NovelToon NovelToon
Pengulangan Sang Master

Pengulangan Sang Master

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Kultivasi Modern
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.

Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.

Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.

Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.

Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.

Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.

Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.

Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Tujuh tahun.

Mo Tianxia kini cukup besar untuk membantu di ladang, cukup besar untuk mengikuti Mo Feng berburu sesekali, dan—yang paling penting baginya—cukup besar untuk mulai membangun kembali fondasi kultivasinya secara diam-diam, di tengah hutan, jauh dari mata siapa pun.

Namun hari ini bukan hari untuk berlatih.

Hari ini adalah hari pasar di Desa Qingluo, saat pedagang dari kota kecamatan terdekat datang membawa barang-barang yang tidak bisa dihasilkan desa: kain berwarna, garam, alat besi, dan kadang-kadang, benda-benda aneh yang diklaim memiliki kekuatan gaib meski kebanyakan hanya tipuan pedagang keliling.

Mo Tianxia berjalan di sisi Su Wan, membawa sekeranjang sayuran yang akan ditukar dengan garam.

"Tianxia, jangan jauh-jauh dariku," pesan Su Wan.

"Baik, Ibu."

Ia menjawab dengan patuh, meski dalam hati ia hampir tertawa. Di dunia yang pernah ia kuasai, ancaman terbesar adalah kehancuran benua. Di sini, ancaman terbesar bagi seorang anak tujuh tahun hanyalah tersesat di pasar desa.

Perbedaan itu seharusnya terasa merendahkan.

Anehnya, tidak.

...-----...

Keramaian pasar mulai terdengar dari kejauhan—teriakan pedagang menawarkan barang, tawa anak-anak yang berlarian, dan di antara semua itu, satu suara yang lebih keras dari yang lain.

"Minggir! Minggir! Tidak lihat aku sedang lewat?!" Seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun berjalan dengan dada membusung, mengenakan pakaian sutra yang jauh lebih bagus dari pakaian penduduk desa mana pun. Dua orang pelayan mengikuti di belakangnya, membawa barang bawaan.

"Itu Hu Biao," bisik seorang wanita di dekat Su Wan. "Anak Saudagar Hu. Sombongnya minta ampun."

Hu Biao berjalan melewati kerumunan tanpa peduli siapa yang harus ia dorong untuk lewat. Ketika seorang anak kecil—lebih muda dari Mo Tianxia—tidak sempat menyingkir, Hu Biao mendorongnya hingga jatuh ke tanah becek.

"Dasar bodoh," katanya, memandang rendah anak yang jatuh itu. "Kau tidak liat aku sedang lewat!"

Anak itu mulai menangis. Ibunya buru-buru datang, meminta maaf berkali-kali kepada Hu Biao meski jelas anaknyalah yang menjadi korban.

Mo Tianxia mengamati semuanya dari kejauhan tanpa ekspresi.

'Menarik,' pikirnya, meski nadanya jauh dari kata terkejut. 'Bahkan di desa sekecil ini, ada saja yang merasa dunia berputar mengelilinginya.'

Ia pernah bertemu ribuan orang seperti Hu Biao sepanjang kehidupan sebelumnya. Pangeran yang merasa daerah kekuasaan ayahnya adalah pusat dunia. Disciple sekte yang merasa bakat mereka menjadikan mereka lebih berharga dari nyawa orang lain. Semuanya berakhir sama—entah berubah, entah hancur.

Mo Tianxia tidak berniat ikut campur. Bukan karena takut. Ia hanya tidak melihat alasan untuk membuang energi pada hal yang tidak penting.

Namun nasib, sepertinya, memiliki rencana lain untuk hari itu.

Hu Biao, setelah puas mempermalukan anak yang lebih kecil, mengedarkan pandangan mencari hiburan baru. Matanya berhenti pada Mo Tianxia, yang berdiri tenang di samping Su Wan, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau kekaguman terhadap pakaian mewahnya.

Hu Biao mengerutkan kening. Ia tidak suka itu. Ia melangkah mendekat, senyum mengejek mulai terbentuk di wajahnya.

"Hei, kau," katanya, menunjuk Mo Tianxia dengan dagunya. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tahu siapa aku?"

Mo Tianxia menatapnya sejenak.

'Ah,' pikirnya. 'Sepertinya hari ini tidak akan setenang yang kukira.'

1
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
tekad nyaa lebih besar daripada yang lain pastiii
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
yaaa karna jiwa nyaa dahh buyut buyut makanyaa gak gampang ditebakk
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
mantapp kasih paham bossss 💅
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
ternyata gak di dunia nyata gak didunia novel sama ajaa 😌
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
anak yang terlampau pintar dan dewasa sampai orang tua yang lain pun merasa heran
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
nama yang emang sudah ditakdirkan
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
ternyata mc nyaa anak pungut 😌
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ: manaa adaa /Curse//Facepalm/
total 2 replies
🎁➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰ᶻᵉˡᴠᴀɴᴀ
Apakah terlahir kembali untuk menyambut masa kejayaannya lagi 😌
^_^
mo tianxia emangnya gk pernah jadi bayi dulunya sebelom jdi penguasa dunia?
^_^
ada yang hrus dibicarain justru di sini, kalen punya uang kagak buat rawat anak orang ini?
^_^
klo minta ke Dewa Othor pasti dikabulin, kalen salah aja caranya
^_^
lgi pda maen petak umpet ges
^_^
gak ngerti novelnya bahas apa, tpi gk tau pen baca aja ^_^
NNoyRe: gak apa apa sih/Joyful/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!