NovelToon NovelToon
Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Suamiku Mendengar Pikiran Nakalku

Status: tamat
Genre:CEO / Penikahan Kontrak / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Irin_Kokh

Kirani Wiratma hanya punya satu misi: menggantikan saudari kembarnya, menikah dengan Arga Mahendra, lalu bertahan memainkan peran sebagai istri sempurna sampai ia bisa menghilang dengan uang yang sudah dijanjikan.
Masalahnya adalah Arga.
Dingin, kaya, selalu rapi, dan berbahaya tampannya, pewaris keluarga Mahendra itu seolah diciptakan untuk merusak konsentrasi Kirani. Di luar, Kirani tersenyum seperti perempuan penurut, menyajikan kopi, menundukkan pandangan, dan pura-pura tidak merasakan apa pun.
Namun di dalam kepalanya, ceritanya lain.
Aduh, tidak. Pria itu seharusnya dilengkapi peringatan. Dengan kemeja itu, bahu itu, dan wajah sedingin es begitu, perempuan jujur mana pun bisa kehilangan harga diri.
Yang tidak Kirani ketahui, Arga bisa mendengar setiap isi pikirannya.
Setiap keluhan. Setiap makian. Setiap fantasi memalukan tentang menyentuh dadanya, melepas dasinya, atau melihat pria itu kehilangan kendali karena dirinya.
Awalnya, Arga hanya ingin mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang berpura-pura tenang itu, sementara pikirannya menyala tanpa henti. Namun semakin lama ia mendengar suara batin Kirani, semakin sulit baginya menjaga jarak. Istri palsu itu mulai terasa terlalu nyata. Pikiran-pikiran nakalnya mulai terlalu ia sukai. Dan pria yang bersumpah tidak akan jatuh cinta akhirnya terobsesi pada satu-satunya perempuan yang tidak bisa berbohong kepadanya di dalam hati.
Namun Kirani menyimpan rahasia yang lebih berbahaya daripada semua keinginannya: ia bukan pengantin yang seharusnya Arga terima di altar.
Saat kebenaran terbongkar, pernikahan palsu, gairah yang disembunyikan, dan semua pikiran yang seharusnya tidak pernah terdengar bisa menghancurkan mereka... atau justru membuat perpisahan menjadi mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin_Kokh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Bicara Saat Tidur

Arga belum pernah merasa semusuh ini kepada kalimat semanis itu.

"Apa pun yang Arga katakan, itu yang saya lakukan."

Terdengar patuh.

Itu jebakan.

Sang Jenderal menatapnya seolah sedang menilai apakah keponakannya pantas menyandang nama keluarga, meja, dan udara yang ia hirup. Citra mempertahankan senyum ramah, tetapi matanya berkilau dengan hiburan yang terlalu berbahaya untuk disebut bantuan.

Kirani, duduk di samping Arga, tampak seperti gambaran kelembutan itu sendiri.

Ayo, suami. Katakan aku boleh berpakaian sesukaku. Katakan kamu akan membelikanku setengah kapal. Katakan sesuatu yang manis dan mungkin aku memaafkanmu karena punya bisep pengalih perhatian di tengah krisis keluarga.

Arga meletakkan satu tangan di sandaran kursinya.

"Istriku boleh berpakaian sesukanya."

Sang Jenderal menyipit.

"Dan?"

Arga bernapas.

"Dan kalau ada yang dia suka, aku akan membelikannya. Tapi bukan karena aku memutuskan apa yang boleh dia pakai, melainkan karena aku ingin dia memiliki apa yang dia mau."

Kirani mengangkat wajah ke arahnya.

Itu... bagus. Terlalu bagus. Siapa yang menulis dialognya?

Indra mengetuk meja dengan dua jari.

"Belajarmu lambat, tapi kamu belajar."

Arga menerima vonis itu dalam diam.

Masalahnya, Indra belum selesai.

"Yang tidak kupahami, bagaimana bisa ada masalah koper dan kamu membiarkannya menyelesaikan sendiri."

"Aku tidak membiarkannya sendiri," kata Arga.

"Tapi dia memakai pakaian pinjaman."

"Karena dia mau."

"Karena saya suka," koreksi Kirani dengan senyum kecil.

Sang Jenderal kembali menatapnya dengan ekspresi tegas.

"Dan sungguh tidak ada yang kurang?"

