"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20: RegenoStem
Kevin akhirnya menurunkan kertas itu dengan wajah pucat.
"Rangga, gue harus tanya sekali lagi." Suaranya rendah. "Ini bukan catatan ide, kan?"
Rangga tidak mengangkat kepala dari tabung reaksi.
"Bukan."
"Ini formula lengkap?"
"Lengkap."
Kevin tertawa sekali, pendek, tanpa suara bahagia di dalamnya.
"Lo tahu kenapa gue takut? Karena kalau ini benar, Trombosin Plus cuma pembuka pintu."
Di luar, langit masih gelap. Lampu putih laboratorium membuat semua benda terlihat dingin dan tajam. Rangga bekerja secepat ahli bedah yang sudah menentukan tujuan setiap gerakan.
Kevin semula hanya berdiri. Lima menit kemudian ia mencuci tangan. Sepuluh menit kemudian ia sudah memakai sarung tangan dan mulai membantu mencatat suhu, waktu inkubasi, perubahan warna, stabilitas protein, dan pH.
"Batch pertama jangan langsung dibawa ke pasien," kata Kevin, seperti memperingatkan dirinya sendiri. "Sekalipun anak itu kritis, kita butuh data."
"Saya tahu."
"Kita butuh uji toksisitas akut."
"Saya tahu."
"Kita butuh model leukemia, darah tepi, fungsi hati-ginjal, histologi organ, semuanya."
"Saya tahu, Kevin."
Kevin berhenti.
Rangga menatapnya.
"Justru karena Amelia menunggu, kita tidak boleh memberi dia sesuatu yang belum bisa kita pertanggungjawabkan."
Kevin menggigit bibir, lalu mengangguk keras.
"Oke. Kalau begitu, kita gila dengan cara yang benar."
Pukul 04.12, cairan pertama Serum RegenoStem terbentuk.
Warnanya bening dengan kilau sangat tipis yang hanya tampak saat terkena cahaya. Di bawah lampu laboratorium, cairan itu menyerupai air biasa. Data pada alat analisis membuat Kevin mundur setengah langkah.
Stabil.
Tidak menggumpal.
Tidak merusak sampel darah sehat.
Pada sampel leukemia yang disiapkan dari bank jaringan penelitian, sel ganas menunjukkan kerusakan membran bertahap, sementara prekursor sel darah sehat justru memperlihatkan sinyal regenerasi.
Kevin tiba-tiba meloncat kecil.
"Gila. Gila, Rangga! Ini bukan cuma obat pembunuh sel kanker. Ini seperti... seperti ngasih perintah ulang ke sumsum tulang!"
Rangga menutup tabung steril pertama.
"Kita kirim ke Prof. Aditya sekarang."
Pagi itu juga, tiga kotak pendingin tersegel dibawa ke sebuah pusat penelitian mitra yang biasa menangani uji hewan dan sertifikasi biomedis. Prof. Aditya Nugraha, kepala penelitian di sana, awalnya menerima mereka dengan wajah kurang tidur dan alis berkerut.
"Dokter Rangga," katanya sambil membuka protokol. "Saya menghormati pencapaian Trombosin Plus. Tapi leukemia bukan trombus. Penyakit ini bukan sumbatan yang tinggal dibersihkan."
"Karena itu saya tidak minta Bapak percaya pada saya," jawab Rangga. "Saya minta Bapak percaya pada data."
Prof. Aditya menatapnya lama.
Lalu ia menoleh kepada tim.
"Siapkan model uji. Dua puluh empat jam pertama untuk toksisitas akut dan respons sel. Dua puluh empat jam berikutnya untuk stabilitas darah dan organ. Semua direkam. Tidak ada angka yang dibulatkan demi siapa pun."
Kevin menghela napas.
"Itu baru kalimat yang gue suka."
Dua puluh empat jam pertama berjalan seperti menahan napas.
Rangga kembali ke RSUD Harapan Bangsa untuk memeriksa Amelia, lalu bolak-balik menerima pembaruan dari laboratorium penelitian. Amelia masih demam. Rina duduk di samping ranjang dengan mata merah, tetapi setiap kali Rangga masuk, ia berdiri seperti prajurit yang menunggu vonis.
"Ada harapan?" bisiknya.
Rangga tidak menjual mimpi.
"Ada jalan. Tapi saya masih menunggu bukti."
