NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Laki-Laki di Bawah Sinar Bulan

Peony itu bergerak mendekat ketika Keira kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya jatuh ke depan. Lelaki di depannya menangkap kedua bahunya sebelum kepalanya menghantam lantai taman.

"Jangan sentuh..."

Keira mencoba mendorong, tetapi tangannya justru mencengkeram kerah jas lelaki itu. Kancing paling atas terlepas. Kain kemeja di baliknya terbuka sedikit saat Keira menarik untuk mencari udara.

"Panas," bisiknya. "Aku tidak bisa bernapas."

Lelaki itu tidak memeluk lebih erat. Ia menahan jarak sebisanya agar Keira tidak jatuh, lalu menatap pupilnya, keringat di pelipis, dan denyut cepat di leher.

"Brandon. Panggil ambulans."

Seorang pria yang baru keluar dari pintu samping langsung mengambil ponsel. "Siap, Bos."

Keira kembali meronta. Jemarinya menyentuh bunga di dada jas. Pandangannya kabur, tetapi susunan serat itu masih ia kenal.

"Sulamanku..."

Lelaki tersebut menunduk pada tangan kiri yang dibalut perban. Empat jari. Ujung benang sutra tipis masih tersangkut di sela kuku.

Ia melihat peony pada jas, lalu wajah Keira.

Jadi perempuan ini penyulam di butik.

"Siapa yang memberi minuman kepadamu?" tanyanya.

"Jus... Vanessa..."

Keira tidak sanggup menyelesaikan kalimat. Tubuhnya kembali menegang, tangan kanannya menarik kerah lelaki itu sampai jahitan berbunyi.

Brandon menutupi mikrofon ponselnya. "Bos, ambulans delapan menit. Kita bisa bawa sendiri lebih cepat."

Lelaki itu mengangguk. Ketika Keira mencoba berlari ke arah yang salah dan hampir menabrak dinding, ia mengambil keputusan cepat. Satu pukulan terukur mengenai sisi leher Keira.

Tubuh perempuan itu melemah di lengannya.

Brandon membeku. "Bos... itu tetap berbahaya."

"Aku tahu. Kita ke rumah sakit sekarang."

Tidak ada kemenangan dalam suaranya. Hanya perintah dan kesadaran bahwa keputusannya juga harus dilaporkan kepada dokter.

Ia mengangkat Keira tanpa membiarkan rok tersingkap, lalu menutup tubuhnya dengan jas cadangan yang dibawa Brandon.

Saat itulah Brandon melihat pemandangan yang selama bertahun-tahun mustahil ia bayangkan: Rayhan Hartono berdiri dengan kerah terbuka, seorang perempuan tidak sadar dalam pelukannya, dan peony sutra tepat di antara mereka.

Ponselnya terangkat hampir secara naluriah.

Klik.

Foto hanya menangkap sisi wajah Keira yang tertutup rambut dan tangannya yang masih memegang kerah Rayhan. Brandon menyimpannya di folder pribadi. Oma Hartono akan sangat tertarik.

"Kalau foto itu bocor," kata Rayhan tanpa menoleh, "kamu kehilangan pekerjaan."

Brandon menurunkan ponsel. "Tidak akan bocor, Bos. Mungkin cuma pindah ke satu anggota keluarga."

Rayhan menatapnya.

"Saya sedang memanggil mobil," kata Brandon cepat.

Mereka tiba di RS Pondok Indah dalam dua belas menit.

Selama perjalanan, Rayhan meletakkan Keira menyamping di kursi belakang agar jalan napasnya tetap terbuka. Ia menurunkan suhu kabin dan memeriksa denyut di pergelangan tanpa membuka perban atau pakaian. Setiap perubahan waktu dicatat Brandon di ponsel untuk dilaporkan kepada dokter.

Keira sempat mengerang ketika mobil melewati sambungan jalan. Tangannya mencari sesuatu dan kembali mencengkeram ujung lengan kemeja Rayhan.

Rayhan tidak melepaskannya. Ia juga tidak membalas genggaman itu. Ia hanya menjaga tangan tersebut agar tidak mengenai luka kelingking.

"Dia percaya pada Bos bahkan saat tidak sadar," bisik Brandon.

