NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikurung Suamiku

Perjalanan yang terasa begitu panjang akhirnya berakhir ketika mobil berbelok memasuki halaman rumah.

Ban mobil berhenti tepat di depan teras. Mesin masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya Sagara mematikannya.

Ainun mengembuskan napas lega. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sesaat.

Klik.

Sabuk pengaman di tubuhnya terlepas.

Sagara segera membuka pintu di sisi Ainun, lalu meraih pergelangan tangannya.

“Mas...”

Belum sempat Ainun bertanya, tubuhnya sudah ditarik keluar dari mobil.

Langkahnya terburu-buru mengikuti tarikan pria itu. Pergelangan tangannya kembali terasa nyeri karena cengkeraman Sagara yang begitu kuat.

“S-sakit, Mas!” keluh Ainun sambil berusaha memperlambat langkah.

Bukannya mengendurkan cengkeramannya, jemari pria itu justru semakin mengerat.

Ainun meringis. Ia mencoba menarik tangannya, tetapi tenaga Sagara terlalu kuat.

“Mas, tolong... pelan-pelan.”

Tak ada jawaban.

Ainun hanya bisa mengikuti langkahnya dengan napas yang mulai tidak teratur. Pandangannya sempat jatuh pada halaman rumah yang baru saja mereka lewati.

‘Apa yang sebenarnya ingin Mas Sagara lakukan?’

Rasa takut yang sejak tadi menempel di dadanya kembali menguat.

. . .

Begitu melewati pintu utama, langkah Ainun akhirnya terhenti. Sagara mendadak melepaskan cengkeramannya.

Ainun terhuyung satu langkah. Tangannya refleks meraih pergelangan yang terasa berdenyut akibat perlakuan pria itu sejak dari restoran.

Ia menunduk. Bekas kemerahan mulai terlihat jelas di kulitnya.

“Senang?” Suara Sagara terdengar rendah dari hadapannya.

Ainun mengangkat wajah perlahan. Bibirnya terkatup rapat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“SENANG KARENA DIPERHATIKAN PRIA LAIN, HAH?!”

Bentakan itu membuat bahu Ainun tersentak.

Sagara mendecih, lalu melangkah mendekat.

“Lihat dirimu.” Tatapannya menyapu Ainun dari atas hingga bawah. “Kamu pikir dia benar-benar mau sama wanita seperti kamu?”

Mata Ainun mulai mengembun. Pandangannya perlahan kabur oleh air mata yang menggenang.

Ia menggigit bibir bawah, berusaha menahan isak yang mulai memenuhi tenggorokannya.

“Kenapa diam?” bentak Sagara lagi. “JAWAB!”

Ainun tersentak.

“Bahkan kamu sampai ingin di khit—”

Sagara berhenti sejenak, lalu mendengkus meremehkan.

“Menjijikkan.”

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

Satu tetes membasahi pipi, disusul tetes berikutnya. Ainun segera mengusapnya dengan punggung tangan, tetapi semakin ia menghapus, semakin banyak air mata yang mengalir.

Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri bersuara.

“Lalu... Mas Sagara lupa dengan pernikahan kita?”

Sagara menatapnya tajam. “Kamu bertanya seperti itu?”

Ainun menundukkan kepala.

“Aku hanya mengingatkan, Mas.”

Jemarinya menggenggam ujung bajunya.

Ia mengangkat wajah, menatap Sagara di balik pandangan yang basah. “Dan sekarang Mbak Liona sudah kembali. Mas Sagara bisa menikahi Mbak Liona.”

Hening.

Ainun bahkan dapat mendengar suara detak jantungnya sendiri.

Ia belum sempat mengucapkan apa pun lagi ketika...

Plak!

Kepala Ainun terlempar ke samping. Sesaat, ia hanya terdiam. Rasa panas menjalar dari pipinya. Kulitnya terasa perih, sementara telinganya berdenging akibat tamparan yang baru saja diterimanya.

Tangannya perlahan terangkat, menyentuh pipi yang memerah.

“Wanita jalang!”

Ainun tersentak saat suara Sagara sedikit keras. Jemarinya yang masih menempel di pipi perlahan turun.

“Memangnya kenapa kalau Liona kembali?” lanjut Sagara dengan suara penuh amarah. “Apa kamu bisa bebas begitu saja?”

