NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — PERMINTAAN MAAF

Pukul 21.15 WIB.

Kawasan Pesantren Al-Faruqi telah lama terlelap dalam selimut malam. Hawa dingin sisa gerimis sore merayap perlahan menembus celah-celah jendela kayu.

Di lorong lantai dasar, lampu dinding bernuansa kuning hangat membias tenang. Aurel berdiri di depan pintu ruang kerja Rasyid yang tertutup rapat. Di tangannya, sebuah nampan kayu berukuran kecil menampung secangkir teh krisan hangat dan sepiring kecil biskuit gandum—bukan teh manis pekat racikan Rasyid, melainkan teh hangat biasa yang diseduh dengan penuh kehati-hatian.

Aurel mengembuskan napas panjang, menatap bayangan jemari kakinya di atas lantai marmer.

Setiap detik yang berlalu sejak perbincangannya dengan Salma sore tadi terasa seperti deruan ketukan di dalam dadanya. Kalimat Salma terus bergema tanpa henti: Kadang orang yang paling kita tunggu untuk bicara adalah orang yang paling kita hindari.

Aurel mengepalkan jemari tangan kanannya, menyusun keberanian yang tersisa, lalu mengetuk daun pintu kayu itu tiga kali pelan.

Tok, tok, tok.

"Assalamu’alaikum. Rasyid?" panggil Aurel dengan suara yang agak serak dan tertahan.

Hening sejenak. Terdengar derit halus kursi bergeser dari dalam ruangan, diikuti langkah kaki ringan yang mendekat.

Gagang pintu memutar. Pintu kayu berdesing pelan saat terbuka.

Rasyid berdiri di ambang pintu. Pria itu telah melepas peci hitamnya, mengenakan baju koko katun warna biru gelap dan celana santai hitam. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan wajahnya tampak amat lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata. Namun saat melihat sosok Aurel berdiri memegang nampan di depannya, binar kaget yang amat tipis melintas sekejap di matanya.

"Wa'alaikumsalam," jawab Rasyid pelan. Suaranya rendah, jernih, dan masih menyisakan nada formal kaku yang membentenginya selama tiga hari terakhir.

Aurel menelan ludah, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang membuat tangannya sedikit gemetar di atas nampan.

"Kamu... sibuk?" tanya Aurel memecah keheningan kaku di antara mereka.

Rasyid menatap wajah istrinya sejenak, lalu melirik nampan teh hangat di tangan Aurel. Binar matanya yang semula dingin mendadak sedikit melunak.

"Tidak," jawab Rasyid singkat. Ia menggeser tubuhnya memberi ruang. "Masuklah."

Aurel melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang beraroma khas kertas tua dan kayu cendana tersebut. Ia berjalan menuju meja kerja jati Rasyid, meletakkan nampan kayu itu di tepi meja dengan teramat pelan, seolah takut suara cangkir berdentang akan merusak keheningan yang rapuh ini.

Rasyid menutup pintu kembali, lalu berjalan mendekati meja kerja. Pria itu tidak langsung duduk. Ia berdiri di seberang meja, memandangi Aurel yang masih berdiri kaku seraya meremas tali kardigan rajutnya.

"Ada apa, Aurel?" tanya Rasyid halus.

Aurel menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin ruangan mengisi dadanya. Ia mengangkat kepala, memberanikan diri menatap lurus ke dalam netra cokelat gelap milik suaminya.

"Aku mau minta maaf," kata Aurel langsung.

Suaranya terucap tegas, walau ada sedikit getaran di ujung kalimatnya.

Gerakan tangan Rasyid yang hendak menggeser cangkir teh terhenti seketika. Pria itu mendongak, menatap Aurel dengan raut terkejut yang nyata.

"Minta maaf... untuk apa?" tanya Rasyid pelan.

"Untuk kemarin malam," Aurel melangkah satu tindak mendekati meja, membuang seluruh gengsi dan perisai pertahanan luarnya. "Untuk aku yang langsung ngamuk pas kamu nunjukin foto dari pantai itu. Untuk aku yang kekanak-kanakan dan langsung lari ke kamar mandi tanpa mau dengerin kamu."

Rasyid diam menyimak. Binar mata cokelat gelapnya terkunci rapat pada wajah Aurel.

"Aku... aku seharusnya cerita tentang Reno dari awal," lanjut Aurel, matanya mulai berkaca-kaca oleh emosi yang tertahan selama tiga hari. "Reno itu cuma temen lama masa awal kuliah pas aku masih sering ikut klub otomotif. Aku beneran nggak tahu kalau dia bakal dateng ke pesta itu, Rasyid. Tapi... cara aku merespons kekhawatiran kamu kemarin malam itu salah besar."

