Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.
Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.
Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERMAINAN DI BALIK ASAP
Suara deru angin malam yang membawa aroma belerang menyapu tebing batu tempat mereka berlindung. Di bawah sana, kota perbatasan Agnivara tampak menyala kusam—lentera-lentera jalan berkedip ganjil di bawah bayang-bayang tegap menara pengawas.
Bhaskara melangkah mendekati Anala yang tengah berdiri di tepi tebing, menatap sayup ke arah Istana Pawaka yang menjulang jauh di tengah lembah magma. Angin malam menyibak rambut hitam panjangnya, memperlihatkan guratan tegas di wajah sang putri.
"Anala," panggil Bhaskara pelan. "Pamanmu menguasai istana dan benteng utama. Tapi kalau kita ingin merebutnya kembali, kita tidak bisa sekadar menerobos gerbang depan seperti tadi. Kau punya rencana?"
Anala tidak langsung menjawab. Ia membalikkan badan melipat kedua tangannya di dada. Sebuah ukiran senyum tipis—penuh kepintaran dan ketenangan dingin—terukir di bibirnya. Manik merahnya berbinar jenaka menatap Bhaskara yang tampak cemas.
"Kau pikir aku secerdas itu untuk membiarkan diriku terjebak begitu saja di Bait Pawaka tanpa perhitungan, Pria Asing?" tanya Anala, nadanya begitu tenang.
Bhaskara menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Paman Dahana adalah serigala tua yang sudah lama mengincar posisi Ayahku," ujar Anala sambil melangkah pelan memutari Bhaskara. "Aku sudah mencium bau ambisinya sejak tiga musim lalu. Dia mengumpulkan uang secara diam-diam, menyuap para Senopati gerbang, dan mengatasnamakan keselamatan Agnivara untuk kepentingannya sendiri. Aku tahu betul apa yang ada di kepalanya."
> [PROSES ANALISIS SISTEM]
> 🔥 Target: Putri Anala
> 💡 Status: Informasi Tak Terduga Terungkap
> Misi Sistem mendeteksi kedalaman strategi Sang Putri.
"Lalu kenapa kau membiarkan dirimu dikurung di ruangan itu?" tanya Bhaskara heran.
"Karena aku butuh bukti nyata bahwa dia melakukan pengkhianatan terbuka di hadapan Hukum Agni," jawab Anala mantap. "Dan aku butuh dia mengumpulkan seluruh pengikut setianya dalam satu ruangan agar tidak ada dari mereka yang melarikan diri saat pembersihan dimulai."
Bhaskara menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu terkekeh sinis. "Bukti? Maksudmu bukti bahwa kau terbunuh di sana?"
Anala mendelik tajam, matanya menyala merah pekat. "Kau—!"
"Dengar, Putri," potong Bhaskara cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan sebelum Anala sempat menyemburkan apinya. "Rencanamu hebat. Sangat visioner. Tapi kalau aku tidak mendobrak jendela itu tadi, rencana hebatmu itu bakal berakhir dengan Pamanmu memegang kepalamu dan Agnivara resmi jatuh ke tangannya!"
Anala mengepalkan tangannya, bibirnya bergetar menahan kekesalan karena tahu ucapan pria asing ini ada benarnya. Namun, alih-alih meledak emosi, ia justru memalingkan wajah sambil bersedekap, menghembuskan napas panas yang membawa sedikit asap tipis dari hidungnya.
"Aku punya kalkulasi sendiri, Bhaskara," gumam Anala gengsi, walau sudut matanya melirik Bhaskara dengan pendar kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan. "Tapi... baiklah. Harus kuakui, aksimu yang melompati jendela itu memang sedikit berguna."
Bhaskara tersenyum puas melihat harga diri Sang Putri Api yang sedikit terkikis.
Di sudut pandang Bhaskara, Lontar Emas mendadak bergetar hebat, memancarkan pendar keemasan yang jauh lebih hangat dari sebelumnya:
> [UPDATE STATUS: PUTRI ANALA]
> Tingkat Kepercayaan (Trust): 💛 50% (Sahabat & Mitra Strategi)
> Notifikasi: Persepsi saling memahami terjalin. Kesetaraan posisi antara Penjaga Cahaya dan Putri Api memicu resonansi takdir yang kian dalam.
"Tapi tindakan nekatmu memotong rantai jembatan lahar justru mempercepat rencanaku. Paman Dahana sekarang mengira kita panik dan melarikan diri." seru Anala memberikan tatapan penuh takjub.
Bhaskara jadi salting, ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Jadi... aku sebenarnya hanya mengacaukan atau membantu rencanamu?"
Anala melangkah makin dekat, menatap langsung ke dalam mata Bhaskara. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Bhaskara bisa merasakan kehangatan alami dari aura api yang memancar dari tubuh sang putri.
"Kau membantuku, Bhaskara," ujar Anala, suaranya lembut. "Kau memberi bukti padaku bahwa di dunia yang penuh pengkhianatan ini, masih ada seorang pria yang sudi melompat ke dalam bahaya demi menyelamatkanku."
Anala lalu mengangkat jemari tangan kirinya. Ia mendekatkan telapak tangannya ke bibir, lalu meniupkan segumpal Prana api kecil yang berpendar merah pekat ke udara malam.
Syuuu...
Bara api kecil itu membubung tinggi, lalu terpecah menjadi tiga percikan cahaya halus yang meluncur cepat ke kegelapan hutan batu di bawah tebing.
"Agnivara tidak hanya memiliki prajurit berzirah berat yang menjaga tembok istana," bisik Anala, tatapannya berkilat tajam. "Kami memiliki Pasukan Dahana Niskala—prajurit bayangan yang hanya tunduk pada darah murni garis keturunan raja. Mereka telah mengawasi setiap gerak-gerik Pamanku sejak awal, menunggu komandoku."
