Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Wajah-Wajah Lama di Festival
"P-Pak Raka?"
Tiket di tangan Sri Wahyuni jatuh ke lantai kios barat Festival Budaya Surabaya. Rompi panitia yang ia pakai tampak kebesaran. Wajahnya lebih kurus daripada saat masih duduk di meja marketing Mutiara Emas, dan matanya langsung turun begitu mengenali Raka.
Fajar berhenti setengah langkah di belakang. Ia masih ingat hari ketika Sri menyuruh Wulan memanggil security untuk mengusir Raka dari kantor pemasaran.
"Mbak Sri," kata Raka. "Apa kabar?"
Sri memungut gulungan tiket dengan tangan gemetar. "Baik, Pak. Saya kerja sementara di sini."
Seorang pengunjung menunggu. Sri buru-buru mencetak tiket, menerima uang, lalu baru berani melihat Raka lagi. Raka mengeluarkan uang dan menunjuk mesin tiket.
Fajar berbisik, "Bos, kamu sponsor utama festival."
"Hari ini saya beli dari loket ini."
Sri makin pucat. "Pak, Bapak tidak perlu bayar."
"Saya mau tiket biasa."
Mesin mencetak kertas kecil. Raka mengambilnya dan memasukkannya ke saku.
Sri menelan ludah. "Saya minta maaf. Dulu di kantor properti, saya memperlakukan Bapak dengan buruk. Setelah kejadian itu saya dipindahkan. Kontrak saya tidak diperpanjang. Saya malu, Pak."
Fajar tampak siap menyambar, tetapi Raka menahannya dengan satu gerakan tangan.
"Semoga harimu lancar, Mbak Sri."
Sri mengangkat wajah, bingung karena tidak menerima hinaan balasan. "Bapak tidak mau mengatakan apa-apa lagi?"
"Kamu sudah tahu kesalahanmu. Saya tidak perlu menambah hukuman."
Raka pergi. Di belakangnya, Sri menahan tangis sambil kembali melayani pembeli. Raka tidak merasa puas. Ia hanya merasa satu pintu lama akhirnya tertutup tanpa perlu dibanting.
Fajar berjalan di sampingnya. "Aku kira kamu bakal balas."
"Kalau dia masih sombong, caranya beda. Hari ini dia sudah cukup jatuh."
"Bos makin serem kalau bijak."
"Jangan terlalu percaya. Besok aku masih bisa beli sesuatu karena kesal."
Mereka masuk ke tenda VIP panitia. Wulan Sari datang dengan blazer rapi dan tanda pengenal manager Mutiara Emas. Senyumnya hangat, tidak berusaha mengambil kedekatan palsu.
"Pak Raka. Saya ikut bangga melihat festival ini."
"Mbak Wulan makin sibuk sekarang?"
"Pak Hendra memberi saya beberapa proyek premium. Setelah peristiwa Bukit Amerta, seluruh tim sales dilatih ulang. Setiap calon pembeli wajib dilayani berdasarkan kebutuhan dan prosedur. Pakaian tidak boleh jadi ukuran."
Fajar berbisik, "Pak Hendra menjadikan Bos modul pelatihan."
Wulan tertawa kecil. "Modul yang mahal. Tapi berguna."
Raka melihat ke arah kios barat. Sri sedang melayani seorang ibu tua dengan sabar. Tidak ada senyum palsu. Tidak ada tatapan meremehkan. Raka tidak tahu perubahan itu akan bertahan berapa lama. Satu malam tanpa kesombongan tetap lebih baik daripada seribu alasan.
Di area utama, beberapa pengunjung mengenali Raka dan meminta foto. Fajar membatasi antrean agar acara tidak berubah menjadi sesi jumpa penggemar. Raka memilih berfoto dengan para pedagang UMKM terlebih dulu. Ia ingin kamera menangkap produk mereka dan wajah sponsor dalam porsi yang rapi.
Wulan membantu mengatur posisi beberapa pedagang agar spanduk toko mereka terlihat jelas. Dalam sepuluh menit, stan kecil di dekat panggung mendapat lebih banyak pembeli. Seorang penjual kerajinan kayu sampai berkali-kali mengucap terima kasih.
"Pak Raka, saya cuma memberi katalog waktu itu," kata Wulan saat mereka kembali ke tenda. "Saya tidak menyangka Bapak mengingat."
