NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Malam telah larut ketika iring-iringan mobil keluarga Herman tiba kembali di kediaman mewah mereka. Kelelahan dari rentetan kejadian dramatis di pesta berganti menjadi kelegaan luar biasa. Pak Herman langsung beristirahat setelah menginstruksikan peningkatan pengamanan tingkat tinggi di sekitar rumah.

​Di lantai dua, pintu balkon kamar Clara terbuka lebar, membiarkan angin malam berhembus sejuk membawa aroma bunga melati dari taman bawah.

​Clara berdiri menyandarkan lengannya di pagar balkon. Gaun pesta mewahnya telah berganti dengan piyama sutra putih yang anggun. Pandangannya menatap jauh ke arah bintang-bintang di langit ibukota, namun pikirannya melayang pada satu sosok.

​Terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu kamarnya yang sengaja dibiarkan setengah terbuka.

​"Bolehkah saya masuk, Clara?"

​Suara bariton yang tenang itu membuat jantung Clara kembali berdegup kencang. Ia memutar tubuhnya dan melihat Bima berdiri di ambang pintu. Pemuda itu telah melepas jas pestanya, hanya menyisakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka.

​"Tentu saja, Bima. Masuklah," jawab Clara dengan senyum lembut.

​Bima melangkah mendekati balkon dan berdiri di samping Clara. Keduanya terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman setelah hiruk-pikuk pesta yang mematikan.

​Clara menunduk, memainkan ujung piyamanya dengan gugup. Ada satu pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya. Ia harus memastikannya malam ini juga.

​"Bima..." panggil Clara pelan.

​Bima menoleh, menatap wajah cantik bidadari di sampingnya yang diterangi cahaya rembulan. "Ya?"

​"Tentang pengumuman Papa di pesta tadi..." Clara menggigit bibir bawahnya, mengumpulkan seluruh keberaniannya. "Aku tahu Papa melakukan itu secara sepihak untuk melindungiku dari incaran para pengusaha licik. Dan... aku tahu kamu orang yang tidak bisa menolak permintaan orang yang sedang kesusahan."

​Clara mendongak, matanya yang jernih menatap langsung ke dalam manik hitam pekat milik Bima.

​"Katakan padaku dengan jujur, Bima. Apakah pelukanmu di lantai dansa tadi, dan penerimaanmu atas perjodohan ini... murni hanya karena tugas dan rasa kasihan? Jika iya, aku tidak akan memaksamu untuk terus terikat denganku setelah keadaan ibukota aman."

​Kata-kata itu diucapkan dengan tegar, namun terselip getaran ketakutan yang amat dalam di suara Clara.

​Bima terdiam. Ia menatap lekat-lekat mata gadis yang menunggunya dengan cemas. Perlahan, Bima mengangkat tangan kanannya dan menyelipkan helaian rambut panjang Clara ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan hangat jemari Bima membuat Clara menahan napas.

​"Sejak kecil, aku dilatih di atas gunung yang sangat dingin," Bima mulai bercerita dengan suara yang sangat pelan dan dalam. "Hidupku hanya diisi oleh hapalan kitab medis kuno, racun, dan latihan bela diri yang menyiksa tulang. Aku tidak pernah tahu apa arti kehangatan atau rumah."

​Bima menurunkan tangannya, lalu menggenggam kedua tangan mungil Clara dengan erat.

​"Saat aku diusir turun gunung dan pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini, aku hanya berniat menyembuhkan pasien lalu pergi. Tapi..." Bima tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuat ketampanannya meningkat tajam. "Melihatmu yang begitu keras kepala mencoba bertahan hidup, melihatmu marah membelaku dari fitnah Tante Vina, dan melihatmu menangis menungguku semalaman..."

​Bima mencondongkan wajahnya lebih dekat.

​"Kau bukan lagi sekadar pasienku, Clara. Kau adalah satu-satunya kehangatan yang ingin aku lindungi seumur hidupku. Aku tidak pernah menerima perintah yang bertentangan dengan hatiku. Aku menerima perjodohan ini... karena aku menginginkannya."

​Air mata kebahagiaan seketika menetes dari pelupuk mata Clara. Gadis itu tidak peduli lagi pada rasa gengsinya. Ia langsung menubruk dada Bima, memeluk pemuda itu dengan sangat erat sambil menangis terisak karena bahagia.

​Bima membalas pelukan itu tak kalah erat. Ia mengecup puncak kepala Clara dengan lembut, meresmikan ikatan tak kasat mata yang kini menyatukan takdir mereka berdua.

​Di saat yang sama, ratusan kilometer dari gemerlapnya ibukota.

​Di puncak Gunung Halimun yang selalu diselimuti kabut tebal sepanjang tahun, terdapat sebuah padepokan tua yang megah namun tersembunyi dari pandangan satelit dunia modern.

​Seorang pria tua berambut putih panjang dengan janggut yang menjuntai hingga ke dada sedang duduk bersila di atas batu giok hijau. Ia sedang menyesap teh panas dari cangkir tanah liat kuno. Meskipun terlihat renta, aura yang memancar dari tubuh pria tua itu terasa sangat menekan, menggetarkan udara di sekitarnya.

​Ia adalah Tabib Dewa Tanpa Nama, Guru Besar dari Padepokan Naga Langit.

​Wush.

​Sesosok bayangan hitam melesat dari balik pepohonan bambu dan langsung berlutut dengan satu kaki di hadapan sang Guru Besar. Ia adalah seorang informan rahasia tingkat tinggi.

​"Lapor, Guru Besar!" ucap informan itu dengan kepala menunduk hormat. "Kami membawa kabar dari ibukota mengenai Tuan Muda Bima."

​Sang Guru Besar menyesap tehnya dengan santai. "Hm. Apakah bocah keras kepala itu sudah mati kelaparan karena tidak tahu cara mencari uang di kota?"

​"Tidak, Guru," jawab informan itu dengan nada sedikit bergetar karena takjub. "Dalam waktu kurang dari sebulan, Tuan Muda Bima telah menyembuhkan penyakit langka putri konglomerat Herman, menghancurkan total sekte pembunuh bayaran Serigala Malam seorang diri, dan... malam ini, ia baru saja diumumkan sebagai tunangan resmi dari pewaris tunggal keluarga Herman tersebut."

​Pfttt!

​Sang Guru Besar menyemburkan teh panasnya ke udara. Mata tuanya terbelalak lebar.

​"Apa kau bilang?! Bocah kayu yang tidak pernah bicara dengan wanita itu... bertunangan?!"

​Sang Guru tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggetarkan daun-daun bambu di sekeliling padepokan. "Hahaha! Luar biasa! Aku menyuruhnya turun gunung untuk melatih kesabaran, dia malah menaklukkan ibukota dan mendapatkan calon istri miliarder!"

​Namun, tawa sang Guru perlahan mereda, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan berbahaya.

​"Tetapi... menghancurkan Serigala Malam pasti akan memancing perhatian anjing-anjing tua di ibukota," gumam sang Guru Besar sambil mengelus janggutnya. "Keluarga Utama penguasa bayangan Jakarta dan Asosiasi Medis Gelap pasti mulai melacak jejak tenaga dalam Bima."

​Guru Besar menatap informannya dengan wajah serius.

​"Terus awasi pergerakannya secara rahasia. Jangan ikut campur kecuali nyawanya benar-benar terancam. Segel Tenaga Dalam Naga di tubuh Bima baru terbuka dua puluh persen. Jika dia ingin melindungi keluarga barunya dari badai yang akan datang, dia harus membangkitkan sisa kekuatannya sendiri."

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!