Rina mengangguk. Aneh, kalimat itu justru membuatnya lebih tenang daripada janji kosong.
Laporan pada jam kedua belas tidak menemukan reaksi toksik akut. Enam jam kemudian, sel leukemia dalam sampel darah model menurun tajam. Tepat satu hari setelah pengujian dimulai, Prof. Aditya menelepon sendiri.
"Dokter Rangga, Anda perlu datang."
Ketika Rangga tiba, ruangan penelitian itu hening.
Hening yang bukan karena gagal.
Hening karena semua orang sedang menatap sesuatu yang melampaui akal mereka.
Prof. Aditya berdiri di depan layar. Grafik sel darah putih yang semula melonjak liar turun seperti tebing runtuh. Trombosit dan hemoglobin mulai kembali ke rentang stabil. Preparat sumsum tulang model menunjukkan pulau-pulau regenerasi sel sehat.
"Saya ulang tiga kali," kata Prof. Aditya. "Tiga batch. Tiga kelompok. Hasilnya konsisten."
Kevin meraih sandaran kursi.
"Efek samping?"
"Fungsi hati dan ginjal stabil. Tidak ada kerusakan organ akut pada histologi awal. Tidak ada respons alergi berat. Saya tidak berani mengatakan ini mustahil..." Prof. Aditya menelan ludah. "Karena datanya ada di depan mata saya."
Empat puluh delapan jam setelah batch pertama terbentuk, laporan lengkap sementara keluar.
Serum RegenoStem efektif menghancurkan dominasi sel leukemia pada model uji, sekaligus mendorong pemulihan komponen darah sehat.
Di sudut ruangan, sistem berbunyi di benak Rangga.
[Validasi praklinis awal tercapai.]
[Kriteria penggunaan darurat terbatas terpenuhi.]
[Dokumen registrasi Serum RegenoStem disiapkan.]
[Jalur komite etik, BPOM, dan penggunaan belas kasih selesai disusun.]
Rangga menunduk melihat ponselnya.
Sebuah berkas digital terenkripsi muncul di perangkatnya.
Judulnya sederhana.
Serum RegenoStem - Dokumen Penggunaan Darurat Terbatas.
Malam itu, ruang rapat RSUD Harapan Bangsa penuh.
Pak Hendra duduk di ujung meja dengan wajah tegang. Pak Bambang bersandar dengan lengan terlipat. Ketua-ketua bagian anak, penyakit dalam, anestesi, laboratorium, farmasi, dan keperawatan hadir. Bu Farah dari BPOM masuk melalui panggilan video, sementara Prof. Aditya mengirimkan sertifikat hasil uji dan rekaman data mentah.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang berani menganggap ini sekadar keberuntungan.
Pak Hendra membuka rapat.
"Kita bicara tentang anak empat tahun dengan leukemia stadium lanjut. Terapi standar sudah hampir tidak memberi ruang. Formula ini sudah melewati validasi awal yang belum pernah saya lihat secepat ini. Pertanyaan saya satu: apakah secara etik dan hukum kita bisa menggunakan ini sebagai penggunaan darurat terbatas?"
Bu Farah di layar menjawab tanpa ekspresi berlebih.
"Dengan catatan semua dokumen asli disimpan, keluarga menandatangani persetujuan sadar penuh, pasien dipantau ketat, dan seluruh data dilaporkan ke BPOM, saya memberikan persetujuan penggunaan darurat terbatas untuk satu pasien. Ini bukan izin edar. Ini bukan pemakaian umum."
Rangga mengangguk.
"Saya paham."
Pak Bambang menatapnya.
"Kamu sendiri yang menyuntik?"
"Iya, Pak."
"Kalau gagal?"
Rangga terdiam setengah detik.
"Maka saya yang berdiri paling depan menjelaskannya kepada keluarga, rumah sakit, dan BPOM."
Pak Bambang menghela napas.
"Itu jawaban dokter."
Persetujuan keluarga ditandatangani pukul sembilan malam.
Tangan Rina gemetar di atas kertas. Ia membaca pelan setiap baris tentang reaksi alergi, kemungkinan gagal, risiko yang belum diketahui, pemantauan ketat, dan penggunaan darurat.
Ketika sampai pada kolom tanda tangan, air matanya jatuh ke sudut kertas.
