NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Angkara Tetua Agung

Asap tebal membubung dari reruntuhan gerbang utama. Dentang lonceng tembaga dari puncak gunung berbunyi tujuh kali—tanda bahwa Perguruan Pedang Langit sedang berada dalam status darurat maut. Ribuan murid dalam berjubah biru berlarian keluar dari paviliun, membentuk barisan panjang di sepanjang pelataran batu beralas salju hitam. Namun, langkah mereka seketika terhenti. Nyali mereka ciut begitu melihat sosok berjubah hitam berjalan santai melintasi genangan darah dua puluh penjaga gerbang yang telah terpotong rapi.

"Siapa bajingan yang berani menghancurkan gerbang sekteku?!"

Sebuah raungan yang mengguncang seluruh gunung memecah langit kelabu. Dari arah puncak, seberkas cahaya hijau pekat melesat membelah awan salju. Kecepatannya begitu ekstrem hingga menciptakan ledakan sonik yang meruntuhkan atap-atap paviliun di sekitarnya.

BOOM!

Cahaya itu menghantam tanah tepat tiga puluh langkah di depan Kala, menciptakan kawah sedalam dua meter. Debu dan serpihan es berhamburan. Dari dalam kawah, melangkah keluar seorang pria tua berambut putih panjang dengan wajah yang merah padam oleh amarah yang meluap-luap. Dia mengenakan jubah kebesaran emas bersulam naga angin.

Dia adalah Tetua Agung Liu Cang, ayah dari Tuan Muda Liu. Seorang penguasa absolut di wilayah utara yang telah mencapai Ranah Raja Bumi Tingkat Menengah.

Begitu Liu Cang mendarat, tekanan batin (pressure) dari ranahnya memancar keluar seperti gelombang tsunami tak kasat mata. Salju hitam di radius seratus meter langsung tertekan ambles ke dalam tanah. Murid-murid luar yang berdiri terlalu dekat bahkan terpaksa berlutut, batuk darah karena tidak kuat menahan beban energi seorang Master Ranah Raja Bumi.

Namun, Kala tetap berdiri tegak. Jubah hitamnya melambai pelan, meluruhkan semua tekanan energi Liu Cang menggunakan gaya gravitasi halus dari tubuhnya sendiri.

Liu Cang menatap Kala. Mata tuanya beralih ke jimat perak yang tergantung hancur di ikat pinggang Kala—jimat pelindung yang dia berikan pada putranya. Sumpah darah di dalam jimat itu telah padam, menandakan bahwa putranya, Liu, telah tewas tanpa sisa.

"Kau... kau yang membunuh putraku?!" suara Liu Cang bergetar, dipenuhi oleh kebencian yang mendalam. Urat-urat di lehernya menonjol kaku. "Bocah cacat dari barak budak... Bagaimana mungkin sampah sepertimu bisa membunuh anakku?!"

Kala menatap Liu Cang dengan netra Black Hole-nya yang sunyi. Di dalam pupil hitam pekat itu, miliaran bintang berputar lambat, memantulkan bayangan kematian pria tua di depannya. "Putramu mati karena dia terlalu lambat. Dan hari ini, kau akan menyusulnya untuk membayar hutang darah ibuku dan Ayla."

"Bicara besar! Ranah Raja Bumi bukanlah sesuatu yang bisa disentuh oleh semut sepertimu! Mati kau!!!"

Liu Cang meraung gila. Dia menarik pedang besar di punggungnya—Pedang Badai Langit, sebuah pusaka tingkat bumi. Dengan satu ayunan penuh, Liu Cang melepaskan teknik pamungkasnya: Sembilan Naga Badai Pemecah Bumi.

ROAAARRR!

Energi Qi angin berwarna hijau pekat memadat, membentuk sembilan ekor naga angin raksasa sepanjang tiga puluh meter yang mengitari langit. Naga-naga itu mengaung, memutar putaran angin puyuh yang sanggup mencabut fondasi gunung. Bumi di bawah kaki Kala mulai retak dan terangkat ke udara. Sembilan naga itu melesat serentak dari sembilan arah, mengunci ruang pelarian Kala secara mutlak.

Menghadapi kehancuran tingkat regional ini, Kala tetap tenang. Batinnya berkomunikasi dengan sarung pedangnya.

“Kala, berhati-hatilah,” suara wanita yang misterius dari Pohon Akalbuana bergaung serius di kepalanya. “Orang ini berada di Ranah Raja Bumi Tingkat Menengah. Tingkat kultivasinya dua tingkat di atasmu saat ini. Jika kau memaksakan Hukum Sepuluh Senti untuk menghentikannya, tekanan baliknya akan melukai jiwamu!”

"Aku tahu batasan hukumku," jawab Kala dingin dalam hati. "Waktunya tidak bisa dihentikan... tapi bisa diperlambat."

Kala mengambil satu langkah mundur. Ibu jari tangan kanannya mendorong pelindung gagang pedang Jian tipis hitamnya.

Kala mengambil satu langkah mundur. Ibu jari tangan kanannya mendorong pelindung gagang pedang Jian tipis hitamnya.

CHIIING!

Dentingan mistis itu memotong malam. Kala menarik bilah pedang hitamnya sepanjang tepat sepuluh sentimeter.

