NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Matahari pagi mulai terasa menyengat kulit saat Deni memacu motor matic bututnya membelah jalanan ibukota.

​Jalanan mulai macet oleh kendaraan orang-orang yang berangkat kerja tapi Deni tidak peduli dan terus selap selip.

​"Aduh gawat ini, aku harus cari tiga pesanan secepat mungkin," gumam Deni sambil terus melihat ke layar ponselnya yang retak.

​"Sistem ini benar-benar tidak punya hati sama sekali, masa hukumannya akan diare tiga hari."

​[Sistem Raja Kurir Merespon: Tuan dilarang mengumpat pada sistem jika tidak ingin hukumannya ditambah]

​"Iya iya cerewet sekali kau ini, aku cuma bicara sendiri kok," balas Deni kesal pada udara kosong.

​Ting!

​Suara notifikasi yang sangat merdu akhirnya terdengar dari ponsel Deni.

​"Nah ini dia, pesanan pertama hari ini masuk juga akhirnya!" teriak Deni kegirangan.

​Deni segera menepi sebentar untuk mengecek alamat pengambilan pesanan tersebut.

​"Ayam Geprek Spesial Pedas Mampus tiga porsi, diambil di Restoran Rasa Nusantara cabang Sudirman," baca Deni.

​Deni langsung menarik gas motornya dalam-dalam menuju lokasi restoran tersebut.

​Bruum!

​Motor matic itu melaju kencang dan tiba di depan sebuah restoran berdesain tradisional modern dalam waktu sepuluh menit.

​Deni memarkirkan motornya dengan rapi lalu berjalan masuk ke dalam restoran sambil melepas helmnya.

​Namun saat baru membuka pintu kaca restoran, Deni langsung disambut oleh suara gebrakan meja yang sangat keras.

​Brak!

​"Hei pemilik restoran, kau mau meracuni kami ya!" teriak seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga di lengannya.

​Deni berhenti di dekat pintu dan melihat ada tiga pria berwajah preman sedang berdiri mengelilingi satu meja.

​Di depan mereka berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik menggunakan celemek khas koki.

​Wanita cantik itu tampak sangat ketakutan dan hampir menangis menghadapi bentakan tiga preman tersebut.

​"Maafkan saya Pak, tapi kebersihan dapur kami selalu dijaga dengan sangat ketat," ucap wanita cantik itu dengan suara bergetar.

​"Tidak mungkin ada kecoa yang masuk ke dalam sup ayam pesanan Bapak."

​Preman bertato naga itu menendang kursi di dekatnya hingga jatuh ke lantai.

​Trang!

​"Kau bilang tidak mungkin? Lalu ini benda hitam apa yang mengambang di mangkokku hah!" bentak preman itu lagi.

​"Matamu buta ya, ini kecoa sebesar ibu jari dan kau bilang dapurmu bersih!"

​Deni melipat tangannya di dada dan mengamati situasi dari jauh.

​"Wah wah, baru hari pertama kerja saja aku sudah melihat drama sinetron langsung di depan mata," batin Deni santai.

​Wanita cantik yang merupakan pemilik restoran itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.

​"Saya benar-benar minta maaf Pak, saya akan mengganti pesanan Bapak dengan yang baru gratis," tawar wanita itu memelas.

​"Saya juga akan mengembalikan uang pembayaran Bapak seratus persen."

​Preman kedua yang berambut botak tertawa sinis mendengar tawaran itu.

​"Kau pikir gampang begitu saja urusannya Nona manis?" sahut preman botak itu.

​"Bos kami ini punya riwayat penyakit jantung lemah, kalau dia jantungan melihat kecoa ini lalu mati bagaimana!"

​Preman ketiga yang berwajah kurus ikut menimpali dengan suara cempreng.

​"Benar sekali, kau harus bayar biaya ganti rugi pengobatan trauma psikologis bos kami sebesar sepuluh juta rupiah!" ancam preman kurus itu.

​"Kalau kau tidak mau bayar, kami akan hancurkan restoran ini dan memviralkan kejorokan tempat ini di internet!"

​Wanita cantik itu membelalakkan matanya mendengar angka sepuluh juta.

​"Sepuluh juta? Saya tidak punya uang tunai sebanyak itu Pak, tolong beri saya keringanan," mohon wanita itu sampai menitikkan air mata.

​Deni menggelengkan kepalanya melihat kelakuan tiga pria dewasa yang menindas seorang wanita lemah.

​Gurunya selalu berpesan agar tidak ikut campur urusan orang kota.

​Tapi melihat ketidakadilan di depan matanya membuat jiwa pendekar Deni meronta-ronta.

​Apalagi pesanan ayam gepreknya belum dibuat karena pemilik restorannya sedang disibukkan oleh preman-preman ini.

​"Permisi numpang lewat, Shopee Food mau ambil pesanan nomor seratus dua belas," ucap Deni dengan suara lantang memecah ketegangan.

​Semua mata di dalam restoran itu langsung menoleh ke arah Deni yang memakai jaket oranye terang.