Sagara melangkah mendekat.

“Kamu sudah menyita waktuku selama ini.” Suaranya terdengar rendah, membuat bulu kuduk Ainun meremang. “Sekarang... aku akan menghukummu.”

Tubuh Ainun seketika menegang. Ia mundur satu langkah. Matanya melebar saat melihat Sagara kembali meraih tangannya.

“Jangan...” Suaranya hampir tidak terdengar.

Pergelangan tangannya kembali ditarik.

“Mas, jangan.”

Ainun berusaha menahan langkah, tetapi Sagara terus membawanya menuju kamar kecil yang selama ini ditempatinya.

“Jangan kurung aku, Mas.”

Pintu kamar terbuka.

Sagara mendorong tubuh Ainun masuk ke dalam.

Ainun kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Ia segera berbalik, berharap pria itu masih berada di ambang pintu.

Namun, Sagara sudah memegang gagang pintu dari luar.

“Mas Sagara...”

Pintu itu ditutup.

Brak!

Ainun bergegas mendekat.

Klik.

Suara kunci yang diputar dari luar membuat tubuhnya membeku.

“Mas...?”

Ia memegang gagang pintu dan mencoba memutarnya.

“Mas, buka pintunya!”

Ainun menggedor pintu dengan kedua tangannya.

Brak! Brak! Brak!

“Mas Sagara, tolong!”

Tidak ada jawaban.

Ainun terus mengetuk, berharap pintu itu kembali terbuka. Namun, suara gedoran tangannya hanya memantul di kamar sempit tersebut.

“Mas... aku minta maaf.” suaranya mulai bergetar. “Aku nggak bermaksud membuat Mas marah.”

Tidak ada suara dari luar.

Ainun menempelkan telapak tangannya pada pintu. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya.

“Mas, tolong buka...”

Tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Kedua tangannya memeluk lutut.

‘Kenapa Mas Sagara memperlakukanku seperti ini?’

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang mampu menenangkan ketakutannya.

Sementara itu, setelah meninggalkan kamar Ainun, langkah Sagara terus membawanya menuju ruang tamu.

Wajahnya masih menyimpan sisa amarah. Ia sama sekali tidak menoleh ke belakang, seolah suara gedoran Ainun di balik pintu bukan sesuatu yang perlu dipedulikannya.

Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, suara Bi Ani terdengar dari arah dapur.

“Pak Sagara... kasihan Mbak Ainun.”

Sagara berhenti sejenak. Tatapannya beralih kepada wanita paruh baya itu.

“Dia istri saya,” jawabnya datar. “Jangan ikut campur.”

Bi Ani terdiam.

Sagara tidak melanjutkan percakapan. Ia berjalan menuju meja di sudut ruang tamu, lalu menarik salah satu laci.

Krek.

Tangannya masuk ke dalam laci dan mengambil kunci kamar Ainun yang tadi digunakan untuk mengunci pintu.

Ia meletakkan kunci tersebut di dalam laci, lalu menutupnya kembali. Sagara mengembuskan napas panjang sebelum berjalan menuju sofa.

Tubuhnya dijatuhkan ke sandaran. Ia membuka kancing manset kemejanya, lalu merogoh laci kecil di bawah meja tamu.

Sebuah kotak rokok dan korek api diambil.

Ia membuka kotak tersebut, mengambil sebatang rokok, lalu menyelipkannya di antara bibir.

Ckrek.

Api korek menyala.

Sagara membakar ujung rokok hingga bara merah kecil muncul. Setelah itu, ia mengisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asap perlahan ke udara.

Belum lama ia menikmati keheningan, suara Liona terdengar dari arah pintu.

“Mas Sagara, kenapa meninggalkanku?”

Sagara menoleh.

Liona berjalan menghampirinya sambil membawa sebuah tas.

“Kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu saja?” tanya Sagara sambil kembali mengisap rokoknya.

Liona mengangkat tas yang dibawanya.

“Aku mau mengembalikan tas Ainun yang ketinggalan.”

“Letakkan saja di situ.”

Sagara menunjuk meja tanpa banyak bicara.

Liona mengikuti arah tangannya, lalu meletakkan tas tersebut di atas meja.

“Oh, ya.” Ia kembali menatap Sagara. “Di mana Ainun?”

Sagara mengembuskan asap rokok dari hidungnya.

