NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Desa Kedung Lembah

Kabut tebal merayap turun dari puncak bukit gundul, menyelimuti pepohonan jati mati yang berdiri tegak bagaikan barisan tombak tanpa daun. Angin malam bertiup kencang, menyuarakan siulan parau yang merambatkan rasa dingin menusuk hingga ke dalam sumsum tulang.

Galang terus melangkah menyusuri jalan setapak tanah merah bergelombang, menanjak makin tinggi membelah kegelapan hutan yang kian pekat. Petunjuk dari pria tua bungkuk di TPU Karangsewu membimbing kakinya menuju wilayah terlarang yang tak pernah tercantum di peta pemerintahan mana pun.

Setengah jam mendaki dalam remang pendar bulan separuh, Galang akhirnya tiba di sebuah celah perbukitan. Di balik celah batu cadas itu, terhampar sebuah lembah sempit yang terisolasi dari dunia luar.

Galang menghentikan langkahnya di ambang mulut lembah. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya. Tidak ada lampu listrik, tidak ada deru mesin kendaraan, dan tidak ada pendar kehidupan.

Di sepanjang lembah berdebu itu, berbaris belasan rumah panggung tua beratap rumbia kusam yang telah lapuk dimakan usia. Dinding-dinding papannya telah menghitam oleh jamur, dan pekarangannya ditumbuhi semak belukar liar yang menyelimuti sisa-sisa nisan batu tanpa ukiran nama.

Suasana di lembah itu terasa janggal dan hening yang tidak wajar. Tak ada suara gonggongan anjing, tak ada derik jangkrik, bahkan burung malam pun enggan melintas di atas langitnya.

Yang ada hanyalah bau anyir yang amat pekat—baunya menyerupai campuran tanah kuburan basah, kembang kantil membusuk, dan sisa uap kluwek yang teramat dikenal Galang dari dapur Warung Nasi Broto.

Galang merapatkan jaket kusamnya, melangkah pelan memasuki pelataran pemukiman mati tersebut. Setiap kali pijakan sepatunya meremukkan ranting kering, suaranya memantul nyaring di antara dinding-dinding rumah tua yang membisu.

Ia mendekati salah satu rumah panggung paling besar di tengah pemukiman. Pintu kayu jati berukir di rumah itu tampak terpasang miring, engselnya telah berkarat parah. Dengan tangan gemetar, Galang mendorong pintu tersebut pelan-pelan.

Kreeeeek ....

Bau debu dan aroma minyak mayat langsung menyergap hidungnya. Galang menyalakan senter kecil dari ranselnya. Pendar cahaya kuning menembus kegelapan ruang dalam rumah.

Ruang tengah rumah itu kosong melompong dari perabotan manusia. Namun, di atas lantai papan kayu yang berdebu tebal, terdapat guratan-guratan lingkaran raksasa bergaris merah pekat—sebuah pola diagram ritual purba yang telah mengering bertahun-tahun.

Di pusat lingkaran tersebut, tergeletak puluhan tempurung kelapa tua berisi sisa-sisa benang lawe merah, serpihan kain kafan, dan tumpukan tulang-tulang kecil yang telah memutih.

Galang berlutut, meneliti tumpukan tulang kecil itu dengan ngeri. Ukuran tulang-tulang tersebut sangat pendek—tulang jemari dan tengkorak bayi atau anak-anak kecil yang pernah ditumbalkan di tempat ini puluhan tahun silam.

Di dinding kayu bagian belakang, tergantung sebuah papan jati tua yang penuh dengan guratan pahatan kaku. Galang mengarahkan sorot senternya ke papan tersebut.

Papan itu berisi deretan nama-nama keluarga bersama silsilah keturunan mereka. Di atas papan jati tua tersebut, puluhan nama telah dicoret dengan guratan pahatan dalam yang dilapisi tinta darah kering. Mata Galang menyisir barisan nama itu satu per satu hingga akhirnya dadanya serasa dihantam reruntuhan batu besar.

Di bagian ujung paling bawah papan tersebut, terukir nama Broto Suwignyo—nama almarhum ayahnya. Di bawah nama ayahnya, terukir silsilah lengkap anak-anak biologis keluarga Broto: Bayu Broto, Pertiwi Broto, Mia Broto, Rian Broto, dan terakhir ... Gilang Broto.

Nama Bayu dan Pertiwi telah dicoret tebal dengan warna merah pekat yang tampak masih baru dan lembap.

Namun, nama Galang sama sekali tidak terukir di sana—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa ia memanglah hanya anak angkat. Anak yang tidak akan pernah diakui dan tidak memiliki nilai tumbal di dalam lembaran takdir pesugihan ini.

Yang membuat darah Galang kian membeku adalah nama sosok yang memahat silsilah berdarah ini. Di atas deretan nama keluarga-keluarga korban, tidak ada nama "Sapta".

Yang terukir di sana adalah sebuah sebutan kuno berhuruf Jawa Kuno yang dipahat dalam: Mbah Mangu—Sang Juru Tagih Garis Keturunan.

"Sapta ... dia memang tidak pernah ada," bisik Galang dengan suara tercekik.