"Orang yang memberi hormat saat kita belum punya apa-apa sulit dilupakan."
Wulan menunduk kecil. Raka tidak membaca adegan itu sebagai romansa. Ia membaca manusia. Ada yang perlu dijauhkan, ada yang cukup dibiarkan belajar, dan ada yang pantas diberi ruang naik.
Mimpi memberi notifikasi.
[Gelar Patron Budaya terbuka. Efek: transaksi budaya dan seni mendapatkan efisiensi biaya serta peningkatan reputasi.]
Sore berubah malam. Kembang api naik di atas panggung. Statistik festival muncul di layar Mimpi: seratus lima puluh ribu pengunjung, dua belas media besar, dua juta penonton streaming, penjualan UMKM terbaik dalam lima tahun.
Bibi Lestari mengirim pesan dari rumah karena pulang lebih cepat bersama Bintang.
Bibi lihat kamu di layar. Batikmu bagus.
Raka tersenyum.
Fajar melirik. "Bibi?"
"Iya."
"Kalau Bibi bilang batik bagus, sponsor resmi disetujui keluarga."
Sebelum meninggalkan pintu barat, Raka meminta koordinator festival memastikan Sri tidak dihukum karena menangis di loket. Koordinator mengangguk. Fajar bertanya kenapa ia masih repot.
"Perubahan yang benar tidak membuat orang takut menjadi manusia," kata Raka. "Sri sudah menerima akibatnya. Malam ini dia cukup diberi kesempatan menyelesaikan kerja."
Fajar diam. Untuk sekali ini, diamnya terdengar seperti setuju.
Koordinator vendor menyusul dengan tablet di tangan. Ada dua belas stan kecil yang belum menerima pembayaran termin akhir dari panitia lama. Jumlahnya kecil bagi Raka, tetapi bagi mereka itu modal besok pagi.
"Kirim daftar invoice ke Fajar," kata Raka.
Koordinator itu ragu. "Biasanya tunggu verifikasi tiga hari, Pak."
"Verifikasi sekarang. Kalau barang sudah diterima dan stan sudah tutup laporan, bayar malam ini. Jangan biarkan pedagang kecil mengejar tanda tangan sampai minggu depan."
Fajar langsung bekerja. Satu per satu invoice diperiksa, foto stan dicocokkan, nomor rekening dipastikan. Raka tidak menekan proses legal; ia mempercepat orang yang malas bergerak. Ketika pembayaran pertama masuk, seorang pemilik stan kerajinan hampir menjatuhkan ponselnya karena tidak menyangka uang cair sebelum ia pulang.
Sri melihat dari dekat. Matanya masih merah, tetapi kali ini ia menunduk dengan cara berbeda. Raka tidak menegurnya lagi. Ia hanya meminta koordinator menyediakan transport pulang untuk staf loket yang bekerja sampai malam. Kesalahan harus diberi akibat. Orang yang sudah menerima akibat tetap perlu pulang dengan aman.
Koordinator media kemudian menawarkan unggahan khusus berisi wajah Raka dan ucapan terima kasih dari panitia. Raka menggeser tablet itu kembali.
"Pak, ini bisa menaikkan engagement," kata koordinator.
"Naikkan nama pedagangnya dulu. Buat daftar stan dengan nomor lokasi dan produk. Kalau orang datang besok, mereka tahu harus beli ke siapa. Nama saya cukup di bawah sebagai sponsor."
Keputusan itu membuat Hendra, yang baru datang dari area VIP, menatap Raka sedikit lebih lama. Ia terbiasa melihat orang kaya membeli panggung. Raka justru menggeser lampu ke orang yang biasanya hanya menjadi latar. Efeknya langsung terasa: panitia bekerja lebih cepat karena instruksinya jelas, dan beberapa vendor mendapat antrean baru dari unggahan resmi.
Mimpi mengubah tampilan di depan mata Raka. Statistik hilang. Beberapa wajah muncul seperti potongan layar: Herman di rumahnya, Vera di apartemen kecil, Wulan di kantor, Pak Maman di warung. Mereka semua menonton festival dari tempat berbeda.
[Tuan, dampak sosial Anda sedang memantul ke masa lalu.]
Raka menatap kembang api yang mekar di atas panggung.
Malam itu belum selesai, dan pantulan masa lalu baru mulai terlihat.