Bram antar kamu ke Dukcapil. Jelaskan apa adanya kepada petugas. Kita tidak meminta data dibuat, kita meminta data yang ada ditemukan dan diperbaiki."
"Baik, Bapak."
"Saya tidak ikut. Ini urusan identitasmu, bukan panggung bagi pensiunan jenderal untuk membuat petugas gugup."
Kalimat itu membuat Laras sedikit lega. Ia takut keluarga Adiprawira akan memakai pengaruh untuk melompati aturan, lalu suatu hari bantuan tersebut dijadikan utang. Pak Hardjono justru berkali-kali memastikan semuanya meninggalkan jejak yang sah.
"Bram, setelah status NIK jelas, laporkan perkembangan kepada Letkol Wibowo. Jangan ajukan berkas setengah jadi."
"Siap."
Pak Hardjono berdiri, menandakan pembicaraan selesai. Sebelum keluar, ia berhenti di dekat Laras.
"Masa lalu yang buruk tidak otomatis membuat seseorang bersalah. Tapi data yang disembunyikan bisa menjadi masalah. Pilih apa yang pribadi, dan apa yang memang perlu diketahui petugas. Bedakan keduanya."
Laras mengangkat mata. "Saya mengerti."
***
Keesokan harinya, petugas Dukcapil menemukan kecocokan sidik jari Laras dengan sebuah NIK lama. Namun data pada sistem belum lengkap dan alamatnya masih terhubung pada kartu keluarga Pak Rusdi di luar Malang.
"Kami perlu koordinasi dengan Dukcapil daerah asal," jelas petugas perempuan di meja pelayanan. "Ibu juga harus membuat surat kehilangan kalau KTP pernah terbit, lalu mengisi pernyataan bahwa dokumen dikuasai pihak lain bila memang begitu."
Sapaan `Ibu` masih terasa asing bagi Laras. Ia mengangguk dan menerima daftar dokumen.
"Apakah pihak di alamat lama akan diberi tahu?"
Petugas itu menangkap ketakutan di wajahnya. "Kalau ada risiko kekerasan atau eksploitasi, sampaikan dalam pernyataan. Kami bisa arahkan konsultasi ke layanan perlindungan perempuan. Data tidak boleh dibuka sembarangan kepada pihak yang tidak berhak."
Bram tidak menyela. Ia membiarkan Laras menjawab sendiri.
"Ada risiko," katanya. "Tapi saya belum siap membuat laporan lengkap hari ini."
"Tidak apa-apa. Kita mulai dari pemulihan dokumen. Kalau Ibu ingin pendamping, saya tuliskan kontak layanan di sini."
Mereka keluar dari kantor membawa nomor permohonan dan daftar yang lebih panjang daripada sebelumnya. Proses pernikahan tidak menjadi lebih dekat. Namun untuk pertama kalinya, Laras melihat identitasnya bukan sebagai sesuatu yang hanya berada di tangan Pak Rusdi.
Di halaman kantor, Bram berhenti di bawah pohon peneduh.
"Kita bisa pulang sekarang," katanya. "Yang lain diurus setelah kamu siap."
Laras meremas kertas nomor permohonan. "Kalau aku tidak cerita, litsus akan menemukannya juga."
"Menemukan data tidak sama dengan berhak mengambil semua ceritamu."
"Tapi kamu akan menikah denganku. Kamu berhak tahu sebagian."
Bram menunggu.
Laras memilih bangku yang jauh dari antrean. Ia duduk dengan kedua telapak tangan terjepit di antara lutut.
"Pak Rusdi ayah angkatku," katanya. "Bukan lewat pengadilan atau proses resmi. Aku hanya diberi tahu bahwa sejak kecil aku tinggal dengannya."
"Kamu tahu orang tua kandungmu?"
"Tidak."
"Dia yang membuat memar lama di tubuhmu?"
Pertanyaan Bram sangat pelan.
Laras mengangguk. "Kalau kalah judi, dia mengambil uangku. Kalau tidak ada uang, dia mengurungku. Aku kabur ke kota saat remaja karena dia hampir menjualku kepada seorang calo."
Otot di rahang Bram bergerak. Tangannya mengepal di atas paha, tetapi suaranya tetap terkendali.
"Lalu minggu lalu dia menemukanmu lagi."
"Ya."
"Bagaimana?"
"Aku belum bisa menceritakan semuanya."
"Baik."
Laras menatapnya, heran sekaligus kesal. "Kamu tidak ingin bertanya apakah aku pernah mencuri, menipu, atau bekerja untuk orang-orangnya?"
"Saya ingin tahu banyak hal. Tapi saya tidak akan mengubah rasa ingin tahu menjadi interogasi."
"Litsus mungkin tetap curiga."
"Biarkan mereka memeriksa. Fakta bahwa kamu korban akan tercatat sebagai fakta."
"Kalau keluargamu berubah pikiran setelah tahu?"
"Itu urusan saya."
Jawaban yang sama seperti di penginapan.
Laras menunduk. Nomor permohonan di tangannya kusut. Selama bertahun-tahun nama Pak Rusdi selalu menjadi ancaman. Satu panggilan darinya bisa membuat Laras pindah kos, berhenti kerja, atau terbangun sepanjang malam dengan kursi mengganjal pintu.
Bram membuka kepalan tangannya, lalu mengulurkannya di atas bangku. Ia tidak langsung menyentuh Laras.
Laras menatap telapak tangan itu beberapa detik sebelum meletakkan tangannya di sana.
Jari Bram menutup perlahan, hangat dan kokoh.
"Jangan membuat janji yang tidak bisa kamu jaga," bisik Laras.
"Saya tidak akan mengejarnya sendiri atau memakai seragam untuk menakut-nakuti dia," jawab Bram. "Kita simpan bukti, pulihkan dokumenmu, dan lapor melalui jalur yang benar saat kamu siap. Tapi kalau dia datang ke rumah atau mencoba membawamu lagi, dia akan berhadapan dengan saya lebih dulu."
Itu bukan janji kosong untuk menghancurkan seorang musuh. Bram menyebut langkah, batas, dan pilihan Laras di dalamnya. Justru karena itu, kalimat berikutnya terasa jauh lebih kuat.
"Nama itu, Rusdi, tidak akan pernah menyentuhmu lagi."