Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Suara dentuman musik elektronik semakin memekakkan telinga saat Sony melangkah lebih dalam ke area klub.
Dum dum dum.
Lantai kaca di bawah sepatu mahalnya bergetar mengikuti irama musik yang sangat cepat.
Nadhira mengencangkan pegangannya pada lengan Sony karena merasa sedikit gugup.
"Kita mau ke mana sekarang, Sony?"
"Penjaga lorong itu terlihat sangat menakutkan dengan senjata api di balik jas mereka."
Nadhira berbisik sambil melirik tajam ke arah empat pria berwajah garang di ujung ruangan.
Sony menepuk pelan punggung tangan wanita itu untuk menenangkannya.
"Kita akan duduk santai dulu di meja bar VIP itu."
"Aku butuh sebuah keributan kecil untuk mengalihkan perhatian para anjing penjaga itu."
Sony membimbing Nadhira menuju sebuah meja kosong berbentuk melingkar tepat di depan meja bartender.
Meja itu terbuat dari marmer hitam yang sangat mengkilap.
Seorang bartender pria dengan rompi rapi langsung mendekati mereka berdua sambil tersenyum ramah.
"Selamat datang di Obsidian, Tuan VVIP."
"Minuman apa yang bisa saya sajikan untuk Anda dan pasangan cantik Anda malam ini?"
Bartender itu menyodorkan sebuah buku menu kulit berlapis pinggiran emas.
Sony sama sekali tidak melihat ke arah buku menu tersebut.
"Berikan aku dua botol sampanye paling mahal yang kalian punya di tempat ini."
"Dan pastikan gelasnya benar-benar bersih tanpa ada noda sedikit pun."
Sony berbicara dengan nada arogan yang sangat meyakinkan.
"Baik, pesanan Anda akan segera datang dalam satu menit, Tuan."
Bartender itu membungkuk sopan dan segera meracik pesanan mereka dengan cekatan.
Nadhira mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati wajah Sony.
"Kau benar-benar pandai berakting menjadi orang kaya yang menyebalkan ya."
Nadhira berbisik dengan nada mengejek yang sangat pelan.
Sony hanya tersenyum tipis merespons ejekan dari jurnalis wanita tersebut.
"Aku tidak sedang berakting, Nadhira."
"Aku memang punya uang yang jauh lebih banyak dari semua orang di ruangan ini digabungkan."
Sony menjawab santai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa empuk.
Nadhira mendengus pelan dan membuang muka ke arah lantai dansa.
Tepat pada saat itu, seorang pria paruh baya dengan perut buncit berjalan terhuyung-huyung ke arah meja mereka.
Pria itu mengenakan kemeja sutra yang kancing atasnya sudah terbuka lebar.
Wajahnya sangat merah karena terlalu banyak menenggak minuman keras.
Dia adalah salah satu pejabat korup yang sering menghabiskan uang suap di club ini.
Bruk.
Pria buncit itu menabrak pinggiran meja marmer Sony dengan cukup keras.
"Hei nona manis bergaun merah."
"Kenapa kau duduk dengan bocah ingusan ini di sini?"
Pria buncit itu menunjuk ke arah Nadhira dengan pandangan mata yang sangat mesum.
Nadhira langsung mengerutkan keningnya karena merasa sangat jijik.
Bau nafas pria itu sangat menyengat dipenuhi aroma alkohol murah.
"Maaf paman, aku tidak mengenalmu sama sekali."
"Tolong pergi dari meja kami sekarang juga."
Nadhira menjawab dengan nada ketus dan memalingkan wajahnya.
Pria buncit itu malah tertawa keras mendengar penolakan Nadhira.
"Hahaha, kau pasti wanita bayaran baru di club ini kan?"
"Tinggalkan bocah itu dan ikutlah ke ruang pribadiku di lantai atas."
"Aku akan membayarmu tiga kali lipat dari harga yang dia berikan padamu."
Pria buncit itu mengulurkan tangan kotornya berniat menyentuh dagu Nadhira.
Srek.
Sebelum jari gemuk itu berhasil menyentuh kulit Nadhira, sebuah tangan kuat lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya.
Itu adalah tangan kanan Sony yang bergerak dengan sangat cepat dan tenang.
"Singkirkan tangan kotormu itu dari wanitaku, babi tua."
Sony bersuara sangat dingin menatap lurus ke arah mata pria mabuk tersebut.
"Lepaskan tanganku keparat."
"Kau tidak tahu siapa aku hah?"
Pria buncit itu meronta berusaha melepaskan cengkeraman tangan Sony.
Namun tangan pemuda itu terasa seperti jepitan besi yang sama sekali tidak bergeming.
"Aku tidak peduli siapa kau."
"Tapi kau sudah mengganggu waktu bersantaiku malam ini."
Krak.
Sony meremas pergelangan tangan pria itu sedikit lebih kuat hingga terdengar suara tulang yang bergeser.
"Arghhh tanganku."
Pria buncit itu menjerit kesakitan dan langsung berlutut di lantai club.
Jeritan kerasnya itu seketika menarik perhatian banyak orang di sekitar meja bar.
Musik elektronik yang berisik tidak mampu menutupi keributan tersebut.