"Dia sedang mengalami disorientasi. Jangan mengarang makna."

Namun Rayhan tetap membiarkan empat jari itu bertahan sampai petugas IGD membuka pintu mobil.

Rayhan menyerahkan Keira kepada tim IGD dan menjelaskan semua yang terjadi, termasuk pukulan yang membuatnya tidak sadar. Dokter memeriksa jalan napas, jantung, suhu tubuh, serta mengambil sampel darah untuk toksikologi.

Rayhan berdiri di luar pintu kaca.

Tanpa jas peony, ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan kerah terbuka. Brandon datang membawa dua gelas kopi, lalu mengurungkan niat menyerahkan salah satunya ketika melihat atasannya tidak bergerak.

"Bos," katanya, "dokter sudah bilang kondisinya stabil."

"Aku dengar."

"Keluarga Pratama ada di ballroom. Kita bisa memberi tahu mereka."

"Jangan sebelum dia sadar."

Brandon mengangkat alis. "Kenapa?"

"Dia menyebut Vanessa sebelum kehilangan kesadaran."

"Berarti Bos menduga keluarganya terlibat?"

Rayhan tidak menjawab.

Brandon mengamati profilnya. "Biasanya Bos menyerahkan orang asing kepada keamanan hotel dan pergi. Kenapa kali ini menunggu?"

Tatapan Rayhan beralih ke lorong di sebelah kanan.

Beberapa hari lalu, lorong yang sama dipenuhi cahaya sore.

Ia sedang menuju lift setelah menemui dokter pribadi Oma ketika melihat seorang gadis berseragam pudar berdiri di depan jendela. Darah mengalir dari dahinya, tetapi wajahnya lebih tenang daripada siapa pun di rumah sakit.

Gadis itu berbisik kepada bayangannya sendiri, bertanya apakah ada yang akan menangis bila ia mati.

Rayhan mengangkat kepala. Namun sebelum ia sempat berjalan mendekat, gadis itu sudah berbalik menuju pintu tangga darurat.

Beberapa menit kemudian, ia menemukan gadis yang sama duduk di anak tangga, menekan tisu pada luka. Rayhan berhenti dua tingkat di atasnya.

"Punya rokok?" tanya gadis itu tanpa melihat wajahnya.

Rayhan jarang merokok, tetapi satu batang tersimpan di kotak logam milik mendiang ibunya. Ia mengambilnya dan menyerahkan tanpa bertanya.

Keira menerima dengan tangan yang gemetar. "Api?"

Ia menyalakan korek, lalu menahan nyala sampai ujung rokok merah.

Keira mengisap sekali dan langsung batuk.

"Pertama kali?" tanya Rayhan.

Keira mengangguk.

"Kalau begitu kenapa?"

"Aku ingin tahu kenapa orang membutuhkannya saat hidup terasa buruk."

"Dan jawabannya?"

Keira melihat batang rokok di antara jarinya. "Rasanya buruk juga."

Sudut bibir Rayhan bergerak sangat tipis. "Berarti tidak berguna."

Setelah beberapa saat, Keira bertanya, "Kenapa kamu tidak menanyakan darah di wajahku?"

"Kalau kamu ingin menceritakannya, kamu akan bicara."

"Kalau aku tidak mau?"

"Itu juga jawaban."

Keira akhirnya menoleh. Lelaki asing itu tidak melihat perban, kaki bengkok, atau seragam pudar. Tatapannya hanya berada di wajah, tanpa rasa iba.

"Orang biasanya ingin tahu kesalahan apa yang kulakukan."

"Aku tidak mengenalmu. Jadi aku juga tidak punya hak memutuskan kamu bersalah."

Kalimat itu membuat Keira diam lebih lama. Bahkan keluarganya yang mengenal selama delapan tahun tidak pernah memberinya kemewahan sekecil itu.

Rayhan duduk dua anak tangga lebih tinggi, menjaga jarak. Keira menyerahkan rokok setelah isapan kedua. Ia menerimanya, mengisap sekali, lalu meletakkannya di wadah logam portabel.

Di balik pintu tangga terdengar langkah petugas medis mencari pasien. Keira berdiri dengan susah payah.

"Terima kasih untuk rokoknya."

