NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Bayangan di Atas Lautan Pasir Yuba

Terik matahari siang di padang pasir Alabasta membakar permukaan kulit tanpa belas kasihan. Gelombang panas mengepul dari hamparan bukit-bukit pasir keemasan, membuat jarak pandang bergetar hebat di bawah langit biru yang bersih tanpa awan.

​Di atas punggung Eyelash—bebek super raksasa yang mulai kepayahan—Putri Vivi dan Mr. 9 tampak terkulai lemas. Bibir mereka pecah-pecah akibat dehidrasi, sementara cadangan air di dalam kantong perbekalan semakin menipis. Perjalanan melintasi gurun Alabasta bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh, bahkan bagi penduduk lokal sekalipun.

​Namun, di samping mereka, kelompok Erebus bergerak seolah-olah sedang berjalan-jalan sore di taman kota Nanohana.

​Roy Mustang melangkah dengan ritme kaki militer yang konsisten, seragam birunya tampak rapi meskipun debu tipis menempel di permukaannya. Di atas kepala mereka, Enel melayang bebas beberapa sentimeter di atas permukaan pasir, tubuhnya tidak menyentuh tanah sama sekali berkat manipulasi elektromagnetik. Sesekali, Sang Dewa Petir itu mendengus bosan, memainkan percikan listrik kecil di ujung jarinya.

​"Tempat ini benar-benar membosankan, Pencipta," keluh Enel lewat sambungan mental langsung ke benak Muzan. "Tidak ada suara selain desir angin, tidak ada awan petir yang bisa kutarik untuk menghibur diri. Hanya ada pasir, pasir, dan pasir."

​Muzan Kibutsi, yang berjalan di barisan paling depan dengan jubah hitam tertutup rapat, tidak merespons keluhan Enel. Di balik tudungnya, mata hitam Muzan tetap tajam mengawasi garis horison. Melalui pantauan Mantra Enel yang diperluas sejauh puluhan kilometer, otaknya memetakan kontur geografi wilayah yang mereka lewati.

​Mereka sedang mendekati Yuba—desa oasis yang dulunya makmur, namun kini perlahan mati akibat kekeringan buatan dan badai pasir yang sengaja dikirim oleh agen-agen Baroque Works untuk mematahkan semangat pemberontak.

​"Kita hampir sampai di Yuba," suara Muzan akhirnya memecah keheningan, terdengar tenang namun cukup jelas untuk didengar oleh seluruh rombongan.

​Vivi mendongak dengan susah payah, matanya yang sayu berbinar penuh harap. "Yuba...? Apakah kita akan singgah di sana? Desa itu... desa itu tempat tinggal Tuan Toto. Aku harus memastikan apakah penduduk di sana masih bertahan hidup."

​"Kita singgah bukan untuk bernostalgia, Tuan Putri," jawab Muzan datar tanpa mengurangi kecepatan langkahnya. "Kita singgah untuk mengamati bagaimana sebuah peradaban dihancurkan secara perlahan oleh ketakutan dan manipulasi politik. Itu akan menjadi pelajaran yang bagus tentang bagaimana cara kerja dunia."

​Beberapa jam kemudian, dari balik bukit pasir terakhir, siluet bangunan-bangunan yang separuhnya terkubur pasir mulai terlihat.

​Yuba. Oasis yang dulunya menjadi simbol kehidupan di tengah gurun, kini tampak mengenaskan. Rumah-rumah dikelilingi oleh tumpukan pasir tebal, pepohonan kurma layu dan mengering, serta sumur-sumur utama tampak kering beralaskan retakan tanah. Suasana di desa itu sangat sunyi, seolah-olah kematian telah lama mencabut nyawa tempat tersebut.

​Eyelash meringkik pelan, menjatuhkan tubuhnya begitu mereka mencapai sumur utama yang terbengkalai. Vivi buru-buru turun, berlari kecil menghampiri salah satu bangunan tua dengan papan kayu yang tergantung miring.

​"Tuan Toto...!" panggil Vivi dengan suara parau.

​Pintu kayu itu berderit terbuka perlahan. Seorang pria tua dengan janggut kelabu lebat, wajah dipenuhi kerutan lelah, dan memegang sekop kecil muncul dari dalam. Mata rabun Toto menatap ke arah luar, mencoba mengenali sosok gadis berambut biru yang berdiri di hadapannya di bawah terik matahari.

​"Vivi...?" suara Toto bergetar hebat, nyaris tidak percaya pada penglihatannya sendiri. "Putri Vivi... benar-benar kau? Kenapa kau bisa berada di tempat terkutuk ini sendirian?!"

​Vivi berlari menghampiri pria tua itu, menahan air matanya yang nyaris tumpah. "Tuan Toto! Aku kembali... Maafkan aku karena baru bisa pulang sekarang. Bagaimana keadaan desa ini? Sumur-sumur itu...?"

​Toto menundukkan kepalanya, cengkeramannya pada sekop semakin erat. Kepedihan terpancar jelas dari wajahnya yang tua. "Semuanya sudah hancur, Putri... Badai pasir buatan terus menerpa desa ini setiap hari. Air di bawah tanah telah mengering. Sebagian besar warga sudah mengungsi ke oasis lain atau bergabung dengan pasukan pemberontak di Katteya... Tempat ini kini hanya tinggal sisa-sisa harapan yang sekarat."

​Muzan Kibutsi berdiri di latar belakang, mengamati interaksi emosional itu dengan tatapan kosong yang rasional. Bagi Muzan, air mata dan keputusasaan warga desa bukanlah sebuah tragedi kemanusiaan, melainkan manifestasi dari kelemahan sistemik sebuah kerajaan yang gagal melindungi rakyatnya sendiri—sebuah celah kekuasaan yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh Crocodile untuk menanamkan kebencian terhadap Raja Cobra.

​Tiba-tiba, telinga Muzan menangkap suara derap kuda dan suara bising dari arah utara desa.

​Enel, yang masih melayang di atas langit Yuba, mengirimkan peringatan mental yang tajam ke benak Muzan.

​"Pencipta, ada sekelompok orang menunggang kadal pelindung pasir sedang mendekati desa ini. Mereka mengenakan lambang bendera kerajaan Alabasta... tidak, tunggu. Mereka adalah kelompok pemuda yang membawa obor dan senjata tajam. Pasukan pemberontak."

​Mata Muzan menyipit. Pasukan pemberontak pimpinan Koza telah mencium aroma kehancuran Yuba, dan amarah mereka terhadap keluarga kerajaan berada di ambang ledakan total.

​Papan catur Alabasta bergerak lebih cepat dari perkiraan. Dan di tengah pusaran konflik itu, kelompok Erebus berdiri tepat di mata badai.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!