Empat orang penjaga berbadan besar yang menjaga lorong bawah tanah langsung berlari mendekat.
Tap tap tap.
Mereka menerobos kerumunan pengunjung dengan kasar untuk melerai keributan itu.
"Ada masalah apa di sini?"
"Tolong lepaskan tangan Tuan Direktur sekarang juga."
Salah satu penjaga membentak Sony sambil meletakkan tangannya di pinggang jasnya.
Dia bersiap mencabut senjata api jika Sony melakukan perlawanan lebih lanjut.
Sony melepaskan tangannya dan menendang pelan tubuh pria buncit itu hingga terjengkang.
Bugh.
"Bawa babi mabuk ini menjauh dari mejaku."
"Club macam apa ini membiarkan sampah seperti dia berkeliaran mengganggu tamu VVIP."
Sony mengeluarkan kartu hitam berlapis emasnya dan melemparkannya ke atas meja marmer.
Trak.
Penjaga yang tadi membentaknya langsung memucat melihat kartu eksklusif tersebut.
Sikapnya seketika berubah menjadi sangat gugup dan ketakutan.
"M-maafkan kelalaian kami, Tuan VVIP."
"Kami akan segera membawa pemabuk ini keluar dari club malam ini juga."
Penjaga itu langsung memberikan isyarat pada ketiga temannya untuk menyeret pria buncit tersebut.
"Lepaskan aku, kalian tidak tahu siapa aku."
Pria buncit itu terus meronta dan berteriak saat tubuhnya diseret paksa oleh para pengawal.
Kerumunan pengunjung langsung memberikan jalan karena tidak mau ikut campur masalah orang-orang penting.
Sony tersenyum sinis melihat lorong gelap di dekat meja bartender itu kini sama sekali tidak dijaga.
"Keributan kecil yang sangat sempurna."
Sony bergumam pelan di dalam hatinya.
Dia menoleh ke arah Nadhira yang masih menatap kepergian pria buncit tadi dengan lega.
"Nadhira, kau tetaplah duduk di sini dan nikmati minumanmu."
"Aku akan pergi ke kamar kecil sebentar."
Sony berdiri dari kursinya dan merapikan setelan jas birunya.
"Apa kau yakin mau meninggalkanku sendirian di tempat gila ini?"
Nadhira bertanya dengan nada sedikit cemas sambil memegang ujung jas Sony.
"Tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi setelah melihat apa yang terjadi barusan."
"Aku akan segera kembali sebelum sampanye kita habis."
Sony melepaskan tangan Nadhira dengan lembut dan mulai melangkah pergi.
Wush.
Sony menggunakan kecepatan penuhnya untuk menyelinap ke dalam lorong gelap itu tanpa terlihat oleh siapa pun.
Bahkan kamera CCTV di sudut ruangan hanya menangkap bayangan buram selama sepersekian detik.
Begitu masuk ke dalam lorong, suasana berubah drastis menjadi sangat sunyi dan dingin.
Hanya ada lampu neon merah yang menyala redup di sepanjang dinding beton.
[Sistem Pemberitahuan: Tuan telah memasuki area steril musuh]
[Terdeteksi sepuluh penjaga bersenjata lengkap di balik pintu baja ujung lorong]
[Tingkat ancaman: Menengah]
Sony membaca layar biru transparan itu tanpa menghentikan langkah kakinya.
Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu baja tebal yang dilengkapi oleh pemindai kata sandi digital.
Tit tit tit.
Sony mengaktifkan Mata Dewanya kembali.
Pandangannya langsung menembus panel tombol digital tersebut.
Dia bisa melihat jejak panas suhu tubuh manusia yang tertinggal di empat tombol spesifik.
Angka dua, tujuh, sembilan, dan empat menyala kemerahan dalam pandangannya.
"Sistem pengamanan yang sangat murahan untuk sebuah markas mafia."
Sony menekan keempat angka itu dengan cepat tanpa ragu sedikit pun.
Pip.
Lampu indikator di atas panel berubah menjadi hijau.
Ceklek.
Pintu baja tebal itu terbuka secara otomatis dengan suara mendesis pelan.
Udara dingin bercampur bau asap cerutu langsung menyambut hidung Sony.
Sony melangkah masuk dan mendapati dirinya berada di sebuah balkon logam yang menghadap ke bawah.
Di bawah sana terdapat sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas.
Puluhan meja penuh dengan tumpukan uang kertas, senjata api, dan paket obat-obatan terlarang.
Lebih dari sepuluh orang pria bertato sedang sibuk mengemas barang-barang ilegal tersebut.
Di ujung ruangan yang lain, terdapat sebuah ruangan kaca yang tertutup rapat.
"Sepertinya aku masuk di waktu yang sangat tepat."
Sony bergumam pelan sambil menyandarkan kedua tangannya di pagar besi balkon.
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu Sony di atas besi bergema dengan sangat jelas di ruangan itu.
Semua aktivitas di bawah langsung terhenti seketika.
Sepuluh orang pria bertato itu serempak mengangkat kepala mereka menatap ke arah balkon.
"Siapa kau?"
"Bagaimana kau bisa melewati pintu baja depan tanpa izin?"
Salah satu pria yang paling besar langsung menodongkan senapan serbunya ke arah Sony.