DENG!

Gelombang distorsi waktu berbentuk lingkaran meledak dari tubuh Kala. Dunia monokrom abu-abu kembali tercipta, namun kali ini, dunia itu bergetar hebat. Sembilan naga angin raksasa milik Liu Cang tidak membeku menjadi patung seperti murid-murid sebelumnya. Karena perbedaan ranah yang terlalu jauh, naga-naga itu terus bergerak maju, menolak untuk dijeda oleh hukum waktu Kala.

Namun, kecepatan mereka berubah drastis. Sembilan naga yang tadinya melesat secepat kilat, kini bergerak sangat lambat, seolah-olah sedang merangkak di dalam cairan lem yang amat kental. Setiap kepakan sayap angin mereka membutuhkan waktu beberapa detik hanya untuk bergeser satu inci.

Di saat yang sama, dada Kala bergemuruh. Seteguk darah hangat naik ke tenggorokannya, mengalir keluar dari sudut bibirnya. Memperlambat seorang Master Ranah Raja Bumi memaksanya mengonsumsi esensi kehidupannya sendiri. Waktunya sangat terbatas.

"Tiga detik," bisik Kala pada dirinya sendiri.

Kala bergerak. Di dalam dunia yang bergerak lambat itu, tubuh Kala melesat laksana kilat perak yang meliuk di antara celah-celah tubuh sembilan naga angin. Kecepatannya yang normal di dalam waktu yang diperlambat membuatnya tampak tak kasat mata bagi mata dunia luar.

Dalam waktu dua detik, Kala sudah menembus formasi naga dan berdiri tepat di depan Liu Cang.

Pria tua itu membatu dengan mata yang bergerak sangat lambat, mencoba melirik ke arah Kala yang tiba-tiba muncul di depan wajahnya. Sinyal bahaya di otak Liu Cang berteriak gila, jimat pelindung di tubuhnya mulai bersinar terang, namun gerakannya terlalu lambat untuk mengimbangi Kala.

"Tebasan Nihilitas: Pemotong Aliran," ucap Kala tenang.

Bilah pedang Jian yang setipis kertas itu diayunkan dalam satu garis lurus ke arah dada Liu Cang. Tebasan itu tidak mengeluarkan energi, melainkan memotong ruang vertikal tempat Liu Cang berdiri. Ruang di sekitar dada Liu Cang terdistorsi, melengkung dan terbelah membentuk garis hitam hampa udara yang menembus jimat pelindung, jubah emas, hingga menembus tulang belakangnya.

Setelah menebas, Kala tidak berlama-lama. Dia langsung memasukkan kembali bilah tipisnya ke dalam sarung kayu Yggdrasil.

KLIK.

Tiga detik berakhir. Waktu semesta kembali mengalir dengan kecepatan normal.

BOOOOOOM!!!

Sembilan naga angin raksasa yang tadi merangkak melambat tiba-tiba melesat maju dan menghantam tempat kosong di mana Kala berdiri sebelumnya, menciptakan ledakan mahadahsyat yang menghancurkan separuh pelataran batu dan paviliun sekte menjadi puing-puing abu.

Murid-murid dalam Perguruan Pedang Langit bersorak gembira melihat ledakan itu. "Tetua Agung berhasil! Bajingan jubah hitam itu pasti sudah hancur menjadi debu!"

Namun, sorakan mereka langsung terhenti saat debu perlahan menipis. Kala berdiri tegak di tempat lain tanpa luka sedikit pun, sedang menyeka darah di bibirnya dengan ujung jubah hitamnya.

Di sisi lain, Liu Cang masih berdiri tegak memegang pedang besarnya. Dia tertawa terbahak-bahak, "Hahaha! Bocah sialan, gerakan apa tadi? Kau bahkan tidak bisa menyentuh selembar kain jubahku—"

KRAKK.

Suara retakan terdengar dari dada Liu Cang. Jimat pelindung tingkat buminya tiba-tiba hancur menjadi abu putih. Detik berikutnya, sebuah garis hitam vertikal tipis memanjang dari pundak kiri hingga pinggang kanan Liu Cang.

Tanpa sempat berteriak, tubuh Tetua Agung Ranah Raja Bumi itu terbelah menjadi dua bagian. Sisi atas tubuhnya merosot jatuh ke atas salju, sementara kaki dan pinggangnya tetap berdiri kaku. Darah segar menyembur seperti air mancur, menodai salju hitam di pelataran sekte menjadi merah pekat. Seorang Master legendaris yang ditakuti di wilayah utara, tewas dalam satu gerakan tebasan ruang yang dilakukan di dalam sisa detik waktu yang melambat.

Seluruh pelataran sekte mendadak senyap total. Ribuan murid dalam mematung dengan wajah pucat pasi, lutut mereka gemetar hebat melihat pemandangan yang mustahil tersebut. Ayah dari Tuan Muda Liu, sang pilar sekte, telah tumbang.

Kala melangkah maju meniti ceceran darah itu, netra Black Hole-nya menatap lurus ke arah aula utama di puncak tertinggi. "Panggil Ketua Sekte kalian," suara Kala menggema menembus badai. "Atau aku sendiri yang akan menghapus nama perguruan ini dari ingatan sejarah dunia."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!