Aurel menggigit bibir bawahnya erat-erat, menundukkan kepalanya sedikit.

"Aku tahu kamu marah bukan karena cemburu buta," bisik Aurel pelan, mengingat pesan Salma sore tadi. "Tapi karena kamu merasa aku masih menganggap kamu orang asing yang nggak perlu tahu soal duniaku. Padahal... padahal enggak gitu, Rasyid. Aku cuma terlalu gengsi buat ngaku kalau aku takut dipojokkan."

Keheningan melayang tebal di antara mereka selama beberapa detik yang terasa abadi. Suara detik jam kayu di sudut ruangan menjadi satu-satunya latar belakang.

Rasyid menatap puncak kepala istrinya yang menunduk. Seluruh sisa-sisa rasa kecewa, lelah, dan cemburu yang selama tiga hari ini membekukan hatinya mendadak mencair dan menguap tanpa sisa. Rasa sayang yang teramat besar kembali memenuhi dadanya.

Rasyid menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang amat lega dan lapang. Pria itu melangkah melintasi tepi meja, berhenti tepat di hadapan Aurel.

Aurel hendak berbalik dan melangkah mundur karena merasa canggung. "Ya udah... aku cuma mau ngomong gitu aja. Aku ke atas—"

"Aurel," panggil Rasyid pelan.

Aurel menghentikan langkahnya, menoleh ragu.

Rasyid menatap mata cokelat terang milik Aurel dengan binar kehangatan yang paling tulus yang pernah ada.

"Aku juga minta maaf," ujar Rasyid mantap.

Aurel mengerutkan dahi pelan, heran. "Kenapa? Kan aku yang salah."

Rasyid menggeleng pelan, sebuah senyum tipis—sangat manis dan jujur—terukir perlahan di bibirnya.

"Aku minta maaf karena aku terlalu cepat merasa khawatir," tutur Rasyid dengan intonasi rendah yang begitu hangat menembus dada. "Aku terprovokasi oleh foto-foto dari nomor tidak dikenal itu. Seharusnya aku lebih memercayaimu dan bertanya dengan cara yang lebih tenang, bukan dengan wajah dingin yang membuatmu merasa dituduh."

Aurel terpaku di tempatnya.

Mendengar pria tegap di depannya ini mau menurunkan egonya dan meminta maaf atas rasa cemasnya sendiri, seluruh sesak di dada Aurel sirnah sepenuhnya. Pria ini tidak pernah memposisikan dirinya sebagai pihak yang selalu benar, meski ia seorang suami dan pengajar di pesantren.

Aurel mengulum senyum tipis yang tak sanggup ia tahan, menatap Rasyid dari bawah celah poninya.

"Berarti... kita impas?" tanya Aurel pelan, senyum jenaka mulai mengembang di sudut bibirnya.

Rasyid menaikkan sebelah alisnya, mengulangi kata itu dengan gaya bahasa fasihnya. "Impasse?"

Aurel tertawa renyah—suara tawa lepas pertama yang memenuhi rumah itu setelah tiga hari keheningan yang menyiksa.

"Bukan impasse bahasa Prancis, Ustadz!" gelak Aurel seraya menyenggol lengan Rasyid pelan. "Maksudku seri! Nggak ada yang saling utang maaf lagi!"

Rasyid ikut tertawa pelan—suara tawa rendah yang amat lega meluncur bebas dari tenggorokannya. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah polos istrinya yang telah kembali.

Seketika, seluruh tembok es dan ketegangan kaku yang membentang selama tiga hari di antara mereka pecah dan runtuh tanpa sisa.

Rasyid mengulurkan tangannya, meraih jemari tangan kanan Aurel yang dingin di atas meja, lalu menggenggamnya erat-erat di dalam jemarinya yang hangat.

"Terima kasih sudah melangkah kemari malam ini, Aurel," bisik Rasyid dengan pandangan mata yang amat teduh.

Aurel menatap jemari mereka yang saling bertaut rapat, lalu mendongak menatap mata suaminya seraya mengangguk pelan. "Terima kasih juga karena nggak kapok nungguin aku, Rasyid."

Di bawah pendar lampu temaram ruang kerja itu, dua hati yang sempat meraba dalam keraguan kini kembali menemukan jalannya—berdiri berdampingan dalam ikatan keterbukaan yang semakin kokoh dan tak tergoyahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!