​Preman bertato naga memelototi Deni dengan tatapan membunuh.

​"Woi kurir gembel, jangan ikut campur urusan orang, tunggu di luar sana!" usir preman bertato itu dengan kasar.

​Deni sama sekali tidak mempedulikan usiran itu dan malah berjalan santai mendekati meja para preman.

​"Saya tidak ikut campur urusan kalian kok, saya cuma mau bilang tolong cepat selesaikan transaksinya," jawab Deni sambil tersenyum.

​"Pesanan ayam geprek saya belum dibuat Nona, nanti pelanggan saya marah kalau kelamaan nunggu."

​Wanita cantik itu menatap Deni dengan pandangan minta tolong.

​"Maaf Mas kurir, saya sedang ada masalah sedikit di sini," ucap wanita itu sambil mengusap air matanya.

​"Bisa tolong tunggu sebentar lagi ya."

​Deni mengangguk tapi matanya justru menatap tajam ke arah mangkok sup ayam di atas meja.

​Sebagai seorang yang hampir mencapai puncak ilmu bela diri, mata Deni bisa melihat hal-hal mikroskopis yang tidak terlihat manusia biasa.

​Dia memfokuskan Qi ke kedua matanya untuk meneliti bangkai kecoa yang mengambang di kuah sup tersebut.

​"Oh jadi masalahnya kecoa ini ya Nona," ucap Deni sambil menunjuk mangkok itu.

​"Iya Mas, Bapak-bapak ini menemukan kecoa di dalam supnya," jawab wanita itu lesu.

​Deni tiba-tiba tertawa cukup keras hingga membuat tiga preman itu merasa tersinggung.

​"Hahaha, kalian ini kalau mau menipu orang belajar dulu yang pintar," ejek Deni sambil menatap tiga preman itu bergantian.

​Preman botak langsung maju dan menarik kerah jaket oranye Deni.

​"Kau bilang apa barusan kurir sialan? Kau menuduh kami menipu hah!" bentak preman botak tepat di depan wajah Deni.

​Deni tidak bergeming sedikitpun dan hanya meniup poni rambutnya yang sedikit panjang.

​"Lepaskan tanganmu yang bau terasi ini dari jaketku, atau kau akan menyesal," ancam Deni dengan nada datar namun dingin.

​Aura membunuh yang tipis keluar dari tubuh Deni membuat preman botak itu tiba-tiba merinding tanpa alasan.

​Preman botak itu melepaskan cengkeramannya dan mundur satu langkah secara refleks.

​"Nona pemilik restoran, kamu tidak perlu bayar sepuluh juta, mereka ini cuma preman kelas teri yang sedang cari uang uang kecil," ucap Deni santai kepada wanita itu.

​"Apa buktinya kau menuduh kami begitu!" teriak preman bertato tidak terima.

​Deni mengambil sendok bersih dari meja sebelah dan mengangkat bangkai kecoa itu dari dalam mangkuk sup.

​"Buktinya ada di kecoa ini," jelas Deni sambil menunjukkan kecoa itu ke depan wajah para preman.

​"Coba kalian lihat baik-baik, sayap kecoa ini masih sangat utuh dan tidak layu sama sekali."

​Semua orang di restoran termasuk wanita pemiliknya ikut memperhatikan penjelasan Deni.

​"Kalau kecoa ini masuk saat sup sedang dimasak di panci yang mendidih, sayap dan sungutnya pasti sudah hancur atau melengkung karena panas," lanjut Deni menjelaskan panjang lebar.

​"Lalu lihat juga di celah-celah perutnya, tidak ada noda kuah sup atau minyak yang meresap ke dalam tubuhnya."

​Deni membalik kecoa itu menggunakan sendok agar semua orang bisa melihat perut kecoa yang masih bersih.

​"Itu artinya kecoa ini sudah mati kering sebelum sup ini disajikan, lalu ada orang iseng yang menaruhnya dari dalam saku bajunya langsung ke mangkok yang sudah dingin ini," pungkas Deni dengan senyum meremehkan.

​Wajah ketiga preman itu langsung pucat pasi karena trik rahasia mereka dibongkar begitu saja oleh seorang kurir makanan.

​Wanita cantik pemilik restoran itu langsung sadar dan menatap marah pada ketiga pria di depannya.

​"Jadi kalian sengaja menaruh kecoa mati itu untuk memeras uangku!" teriak wanita itu marah.

​Preman bertato naga mengertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​"Kurang ajar kau kurir sialan, beraninya kau ikut campur dan merusak rencana kami!" maki preman bertato itu.

​"Hajar dia sampai mati!" perintah preman bertato kepada dua anak buahnya.

​Preman botak dan preman kurus langsung melompat maju menyerang Deni secara bersamaan.

​Preman botak mengayunkan pukulan lurus ke arah wajah Deni, sedangkan preman kurus menendang ke arah perut Deni.

​Wush!

​Deni hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan untuk menghindari pukulan preman botak.

​Lalu dengan santai Deni mengangkat lutut kanannya untuk menangkis tendangan preman kurus.

