Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?
Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.
Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.
Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.
Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMM — BAB 04
SEBUAH PILIHAN DAN JEBAKAN?
Seperti menembus kelopak mata Myra. Reflek ia mengerutkan alisnya lalu merasakan rasa nyeri di bagian bawahnya.
Benar.
Sudah berapa kali dia mengeluarkan cairannya semalam. Dan semua itu karena kegilaan Silas yang benar-benar gila.
“Buka matamu jika kau sudah bangun."
Suara itu sangat menyebalkan. Sejak malam dia mendengarnya, hingga erangan yang menjijikan begitu terdengar jelas di telinganya.
Ia ingin bangun. Tapi berhadapan lagi dengan pria itu membuatnya malas.
“Jika kau tidak bangun, maka aku anggap iya.”
Myra langsung terbangun. Wajahnya kaget mendengar ucapan tadi yang seolah seperti sebuah jawaban? Dan kini wanita itu menoleh ke kanan dan melihat Silas duduk di sofa singel yang sama seperti semalam.
Namun kali ini dia sudah terlihat rapi dengan kemeja hitamnya dan rambut tersisir rapi belakang.
“Apa yang iya?” tanya Myra tanpa beranjak.
Pria itu menatapnya lekat tanpa berpaling. “Marry me.”
Bak seseorang yang baru saja mendengar sebuah ancaman halus. Myra mengedipkan matanya berulang kali dengan wajah menganga tak percaya hingga ia menyeringai kecil.
“Kesepakatan ini hanya satu malam. Aku puas karena hutang ku selesai dan kau juga puas karena... Karena kau, menikmati malam yang panjang, Mr. Silas. Apa ucapan ku kurang jelas?”
Keduanya saling beradu pandang. Dengan tatapan tajam dan tenang, pria mata cokelat itu meraih segelas beer untuk ia teguk saat itu juga.
“You're done. I'm not.”
Alia Myra mengernyit marah. Ia reflek mencoba turun namun meringis sakit dan tetap memilih diam di atas ranjang, tapi matanya menatap tajam ke pria yang masih duduk di sana dengan tatapan tenang penuh keegoisan.
“Apa maksudmu you not?” tegasnya.
Silas tak menjawab, dia memperhatikan wajah Myra, dan tubuhnya yang kini mengenakan tanktop hitam dan celana pendeknya yang tipis.
Ia berdiri sehingga Myra langsung gelagapan nan waspada ketika pria itu melangkah maju.
“Kau terlalu menikmatinya. Sehingga kau tidak mendengar ucapan ku semalam.” kata Silas yang merendahkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya bertumpu di sisi Myra yang hampir terlentang.
Jarak yang sangat dekat.
“U-ucapan?”
“Sudah lama aku menantikan momen ini.” ucapnya pelan tanpa penekanan setiap kalimat, namun begitu membuat kulit Myra merinding. Seringaian kecil Silas terlihat seperti senyuman devil, namun itu hanya bertahan 5 detik.
“Desahanmu lebih kencang dari pendengaran mu.”
Myra menatap tak percaya hingga pria itu menarik dirinya dan berdiri tegap, berbalik arah, berjalan ke arah gorden hitam jendela lalu membukanya sehingga terlihat jendela yang terbuka dan cahaya langit yang cerah.
Wanita itu masih duduk di atas ranjang, jantungnya berdegup ketika ia penasaran dengan apa yang ada di luar jendela itu.
Matanya bergerak melirik ke Silas yang kembali duduk dengan santai, seolah menunggunya.
“Apa yang kau rencanakan?” Myra mengepalkan kedua tangannya.
“Nothing.”
Ia menunduk, mencoba tetap tenang. Dengan sekuat tenaga, Myra memaksakan dirinya untuk bergerak turun dan berjalan ke arah jendela meski rasa sakit masih menjalar sampai ke kedua kakinya. Ia tak peduli saat sudah melihat sesuatu yang mengejutkan di luar jendela itu.
Keningnya berkerut, bibirnya sedikit terbuka.
Sebuah layar lebar terpapang jelas. Tapi bukan sebuah film, melainkan seseorang yang siap di bidik dari jarak jauh secara diam-diam. Dan orang itu adalah— Tante, Paman beserta putrinya dan... Erlina.
Myra merasa seperti terjebak, tangannya lemas melepas gorden itu dan langkahnya bergerak mundur. Namun punggungnya menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya.
Tak bisa bergerak lagi saat pria itu memepetnya dari belakang dan sama-sama menatap ke layar itu.
“Apa kehidupan mereka lebih penting dari kehidupanmu?” bisik Silas yang sama sekali tidak membuat Myra berpaling dari pemandangan itu.
Satu gerakan saja maka peluru senapan itu akan mengarah ke kepala mereka berempat.
Kedua tangannya terkepal kuat, begitu kuat hingga dia rasanya ingin memukul pria itu sejak dulu. “Kenapa... ” nafas Myra seperti tercekat di paru-paru.
“Pilihan ada di tanganmu. Dan satu hal yang pasti... ”
Sebuah kalung dengan liontin cincin, terlihat jelas di depan wajah Myra ketika Silas menunjukan dari belakang.
