Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3.Kata "Benci" Terucap Lagi
Jam pelajaran berlangsung dengan suasana yang penuh ketegangan tak kasatmata. Di sepanjang waktu itu, Anisa berusaha sebaik mungkin untuk fokus pada penjelasan guru di depan, berusaha mengabaikan keberadaan sosok di sebelahnya yang terasa begitu mengganggu meski tak bersuara. Namun, setiap gerakan kecil Kenzo—saat ia menegakkan punggung, membalik halaman buku dengan bunyi yang terdengar sengaja, atau sekadar melirik ke samping dengan tatapan yang terasa menilai—selalu berhasil membuat emosi Anisa perlahan naik mendidih. Kenzo seakan berusaha menampakkan betapa sempurnanya dirinya, seakan ingin terus-menerus mengingatkan Anisa siapa yang memegang kendali di kelas ini.
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Siswa-siswi lain segera berhamburan keluar kelas atau berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sambil tertawa riang. Hanya Anisa dan Kenzo yang masih tetap di tempatnya, duduk berdiri tegak dengan jarak yang nyaris tak berjarak, namun terasa begitu jauh dan dingin. Anisa merapikan buku-bukunya dengan gerakan yang sedikit kasar, tak mampu lagi menahan kekesalan yang memuncak di dadanya. Setiap kali ia bergerak, bahunya nyaris menyentuh bahu Kenzo, dan setiap kali itu pula, Kenzo akan menggeser kursinya sedikit sambil mendengus pelan—seakan keberadaan Anisa saja sudah cukup untuk mencemari ruang di sebelahnya. Gerakan kecil yang terkesan meremehkan itu akhirnya menjadi tetesan air yang membuat gelas itu meluap.
"Bisakah kamu tidak bersikap seakan keberadaanku ini sampah?" ucap Anisa tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya terdengar bergetar, bukan karena takut, melainkan karena menahan amarah yang sudah lama tertahan sejak pagi tadi. Ia berbalik menghadap Kenzo, menatap tajam sepasang mata yang selama ini terasa begitu dingin padanya. "Aku tahu kamu ketua kelas, tahu kamu merasa paling patuh aturan. Tapi bisakah kamu tidak terlalu berlebihan? Sikapmu yang terus-menerus seakan aku adalah beban atau kesalahan terbesar dalam hidupmu itu sungguh tidak sopan!"
Kenzo pun berdiri perlahan, menatap balik dengan tatapan yang tak kalah tajam. Ia melipat kedua tangannya di dada, menyudutkan Anisa dengan kehadirannya yang terasa mendominasi. "Lantas kamu sendiri bagaimana?" balasnya dengan nada rendah namun penuh ketajaman. "Kamu terus-menerus menantang setiap perkataanku, mempertanyakan segala hal yang sudah menjadi ketertiban di sini. Kamu datang seakan-akan semua aturan yang ada salah, dan kamulah yang paling benar. Apakah kamu sadar betapa menyebalkannya sikap seperti itu?"
"Aku menyampaikan apa yang menurutku adil dan benar!" bantah Anisa tak mau mengalah. Dadanya naik turun menahan emosi. "Bukan berarti aku ingin melawan. Tapi kalau ada yang merasa lebih tinggi dari langit dan memperlakukan orang lain seakan di bawah kakinya... tentu saja aku akan bicara! Aku tidak bisa diam saja melihat kesombongan seperti dirimu!"
"Kamu menyebutku sombong?" Kenzo tersenyum miring, senyum yang sama sekali tak menyiratkan kehangatan, justru semakin membakar kemarahan di dada Anisa. "Itu karena kamu tak terbiasa diatur dan diberi batasan. Kamu hanya ingin bebas melakukan apa saja sesuka hatimu tanpa peduli pada ketertiban orang lain. Kamu ini... sungguh menyebalkan, Anisa."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, dan suasana seketika menjadi sunyi senyap. Anisa merasakan hatinya tertusuk perih. Menyebalkan? Demi apa? Ia hanya membela dirinya dan menolak diperlakukan semena-mena. Matanya berkaca-kaca, namun ia tak akan membiarkan air mata itu jatuh di hadapan lelaki sombong seperti Kenzo. Ia menegakkan kepalanya lebih tinggi, menatap lurus ke manik mata Kenzo yang seakan tak memiliki sedikit pun rasa iba.
"Baiklah kalau begitu," ucap Anisa dengan suara yang bergetar namun tegas. "Kalau keberadaanku begitu mengganggumu, kalau menurutmu aku menyebalkan... maka ketahuilah. Aku benci padamu, Kenzo. Sejak pertama kali kita bertemu, hingga saat ini, rasanya semakin kuat saja. Aku sangat membencimu!"
Kenisa terdiam sesaat. Kata itu melayang di udara, berat dan penuh makna. Ia menatap wajah Anisa—mata yang menyala penuh kemarahan, pipi yang merona merah menahan emosi, bibir yang terkatup rapat menyimpan kesungguhan. Sesaat ada perubahan kecil di tatapan mata Kenzo, seakan ada sesuatu yang berkilat dan hilang seketika. Namun secepat itu pula, ia kembali menampilkan wajah dingin dan tak tergoyahkan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, namun kali ini tanpa senyum yang biasa ia perlihatkan.
"Bagus," jawab Kenzo singkat dan dingin. "Kalau begitu, kita sependapat. Aku juga benci padamu, Anisa. Lebih dari yang kamu kira."
Kata itu terucap lagi. Saling melempar, saling menegaskan, seakan menjadi janji tak tertulis di antara mereka. Tak ada yang mau mundur, tak ada yang mau mengalah. Kenzo meraih tasnya dengan kasar, lalu berjalan meninggalkan kelas tanpa menoleh lagi ke belakang. Langkah kakinya terdengar berat, seakan membawa kemarahan yang sama besarnya dengan milik Anisa.
Anisa terdiam di tempatnya, membiarkan tubuhnya perlahan terkulai di kursi. Dadanya terasa sesak. Kata "benci" itu begitu mudahnya terucap dari bibir mereka berdua, begitu tegas dan tak terbantahkan. Namun aneh... mengapa hatinya terasa begitu perih mendengar kata itu keluar dari mulut Kenzo? Padahal ia yang pertama kali mengucapkannya. Anisa memeluk kedua lengannya ke dada, menatap punggung Kenzo yang perlahan menghilang di ambang pintu, lalu bergumam lirih pada dirinya sendiri—sekaligus menegaskan kembali agar tak menyesali perkataannya tadi.
Ya. Benci. Memang harus begitu. Semoga rasa ini tak pernah berubah selamanya.
Namun di sudut hati yang paling dalam, entah mengapa... ada rasa tak menentu yang menyelinap pelan, seakan memberitahukan bahwa kata "benci" yang baru saja mereka ucapkan dengan penuh kemarahan itu, kelak mungkin akan menjadi kata yang justru menyatukan mereka dalam kisah yang jauh lebih rumit.
BERSAMBUNG...