"Kalau aku tanda tangan..." suaranya pecah, "berarti aku tidak menyerahkan Amelia untuk percobaan, kan?"
Rangga berjongkok di depannya.
"Tidak. Artinya kamu memberi izin kepada kami menggunakan satu-satunya jalan yang sudah punya bukti awal. Saya tidak akan menyentuh Amelia kalau saya hanya punya nekat."
Rina menatapnya lama, lalu menandatangani.
Di ruang rawat, Amelia membuka mata ketika Rangga masuk bersama tim.
"Om Dokter."
"Iya, Ame."
"Ame boleh pulang kalau sudah kuat?"
"Boleh."
"Mama juga boleh makan roti?"
Rina langsung memalingkan wajah.
Rangga tersenyum tipis.
"Nanti saya belikan yang lebih banyak."
Serum RegenoStem masuk melalui jalur intravena dengan laju sangat lambat.
Seluruh ruangan menahan napas.
Tekanan darah tetap stabil sejak menit pertama. Lima menit kemudian tidak muncul ruam, sesak, atau penurunan saturasi; monitor masih tenang hingga menit kesepuluh.
Rina mencengkeram ujung ranjang sampai buku jarinya memutih.
Menit ketiga puluh, hasil darah cepat pertama datang.
Dokter laboratorium yang membawa kertas itu berhenti di pintu. Ia menatap angka, lalu menatap Rangga.
"Sel blast turun."
Ruangan yang semula beku mulai bergetar oleh napas yang tertahan terlalu lama.
Satu jam.
Demam Amelia mulai turun.
Satu jam tiga puluh menit.
Parameter inflamasi bergerak turun. Koagulasi membaik. Trombosit belum normal, tetapi tidak lagi jatuh bebas.
Dua jam.
Sampel darah ulang menunjukkan sel ganas menurun sampai batas yang membuat dokter hematologi anak menutup mulutnya sendiri.
"Ini..." ia berbisik, "ini respons remisi."
Rina berdiri.
Kakinya lemas.
Rangga segera menahan bahunya.
Di ranjang, Amelia membuka mata. Bibirnya masih pucat, tetapi pandangannya tidak lagi keruh.
"Mama?"
Rina menunduk cepat.
"Iya, Sayang. Mama di sini."
"Ame lapar."
Kalimat itu seperti memecahkan bendungan.
Rina menangis keras untuk pertama kalinya.
Di luar ruang rawat, para dokter yang sejak tadi berdiri tegang akhirnya bersuara. Ada yang menutup wajah. Ada yang memukul pelan dinding. Suster Yuni terisak sambil tertawa.
Pak Bambang menatap Rangga lama.
"Kamu ini sebenarnya dokter atau apa, Rangga?"
Entah siapa yang memulai, tetapi bisikan itu menyebar dari satu mulut ke mulut lain.
"Dokter Dewa."
"Dia benar-benar Dokter Dewa."
Rangga mendengarnya, tetapi tidak menoleh.
Ia hanya membantu Rina yang tiba-tiba berlutut di depannya.
"Rangga, terima kasih. Aku tidak punya apa-apa. Seumur hidupku..."
Rangga menariknya berdiri.
"Jangan berlutut. Amelia sedang belajar berjalan lagi. Ibunya harus berdiri dulu."
Rina menangis sambil mengangguk.
Menjelang tengah malam, Pak Hendra berdiri sendirian di ruangannya.
Di atas meja ada dua berkas.
Trombosin Plus.
Serum RegenoStem.
Dua obat yang masing-masing cukup untuk mengguncang dunia medis.
Dan keduanya berasal dari satu nama.
Rangga Aditya Wijaya.
Pak Hendra berjalan mondar-mandir, lalu berhenti di depan jendela.
"Satu orang..." gumamnya. "Menciptakan dua obat yang bisa mengubah dunia. Dia sebenarnya siapa?"
Di sisi lain Kota Cakrawala, sebuah ruangan kantor masih menyala.
Pak Santoso duduk di balik meja besar, wajahnya gelap.
Di hadapannya, seorang staf meletakkan map tipis.
"Ini laporan awal tentang PT Nusantara BioFarma Indonesia, Pak."
Pak Santoso membuka halaman pertama.
Nama Rangga dan Kevin tercetak jelas di sana.
Sudut mulutnya bergerak pelan.
"Jadi sumber kekuatannya ada di sini."