NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Kesialan Slamet berlanjut

Dirumah keluarga Jhon

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Di mana kemarin Jhon sudah mengajak Sari untuk pergi ke pinggir sungai.

Seperti yang telah direncanakan, Sari pun telah mempersiapkan dirinya.

"Sudah siap mari berangkat?" Ajak Jhon.

"Sudah, ayo Kak?" Jawab Sari segera, berjalan ke arah pintu.

Merekapun segera berangkat. Tanpa banyak perkataan lagi mereka berjalan menyusuri jalan menuju pinggir sungai, tempat pertemuan Jhon dan Wati beserta Slamet.***

Di sekolah, tempat Wati dan Slamet mengajar.

Slamet mendatangi ruang guru, dimana Wati berada, sebab saat ini adalah jam istirahat siswa atau keluar main-main,

"Pagi Bu Wati!" Slamet menyapa Wati yang sedang duduk di kursi yang disediakan untuknya oleh sekolah.

"Pagi." Jawab Wati singkat.

"Oh, ya. Sesuai janji Kita kemarin. Aku sudah membuat janji dengan Jo. Nanti sore Kita akan menjumpainya di rumah makan yang baru saja dibangun di tepi sungai itu." Slamet menjelaskan maksudnya kepada Wati.

Wati yang semula terlihat dingin terhadap Slamet, terlihat sudah berangsur-angsur berubah. Sikap dan tatapannya lebih hangat. Ada hawa atau roman wajah yang berubah dari Wati.

"Benarkah? Jam berapa?" Tanya Wati penuh antusias.

"Tentu saja. Kapan Aku pernah membohongimu?" Tanya Slamet, merasa diatas angin.

Wati mengetahui kebiasaan buruk dari Slamet yang suka berbohong demi keuntungannya. Namun kali ini Wati tidak punya pilihan lain.

Wati hanya tersenyum tipis saja, seolah-olah membenarkan perkataan Slamet.

"Nanti, Aku akan menjemputmu pukul setengah empat sore agar Kita dapat sampai di sana sebelum pukul empat sore. Tempat itu kan tidak terlalu jauh."

Slamet menjelaskan kepada Wati, bahwa Jo sudah menanti mereka di pinggir sungai, sore ini.

"Baiklah Ti, jangan lupa nanti sore Aku jemput, ya?" Slamet mencoba memastikan, apakah Wati jadi ikut.

Wati merasa senang, Dia pun bersedia untuk ikut serta.

"Baiklah, Aku tunggu ya"

Wati bersedia untuk ikut serta, namun didalam hatinya Dia merasa aneh.

"Ada, apa ini ya. Kok bau sekali, seperti kotoran kambing. Tetapi, dimana ya?" Wati berfikir dengan keras.

Slamet yang melihat perubahan raut wajah dari Wati pun akhinya segera menyadari kalau dirinya masih menyimpan aroma kotoran hewan.

"Aku pergi dahulu. Jangan lupa nanti Aku jemput."

Slamet pun segera memohon undur diri.***

Sepulang dari sekolah, tempat mereka mengajar. Wati segera mempersiapkan dirinya. Dia berdandan lebih cantik daripada hari biasanya.***

Slamet berjalan pulang kerumahnya dengan hati yang senang. Di dalam hati Dia berkata saat berada ditengah perjalanannya,

"Syukurlah Wati tidak banyak tanya?" Slamet bergumam sendiri.

"Palingan nanti Aku jelaskan, kalau Jo yang kumaksud adalah Jhon, bukan Harjo dan bahwa Wati salah dengar, nama yang Ku sebutkan itu Jhon bukan Jo! " Slamet berkata sendiri dalam pikirannya.

"Aman itu, pasti aman." katanya mencoba meyakinkan dirinya.

Dari pada pagi tadi banyak merasa sial, Siang hari ini hingga malam nanti ingin merubah kesi alannnya menjadi keberuntungan.

"Dimana tadi pagi kena tai kambing, jatuh tersandung batu saat berjalan ke sekolah, juga minyak rambut kemiri yang susah sekali dicari." Gerutu Slamet.

"Si al banget Aku hari ini. banyak orang yang menjauhi Ku juga hari ini." Slamet mengingat-ingat kejadian hari ini.

"Sore ini Aku harus beruntung, bisa berduaan dengan Sari. Hahaha...." Slamet tertawa lepas di dalam hatinya.

L

"Aku harus ubah kesialanku menjadi keberuntungan." tekad Slamet membulat.***

Di rumah Slamet 

Slamet pulang ke rumah dan beristirahat sebentar. Dia sudah cukup merasa kenyang, karena sudah makan siang di kantin sekolah tadi.

Saat beristirahat, pikirannya tidak merasa tenang. Pikirannya selalu saja kepada Sari. Jadi dia tidak bisa tertidur atau tidak bisa beristirahat dengan nyaman. Iya uring-uringan terus, dan gelisah saja siang itu.

"Daripada tidak dapat beristirahat, lebih baik Aku bersiap-siap saja," katanya dalam hati.

Slamet pun segera mempersiapkan dirinya.