Bhaskara terpana. Ia menatap gadis di hadapannya dengan pandangan yang sama sekali baru. Sang Putri Api bukan sekadar prajurit emosional yang butuh diselamatkan; dia adalah seorang calon penguasa yang cerdas, dingin, dan penuh perhitungan strategi!
Anala mengulurkan tangannya yang halus, "Sekarang, mari kita temui prajurit bayanganku. Kita atur strategi untuk meruntuhkan kekuasaan Pamanku besok malam."
Bhaskara menyambut uluran tangan itu. Saat telapak tangan mereka bersentuhan, sebuah getaran hangat menembus hingga ke Inti Prisma di dadanya, mempertegas bahwa ikatan takdir di antara mereka berdua kini terjalin makin kuat.
*****
Kegelapan malam di bawah lembah tebing vulkanik terasa kian pekat. Di sebuah celah goa tersembunyi yang tertutup tirai akar tanaman merambat yang mulai mengering terkena hawa panas, Bhaskara dan Anala melangkah masuk.
Suasana di dalam goa begitu hening, hingga derak langkah kaki Bhaskara di atas batu gamping terdengar amat nyaring. Namun, saat Anala melangkah ke tengah ruangan goa, tiga bayangan hitam secara ajaib meleleh keluar dari dinding-dinding batu.
Tiga Sosok berkerudung kain hitam berhias ukiran emas tipis berlutut serempak di hadapan Anala. Di dada zirah lentur mereka, terpahat lambang Burung Garuda Merah—lambang resmi keluarga kerajaan.
"Gusti Putri," ucap salah seorang prajurit bayangan dengan suara serak namun penuh kepatuhan. "Seluruh unit Dahana Niskala di delapan pos perbatasan telah siaga. Kebohongan Pangeran Dahana yang menyatakan Anda tewas tersambar lahar telah kami bentengi agar tidak meracuni pikiran rakyat."
Anala mengangguk anggun, gestur seorang penguasa sejati terpancar murni dari tubuhnya. "Bagus, Surjana. Bagaimana dengan para Senopati di Gerbang Barat?"
"Senopati Wirya dan Senopati Gading menolak membubuhkan stempel kesetiaan pada Pangeran Dahana," jawab prajurit bernama Surjana itu. "Mereka dikurung di Bangsal Pustaka, dipaksa bungkam oleh pasukan ksatria bayaran."
Anala mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Paman Dahana memang keparat. Dia memanfaatkan kepolosanku untuk mengisolasi orang-orang setia Ayah!"
Gadis itu kemudian melirik Bhaskara yang berdiri diam di sampingnya, memperhatikan interaksi tersebut dengan cermat. Surjana dan dua prajurit bayangan lainnya meremas hulu belati di pinggang mereka, menatap Bhaskara dengan tatapan penuh selidik dan kewaspadaan.
"Gusti Putri... siapa pria asing ini?" tanya Surja tajam. "Aura batinnya... sangat asing. Dia bukan bagian dari rakyat Agnivara."
Anala melangkah maju setengah jalan, sengaja berdiri sedikit memiringkan tubuhnya untuk memblokir pandangan prajuritnya dari Bhaskara—sebuah gestur perlindungan spontan yang tak luput dari pengamatan Bhaskara.
"Dia adalah Bhaskara," tegas Anala, suaranya tak bergetar sedikit pun. "Dia adalah Pengembara yang dikirim takdir untuk berdiri di sampingku. Tanpa bantuannya di Bait Pawaka, aku tidak akan berdiri di sini malam ini."
Mendengar penegasan Anala, ketiga prajurit bayangan menundukkan kepala mereka lebih dalam, menaruh tangan kanan di dada kiri sebagai tanda hormat.
> [PROSES SISTEM: SIMPUL TAKDIR]
> 🔥 Target: Putri Anala
> ✨ Efek Sikap: Pengakuan terbuka Putri Anala di hadapan bawahannya memperkuat resonansi Inti Prisma.
> 📈 Tingkat Kepercayaan (Trust): 💛 60% (Sahabat Terdekat)
Bhaskara tersenyum kecil melihat notifikasi yang melayang samar di depan pandangannya. Rasa percaya Anala merambat naik secara alami, bukan karena sistem memaksa perasaan gadis itu, melainkan karena kepercayaan yang tumbuh dari aksi penyelamatan.
"Baiklah," Bhaskara melangkah mendekat ke meja batu di tengah goa tempat peta peta kain Kerajaan Agnivara terbentang. "Jika dua Senopati itu dikurung di Bangsal Pustaka, berarti kita tidak perlu menghancurkan Gerbang Depan Istana, jadi... apa rencanamu, Putri?"
"Pangeran Dahana mengira kita melarikan diri keluar batas kerajaan," ujar Anala sambil menunjuk titik Bangsal Pustaka di peta. "Besok pagi, dia pasti akan mengadakan sidang darurat untuk mengangkat dirinya sendiri menjadi Wali Raja sementara. Di saat perhatian seluruh prajurit terfokus di Altar Agung..."
Bhaskara menatap mata merah Anala yang membara. "...kau dan aku, bersama Pasukan Niskala, akan masuk ke sidang itu dan membongkar pengkhianatan Dahana."
Anala menatap peta itu, lalu menatap Bhaskara. Sebuah pendar kebanggaan dan keyakinan meledak di matanya.
"Rencana yang sangat berani," bisik Anala, senyum menawannya merekah indah di bawah pendar obor goa. "Aku suka caramu berpikir, Bhaskara."
...****************...