NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pameran Seni

Kereta keluarga Winter akhirnya berhenti di halaman kediaman Baron Mates yang hari itu dipenuhi kereta-kereta mewah milik para bangsawan. Musik lembut mengalun dari dalam gedung, sementara para pelayan sibuk menyambut tamu yang terus berdatangan.

Elisa turun terlebih dahulu, disusul oleh kakaknya. Suri langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling."Astaga, lihatlah mereka, Kara."

Elisa mengikuti arah pandangan Suri. Hampir semua gadis bangsawan mengenakan gaun terbaik mereka. Ada yang memakai warna merah menyala, emas berkilau, hingga biru safir dengan perhiasan mahal yang menghiasi leher dan rambut.

"Bukankah ini hanya pameran seni?" gumam Elisa.

Suri terkekeh pelan."Secara resmi, iya."

"Lalu yang tidak resminya?"

"Ajang berburu perhatian Pangeran Erlan." Jawab Suri, berbisik pelan.

Elisa menghela napas panjang."Aku sudah menduganya."

"Kau lihat gadis yang memakai gaun ungu itu?" Suri kembali berbisik.

Elisa mengangguk.

"Dia bahkan memakai mahkota kecil."

"Itu bukan mahkota kecil, Suri. Itu hampir seperti ingin dilantik menjadi putri. Sungguh gigih sekali." Kata Elisa.

Suri menahan tawanya."Jangan keras-keras. Nanti dia dengar."

"Kalau dia dengar, mungkin dia akan menganggapku iri." Elisa berusaha menurunkan intonasi suaranya.

"Kau memang tidak iri?"

Elisa langsung menggeleng."Tentu saja tidak."

Suri memicingkan mata."Kau menjadi aneh."

"Apa yang aneh?"

"Semua gadis berharap Pangeran Erlan memperhatikan mereka. Kau justru berharap tidak dilihat. Biasanya kau selalu ingin menjadi pusat perhatian semua orang." Jelas Suri, sembari melirik wajah Nandikara.

"Itu kan dulu."

Suri terkekeh lagi.

Mereka berjalan memasuki aula utama yang dipenuhi lukisan, patung marmer, dan berbagai karya seni langka. Namun perhatian sebagian besar tamu jelas tidak tertuju pada karya-karya itu. Para gadis bangsawan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.

"Menurutmu, Pangeran Erlan datang jam berapa?" tanya salah seorang gadis.

"Ayahku bilang beliau sudah menerima undangan."

"Aku dengar beliau pasti datang."

"Tentu saja. Baron Mates sangat dekat dengan keluarga kerajaan."

Elisa mendengar percakapan itu sambil menggeleng pelan."Mereka bahkan belum melihat satu lukisan pun."

Suri mengangguk setuju."Kurasa kalau Pangeran Erlan berdiri di depan lukisan, baru mereka akan menganggap lukisan itu indah."

Elisa menahan tawa."Itu benar."

Beberapa saat kemudian, Baron Mates muncul menyambut seluruh tamu dan mempersilakan mereka menikmati pameran.

Waktu terus berlalu.

Lima belas menit.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Namun sosok Pangeran Erlan tak kunjung terlihat.

Bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut ruangan.

"Kenapa beliau belum datang?"

"Apakah keretanya terlambat?"

"Mungkin masih dalam perjalanan."

Suri melirik Elisa."Sepertinya mereka mulai gelisah."

Elisa mengangguk."Padahal acara sudah dimulai cukup lama."

Tak lama kemudian, seorang pengawal kerajaan memasuki aula dan menghampiri Baron Mates. Keduanya berbicara sebentar sebelum Baron Mates menganggukkan kepala.

Wajah Baron tampak sedikit canggung ketika kembali menghadap para tamu."Yang Mulia Pangeran Erlan menyampaikan permohonan maaf. Beliau berhalangan hadir, pangeran langsung menuju wilayah ekspedisi, karena memang itulah tujuan beliau datang ke Timur. Mohon untuk dimengerti."

Suasana aula langsung berubah.

"Apa?"

"Tidak datang?"

"Serius?"

"Padahal aku sudah mempersiapkan semuanya..."

Seorang gadis bangsawan tampak begitu kecewa hingga wajahnya langsung murung.

Suri memperhatikan berbagai ekspresi kecewa itu sebelum menoleh pada adiknya. Namun, Elisa justru terlihat mengembuskan napas lega tanpa sadar.

Suri mengangkat sebelah alis."Kau terlihat senang?"

Elisa tersenyum tipis.

Melihat ekspresi wajah Nandikara yang berubah, yang awalnya Nandikara terlihat tegang sekarang tampak lega, Suri menggeleng sambil tersenyum geli."Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa ada gadis yang justru bersyukur karena tidak bertemu putra mahkota."

Elisa menatap keramaian yang mulai kehilangan semangat."Aku akhirnya bisa menikmati pameran seni dengan tenang."

Suri terkekeh pelan."Kalau begitu, ayo. Daripada memperhatikan pintu masuk seperti mereka, lebih baik kita melihat lukisan-lukisan yang sebenarnya menjadi alasan kita datang ke sini."