​Buk!

​Tulang kering preman kurus berbenturan dengan lutut baja Deni.

​"Aaaaargh!" teriak preman kurus itu kesakitan sambil memegangi kakinya yang terasa seperti menabrak tiang listrik.

​Deni tidak membuang waktu, tangan kirinya bergerak secepat kilat meraih kerah baju preman botak.

​Lalu dengan gerakan memutar yang halus, Deni melempar tubuh besar preman botak itu ke arah preman bertato yang baru mau maju menyerang.

​Brakkk!

​Tubuh kedua preman itu bertabrakan dengan keras dan jatuh bergulingan di atas lantai restoran menabrak beberapa kursi.

​"Aduh pinggangku patah!" rintih preman bertato kesakitan di bawah tindihan preman botak.

​Deni menepuk kedua tangannya seolah sedang membersihkan debu.

​"Nah, karena masalahnya sudah selesai, bisakah Nona tolong segera buatkan pesanan ayam geprek saya?" tanya Deni menoleh ke arah wanita cantik itu.

​Wanita itu masih melongo menatap kejadian yang berlangsung tidak sampai sepuluh detik itu.

​"Ah iya Mas, tunggu sebentar saya buatkan sekarang juga!" jawab wanita itu tersentak kaget lalu buru-buru berlari ke dapur.

​Tiga preman itu tertatih-tatih bangun dan saling membantu berdiri.

​Mereka menatap Deni dengan ketakutan seolah melihat monster.

​"Kalian masih mau di sini minta ganti rugi sepuluh juta?" tanya Deni sambil memajukan langkahnya satu tindak.

​"Tidak tidak! Kami minta maaf, kami pergi sekarang!" teriak preman bertato panik.

​Ketiga preman itu langsung berlari kocar-kacir keluar dari restoran tanpa berani menoleh ke belakang lagi.

​Suasana restoran kembali tenang meskipun beberapa kursi masih berantakan di lantai.

​Beberapa pelanggan lain yang menonton dari meja ujung bertepuk tangan pelan melihat aksi heroik kurir tersebut.

​Deni hanya tersenyum tipis dan merapikan kembali kursi-kursi yang berjatuhan itu.

​Sepuluh menit kemudian, wanita cantik itu keluar dari dapur membawa kantong plastik pesanan.

​"Ini pesanan ayam gepreknya Mas kurir, maaf jadi menunggu lama," ucap wanita itu sambil menyerahkan kantongnya.

​"Oh iya, perkenalkan nama saya Rina, saya benar-benar berterima kasih atas bantuan Mas kurir tadi."

​Deni menerima kantong itu dan menganggukkan kepalanya sopan.

​"Sama-sama Nona Rina, saya Deni," balas Deni singkat.

​"Bantuan tadi itu cuma analisis kecil saja karena saya sering masak di gunung jadi tahu bedanya kecoa direbus dan kecoa kering."

​Rina tertawa kecil mendengar jawaban polos Deni.

​"Tetap saja Mas Deni sudah menyelamatkan restoran saya dari kebangkrutan," ucap Rina tulus.

​"Sebagai tanda terima kasih, mulai sekarang Mas Deni boleh makan gratis di restoran ini kapan saja."

​Mata Deni seketika berbinar mendengar kata makan gratis.

​"Wah benarkah? Kalau begitu saya pasti akan sering-sering mampir ke sini Nona Rina," ucap Deni bersemangat.

​"Tapi sekarang saya harus buru-buru mengantar pesanan ini dulu sebelum pelanggannya marah."

​Deni melambaikan tangan kepada Rina dan berlari keluar menuju motor maticnya.

​"Hati-hati di jalan Mas Deni!" panggil Rina dari ambang pintu sambil tersenyum manis.

​Deni segera menyalakan mesin motornya dan melesat menuju alamat pengiriman.

​Dua puluh menit kemudian dia sampai di sebuah kos-kosan mahasiswi dan menyerahkan ayam geprek itu tepat waktu.

​"Terima kasih Mas, ini tip buat Mas kurir karena cepat sampainya," ucap mahasiswi itu memberikan uang sepuluh ribu.

​"Tidak usah pakai uang tip Mas, tolong kasih saya ulasan bintang lima saja di aplikasi ya," tolak Deni dengan cepat.

​Mahasiswi itu tampak bingung tapi dia tetap mengambil ponselnya dan memberikan bintang lima.

​Ting!

​[Sistem Raja Kurir: Tuan mendapatkan 2 dari 1000 ulasan]

​[Tugas Harian: Sisa 2 pesanan lagi untuk menghindari hukuman diare]

​Deni menarik nafas lega melihat notifikasi dari sistem di kepalanya.

​"Bagus, tinggal dua pesanan lagi dan aku aman dari ancaman diare mengerikan itu," gumam Deni penuh tekad.

​Deni kembali menaiki motor maticnya dan berkeliling mencari orderan dari pelanggan selanjutnya di bawah terik matahari Jakarta.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!