NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Dan orang yang takut adalah orang yang paling berbahaya.

Malam itu, Jagal tidak membagi Kristal tingkat tiga.

Ia duduk di kursi terbaik markas ruko, memutar Kristal jernih itu di antara jarinya seolah benda itu memang lahir untuk berada di tangannya. Anggota lain hanya bisa melihat dari jarak aman. Tidak ada yang berani meminta bagian.

Anggota yang lengannya terkena es duduk dekat api kecil. Wajahnya pucat. Merah membungkus lengannya dengan kain hangat, gerakannya kasar tapi hati-hati.

"Kalau kita punya obat lebih baik, ini bisa cepat pulih," gumam Merah.

Jagal mendengus. "Kalau dia tidak bodoh lari ke depan, dia tidak perlu obat."

Merah menahan kata-kata di tenggorokannya.

Arka duduk di sudut, membagi sepotong biskuit dari ranselnya kepada anggota terluka itu. Semua orang melihat. Jagal juga melihat.

"Murah hati sekali," kata Jagal. "Kau mau beli simpati?"

"Biskuit terlalu murah untuk membeli orang," jawab Arka.

"Lalu untuk apa?"

"Agar dia tidak mati karena hal bodoh."

Ruko itu sunyi.

Shadow menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sangat tipis. Elang pura-pura memeriksa senapan. Merah hampir gagal menahan tawa.

Jagal tidak tertawa.

Matanya mengeras.

"Hati-hati bicara, anak baru."

Arka mengangkat bahu. "Aku bicara tentang keputusan, bukan orang."

Itu lebih buruk.

Jagal berdiri. Gada Berduri di sampingnya ikut terangkat. Beberapa anggota langsung mundur. Namun sebelum ia melangkah, Elang berkata datar, "Kalau ribut sekarang, suara bisa menarik zombi dari jalan utama."

Alasan yang benar.

Dan cukup untuk memberi Jagal jalan mundur tanpa terlihat takut.

Jagal menunjuk Arka dengan dagu. "Nanti kita bicara."

"Aku di sini."

Setelah itu, suasana tidak kembali seperti semula.

Arka tahu malam ini akan terjadi sesuatu. Ia melihatnya dari cara Jagal tidak makan banyak, dari cara dua pengikut terdekat Jagal berbisik terlalu sering, dari cara Shadow memilih posisi tidur dekat pintu tetapi menghadap ke dalam ruangan.

Orang yang biasa hidup di bawah kekerasan mengenali bau kekerasan sebelum terjadi.

Arka tidak benar-benar tidur.

Ia berbaring di atas karpet tipis, satu tangan di bawah jaket, pikirannya menyentuh ruang Dimensi. Pisau pendek ada di sana. Makanan ada di sana. Tetapi yang ia tunggu bukan benda.

Ia menunggu gerakan.

Lewat tengah malam, api kecil hampir padam.

Langkah berat mendekat.

Arka mendengar gesekan besi di lantai.

Gada Berduri.

Sosok besar Jagal berhenti di sampingnya. Suara napasnya rendah. Di belakangnya, dua pengikut berdiri ragu, masing-masing memegang pipa besi.

"Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup," bisik Jagal.

Arka membuka mata.

Gada itu turun.

Ia berguling ke samping sebelum besi menghantam karpet tempat kepalanya tadi berada. Lantai retak. Suara keras membuat beberapa orang terbangun dan langsung menjerit panik.

Shadow sudah berdiri.

Merah menyambar pipa.

Elang mengangkat senapan, tetapi tidak menembak. Terlalu banyak orang di ruangan sempit.

Arka berdiri dengan napas tenang.

Jagal menatapnya. "Kau sudah tahu?"

"Kau terlalu mudah dibaca."

Wajah Jagal memerah. Ia mengayunkan Gada Berduri lagi, lebih karena marah daripada strategi. Arka mundur satu langkah. Jarak sepuluh meter. Cukup.

Kekuatan Dimensi di dalam kepalanya menajam.

Satu garis.

Bilah Dimensi melintas tanpa suara.

Gada Berduri berhenti di udara, lalu ujung besinya jatuh ke lantai dengan bunyi berat.

Semua orang melihat senjata yang selama ini menjadi simbol ketakutan Jagal terpotong bersih.

Jagal sendiri terpaku.

Untuk pertama kalinya, ia tampak lebih kecil daripada tubuhnya.

"Mustahil..."

"Tidak," kata Arka. "Hanya giliranmu selesai."

Garis kedua lewat lebih cepat.

Jagal jatuh berlutut, lalu roboh ke samping tanpa sempat mengangkat sisa senjatanya.

Seorang pemimpin yang membangun aturan dengan rasa takut berakhir begitu rasa takut itu pindah ke pihak lain.

Dua pengikut Jagal langsung mundur. Salah satu menjatuhkan pipa besi.

