NovelToon NovelToon
Kaisar Bela Diri Legendaris

Kaisar Bela Diri Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.

Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.

Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Jalan Menuju Puncak

Tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di gubuk medis.

Ye Cangtian berdiri di atas tembok selatan Kota Fajar, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya. Di bawah sana, Divisi Kedua berlatih formasi pertahanan baru di bawah teriakan menggelegar Long Zhan.

Lengan kanan Cangtian masih terbungkus perban tebal. Jari-jarinya bisa bergerak sedikit, tapi untuk menggenggam gagang pedang, ia belum mampu.

Tiba tiba, langkah kaki berat menaiki tangga batu. Long Zhan, dengan keringat membasahi pelat dadanya, menghampiri sang Kaisar.

"Kau memanggilku, Cangtian?" Ia menyeka keringat di dahinya. "Kuharap ini bukan perintah mundur lagi. Anak buahku sudah gatal ingin merobek sesuatu."

"Bukan mundur." Cangtian menoleh, menatap mata sang Pendekar Tombak. "Aku akan pergi dari kota ini untuk sementara waktu."

Long Zhan mengerutkan kening. "Pergi? Ke mana? Lengan kananmu bahkan belum bisa dipakai mengupil, apalagi bertarung. Kalau kau bertemu Jenderal Bintang di luar sana..."

"Justru karena lenganku cacat, aku harus pergi." Suara Cangtian dipenuhi determinasi mutlak. "Selama aku lemah, Xing Yun akan terus memakai taktik kotornya. Dia akan terus membantai orang tak bersalah dengan alasan melindungiku. Aku tidak bisa membiarkan Pasukan Pembelah Langit berubah jadi kelompok pembunuh berdarah dingin."

Cangtian menepuk bahu raksasa Long Zhan dengan tangan kirinya.

"Selama aku pergi, kau pegang komando mutlak atas seluruh pertahanan Kota Fajar. Dan Long Zhan..." Matanya menyipit tajam. "...awasi Divisi Bayangan. Awasi Xing Yun. Kalau dia coba meracuni sumur atau membantai rakyat biasa lagi, ikat dia di alun-alun kota sampai aku kembali. Mengerti?"

Long Zhan menyeringai lebar, memperlihatkan taringnya. "Dengan senang hati."

"Bawalah ini." Suara lembut menyela. Su Ling'er menaiki tangga, menyodorkan kantung kulit berisi pil-pil merah yang memancarkan hawa panas.

"Kau benar-benar yakin mau pergi ke Lembah Naga Api?" tanya Ling'er cemas. "Tempat itu sangat berbahaya. Bahkan klan dewa menghindari wilayah ekstrem itu."

"Itu satu-satunya tempat dengan energi Yang buas, yang cukup padat untuk memaksa meridianku sembuh." Cangtian mengambil kantung itu. "Besi yang patah harus ditempa ulang di dalam tungku pembakaran. Dan tubuhku besinya."

Ling'er menghela napas, menyadari ia tak akan pernah bisa mengubah pikiran pemuda keras kepala di depannya. "Jangan mati, Kaisar Bodoh."

Satu jam kemudian, Ye Cangtian menunggangi kuda hitam, melesat keluar dari gerbang selatan Kota Fajar, meninggalkan pasukan dan sahabat-sahabatnya di belakang.

Perjalanannya ke selatan adalah pengingat kejam tentang kenapa ia harus menjadi lebih kuat. Sepanjang jalan, ia melewati sisa-sisa desa manusia yang hangus terbakar, mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jalan, pria, wanita, bahkan anak-anak yang dibantai hanya karena berada di jalur pergerakan pasukan klan dewa.

Setiap kali melihat pemandangan itu, Pusaran Emas di Dantiannya bergemuruh pelan, seolah merespons amarah tuannya.

Memasuki hari kelima, suhu udara mulai berubah drastis. Tanah yang tadinya ditumbuhi rumput liar berubah jadi abu vulkanik hitam. Udara jadi kering dan panas hingga kuda milik Cangtian mendengus panik, menolak melangkah lebih jauh.

Cangtian turun dari kudanya, menepuk leher hewan itu, membiarkannya kembali ke utara. Sisa perjalanan ini akan ia tempuh dengan berjalan kaki.

Di depannya, membentang wilayah yang tampak seperti dunia lain. Lembah Naga Api.

Tanah di tempat ini retak-retak, memancarkan cahaya merah menyala dari magma yang mengalir lambat di bawahnya. Asap belerang mengepul dari kawah-kawah kecil, membuat napas terasa sesak. Panas di udara cukup untuk melelehkan zirah besi fana dalam hitungan menit.