“Aku kurung di kamarnya.”

Liona seketika terdiam.

“Eh, kenapa dikurung, Mas?”

“Wanita itu membuatku kesal.”

Sagara kembali mengarahkan pandangan ke depan.

Beberapa detik kemudian, Liona berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.

“Jangan begitu.” Suaranya terdengar lebih lembut. “Lagian, tadi sikap Mas Sagara berlebihan sekali. Sampai semua orang mengira kalian suami istri.”

Sagara menoleh perlahan. “Bukankah memang begitu?”

Kalimat itu membuat Liona terdiam.

Sagara kembali mengisap rokoknya tanpa mengalihkan pandangan.

“Sudah, kan?” ucapnya datar. “Kamu pulanglah.”

Liona mengerutkan kening. “Mas, kita masih harus membahas pernikahan kita. Jangan lupa.”

“Iya, aku tahu.”

Sagara mematikan bara rokoknya sebentar pada asbak.

“Kamu pulanglah dulu.”

Liona masih menatapnya beberapa saat.

Namun, Sagara tidak lagi mengatakan apa-apa. Tatapannya kembali lurus ke depan, membiarkan asap rokok perlahan memenuhi ruang di antara mereka.

Dengusan pelan terdengar dari sisi sofa.

Sagara tidak menanggapinya. Ia masih duduk dengan tubuh bersandar, tatapannya kosong mengarah ke depan.

Kling!

Suara notifikasi membuat pandangannya beralih.

Sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja menyala sesaat sebelum layarnya kembali meredup.

Sagara mengernyit. Ia mematikan rokoknya di dalam asbak, lalu meraih ponsel tersebut.

Begitu layar menyala, tatapannya langsung tertuju pada nama pemiliknya.

Alisnya sedikit terangkat. Ia membuka notifikasi yang baru saja masuk.

{Bu Ainun, kenapa tadi Pak Sagara menyeret Ibu? Ibu tidak apa-apa, kan?}

Rahang Sagara mengeras. Belum sempat ia mematikan layar, notifikasi lain kembali muncul.

{Bu, bagaimana dengan tawaran saya? Apa Ibu menerimanya? Jika iya, saya akan datang ke rumah kedua orang tua Ibu.}

Jemari Sagara yang menggenggam ponsel perlahan mengencang.

‘Pria itu lagi.’ Tatapannya berubah dingin.

‘Sial.’

Tanpa berpikir panjang, ibu jarinya bergerak membuka ruang obrolan tersebut.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.

Ia meletakkan ponsel Ainun kembali ke atas meja.

“Lihat saja,” gumamnya pelan.

Tatapannya mengarah ke pintu kamar Ainun yang masih tertutup.

“Aku akan menyingkirkan pria yang berani mendekatimu, Ainun.”

.

Di tempat lain, pada waktu yang hampir bersamaan, Faizan masih duduk seorang diri di ruang tamu rumahnya.

Ponsel yang sejak tadi berada di atas meja tiba-tiba bergetar.

Kling!

Faizan segera meraih benda itu. Begitu melihat nama Ainun muncul di layar, sorot matanya seketika berbinar.

Dengan senyum tipis yang terbit di wajahnya, ia membuka pesan tersebut. Namun, senyum itu perlahan menghilang.

Tatapannya terpaku pada deretan kalimat yang memenuhi layar.

{Maaf, Pak. Jangan kirim pesan kepada saya lagi. Saya tidak menyukai Anda. Lupakan niat Anda. Level saya bukan dengan Anda.}

Jemari Faizan yang memegang ponsel perlahan mengendur. Ia membaca pesan itu sekali lagi, berharap dirinya salah memahami maksudnya.

Namun, kalimat tersebut tetap sama.

Senyum yang tadi sempat menghiasi wajahnya benar-benar lenyap.

Faizan menundukkan kepala. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang masih menyala.

“Bu Ainun...” gumamnya lirih.

Ia mengusap layar dengan ibu jari, tetapi tidak mengetik apa pun.

“Kenapa kata-katamu menyakitkan?”

Faizan menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ponsel itu masih berada di tangannya, tetapi jemarinya tidak lagi bergerak.

Tatapannya kosong.

‘Apa aku memang nggak pantas untukmu?’

Ia mengembuskan napas panjang, lalu mematikan layar ponselnya.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!