Pertanyaan itu tajam, tetapi juga membawa kekhawatiran jujur. Kirani menyadarinya. Lelucon berhenti terasa begitu lucu.

"Tidak, Om Indra. Arga memang menyelesaikan masalah koper. Dia melakukannya diam-diam, meminta agar tidak dibicarakan ke siapa pun, dan membantuku sebelum aku selesai panik."

Arga menatapnya.

Kirani melanjutkan:

"Saya menggodanya karena saya suka melihat dia sedikit menderita."

Citra tertawa jernih.

Sang Jenderal terdiam.

Lalu menatap Arga.

"Jadi kamu tidak sepenuhnya tidak berguna."

"Terima kasih," kata Arga kering.

Pujian keluarga macam apa. Terlihat sekali mereka saling menyayangi dengan kekerasan verbal turun-temurun.

Indra menunjuk Kirani.

"Aku suka kamu."

"Saya juga suka Om."

"Jangan biarkan dia sombong."

"Saya akan berusaha sebaik mungkin."

Arga menekan bibir.

Aku terima jabatan ini. Pengawas resmi ego Mahendra. Fasilitas: melihatnya dalam setelan, sesekali menyentuhnya kalau dia mengizinkan, mengajukan anggaran pakaian berani.

"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Indra kepada Arga.

"Tidak ada."

"Pria itu jarang tertawa," kata Citra sambil menuang teh. "Kalau dia tertawa denganmu, berarti ada yang kamu lakukan dengan benar."

Kalimat itu membuat Kirani diam dengan aneh.

Arga juga.

Kunjungan itu berakhir lebih tenang daripada awalnya. Indra membuat tiga komentar tentang postur Arga, dua tentang buruknya cara anak muda kaya mengelola diri, dan satu tentang perlunya Kirani berkunjung ke Jakarta bersama Ratih. Citra memeluknya saat pamit dan berbisik agar ia tidak membiarkan pria keluarga Mahendra terlihat lebih sulit daripada sebenarnya.

Saat pintu tertutup, Arga menghembuskan napas.

"Kamu sangat terhibur."

"Sedikit."

"Kamu menaruhku di garis tembak."

"Lalu aku mengeluarkanmu."

"Setelah mendorongku."

Kirani membetulkan anting, tanpa cela.

"Kamu harus tetap rendah hati."

Lagi pula, melihatmu terpojok oleh ommu itu lezat. Tidak selezat semalam, tapi masih dalam kategori terhormat.

Arga berjalan ke jendela agar ia tidak melihat ekspresinya.

"Aku punya panggilan video dalam sepuluh menit."

"Aku kembali ke suite."

"Istirahat."

"Iya."

Istirahat. Tentu. Aku cuma punya presentasi yang harus selesai, surel sekolah yang pura-pura tidak kulihat, dan teror harus kembali mengajar lebih cepat. Tapi iya, mari istirahat secara spiritual.

Arga berbalik.

"Sekolah?"

Kirani sudah menyimpan ponselnya.

"Apa?"

"Tidak ada."

Ia menatap Arga satu detik, curiga, tetapi lalu mengangkat bahu.

"Sampai nanti."

Dalam panggilan video, Arga membicarakan angka, tenggat, dan klausul dengan ketelitian biasa. Wajahnya tetap tanpa ekspresi di depan layar. Para eksekutif di sisi lain tidak akan bisa menebak bahwa, saat ia menyetujui penyesuaian kontrak, ia mendengar istrinya bertarung melawan musuh yang lebih menakutkan daripada dewan direksi mana pun.

Kenapa awal sekolah dimajukan? Siapa yang melakukan itu? Remaja-remaja itu bahkan belum selesai membenci liburan mereka dan sudah mau dimasukkan ke sastra. Aku harus mengecek rubrik, presentasi, bacaan, aktivitas diagnosis. Aku tidak mau. Aku mau tetap di kapal ini melihat Arga memakai kemeja terbuka atas resep medis.

Arga menandai satu angka di dokumen.

Guru.

Kata itu menetap di benaknya dengan kejernihan tak terduga.

Itu bukan hobi. Bukan kelas sosial sesekali. Kirani bicara tentang murid, rubrik, bacaan, kalender sekolah. Sebuah hidup utuh yang tidak termasuk dalam citra istri diam yang didorong keluarga Wiratma kepadanya.

