NovelToon NovelToon
Terjebak Obsesi Raja Senjata

Terjebak Obsesi Raja Senjata

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Aurelia Halim baru berusia 19 tahun ketika dunianya hancur berkeping-keping.

Mahasiswi sejarah seni yang ceria itu tidak pernah menyangka bahwa Om Hongwen—paman yang membesarkannya sejak kecil, yang membayar uang kuliahnya, yang selalu tersenyum di meja makan keluarga—adalah orang yang menjualnya ke Segitiga Emas.

Dengan harga 700 ribu yuan.

Di balik jeruji besi, di antara tangisan gadis-gadis yang bernasib sama, Aurelia hanya punya satu tekad: *bertahan hidup*.

Lalu **dia** datang.

Renard Kwee.

Sang Serigala Hitam.

Pemimpin tertinggi organisasi Black Wolf—pria paling berkuasa dan paling ditakuti di seluruh Asia Tenggara. Matanya sedingin es. Perintahnya adalah hukum. Dan ketika semua orang berlutut di hadapannya, dia hanya mengucapkan empat kata:

*"Gadis ini—aku ambil."*

Satu kalimat itu mengubah segalanya.

Tidak ada daftar yang ditempel di dinding. Tidak ada aturan yang dibacakan keras-keras. Namun **Sepuluh Larangan** Sang Serigala mengikat setiap napas, setiap langkah, setiap pilihan Aurelia—dan dia hanya tahu di mana batasnya setelah melewatinya. Jangan hubungi siapa pun. Jangan keluar tanpa izin. Jangan pernah menangis di hadapannya. Melanggar satu saja? Selalu ada harga yang harus dibayar.

Aurelia bukan kekasihnya.

Aurelia bukan tawanannya.

Aurelia adalah **miliknya**.

Tapi di balik tembok es Sang Serigala, ada retakan yang tak seorang pun boleh tahu.

Diam-diam, Renard menyelamatkan kedua orang tua Aurelia. Meruntuhkan sebuah bangunan hanya karena tempat itu membuat gadis itu tidak nyaman. Memotong sinyal satelit hanya karena Aurelia memuji aktor tampan di televisi. Dan di depan cermin kamar mandi yang sunyi, pria paling berbahaya di Segitiga Emas berbisik pada bayangannya sendiri:

*"Memangnya aku... kurang tampan?"*

Aurelia tahu—ini bukan cinta biasa. Ini bukan cinta yang sehat. Dia bahkan sempat mendiagnosis dirinya sendiri: *sindrom Stockholm*.

Tapi ketika musuh datang menyerang, dan dia harus memilih antara berlari menuju kebebasan atau berbalik ke sisi Renard...

...langkahnya berhenti.

Dia tidak bisa pergi.

Dan ketika tiga penculik mengurungnya di ruangan gelap, ketika semua orang mengira dia hanya mangsa lemah yang menunggu diselamatkan—Aurelia mengangkat pistol PPK-nya dan menembak.

Tiga kali.

Dia bukan mangsa.

**Dia adalah pejuang.**

Dari sangkar besi menuju mahkota. Dari Sepuluh Larangan menuju satu ikrar cinta. Dari gadis yang berlutut membersihkan sepatu militer Sang Serigala—menjadi perempuan yang berdiri di sampingnya, bahu-membahu, setara.

*"Dengan cinta sebagai sangkar, sepuluh larangan mengunci hati—aku rela sepenuhnya."*

Tapi sebelum mahkota itu bertengger di kepalanya, masih ada rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.

Dan Sang Serigala Hitam... tidak pernah mengungkapkan seluruh kebenarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Malam Hujan

Aurelia turun dari tempat tidur sebelum gema perintah itu hilang.

Renard masuk membawa udara malam dan bau hujan. Dua kancing atas kemeja hitamnya terbuka, lengan digulung sampai siku. Ada goresan baru dekat pergelangan tangan dan lumpur pada ujung sepatu botnya. Sarung Walther PPK di pinggang memantulkan kilat saat ia menutup pintu.

Ia tidak melihat ke arah tempat tidur.