Dan lagi-lagi Myra dibuat terkejut melihat cincin milik ibunya yang ternyata masih ada digenggaman pria itu. Lalu bagaimana dengan 18 tahu lalu?
Myra menoleh mencoba menatapnya. “Kau membohongi ku.”
“Perlu kebohongan untuk mendapatkan sesuatu.”
Wanita itu kembali menatap ke cincin tersebut. Ia seperti mengingat ibunya, serta kebohongan dan dirinya yang saat ini terjebak tak tahu harus berbuat apa. Kedua matanya mulai berkaca-kaca hingga Myra tersenyum miris.
Sementara dari belakang. Silas mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Myra yang tengah meneteskan air matanya.
“Menikahlah dengan ku. Kau akan mendapatkan kebebasan.” pria itu menoleh, menghirup rambut Myra begitu dalam dan hampir menyentuh telinga serta leher wanita itu.
Myra menarik nafas panjang bersamaan dengan hidung dan bibir Silas yang menyentuh sisi wajahnya.
Pria itu menjauh sehingga Mayra berbalik menatapnya. “Itu bukan kebebasan. Berhentilah mengusik ku, dan hentikan semua ini.” pintanya dengan lantang. “Mereka tidak tahu apa-apa. Kau tidak boleh membunuhnya.”
“Aku akan membunuhnya tergantung dengan keputusan mu, Nona Myra.” Silas menoleh, menatap dingin dan angkuh. “Tiga jam adalah waktu berpikir mu. Maka pikirkanlah dengan tepat.”
Setelah mengatakan itu. Silas melangkah pergi begitu saja.
Myra mencoba mengikuti langkahnya dan mencoba menerobos pintu itu, namun dia kalah cepat dengan langkah Silas yang langsung menutup pintu itu dan menguncinya.
Brokk!! Brok! Brokk!
“SILAS!!! BUKA PINTUNYA.” teriaknya sambil menggedor-gedor kasar pintu itu. Tapi tak ada yang menjawabnya.
Myra kembali berlari ke arah jendela dan melihat layar itu. Layar yang masih menunjukkan pergerakan dari keempat orang beserta senapan yang mengikutinya dan mengarahkannya ke kepala.
“Astaga... ” Tentu saja Myra kebingungan hingga mengusap wajahnya sampai ia melupakan rasa sakit di area sensitifnya.
Ia mencoba membuka jendela itu, ternyata sengaja dipaten. Brukk! “Sial!” kesalnya yang mulai menangis namun sebisa mungkin Myra menahannya.
Ia berputar ke sana dan kemari. Mengamati keseluruhan kamar itu dan mencari celah yang bisa dilewatinya. Namun tidak ada.
“Ponsel?” ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan segera berjalan ke arah meja panjang, dimana semalam ia meletakan tas beserta ponselnya di sana.
Namun kini, Myra tak lagi melihat tasnya sama sekali. “Ap-apa? Ti-Tidak... Aku, aku menaruhnya di sini semalam.”
Ia mencoba mencari di bawah dan dimanapun yang dekat-dekat. Tapi tetap saja dia tidak menemukannya dan Myra yakin, tas itu sudah disingkirkan oleh Silas.
Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar sesak hingga meremas kuat dan rasanya begitu menjalar sampai ke leher serta rahangnya. Begitu panas sampai Myra tersiksa dan pergi ke kamar mandi.
“Kenapa panas sekali?”
Keran wastafel menyala. Sebisa mungkin Myra membasuh leher dan rahangnya, berharap rasa sakit dan panas itu pergi, namun entah kenapa masih tidak mau pergi. Dadanya naik turun, hingga Myra mencoba meredam nya dan memilih diam.
-‘Tolong jangan sekarang... Jangan sekarang..’ pikir Myra yang benar-benar berharap.
Dia sudah pernah merasakan hal ini dulu. Dan sekarang muncul lagi setiap kali dia gelisah berlebihan.
Cklek.
Mendengar suara pintu. Myra segera keluar dan melihat seorang penjaga baru saja meletakkan satu pakaian di atas kasur.
“Ini perintah tuan Silas. Jika Anda memilih keputusan yang tepat, maka kenakan pakaian itu.” kata si penjaga yang berjalan ke arah pintu.
Tahu jika Myra akan mengambil kesempatan itu. Penjaga tadi menodongkan pistolnya ke arah Myra yang seketika menghentikan langkah dan gerakannya yang hampir mendekati pintu.
“Stay right there, Miss. (Tetap di tempat Anda, Nona).”
Myra tertegun tak berani bergerak sampai pintu itu benar-benar ditutup dan kembali dikunci.
Saking kesalnya. Myra langsung meraih vas keramik dan melemparkannya ke pintu itu hingga menghasilkan bunyi yang keras dan membuat si penjaga tadi kaget sejenak, lalu melangkah pergi.
Kini ia hanya bisa diam, menoleh ke pakaian elegan yang tergeletak di atas kasur.
Tak bisa berkata-kata lagi selain menyeringai tak percaya dia akan terjebak seperti ini.