Tak lama Slamet bersiap-siap, mandi dan berpakaian. Slamet mengecek jam, ternyata masih kurang dari jam 03.00 sore.

"Sialan Aku kecepatan mempersiapkan diri." gumamnya.

"Ya sudah deh Aku ngopi aja dulu, sambil menunggu waktu yang tepat." Pikirannya dalam hati.

Slamet pun pergi ke dapur membuat kopi. Dia menikmati kopi, yang telah dibuatnya.

Dia membayangkan, apa yang akan Dia lakukan sore ini bersama Sari.

"Kalaupun Wati tidak kudapatkan, Sari cantik juga kok. Dia nggak kalah dengan Wati." Kata Slamet  membatin.

"Sari anak orang kaya, kebun ayahnya banyak. Ayahnya mantan kepala Kampung. Sari juga terkenal pintar, Dia selalu aktif membantu Ayahnya kalau ada kegiatan di kampung ini, pokoknya Dia tidak kalah dengan Wati, beruntung sekali Aku, hahaha... " Slamet mencoba meyakinkan dirinya, sambil Dia tersenyum seorang diri.

Slamet meneguk kopinya yang terakhir. Dan mengecek jam ternyata sudah pukul 04.00 sore saat ini.

"Waduh Si alan sudah pukul 04.00." katanya lagi di dalam hati, lalu segera dengan; terburu-buru pergi keluar rumah. Menuju rumah Wati.

Di halaman Rumah Wati

Wati yang sudah menanti sedari-tadi, duduk di kursi yang berada di teras depan rumahnya. Dia sempat merasa sedih, karena menduga akan batal bertemu dengan Jo, hari ini.

Wati melihat Slamet yang berjalan tergesa-gesa, menuju rumahnya.

"Maaf Ti Aku telat. Kamu sudah lama menunggu?"

Tanya Slamet, sambil bernapas dengan cara ngos-ngosan, karna Dia harus berlari-lari dari rumahnya.

"Aku kira nggak jadi, habis kamu kelamaan sih." Jawab Wati, singkat.

"Maaf ya, telat sedikit juga tidak apa-apa, Aku yakin mereka menunggu!" Jawab Slamet meyakinkan Wati.

"Ya sudah yok, berangkat" ajak Slamet

Wati pun, akhirnya mau juga untuk ikut pergi.

"Ya sudah yok, cepat sudah telat ini." jawab Wati walaupun dalam hatnya, Wati sudah merasa tidak enak sekali. Dia merasa malu dan takut kalau Jo, mengira dirinya wanita yang suka telat.

Wati segera mengunci pintu, dan keluar dari pagar dan tak lupa menutup pagar rumahnya.

Mereka berjalan dengan sedikit lebih cepat, tidak ada senda gurau, atau perkataan apapun.***

Di tempat makan, Pinggir Sungai

Di pinggir sungai, Jhon dan Sari, sudah cukup lama menunggu. Mereka memesan makanan dan minuman berupa jus dan snack.

"Kenapa lama ya Kak, mereka datangnya?" Tanya Sari kepada Jhon.

"Entah lah, aku juga bingung, jadi minum saja dulu." Jawab Jhon sedikit lemas.

"Iya kak rujak Ku juga sudah mau habis."

Jelas Sari kepada kakaknya.

"Dipesan lagi, kalau sudah habis" Jhon menjawab dengan cepat.

"Bukan itu maksudnya, maksudku mereka kenapa belum sampai juga." Jawab Sari.

"Memang Aku doyan makan rujaknya, enak, renyah dan cukup pedas seperti yang Aku inginkan. Tetapi saat ini Aku lagi memikirkan mereka saja. Kenapa belum sampai, gitu loh" Sari coba menjelaskan.

"Oh, Aku kira karena rujaknya sudah habis." Jawab Jhon.

Dari kejauhan tampak Slamet dan Wati berjalan menuju, tempat mereka berada.***

Sementara Dirumah Harjo, yang dipanggil Jo.

Dirumah Harjo, merasa aneh sekali. Dirinya sehat tetapi selalu saja bersin-bersin terus. Dia juga merasa kalau badannya tidak flu, atau demam.

"Aneh, sekali hari ini, mengapa Aku bersin-bersin terus ya?" Gumamnya didalam hati. Padahal tubuhnya sehat sekali.

"Aku tidak akan ke kebun saja hari ini. Takutnya aku memang mau flu!" Serunya lagi di dalam hati.

"Aku beristirahat saja, dahulu." Pikirnya lagi dalam hati.

Dirumah Harjo pun, merasa bosan karena biasanya dia setiap harinya pergi ke kebun, walau pun kebunnya sudah tidak perlu lagi untuk dirawat.

"Oh, ya. Ini hari Sabtu... Banyak orang tidak bekerja, pulang cepat atau bolos bekerja..., pasti banyak orang di warung... Sudah cukup lama aku tidak berinteraksi dengan warga sini... Lebih baik aku ke sana saja, di sana pasti rame, gak sepi begini..." Harjo mulai menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan hari ini.

