"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Farhan tidak menyerang pada giliran pertama.
Itu membuat dua pemain lain tertawa kecil. Dalam permainan uji sebelumnya, siapa pun yang mendapat kartu kapal selalu mencoba merebut pelabuhan lebih cepat. Farhan justru memakai Gudang Sementara, menambah satu sumber daya kecil, lalu menyimpan dua kartu di tangan.
Di kartu bantu pemain, tindakan menyimpan sumber daya bahkan tidak diberi contoh. Reza menganggapnya terlalu pasif untuk ditulis sebagai jalur utama. Farhan membaca celah itu seperti membaca rak yang salah label: adalah bisa dipakai jika orang lain terlalu sibuk mengambil barang besar.
"Dia cuma menunda kalah," bisik salah satu penguji.
Dimas menulis kalimat itu di catatan. Karena reaksi pemain adalah data.
Reza memainkan deck unggulan. Kartu pertamanya, Armada Merah, punya serangan langsung jika pemain menguasai pelabuhan besar. Ia menggerakkan kapal, mengambil Pelabuhan Utama, lalu menurunkan Komandan Dermaga.
"Ini contoh tempo," katanya. "Tekanan awal membuat lawan tidak punya ruang."
Farhan membaca kartu lawan, lalu mengangguk. Ia memainkan Perahu Tambal. Efeknya sederhana: jika hancur, ambil satu kartu sumber daya dari tumpukan buangan.
"Kartu jelek," kata Reza.
"Murah," jawab Farhan.
Giliran kedua, Reza menyerang. Armada Merah menghancurkan Perahu Tambal dan satu Buruh Pelabuhan. Dua kartu rendah itu masuk tumpukan buangan.
Farhan justru terlihat lega.
"Kenapa lega?" tanya Raka.
"Karena sekarang gudang saya ada isinya."
Ia mengaktifkan efek Perahu Tambal, mengambil kembali satu sumber daya. Lalu Buruh Pelabuhan yang dibuang memicu teks kecil: jika kartu ini dibuang oleh serangan lawan, kurangi satu sumber daya lawan pada fase berikutnya.
Reza berhenti.
"Tunggu. Itu maksudnya biaya tambahan hanya untuk serangan area."
Raka menunjuk papan. "Teksnya tidak bilang begitu."
Reza menahan napas. "Teksnya belum final."
"Untuk permainan ini, teks final adalah yang tertulis."
Naya langsung mencatat: jangan biarkan pembuat menjelaskan aturan setelah rugi.
Giliran ketiga dimulai dengan Reza masih unggul poin dan darah. Ia memakai Kaptain Angin untuk serangan langsung. Farhan mengorbankan Gudang Sementara dan Kuli Dermaga. Semua orang mengira ia makin tertinggal.
Lalu ia memainkan Jalur Pulang.
Efeknya mengembalikan satu kartu biaya rendah dari buangan ke tangan jika pemain tidak menguasai pelabuhan besar. Setelah itu ia menurunkan Gudang Sementara lagi, mendapat sumber daya kecil lagi, dan memakai Kuli Dermaga untuk memindahkan satu kerusakan ke kapal Reza.
Dimas mengangkat kepala. "Ulang pelan-pelan."
Farhan mengulang. Tidak cepat, tidak bergaya. Ia hanya mengikuti teks kartu satu per satu.
Buang.
Ambil.
Turunkan.
Pindahkan kerusakan.
Simpan aksi.
Raka melihat meja berubah. Farhan memang kehilangan darah, tetapi setiap kehilangan membuka pintu kecil. Kartu yang dianggap sampah saling memanggil dari tumpukan buangan. Deck unggulan Reza kuat, tetapi mahal. Setiap serangan besar memakan sumber daya yang mulai diganggu oleh efek kecil Farhan.
Penguji yang tadi menertawakan mulai berhenti berkomentar. Mereka menghitung bersama. Satu sumber daya hilang di sini, satu kartu kembali di sana, satu kerusakan berpindah tanpa serangan. Tidak ada efek yang terlihat megah. Justru karena kecil, Reza tidak menutupnya saat mendesain.
"Ini loop," kata Dimas.
"Ini kecelakaan," kata Reza.
"Kecelakaan yang bisa diulang berarti sistem," jawab Naya.