"Kami tidak ikut!" katanya panik. "Kami cuma disuruh!"

Merah maju setengah langkah. "Kemarin waktu ambil jatah makan orang lain, kalian juga disuruh?"

Mereka tidak menjawab.

Arka menatap dua orang itu. Ia bisa membunuh mereka dan mengirim pesan keras. Tetapi kelompok ini baru lahir. Ia tidak ingin aturan pertamanya dibangun dari kebiasaan Jagal.

"Pergi," kata Arka. "Bawa apa yang ada di tubuh kalian. Jangan sentuh makanan. Jangan sentuh Kristal. Kalau kalian kembali dengan niat buruk, aku tidak akan memberi kesempatan kedua."

Dua orang itu saling pandang, lalu lari keluar dari ruko.

Merah mengumpat pelan. "Dibiarkan hidup? Mereka bisa lapor ke kelompok lain."

"Bagus," kata Arka. "Biarkan orang tahu aturan di sini sudah berubah."

Elang menurunkan senapan. "Aturan apa?"

Semua mata menoleh pada Arka.

Di lantai, Gada Berduri yang patah tergeletak seperti masa lalu yang tidak lagi punya gigi. Di kursi Jagal, kotak Kristal masih tertutup. Di sudut, makanan yang selama ini dikunci untuk satu orang menunggu keputusan baru.

Arka berjalan ke kotak makanan, membukanya, lalu meletakkan semuanya di tengah ruangan.

Kaleng makanan.

Biskuit.

Air.

Obat luka.

Lalu ia mengambil Kristal tingkat tiga dari kantong Jagal dan menaruhnya di atas meja, bukan di sakunya.

Shadow memperhatikan gerakan itu dengan mata yang semakin tenang.

"Mulai sekarang," kata Arka, "kita makan bersama. Tidak ada yang lebih penting dari yang lain. Yang bekerja mendapat bagian. Yang terluka dirawat. Kristal dibagi agar kelompok kuat. Jangan dipakai membesarkan satu orang saja."

Merah menatap makanan di tengah ruangan. "Kau serius?"

"Aku tidak mengulang kalimat untuk terdengar bijak."

Merah tertawa. Kali ini tidak ia tahan. "Sialan. Aku suka aturan ini."

Elang bertanya, "Siapa yang memimpin?"

Pertanyaan itu membuat ruangan kembali sunyi.

Arka menatap mereka satu per satu.

"Aku bisa memberi makanan. Aku bisa membunuh ancaman yang tidak bisa kalian bunuh. Tapi kalau kalian hanya ingin pemimpin baru untuk ditakuti, kalian salah orang. Aku butuh orang yang bisa bergerak, berpikir, dan menjaga punggung satu sama lain."

Shadow maju lebih dulu.

Ia berdiri di depan Arka, lalu menundukkan kepala sedikit. Sikapnya mirip prajurit yang memilih komandan.

"Aku ikut, Bang Arka."

Panggilan itu jatuh ke ruangan seperti tanda baru.

Merah menyeringai. "Kalau Shadow sudah pilih, aku juga. Tapi jangan harap aku selalu diam kalau aturanmu bodoh."

"Justru itu gunamu," jawab Arka.

Elang memasukkan peluru terakhir ke kantongnya, lalu berdiri tegak. "Saya ikut. Dengan satu syarat. Keputusan lapangan harus jelas. Ragu-ragu membunuh tim."

"Setuju."

Anggota lain saling pandang. Satu demi satu, mereka mendekat. Mereka tidak datang karena Arka memegang Gada Berduri atau berteriak paling keras.

Karena untuk pertama kalinya, makanan berada di tengah ruangan.

Malam itu, mereka makan dari kaleng yang sama. Arka mengeluarkan tambahan biskuit dan air dari ranselnya, masih dalam jumlah yang masuk akal. Ia tidak membuka semua rahasianya. Pemimpin yang baik memberi harapan. Pemimpin yang bodoh memberi terlalu banyak pertanyaan.

Kristal tingkat tiga tetap di meja sampai semua orang melihatnya.

Baru setelah itu Arka mengambilnya.

"Ini akan dipakai untuk memperkuat kelompok," katanya. "Bukan malam ini. Kita tentukan setelah semua orang tahu kemampuan masing-masing."

Tidak ada yang membantah.

Di luar, Planet Biru masih dingin. Gedung-gedung masih mati. Jalanan masih berbahaya.

Tetapi di dalam ruko kecil itu, sesuatu berubah.

Lima orang inti berdiri di sekitar api: Arka, Shadow, Merah, Elang, dan satu anggota terluka yang kini duduk dengan makanan di tangan.

Tidak banyak.

Nyaris tidak cukup disebut kelompok.

Namun Arka melihat lebih jauh daripada dinding ruko.

Lima orang.

Itu semua yang ia punya.

Tapi dari lima orang ini, sebuah kerajaan akan lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!