Renard melepas mantel basah, meletakkannya pada sandaran, lalu berjalan ke satu-satunya sofa kulit di sudut kamar. Setelah duduk, ia menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Kedua kakinya terbuka santai, tetapi garis tegang masih tertinggal pada rahang dan dahinya.

Aurelia berdiri di samping ranjang, tidak tahu harus melakukan apa.

Pria itu tampak seperti singa yang baru kembali dari perburuan. Cakar dan taringnya tidak terlihat, tetapi tidak ada yang akan mengira ia telah menjadi jinak hanya karena sedang beristirahat.

Air dari mantel menetes ke lantai. Aurelia melihat handuk di kursi dan hampir mengambilnya. Menawarkan handuk mungkin dianggap lancang. Membiarkan lantai basah mungkin dianggap ceroboh. Menanyakan apakah Renard ingin minum dapat mengganggu. Tetap diam dapat dianggap tidak sopan.

Setiap pilihan kecil bercabang menjadi kemungkinan hukuman.

Haruskah ia mengucapkan selamat malam? Menyapanya sebagai Tuan Kwee? Bi Mei sudah melarangnya bertanya tentang urusan Renard, tetapi tidak pernah mengatakan apakah ia harus menyambut ketika pria itu datang ke kamar setelah tengah malam.

Aurelia meremas ujung kemeja putih yang kebesaran. Kain tersebut diambil Bi Mei dari lemari karena gaun dari kompleks Pak Basai penuh lumpur dan sobek. Celana olahraga abu-abu yang dikenakannya juga terlalu longgar. Tali pinggang sudah dibuat simpul ganda, tetapi ia tetap takut celana itu akan melorot jika bergerak terlalu cepat.

Hujan menutup suara markas. Di kamar hanya ada napas Renard, tetesan air, dan detak jantung Aurelia yang terasa begitu keras hingga seharusnya dapat membangunkan seluruh rumah.

"Mendekat."

Renard tidak membuka mata.

Aurelia langsung berjalan. Telapak kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia berhenti sekitar satu meter dari sofa, menunduk seperti anak yang dipanggil setelah melakukan kesalahan, lalu menyatukan kedua tangan agar gemetarnya tidak terlihat.

Sepuluh detik berlalu.

Renard tidak bergerak.

Aurelia mulai menghitung guratan pada lantai kayu supaya tidak menatap pria itu. Satu garis memanjang dari bawah sofa hingga kaki ranjang. Ia membayangkan mengikuti garis tersebut menuju pintu, tetapi pintu berada di belakang Renard dan gerbang markas jauh di luar sana. Bahkan dalam khayalan, jalan keluarnya terhalang tubuh pria tersebut.

Lututnya bergetar cukup keras hingga kain celana ikut bergerak. Aurelia menekan kuku pada telapak, berharap rasa kecil itu dapat memaksanya diam. Ia teringat bagaimana Pak Basai menunggu Renard membalik satu halaman sebelum berani bicara. Kalau pemilik seluruh kompleks saja takut mengganggu, apa yang akan terjadi pada seorang gadis tanpa nama di rumah ini?

Betis Aurelia mulai tegang. Ia tidak berani bertanya apakah jarak itu sudah cukup. Mungkin ia harus maju. Mungkin bergerak tanpa perintah justru salah. Ketidakpastian menahan tubuhnya lebih kuat daripada rantai.

Ketika Renard akhirnya membuka mata, bagian putihnya dipenuhi garis merah. Kelelahan tidak membuat tatapan itu lemah. Tatapannya bergerak dari kaki telanjang Aurelia ke wajah, lambat dan dingin, lalu kembali pada pakaian yang dikenakannya.

Alisnya mengerut.

Aurelia menunduk lebih dalam. Kemeja pria itu hampir mencapai lututnya. Lengan yang sudah digulung beberapa kali masih menutupi sebagian jari. Dalam pakaian sebesar itu, ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap mengambil milik orang dewasa.