Penyelidikan mengenai identitas "Pak Hendra" di dunia nyata telah mencapai jalan buntu total. Pria paruh baya berkacamata emas yang kini tinggal di rumahnya, menikahi ibunya, dan mengendalikan Warung Nasi Broto bukanlah manusia biasa dengan identitas kependudukan, surat lahir, atau silsilah keluarga.

Ia adalah wujud penjelmaan dari entitas ghaib itu sendiri—sebuah bentuk fisik fiktif yang diciptakan untuk menyusup ke dalam keluarga-keluarga yang telah menandatangani perjanjian darah, bertindak sebagai juru tagih yang akan memanen nyawa setiap anak biologis hingga garis keturunan keluarga itu habis tanpa sisa.

Tiba-tiba, udara di dalam rumah tua itu terasa mendadak berat dan memadat. Pendar cahaya senter di tangan Galang berkedip-kedip kencang sebelum akhirnya padam total.

CTAK!

Kegelapan pekat yang membekukan menyergap ruangan. Suara siulan angin di luar rumah mendadak berhenti sepenuhnya.

Dari sudut remang di depan papan silsilah kayu jati, terdengar ketukan ringan di atas lantai papan yang sangat familiar di telinga Galang.

Tuk ... tuk ... tuk.

Seketika tubuh Galang mematung kaku di tempatnya berlutut. Hawa dingin yang amat dahsyat merayap naik menyusuri punggungnya. Bau kembang kantil membusuk dan aroma darah segar menyembur kental menghantam wajahnya.

"Langkahmu sudah terlalu jauh, Galang," bisik sebuah suara yang teramat dikenalinya dari dalam kegelapan.

Suara Pak Sapta.

Dalam remang pendar bulan yang menembus celah atap rumbia yang bocor, sosok Pak Sapta bertumpu pada tongkat berkepala naganya, berdiri tegap hanya dua jengkal di depan Galang.

Namun, bayangan yang terpantul di dinding belakang pria itu bukanlah bayangan manusia berpakaian batik, melainkan bayangan makhluk tinggi besar berbulu lebat dengan dua pasang tanduk membengkok mengerikan.

"Pak ... Pak Sapt—tidak, kamu iblis, benar-benar iblis ...," desis Galang, giginya bergelutuk hebat menahan ketakutan yang mencekam jiwa.

Pak Sapta tertawa pelan—sebuah suara tawa yang bergema dingin dan memantul di seluruh penjuru rumah tua tersebut.

"Saya adalah apa yang diminta oleh ayahmu, Galang. Ayahmu datang ke lembah ini belasan tahun lalu, berlutut di atas tanah ini, dan memohon agar warung kecilnya menjadi kaya raya. Dialah yang menyerahkan garis keturunannya sebagai bayaran. Saya hanya menjalankan tugas saya sampai lembaran pahatan ini bersih."

"Bohong!" sembur Galang. "Bapak tidak mungkin sejahat itu. Kalaupun iya, kamu pasti menjebaknya! Bapak juga korban di sini. Dia udah pergi ninggalin anak-anaknya!"

Galang meraung, meluapkan emosi, dan melepaskan rasa takut yang menyeruak.

Pak Sapta membungkuk pelan, mendekatkan wajahnya yang kaku ke telinga Galang. Kacamata berbingkai emasnya memantulkan pendar merah samar dari matanya.

"Penyelidikanmu di desa mati ini sia-sia, Galang," bisik Pak Sapta dengan kejam. "Kamu tidak akan pernah menemukan celah hukum atau identitas manusia untuk menghentikan saya. Dan sementara kamu membuang waktu bermain-main di tempat sampah ini ... di Madiun sana, giliran anak ketiga sudah tiba."

Jantung Galang rasanya copot seketika. Sementara gelak tawa dari mulung Pak Sapta menggema menusuk telinga Galang.

"Mia? tidak! Jangan sentuh adikku!"

Pak Sapta tertawa dingin. Ia menegakkan tubuhnya kembali, memutar tongkat berkepala naganya.

"Pulanglah, anak pungut! Ini semua karena kamu sudah lancang mengusik keberadaanku. Lihatlah bagaimana konsekuensi dari sikapmu yang sok berani ini. Lihat air di kolam rumahmu yang telah meminum nyawa adik kecilmu itu!"

BUMM!

Hempasan angin ghaib yang dahsyat mendadak menghantam dada Galang, melempar tubuhnya keluar melintasi pintu rumah panggung hingga tersungkur di atas tanah berdebu pelataran desa.

Galang terbatuk-batuk, meringis menahan sakit di punggungnya. Begitu ia mendongakkan kepala dan menyalakan kembali senternya, rumah panggung besar dan bayangan Pak Sapta telah lenyap ditelan kabut tebal malam. Desa Kedung Lembah itu kembali menjadi puing-puing mati yang sunyi.

Galang bangkit berdiri dengan histeris, menyapu air mata ketakutan dan amarah dari wajahnya. Tanpa memedulikan rasa sakit di tubuhnya, ia berbalik dan berlari kesetanan menembus kegelapan hutan jati, berpacu dengan waktu menuju Madiun sebelum nyawa Mia direnggut oleh pesugihan yang tak pernah puas.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!