"Pak Arga," tanya seseorang di layar, "apakah kita lanjut dengan versi saat ini?"

"Ya," jawab Arga. "Kirim dokumen revisinya."

Perhatiannya kembali ke suara batin Kirani.

Kalau presentasi ini selesai hari ini, besok aku bisa pura-pura bebas. Kalau tidak, aku akan bermimpi tiga puluh murid bertanya apakah esai harus pakai sampul. Iya pakai sampul, anak-anak. Selalu pakai sampul. Lelah sekali.

Arga menutup panggilan sepuluh menit kemudian dan pergi ke suite.

Ia menemukan Kirani di ruang duduk, di depan laptop, punggung membungkuk dan rambut diikat asal. Blus hijau itu tetap elegan, tetapi perempuan yang memakainya tidak lagi tampak siap untuk makan malam. Ia tampak seperti guru kelelahan yang hendak menyatakan perang kepada sebuah file.

Di layar tertulis: "Pengantar Analisis Naratif".

Ada slide setengah jadi, catatan berserakan, dan daftar aktivitas untuk murid.

Kirani tidak mendengarnya masuk.

"Kupikir kamu akan istirahat," kata Arga.

Ia tersentak.

"Arga!"

"Pekerjaan?"

"Sedikit."

Sedikit yang terdiri dari tiga puluh enam slide, tiga contoh, satu aktivitas pembuka, dan imanku kepada umat manusia yang mati di nomor dua belas.

Arga mendekat.

"Butuh bantuan?"

"Tidak. Ini urusanku."

"Aku tidak bertanya milik siapa."

Kirani sedikit menutup laptop.

"Sungguh, aku bisa."

Aku tidak bisa. Aku bisa. Aku tidak mau dia melihat. Aku tidak mau menjelaskan. Aku tidak mau dia tahu ada bagian dari diriku yang ada di luar rumah ini, nama keluarga ini, peran ini. Walaupun kalau dia duduk di sampingku dengan wajah serius itu dan membacakanku contoh metafora, mungkin rencana pendidikannya akan jauh membaik.

Arga memahami lebih dari yang ia katakan.

"Kalau begitu selesaikan cepat."

"Aku sedang berusaha."

Ia tidak mendesak. Ia pergi ke kamar, berganti pakaian, kembali dengan kemeja linen dan diam yang disengaja. Kirani terus bekerja. Satu slide. Lalu satu lagi. Satu menguap. Lalu dua. Cahaya layar menandai kantong kecil di bawah matanya.

Pukul sebelas empat puluh, kepalanya jatuh ke lengan.

"Lima menit," gumamnya.

Cuma lima. Lalu jelaskan narator mahatahu. Seperti Tuhan, tapi dengan anggaran lebih kecil dan gosip lebih banyak.

Arga menunggu.

Napas Kirani menjadi dalam.

Ia mendekat ke laptop.

Presentasi itu setengah selesai. Contohnya bagus, idenya jelas, desainnya kacau. Kirani meninggalkan komentar untuk dirinya sendiri di beberapa tempat: "cari contoh lebih baik", "jangan lupa aktivitas", "taruh gambar di sini".

Arga duduk.

Ia tidak banyak tahu tentang sastra untuk remaja, tetapi ia tahu cara menata informasi, memotong kelebihan, dan membuat ruangan memperhatikan.

Ia mulai dari slide dua belas.

Mengurangi teks. Memisahkan konsep. Menata aktivitas diagnosis dalam tiga langkah. Mencari contoh yang sudah tersimpan di berkas Kirani dan meletakkannya di tempat catatan meminta. Mengubah warna terlalu pucat menjadi palet bersih. Menyesuaikan margin. Membetulkan satu salah ketik.

Kirani tidur di sampingnya, satu tangan menggenggam lengan baju.

Arga bekerja dalam diam.

Saat selesai, hampir pukul dua pagi.

Ia menyimpan file, menurunkan kecerahan layar, dan menyelimuti Kirani dengan selimut.

Perempuan itu menggumamkan sesuatu yang tak jelas.

Lalu, dengan suara tidur, menambahkan:

"Nikmat sekali..."

Arga membeku.

Namun kali ini bukan tentang dirinya.

Atau mungkin iya.

Ia menatap presentasi yang selesai, lalu wajah Kirani yang tertidur, dan mematikan lampu.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Entah mengapa, itu membuat gestur tersebut terasa lebih berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!