Dia juga teringat dengan Slamet yang tidak pernah absen ke warung Widuri, apalagi kalau hari Sabtu begini, dia pasti kesana, katanya sih, "Lagi ngak ada kerjaan, jam mengajar kosong, atau ada rapat."

Harjo mengingat kembali, setiap jawaban Slamet setiap ditanya, saat dia lewat dari warung itu, terutama setiap hari Sabtu, Slamet pasti selalu berada disana.

Kalau Jhon memang hanya sesekali Dia dijumpainya disana, tetapi yang paling sering, ya hari Sabtu bersama Slamet.

"Bagus juga itu, mendingan aku kesana aja. Ngopi, sekalian makan dan bercengkrama dengan warga sini."

Harjo pun memutuskan untuk pergi ke warung Widuri.

Harjo berjalan menuju warung Widuri, dijalan Dia berpapasan dengan beberapa petani yang juga tidak bekerja, maupun yang sedang berjalan menuju kebunnya.

"Siang, Pak Mul, tidak kekebun Pak?" Sapa Harjo yang hendak menunjukkan keramahannya.

"Sudah tadi, tetapi hanya sebentar saja." Jawab Mulya, seorang petani yang mulai rajin ke kebun, setelah dahulu pernah ngobrol dengan Harjo, mengenai cara meningkatkan hasil pertaniannya.

Dahulu Mulya juga selalu menolak keras kehadiran penyuluh pertanian, Dia sempat menjadi orang yang menolak apapun program dari PPL.

"Kalau kamu Jo, tumben tidak ke kebun? Biasanya kamu ke kebun walapun kebunmu sudah tidak wajib dirawat lagi" sambung Pak Mulya.

"I...iya pak. Hari ini saya tidak ke kebun." Harjo sedikit grogi, karena pak Mulya ternyata juga mengetahui kebiasaannya, yang rutin ke kebun.

"Hari ini saya bersin-bersin mulu,  jadi memutuskan beristirahat, tidak ke kebun. Saya cuma mau berinteraksi dengan warga pak, mumpung lagi bisa." Harjo coba menjelaskan apa yang akan Dia lakukan hari ini.

"Bagus itu, sudah lama kamu tidak kelihatan oleh warga. Sekalian Jo, berbagi ilmu ke teman-teman petani yang lain. Kamu kan tahu, banyak diantara mereka yang gagal panen musim panen yang lalu. Siapa tahu, mereka berubah pikiran dan bisa sama seperti kamu, yang selalu sukses panennya."

Pak Mulya, memberikan saran kepada Harjo, karena Harjo terkenal selalu berhasil panennya, sedangkan warga desa Surya Kencana banyak yang gagal panen.

"Ah, ngak Pak, biasa saja kok. Kebetulan saja itu pak" Harjo berusaha merendah.

Tiba-tiba Moko lewat sambil tertawa terbabak-bahak.

"Ada apa Mok, kenapa kelihatan senang banget?"

Tanya Tanya Pak Mulya, merasa heran akan kelakuan Moko. Moko lelaki muda, yang juga menjadi petani di desa Surya Kencana.

"Itu Pak Mul, Bang Slamet. Aku lihat dia terburu-buru jalannya, trus kesandung batu dan jatuh, tangannya kena Tai Kambing Pak. Hahaha...?" Jawab moko sambil tetap tertawa.

"Lucu banget Pak, Aku sampe ngak ingat untuk nolongin Dia. Sebab Dia sempat bilang untung, ngak ada yang lihat. Jadi ya Aku pura-pura ngak ada disana." sambung Moko lagi, sambil tertawa.

"Yang membuat aku makin lucu lagi, Bang Slamet sempat mengatakan, mau ketemu cewek, kok malah sial banget." Moko menjelaskan sambil terpingkal-pingkal.

Harjo dan Pak Mulya pun kelihatan menahan tawanya. Pak Mulya tidak mau terlihat menertawakan apa yang menimpa Slamet.

"Kata-katanya itu yang membuat Saya ngak tahan Pak, Bapak tahu sendiri, banyak gadis kampung ini yang Dia coba dekati, tetapi semuanya, mental. Tidak ada yang mau"

Moko, semakin tertawa lepas, Pak Mulya pun tidak dapat menahan tawanya lagi dan ikut tertawa.

Harjo, karena kesibukannya lebih banyak di kebun, kurang mengetahui kejadian itu. Cuma bisa senyum karena masih bingung, walaupun Dia tahu, beberapa sifat buruk dari Slamet.

"Ya, sudah Pak Saya pergi ke warung dahulu, Saya sudah haus banget" Moko permisi ke Pak Mulya dan Harjo.

Tetapi Pak Mulya, mengingatkan Harjo, "Kamu kan mau ke warung juga, sana sekalian saja."

"Iya, Pak. Saya kesana, dahulu. Yuk Kita bareng saja kesan, Ko." Harjo, permisi sekalian mengajak Moko jalan bersama.

"Ayo, sudah haus Saya tertawa terus!" Moko menyambut ajakan dari Harjo menuju kedai Widuri.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!