Cangtian terus berjalan hingga tiba di pusat lembah. Di sana, sebuah danau kawah raksasa, bukan berisi air, melainkan magma cair yang mendidih bergejolak. Udara di atasnya beriak karena panas ekstrem. Energi Yang murni memancar keluar dari kawah itu seperti badai tak kasat mata.

"Sempurna," gumam Cangtian.

Ia melepas jubah hitam dan perban tebal di lengan kanannya, menyisakan celana panjangnya saja. Lengan kanannya dipenuhi memar hitam kebiruan, tanda meridian-meridian halusnya terputus dan tersumbat darah kotor.

Tanpa ragu sedetik pun, ia melompat ke udara, mendarat tepat di tengah danau magma yang mendidih.

Ia tidak tenggelam. Qi keemasannya otomatis meledak keluar, menciptakan lapisan pelindung di atas kulitnya, menahan tubuhnya agar tetap mengapung di permukaan batu cair bersuhu ribuan derajat itu.

Tapi perlindungan itu tidak mencegah panas ekstrem masuk ke tubuhnya. Itulah tujuannya.

Cangtian memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Seni Pemutus Surga: Penyerapan Mutlak."

Alih-alih menahan energi di luar, ia justru membuka pori-porinya. Energi api yang liar, buas, dan menghancurkan dari dalam magma itu tersedot masuk ke tubuhnya seperti pusaran air.

"Aaaarrggghh!"

Cangtian berteriak kesakitan. Rasanya seperti menelan besi cair. Energi api itu menyerbu masuk ke pembuluh darahnya, membakar dari dalam.

Tapi saat energi mematikan itu mencapai Dantiannya, Pusaran Emas miliknya berputar dengan kecepatan gila, memutar energi api liar itu jadi esensi Qi murni, lalu memompanya dengan paksa ke seluruh jaringan otot, termasuk lengan kanannya.

Meridian yang rusak di lengan kanannya murni dibakar dan direkonstruksi ulang bersamaan. Darah hitam yang menyumbat lengannya menguap, digantikan darah baru yang bercahaya kemerahan.

Proses ini sangat menyiksa, tapi efeknya luar biasa. Cangtian bisa merasakan dinding Dantiannya meluas. Ia mulai menyentuh batas atas ranah Master Bela Diri Tingkat 1. Sedikit lagi. Hanya butuh sedikit tekanan lagi, dan ia akan menembus ke pertengahan tingkat.

Namun, penyerapan ekstrem yang ia lakukan menyebabkan suhu magma di kawah itu menurun drastis dalam radius puluhan meter.

Perubahan suhu mendadak itu tidak disukai penghuni asli tempat tersebut.

Tiba tiba Magma di bawah Cangtian mulai bergejolak dengan ritme yang aneh. Bukan karena mendidih, ada sesuatu berukuran masif yang bergerak naik dari dasar kawah terdalam.

Sebuah bayangan hitam raksasa muncul dari bawah permukaan magma. Sedetik kemudian, letusan lava raksasa terjadi, dan sesosok makhluk purba keluar dari dalam danau berapi itu.

Kadal Api setinggi dua puluh meter. Seluruh tubuhnya ditutupi sisik tajam yang memancarkan panas. Taringnya meneteskan lava, dan matanya yang kuning menatap Cangtian dengan amarah pembunuh. Makhluk ini raja sejati di Lembah Naga Api, binatang purba yang level energinya setara Jenderal Bintang klan dewa.

Kadal itu meraung, suaranya menciptakan gelombang kejut yang membuat magma di sekitarnya terpental ke udara.

Di tengah danau magma, Cangtian perlahan membuka mata. Matanya kini tak hanya emas murni, tapi memiliki kilatan merah di pupilnya.

Ia mengangkat lengan kanannya yang sebelumnya cacat. Jari-jarinya mengepal sangat pelan, mematahkan sisa darah kering yang mengerak di kulitnya.

Ia benar-benar sembuh. Bukan hanya sembuh, lengan kanannya kini ditempa ulang seratus kali lebih kuat.

Cangtian tersenyum, menarik Pedang Pemutus Surga dari tanah ke tangan kanannya.

"Tungku pembakarannya bekerja dengan sangat baik," ucapnya pelan, menatap monster purba raksasa di depannya. "Sekarang, pedang ini butuh batu untuk mencoba ketajamannya. Terima kasih sudah bangun dari tidurmu, kadal besar."

1
Hendra
mantap thor👍
Hendra
awal yang bagus👍
Deevy Tresiyana
keren awal Kultivathor di dunia fans..💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!