Pada giliran keempat, Reza mencoba menutup permainan. Ia memakai Badai Besar untuk menghancurkan semua kartu biaya satu. Farhan tersisa satu nyawa. Semua orang berpikir selesai.
Farhan menunjuk teks Badai Besar. "Menghancurkan kartu di meja, bukan di buangan."
"Benar," kata Raka.
Farhan memainkan Nelayan Pulang dari tangan. Efeknya: jika pemain punya satu nyawa, ambil dua kartu biaya satu dari buangan, tetapi tidak boleh menyerang giliran ini. Ia mengambil Perahu Tambal dan Buruh Pelabuhan. Lalu ia memakai sumber daya tersisa untuk mengaktifkan Jalur Pulang yang sudah kembali.
Dimas berdiri. "Jadi dia tidak menyerang, tapi memindahkan kerusakan?"
Farhan mengangguk. "Kartu ini bilang pindahkan satu kerusakan jika kartu biaya satu masuk meja untuk kedua kalinya."
Kerusakan berpindah ke Armada Merah. Armada itu hancur. Efek Buruh Pelabuhan memotong sumber daya terakhir Reza. Kaptain Angin tidak bisa dibayar. Pelabuhan Utama kehilangan penjaga.
Farhan menyerang dengan kartu paling kecil di meja pada giliran berikutnya.
Satu poin.
Cukup.
Reza kalah dengan deck yang ia susun sendiri sebagai contoh kuat.
Selama dua detik, tidak ada suara.
Lalu pekerja gudang yang paling tua tertawa duluan. "Kapal besarnya tenggelam karena perahu tambalan."
Tawa pecah setelah itu. Tawa lega karena permainan yang tadinya terasa seperti proyek aneh mendadak punya cerita yang bisa diceritakan ulang.
Ruangan meledak.
Dimas benar-benar berteriak. Salah satu penguji memukul meja. Farhan hanya menatap kartu, seperti belum yakin ia boleh senang. Raka melihat wajah Reza. Ada marah, malu, dan sesuatu yang lebih berguna: hitungan baru.
"Kartu Perahu Tambal harus sekali per ronde," kata Reza.
"Tulis di v2," kata Raka. "Bukan di hasil pertandingan."
Reza menatapnya. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mengambil spidol dan menulis.
v2: Perahu Tambal satu kali per ronde. Jalur Pulang tidak boleh memicu dari kartu yang sama. Badai Besar menyebut zona.
"Loop-nya rusak kalau semua dihapus," kata Farhan pelan.
Reza berhenti menulis. "Apa?"
"Kalau semua ditutup, deck murah mati lagi. Mungkin cukup batasi dua kali."
Raka melihat Reza menahan ego di tenggorokan. Ini bagian yang ia tunggu. Bintang lima yang tidak bisa mendengar pemain akan menjadi bencana. Bintang lima yang mau menulis ulang karena pemain diam menemukan celah, itu aset.
Dimas menatap Farhan seperti baru melihatnya jelas. "Kau mau ikut besok?"
Farhan mengangkat bahu. "Kalau boleh."
Panel SAT muncul tipis di pandangan Raka, tetapi belum membuka penuh. Farhan masuk area observasi. Raka tidak memaksakan kesimpulan. Anak ini belum karyawan, belum proyek resmi, tetapi matanya membaca alur seperti orang membaca rak gudang.
Malam itu, Dimas menyalin video uji ke folder internal.
Pukul dua dini hari, ia kembali ke ruang rapat dengan wajah pucat.
"Ada yang unggah."
Di layar, video Farhan mengalahkan Reza sudah dipotong menjadi satu menit. Judulnya brutal.
Anak SMK pakai kartu sampah hajar pembuat game.
Angka tayangan bergerak naik. Komentar pertama menertawakan Reza. Komentar berikutnya bertanya kapan kartu itu dijual. Lalu puluhan orang mulai meminta pre-order.
Yang paling berbahaya bukan ejekan. Yang paling berbahaya adalah orang-orang mulai membuat nama sendiri untuk kartu murah Farhan: deck tambalan, perahu miskin, gudang hidup. Produk yang belum punya izin cetak tiba-tiba sudah punya bahasa komunitas.
Reza menutup mata.
Raka melihat aturan v2 yang belum rapi, video yang sudah beredar, dan kotak prototipe yang bahkan belum punya izin cetak.
Mereka belum membuka pintu.
Pasar sudah menggedornya.