"Kamu bahkan tidak menyukainya."

"Aku berterima kasih karena kamu tidak memaksaku menyelesaikannya."

Mereka duduk dalam diam sampai asap terakhir menghilang.

Tidak ada nama. Tidak ada cerita. Hanya dua orang yang sama-sama tidak ingin kembali ke ruangan di balik pintu masing-masing.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kepala Rayhan benar-benar sunyi.

Suara Brandon menariknya kembali ke depan IGD.

"Bos?"

Rayhan menatap Keira melalui kaca. "Dia bukan orang asing."

"Lalu siapa?"

"Dia gadis di tangga rumah sakit."

Brandon mengikuti arah tatapannya, lalu perlahan tersenyum. "Dan penyulam peony di jas Bos."

"Itu tidak relevan."

"Tentu, Bos. Sangat tidak relevan sampai Bos menunggu hasil toksikologi."

Rayhan mengabaikannya.

Seorang dokter keluar setelah hampir satu jam. "Pasien menelan zat yang memicu peningkatan denyut, suhu tubuh, dan disorientasi. Kami sudah memberikan cairan serta obat suportif. Dia harus diobservasi sampai efeknya hilang dan hasil ginjalnya stabil."

"Dia hanya punya satu ginjal," kata Rayhan.

Dokter terkejut. "Bapak tahu riwayatnya?"

"Aku melihat gelang peringatannya."

"Sampel darahnya menunjukkan senyawa yang tidak tercantum dalam obat resep," lanjut dokter. "Kami perlu persetujuan pasien setelah sadar sebelum laporan toksikologi lengkap diberikan kepada pihak lain."

"Simpan sampel dan catat rantai penguasaannya," kata Rayhan. "Kalau dia memilih melapor, bukti itu tidak boleh hilang."

Ia menoleh kepada Brandon. "Kembali ke hotel. Amankan rekaman koridor, meja Pratama, gelas jus, dan daftar staf yang menyentuhnya. Jangan menuduh siapa pun. Cukup pastikan barangnya tidak dibuang."

Brandon langsung menyimpan humor dari wajahnya. "Siap, Bos."

"Dan beri tahu keamanan rumah sakit. Tidak ada yang boleh memindahkan pasien sebelum dia sadar dan menyatakan sendiri hendak pergi dengan siapa."

Dokter mengangguk. Instruksi itu tidak menjadikan Rayhan keluarga atau wali. Justru ia memastikan kendali kembali kepada Keira ketika sadar.

Rayhan meminta semua obat diperiksa ulang agar aman bagi ginjal tunggal. Ia meninggalkan kartu nama Brandon sebagai kontak saksi, membayar deposit tanpa mencantumkan dirinya sebagai keluarga, lalu pergi setelah memastikan petugas keamanan menjaga akses kamar.

Brandon berjalan di sampingnya. "Foto tadi benar-benar tidak boleh dikirim ke Oma?"

"Hapus."

"Baik, Bos."

Brandon tidak menghapusnya.

Keira terbangun lewat tengah malam.

Lampu kamar diredupkan. Panas di tubuhnya sudah turun, hanya menyisakan lelah dan rasa pahit di mulut. Di meja samping ranjang ada segelas air hangat dalam termos kecil.

Sebuah catatan terlipat di bawahnya.

Perawat malam datang memeriksa infus. "Laki-laki yang membawa Mbak tadi sudah pergi. Dia tidak masuk kamar setelah dokter menyatakan kondisi stabil. Air ini dititipkan melalui saya."

"Dia menyebut namanya?"

"Tidak. Hanya meninggalkan kontak asistennya kalau Mbak ingin laporan kejadian di hotel."

Keira menyentuh kertas itu dengan empat jari. Orang tersebut bahkan tidak menggunakan pertolongannya sebagai alasan untuk berada di dekat ranjang.

`Efek obatnya sudah hilang. Minum air hangat.`

`R.H.`

Keira menatap dua huruf itu lama sekali.

R.H.

Rayhan Hartono.

Lelaki yang dalam rumor disebut tidak mampu, kasar, dan menyimpang justru meninggalkan air hangat, membayar rumah sakit, lalu pergi tanpa menuntut apa pun.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!