Ada aroma cedar samar pada kerahnya, aroma yang sama dengan mantel di sandaran. Baru malam itu Aurelia menyadari pakaian tersebut benar-benar milik Renard, bukan sekadar baju lama milik salah satu penjaga. Selama empat hari ia tidur memakai sesuatu yang pernah menempel pada tubuh pria ini.

Rasa malu membuat tengkuknya panas. Namun di balik malu ada ketakutan lain: mungkin Bi Mei memberikan kemeja itu dengan sengaja. Di Rumah Putih, bahkan pakaian dapat menjadi cara mengingatkan bahwa tidak ada benda yang sepenuhnya menjadi milik Aurelia.

"Duduk di sini."

Aurelia memandang sofa tunggal itu.

Tidak ada tempat kosong. Kedua sisi paha Renard hampir menyentuh sandaran keras. Satu-satunya tempat yang mungkin dimaksud pria itu berada tepat di atas tubuhnya.

Panas naik ke wajah Aurelia. Ia memeriksa lantai di dekat sofa, berharap salah memahami. Mungkin Renard ingin ia duduk di karpet. Namun telunjuk pria itu mengetuk pahanya satu kali.

Aurelia tetap berdiri.

Ia dapat merasakan air mata mulai memenuhi mata, tetapi ia menahannya. Bi Mei telah mengatakan air mata tidak berguna di depan pria ini. Aurelia tidak ingin memberi Renard alasan lain untuk menganggapnya tidak patuh.

Renard tidak mengulangi perintah. Keheningan yang datang setelahnya jauh lebih menekan daripada suara keras. Ia hanya menatap, seolah keputusan Aurelia untuk menurut sudah dibuat dan keterlambatannya merupakan gangguan kecil.

Tatapannya kemudian berhenti pada kerah kemeja putih.

"Apa yang kamu pakai?"

Aurelia langsung memegang kerah itu. "Saya hanya menemukan ini di lemari. Gaun saya rusak dan penuh lumpur. Bi Mei bilang pakaian ini boleh dipakai sampai yang lain tersedia. Saya tidak tahu itu milik Anda."

Renard memandang kemeja tersebut lebih lama. Tidak ada kemarahan pada wajahnya, justru sesuatu yang lebih sulit diterjemahkan. Kain lama miliknya kini membungkus tubuh gadis yang diambilnya dari Pak Basai. Aurelia tidak tahu apakah hal itu melanggar aturan atau menandai aturan yang belum pernah disebutkan.

"Maaf," tambahnya cepat. "Saya akan melepasnya kalau Anda mau."

Tatapan Renard kembali ke wajahnya. Ia tidak menjawab permintaan tersebut.

"Lebih dekat."

Aurelia maju setengah langkah. Jarak antara lututnya dan sepatu bot Renard tinggal selebar telapak tangan.

Pria itu tetap bersandar, sama sekali tidak perlu berdiri untuk membuat seluruh kamar tunduk pada keberadaannya. Ia sedikit mencondongkan tubuh. Jari yang memiliki kapalan tipis bergerak ke pinggang Aurelia dan mengait tali celana olahraga.

Aurelia tersentak mundur.

Renard mengangkat mata.

Hanya satu tatapan. Tubuh Aurelia langsung berhenti, seolah punggungnya telah menyentuh dinding yang tidak terlihat. Ia menahan napas ketika jemari Renard menarik simpul itu pelan, memeriksa ikatan yang terlalu longgar.

Kain di pinggang mengencang. Tubuh Aurelia tertarik satu langkah ke depan.

Sebuah suara pendek lolos dari tenggorokannya.

Pada saat yang sama, tangan Renard berpindah dari tali ke pinggangnya. Satu telapak besar mengunci tubuh Aurelia sebelum ia kehilangan keseimbangan.

Keduanya menegang.

Hujan masih jatuh di luar, tetapi selama satu detik Aurelia tidak mendengar apa pun.

Yang ia rasakan hanya panas tangan di pinggang dan kekuatan yang dapat menariknya lebih dekat kapan saja.

1
Aegis
dijual ke kamboja🥴
Aegis
kok deskripsinya bisa panjang banget kak? bukannya bates cuma 100 kata?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!