"Setuju."

Kedua saudari itu pun berjalan menyusuri aula dengan langkah santai, sementara di belakang mereka, para gadis bangsawan beserta orang tua masing-masing masih belum bisa menyembunyikan rasa kecewa karena kesempatan emas untuk bertemu Pangeran Erlan ternyata hanya tinggal harapan.

***

Sudah tiga hari lamanya, hutan itu dipenuhi dentang pedang, pekikan perang, dan bau anyir darah.

Goblin-goblin yang sejak awal memenuhi kawasan ekspedisi dengan jumlah ratusan itu akhirnya tidak mampu lagi mempertahankan wilayah mereka. Sebagian besar tewas di tangan pasukan gabungan yang dipimpin Pangeran Erlan dan Leonardo Snow, sisanya memilih melarikan diri jauh ke pedalaman hutan. Namun, Erlan tidak membiarkan mereka lolos begitu saja.

"Terus kejar!" perintahnya lantang sambil mengangkat pedangnya."Jangan beri mereka kesempatan berkumpul kembali!"

"Siap, Yang Mulia!"

Pasukan kembali bergerak. Selama beberapa jam berikutnya mereka terus menyisir hutan, memastikan tidak ada lagi gerombolan goblin yang bersembunyi.

Barulah saat matahari mulai condong ke barat, Erlan mengangkat tangan memberi aba-aba berhenti."Cukup."

Seluruh pasukan langsung menghentikan langkah. Colin mendekat setelah menerima laporan dari beberapa kesatria."Yang Mulia, para pengintai tidak menemukan lagi kelompok goblin dalam radius beberapa kilometer."

Erlan menatap hamparan hutan di depannya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan."Kalau begitu, wilayah ini sudah cukup aman. Mereka tidak akan berani kembali dalam waktu dekat."

"Baik, Yang Mulia."

Tak jauh dari sana, Leon menghembuskan napas panjang. Pedangnya yang dipenuhi noda darah ia tancapkan ke tanah sesaat sambil meregangkan bahunya yang pegal."Akhirnya ini selesai juga."

Erlan melirik sekilas."Kau cukup terampil menggunakan pedangmu, Leonardo Snow."

Leon mengusap tengkuknya."Dibandingkan dengan kemampuan Anda, aku tidak ada apa-apanya Yang Mulia."

Erlan menoleh."Para Goblin itu akan berpikir ratusan kali untuk kembali ke wilayah ini."

Leon mengangguk mantap."Awalnya aku memperkirakan ekspedisi kali ini akan berlangsung lebih dari seminggu. Jumlah goblin mencapai ratusan, dan mereka terkenal keras kepala. Sekalipun kalah, mereka biasanya terus menyerang tanpa takut mati. Tapi dengan kehadiran Yang Mulia, semuanya terasa jauh lebih ringan."

Erlan tidak langsung menjawab.

Leon kembali berkata,"Separuh goblin berhasil kita musnahkan hanya dalam tiga hari. Sisanya bahkan memilih melarikan diri. Itu bukan sesuatu yang mudah dilakukan."

"Kau dan pasukanmu juga bertarung dengan baik," jawab Erlan tenang.

Leon menggeleng pelan."Tetap saja, moral mereka meningkat sejak mengetahui Yang Mulia memimpin langsung di garis depan. Semua orang bertarung lebih bersemangat."

"Itu bukan karena aku."

"Lalu karena apa?"

"Karena mereka ingin pulang dalam keadaan hidup."

Leon terkekeh pelan."Jawaban Yang Mulia memang selalu sesederhana itu."

Erlan kembali berjalan perlahan menyusuri jalan setapak. Leon ikut berjalan di sampingnya. Keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Hanya suara langkah kaki dan desir angin yang terdengar.

Tanpa sengaja pandangan Leon jatuh pada pedang yang berada di pinggang Erlan.

Alisnya perlahan terangkat. Di gagang pedang itu terikat seutas pita panjang berwarna biru muda. Pita itu berkibar pelan tertiup angin, kontras dengan sarung pedang hitam milik sang pangeran. Benda kecil itu terasa begitu mencolok. Leon sampai mengerjapkan mata beberapa kali.

Seorang Pangeran Erlan yang selalu dikenal dingin, tegas, dan hampir tak pernah memakai aksesori apa pun, justru mengikat pedangnya dengan pita berwarna lembut seperti itu. Tatapan Leon semakin lama semakin terpaku.

Lalu tiba-tiba ingatannya kembali pada percakapan beberapa hari lalu.

"Pita itu diambil Pangeran sebagai ganti rugi."

Suara Nandikara kembali terngiang jelas di kepalanya.

Saat itu ia bahkan sempat mengira gadis itu hanya mengada-ada. Tatapannya berpindah lagi pada pita biru muda yang terikat rapi di gagang pedang Erlan.

Bentuknya.

Warnanya.

Semuanya persis seperti yang pernah dipakai oleh Nandikara pada malam itu. Leon hanya bisa memandang tanpa berkedip. Matanya tidak salah melihat, itu adalah pita milik Nandikara...

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!