NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Sorot lampu sedan hitam di ujung dermaga mendadak membutakan mata. Deru mesinnya yang halus tetapi bertenaga membelah keheningan malam yang basah oleh sisa gerimis.

Arka bergerak cepat, memotong jalan dan pasang badan persis di depan Kirei. Tangannya merengkuh pinggang Kirei, menarik cewek itu pelan ke balik perlindungan punggung tegapnya.

Pintu mobil bergulir terbuka. Seorang cowok melangkah keluar santai, kemeja putihnya yang digulung sebatas siku tampak kontras dengan pekatnya malam di dermaga.

Dion Hartono.

Dion mendekat, mengukir senyum ramah yang kini terasa ganjil dan penuh intrik. "Sori... gue mengganggu momen romantis kalian?"

Arka menyipitkan mata, meremas jemari Kirei yang bersembunyi di balik punggungnya. "Lo menguntit dari restoran, Dion?"

Dion menghentikan langkah tiga meter di depan mereka. Ia menyandarkan punggung ke kap mobil, bersedekap dada. "Gue enggak menguntit. Tante Eleonora yang cerita kalau kalian baru saja membuang kesepakatan miliaran rupiah demi... cinta monyet anak SMA."

"Ini bukan cinta monyet, Dion," sela Kirei, melangkah maju berdiri sejajar di samping Arka. Pandangannya terkunci penuh ketegasan Ketua OSIS yang tak tergoyahkan. "Dan ini bukan cuma urusan bisnis. Lo pakai cara kotor memanfaatkan ibu Arka buat memecah OSIS dan menekan sekolah!"

Dion terkekeh rendah—tawa renyah yang manipulatif.

"Kirei, Kirei..." Dion menggeleng-gelengkan kepala dengan raut prihatin yang dibuat-buat. "Lo pinter, tapi kelewat polos. Lo pikir gue peduli sama posisi Humas OSIS atau sponsor olimpiade? Keluarga Hartono enggak butuh publisitas sekolah menengah."

Arka menyunggingkan senyum miring—senyum dingin bernada bahaya. "Jadi tujuan lo sebenarnya apa? Balas dendam buat Bima dan Aditama Corp?"

Dion menatap Arka lurus-lurus, kilat kejam berkelebat di balik iris matanya.

"Bima cuma sepupu bodoh yang terlalu emosional," cetus Dion dingin. "Tapi Aditama Corp dan Hartono Corp punya ikatan yang jauh lebih dalam. Waktu lo menghancurkan Aditama... lo sudah memotong salah satu jalur investasi utama keluarga gue."

Dion memangkas jarak hingga tersisa satu meter. Udara di antara dua cowok jangkung itu mendadak memanas, seolah percikan kecil saja sanggup membakar seluruh pelabuhan tua ini.

"Tante Eleonora sudah setuju memindahkan lo ke London," bisik Dion rendah. "Tapi karena Kirei menolak... gue terpaksa memakai cara kedua buat memastikan kalian berdua hancur di Olimpiade Sekolah pekan depan."

"Coba saja kalau sanggup, Dion," tantang Arka balik, suaranya memberat penuh penekanan. "Gue bakal bikin nama Hartono Corp bernasib sama seperti Aditama."

Dion tersenyum tipis, membalikkan badan menuju mobilnya. "Kita lihat nanti di tempat karantina olimpiade, Arka. Gue sudah menyiapkan kejutan kecil buat istri lo."

Sebelum masuk ke kabin, Dion melirik sekilas ke arah Kirei, menancapkan ancaman terselubung yang bikin bulu kuduk Kirei meremang. Sedan hitam itu lalu berputar arah dan melaju cepat meninggalkan dermaga.

Pukul 22.00 WIB.

Kamar tidur rumah minimalis itu terasa hangat di tengah hujan deras yang mengguyur luar.

Kirei duduk bersila di atas kasur, memangku laptop. Draf revisi proposal sponsor olimpiade sudah selesai dirapikan, tapi pikirannya terus tersangkut pada gertakan Dion di dermaga tadi. Kejutan kecil di tempat karantina.

Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti. Arka keluar dibalut kaos oblong putih dan celana training hitam, rambut basahnya diusap asal memakai handuk kecil.

Arka mendekat, melompati sudut kasur lalu mendarat di samping Kirei. Cowok itu mengambil laptop dari pangkuan Kirei dan menggesernya ke meja nakas.

"Enggak usah dipikirkan omongan Dion," kata Arka tenang, menyandarkan kepala ke headboard tempat tidur.

Kirei menoleh, menatap garis rahang Arka. "Gimana gue enggak kepikiran, Arka? Karantina olimpiade itu di vila pegunungan selama tiga hari. Kita bakal terisolasi. Kalau Dion berniat bikin krisis baru—"

Arka merengkuh bahu Kirei, menarik cewek itu pelan sampai kepalanya bersandar di dada tegap Arka. Aroma sampo mint dan kehangatan tubuh cowok itu mendadak mengikis habis cemas di dada Kirei.

"Gue kan sudah bilang," bisik Arka, jemarinya mengusap pelan lengan Kirei. "Tim basket sekolah ikut ke lokasi sebagai pengaman resmi. Gue, Farhan, dan anak-anak lain bakal menjaga area 24 jam. Dion enggak bakal punya celah menyentuh lo."

Kirei mendengarkan detak jantung Arka yang teratur di bawah telinganya. Kehadiran cowok ini selalu punya cara ajaib untuk menjadi benteng teraman.

Kirei menengadahkan kepala, menatap dagu Arka dari bawah. "Arka..."

"Hm?"

"Soal ucapan Tante Eleonora tadi sore..." Kirei menggigit bibir bawahnya ragu. "Kalau lo enggak ke London... lo enggak menyesal? Universitas di London itu kan impian lo dari dulu?"

Gerakan tangan Arka di lengan Kirei terhenti. Tatapannya turun, mengunci iris mata Kirei yang jernih.

"Impian gue dulu memang ke London," kata Arka rendah dan hangat. "Tapi sekarang... impian gue berubah."

Jantung Kirei berdegup kencang. "Berubah jadi apa?"

Arka menunduk, mendekatkan wajah sampai jarak bibir mereka menyisakan selapis udara. Hembusan napas hangatnya menyapu kulit wajah Kirei.

"Berubah jadi memastikan cewek cerewet yang punya sembilan belas aturan denda tinta merah ini tetap aman dan bahagia di samping gue," bisik Arka tulus.

Dada Kirei bergemuruh hebat. Setetes air mata haru lolos di sudut matanya. Kirei melingkarkan kedua tangan di leher Arka, memeluk cowok itu erat-erat.

Arka tersenyum tipis, membalas pelukan itu dengan dekapan protektif, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirei.

Tiga Hari Kemudian. Pukul 14.00 WIB.

Bus rombongan SMA Nusantara meliuk menyusuri jalanan menanjak yang diselimuti kabut tebal kawasan pegunungan Puncak.

Di dalam bus, peserta olimpiade dan pengurus OSIS duduk rapi. Kirei duduk di barisan depan dekat jendela, menatap deretan pinus yang menjulang di balik kaca berembun.

Di barisan belakang, Arka dan anak-anak tim basket duduk santai mengawasi keadaan. Sementara Dion duduk di barisan tengah, tersenyum tenang sambil memutar-mutar pulpen di jarinya.

Bus akhirnya berhenti di halaman vila tua megah bergaya kolonial yang dikelilingi hutan pinus lebat—lokasi Karantina Olimpiade Sekolah.

Saat Kirei melangkah turun dari bus, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergapnya. Namun, rasa dingin itu mendadak berubah jadi firasat buruk saat matanya tertuju pada papan pengumuman di lobi vila:

"SELAMA TIGA HARI KARANTINA, SELURUH PERANGKAT KOMUNIKASI DAN PONSEL PESERTA SERTA PANITIA WAJIB DISERAHKAN KE PIHAK SPONSOR."

Kirei tersentak, menoleh cepat ke arah Dion yang berdiri di dekat panitia dengan senyum kemenangan yang pekat. Dion telah mengisolasi mereka sepenuhnya dari dunia luar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!