NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Talak dan Ratu di Lantai Teratas

“Apartemen ini harus dikosongkan hari ini, Bu Anindya. Tempat ini akan disiapkan untuk calon istri Pak Arkana.”

Kalimat pria berjas abu-abu itu jatuh di antara dua piring sarapan. Kopi hitam di depan kursi Arkana masih utuh, tetapi cincin di jari Anindya sudah tidak ada.

Kurang dari satu jam sebelumnya, ia masih berdiri berjinjit di depan suaminya.

“Jangan bergerak. Pangkatmu miring.”

Anindya berdiri berjinjit di depan Arkana. Ujung jarinya merapikan epolet empat garis emas di bahu seragam putih pria itu. Kainnya masih hangat setelah disetrika. Aroma kopi hitam bercampur wangi sabun yang begitu dikenalnya memenuhi dapur apartemen mereka.

Mereka memang tak pernah tercatat sebagai suami istri di dokumen negara. Tak ada foto pernikahan di ruang tamu, tak ada nama Anindya di undangan keluarga Adiwijaya. Hanya akad sederhana tiga tahun lalu, dua cincin polos, dan apartemen di SCBD yang menjadi rumah rahasia mereka.

Namun, setiap kali Arka mengenakan seragam kapten, Anindya tetap merasa lelaki itu pulang kepadanya, meski langit lebih sering memilikinya.

“Sudah.” Anindya menepuk pelan bahunya. “Sarapan dulu. Kamu punya waktu dua puluh menit sebelum berangkat ke bandara.”

Arka tidak langsung menjawab. Ponselnya bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras, tetapi ia membalikkan ponsel sebelum Anindya sempat membacanya.

“Siapa?”

“Kantor.”

Jawabannya terlalu cepat.

Anindya meletakkan roti panggang di piring. Saat berbalik, ia mendapati Arka sedang memandang tangannya. Lebih tepatnya, cincin tipis di jari manisnya.

Pria itu mendekat.

Untuk sesaat, Anindya mengira Arka hendak menggenggam tangannya seperti biasa. Namun, jemari pria itu justru mencabut cincin tersebut. Logam dingin bergesekan dengan kulitnya, lalu hilang ke dalam saku seragam putih.

Bekas pucat melingkar di jari Anindya.

“Arka?”

“Nanti ada orang datang untuk bicara denganmu.”

Suara pengumuman penerbangan terdengar samar dari panggilan yang baru saja ia angkat. Arka meraih topi kapten, lalu berjalan menuju pintu.

“Bicara soal apa?”

Langkahnya berhenti, tetapi ia tidak menoleh.

“Ikuti saja penjelasannya.”

Pintu tertutup.

Roti di meja masih mengepulkan uap. Kopi hitamnya belum disentuh.

Kurang dari satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi.

Seorang pria berjas abu-abu berdiri di luar dengan tas dokumen hitam. Ia memperkenalkan diri sebagai pengacara keluarga Adiwijaya, lalu meminta izin masuk dengan kesopanan yang terasa seperti ujung pisau.

Anindya duduk di seberangnya. Jari manisnya tetap berada di bawah meja.

“Saya akan langsung ke pokok persoalan, Bu Anindya.” Pria itu mengeluarkan amplop tebal. “Pak Arkana telah mengambil keputusan untuk menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan nikah siri kalian.”

Dengung pendingin ruangan mendadak terdengar terlalu keras.

“Ulangi.”

Pengacara itu menarik napas pendek. “Pak Arkana mengakhiri pernikahan ini. Apartemen harus dikosongkan hari ini karena akan dipersiapkan untuk calon istrinya, Nona Amara Wicaksana.”

Nama itu jatuh tepat di tengah meja makan yang masih menyimpan dua piring sarapan.

Amara.

Adik tirinya sendiri.

Anindya menatap amplop di hadapannya. Segelnya sudah dibuka. Di dalamnya ada lembar transfer dana, dokumen pengalihan sebuah unit apartemen kecil, dan daftar barang yang selama tiga tahun pernah diberikan Arka kepadanya.

Pengacara itu membaca satu per satu.

“Jam tangan, satu unit kendaraan, biaya hidup selama masa iddah, beberapa perhiasan, dan nilai kompensasi yang sudah ditransfer pagi ini.”

Ia membalik halaman.

“Kemudian, pin penerbang lama milik Adiwijaya Airlines yang pernah diberikan kepada Ibu saat masih menjadi siswa penerbang. Barang tersebut tercatat sebagai aset perusahaan dan harus dikembalikan.”

Dada Anindya akhirnya bergerak.

Pin itu bukan emas. Nilainya bahkan tak seberapa dibanding angka yang tercetak pada dokumen kompensasi. Namun, Arka memberikannya saat Anindya lulus penerbangan solo pertamanya. Malam itu, pria tersebut memasangnya sendiri di kerah seragam latihannya dan berkata bahwa langit tak pernah salah memilih orang.

Sekarang kenangan itu dimasukkan ke dalam daftar inventaris.

“Berapa?” tanya Anindya.

“Maaf?”

“Berapa harga tiga tahun saya menurut keluarga Adiwijaya?”

Pria itu menunduk pada angka terakhir. “Jumlah keseluruhannya tercantum di halaman empat.”

“Saya tidak bertanya halaman berapa.”

Pengacara itu terdiam.

Anindya mengambil ponselnya dan menekan nomor Arka. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua baru dijawab setelah dering panjang.

Suara roda koper dan pengumuman keberangkatan memenuhi sambungan. Arka sudah berada di dekat pesawat, mungkin hanya beberapa langkah dari pintu kokpit.

“Arka, apa semua ini benar?”

Hening dua detik.

“Ikuti kata pengacara.”

“Kamu mengambil cincinku sebelum berangkat, lalu menyuruh orang lain menalakku?”

“Aku harus terbang.”

Anindya mencengkeram ponsel. “Dan Amara akan tinggal di sini?”

Kali ini jedanya lebih lama. Seorang petugas memanggil, “Kapten Arkana, kami siap boarding.”

“Kosongkan apartemen hari ini,” katanya akhirnya. “Jangan mempersulit keadaan.”

Sambungan terputus.

Anindya tidak langsung menurunkan ponselnya. Layar hitam memantulkan wajah yang masih rapi, seolah pagi ini tidak baru saja merobek hidupnya dari tengah.

Pengacara di seberang menggeser bolpoin.

“Jika Ibu bersedia menandatangani, staf kami akan membantu memindahkan barang pribadi.”

Anindya meraih bolpoin itu.

“Tidak perlu.”

Ia membaca setiap halaman, mengembalikan pin penerbang ke dalam kotak kecil, lalu menandatangani di tempat yang ditunjukkan. Goresan tintanya lurus. Hanya ujung jari yang memegang kertas terlihat memutih.

“Untuk apartemen kecil dan uangnya?” tanya pengacara itu hati-hati.

“Biarkan prosesnya jalan.” Anindya menutup dokumen. “Saya ingin tahu seberapa murah keluarga Adiwijaya menilai rasa bersalah mereka.”

Pria itu tidak berani menjawab.

Anindya masuk ke kamar. Lemari besar di sisi Arka penuh oleh seragam, kemeja, dan jas. Di sisinya hanya ada beberapa pakaian yang benar-benar ia sukai. Ia memasukkannya ke satu koper kabin. Tak ada foto yang perlu dibawa. Arka tak pernah mengizinkan foto mereka dipajang.

Di depan meja rias, Anindya membuka kotak beludru hijau. Sepasang anting milik mendiang Laras terbaring di dalamnya. Ia mengenakan anting itu, menyentuh permukaannya sekali, lalu menutup kotak.

Itulah satu-satunya benda yang tidak pernah diberikan Arka kepadanya.

Menjelang siang, Anindya keluar hanya dengan satu koper.

Pengacara itu berdiri saat ia melewati ruang makan. Roti panggang sudah dingin. Kopi hitam Arka masih utuh.

“Bu Anindya, mobil dari keluarga bisa mengantar.”

“Saya masih punya mobil sendiri.”

“Kendaraan itu tercantum dalam daftar pemberian.”

Anindya berhenti. Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di bibirnya.

“Bukan mobil yang di basemen. Yang itu boleh kalian ambil.”

Ia pergi sebelum pria tersebut sempat memahami maksudnya.

Empat puluh menit kemudian, sebuah sedan hitam tanpa logo berhenti di depan bangunan batu berwarna gelap di kawasan bisnis Jakarta. Dari luar, tempat itu tampak seperti klub privat yang sengaja menolak perhatian. Tak ada papan nama besar. Hanya simbol huruf E di pintu kaca.

Petugas keamanan melihat plat mobilnya dan segera membuka palang.

Anindya masuk tanpa menunggu dibukakan pintu. Sepatu haknya berdetak di lantai marmer. Beberapa tamu di lobi menoleh, tetapi ia tidak berhenti. Kartu hitam di tangannya membuka lift khusus yang bahkan tak tercantum pada panel umum.

Lift melaju langsung ke lantai teratas.

Saat pintunya terbuka, Sisi sudah menunggu bersama belasan staf. Perempuan itu mengenakan kemeja hitam dengan tablet di tangan. Di belakangnya, ruang kendali Klub Enggar membentang di balik dinding kaca, dipenuhi layar, peta koneksi, dan orang-orang yang selama ini bekerja tanpa pernah menyebut nama pemilik sesungguhnya di luar lantai itu.

Mereka serempak menundukkan kepala.

“Selamat siang, Bos.”

Anindya menyerahkan koper kepada seorang staf. Punggungnya tegak. Tak ada yang akan mengira, kurang dari dua jam lalu, seorang pengacara baru saja menghitung harga dirinya halaman demi halaman.

Enggar keluar dari ruang rapat sambil membawa sebuah map.

“Kami siap sejak Bos mengirim pesan dari jalan.” Pandangannya turun ke jari Anindya yang kosong, lalu segera beralih. “Ada satu informasi lain. Adiwijaya Airlines sedang membuka posisi kopilot untuk rute domestik. Batas pengajuan berkas siang ini.”

Sisi mengangkat tablet. “Lisensi CPL Bos masih aktif. Jam terbang dan pemeriksaan kesehatan juga lengkap. Saya bisa kirim berkasnya sekarang.”

Anindya menyentuh anting peninggalan ibunya. Bayangan Arka dengan seragam putih, cincin di sakunya, dan suara dingin dari ujung telepon melintas sekali.

Lalu ia menekan tombol lift untuk turun lagi.

“Kirim berkasnya,” katanya. “Aku akan terbang kembali.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!