NovelToon NovelToon
Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Dalam Pengawasan Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti

Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.

Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.

Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.

Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.

"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Julian melangkah keluar dari gerbang kampus dengan napas memburu. Perasaannya kacau, dipenuhi frustrasi dan amarah yang meluap setelah penolakan Clara di koridor tadi. Pria itu meremas kunci mobilnya erat-erat, melangkah menuju area parkir luar yang sepi di balik deretan pohon mahoni tua. Julian tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus telah terkunci oleh radar bayangan.

Saat ia baru saja menekan tombol unlock pada mobilnya, tiga sosok pria bertubuh tegap dalam balutan jaket kulit gelap muncul dari balik bayang-bayang pohon. Sebelum Julian sempat berteriak atau berbalik arah, sebuah cengkeraman kuat dari belakang langsung mengunci lehernya, membungkam mulutnya dengan kain tebal bercampur cairan pembius dosis ringan.

"Mmph...!"

Julian berontak liar, namun tenaganya tak ada artinya berhadapan dengan pengawal terlatih milik Kenzo.

Dalam hitungan detik, tubuh Julian diseret masuk ke dalam sebuah van hitam tanpa pelat nomor yang terparkir canggih di sudut. Pintu geser van tertutup rapat dengan dentuman halus. Di dalam van, lampu interior yang temaram menyinari wajah dingin Kevin yang berdiri mematung. Kevin mengeluarkan sebuah tablet yang menampilkan sambungan video memperlihatkan sepasang mata gelap Kenzo yang menatap dingin dari ruang kerjanya di London.

Tanpa perlu sepatah kata pun diucapkan dari seberang lautan, Kevin memberikan isyarat tangan. Dua pengawal menekan tubuh Julian ke lantai van, membeberkan kedua tangan pria itu di atas balok kayu tebal.

KRAK!

"AAAGHHH...!"

Jeritan histeris Julian teredam rapat di dalam van yang dilapisi peredam suara tingkat tinggi.

Rasa sakit yang luar biasa menghantam kesadarannya saat tulang jari dan pergelangan tangannya dipatahkan secara presisi, sesuai perintah mutlak Kenzo untuk meremukkan bagian tubuh yang berani menyentuh Clara.

Kevin meraih ponsel milik Julian yang tergeletak di lantai, lalu mengambil satu foto jarak dekat dari pergelangan tangan Julian yang sudah hancur. Foto itu dikirimkan secara otomatis ke server khusus sebelum ponsel tersebut dihancurkan hingga berkeping-keping.

"Ini peringatan pertama dan terakhirmu,"

bisik Kevin di telinga Julian yang terkulai lemas menahan rasa sakit luar biasa.

"Jika kau masih terlihat bernapas di sekitar Miss Clara lagi, bukan hanya tanganmu yang hancur, tapi seluruh keluargamu akan menghilang dari kota ini."

Tubuh Julian yang tak berdaya kemudian dilemparkan begitu saja di tepi jalan sepi dekat rumah sakit umum, meninggalkan pria itu dalam kehancuran fisik dan mental yang sempurna.

Di kediaman utama keluarga Kenzo, Clara duduk mematung di meja belajarnya. Suasana kamar yang luas dan dingin terasa begitu menindas. Meski Kenzo berada ribuan mil jauhnya di Inggris, kehadiran bayangan pria itu seolah masih memenuhi setiap sudut ruangan, mengawasi setiap helai napasnya.

TRING.

Sebuah notifikasi pengiriman paket dari kurir khusus berbunyi dari lantai bawah. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Clara dan menyerahkan sebuah kotak hitam pita perak elegan, kotak khas yang biasa digunakan Kenzo saat mengirimkan hadiah untuknya.

Pelayan itu membungkuk dan pamit, meninggalkan Clara sendirian bersama kotak misterius tersebut. Dada Clara berdegup kencang secara tidak teratur. Firasat buruk yang teramat pekat menyengat tengkuknya. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia membuka pita perak itu dan menggeser penutup kotak.

Di dalam kotak, tidak ada perhiasan mahal atau gaun indah. Yang terbaring di dalam lapisan kain beludru hitam itu adalah sebuah album foto digital berlayar sentuh berukuran kecil, berdampingan dengan sepasang sarung tangan kulit hitam milik Kenzo yang beraroma parfum khas pria itu.

Clara menyalakan layar album digital tersebut. Hanya ada satu slide foto di dalamnya.

Foto itu menampilkan jemari tangan pria yang sudah retak parah dan membiru, tergeletak tak berdaya di atas lantai berdarah, sebuah potret yang langsung dikenali Clara dari bentuk cincin perak yang masih melingkar di jari manis korban.

Itu tangan Julian.

Di bawah foto berdarah tersebut, tertera sebuah pesan singkat.

Aku selalu menepati janjiku, Dear. Tangan yang mencoba merenggutmu dari sisiku tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Pakailah sarung tangan ini jika kau merasa dingin dan ingatlah siapa pria yang memegang kendali atas hidupmu.

DEG.

Ponsel Clara terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam karpet. Wajah gadis itu pucat pasi, seluruh warna kulitnya memudar. Napasnya memburu cepat, disergap oleh gelombang horor dan ketakutan yang melumpuhkan jiwanya.

Kenzo tidak perlu berada di dekatnya untuk menghancurkan siapa pun. Pria itu tidak perlu berdiri di depannya untuk membuktikan betapa gilanya obsesi itu. Dari jarak belasan ribu kilometer, Kenzo baru saja membuktikan bahwa Mexico masih berada di dalam cengkeraman telapak tangannya, dan Julian hanyalah korban pertama jika ada yang berani mengusik batas kekuasaannya.

Clara merosot dari kursinya, berlutut di lantai kamar dengan tubuh yang gemetar hebat. Ia menatap kotak hitam di atas meja dengan air mata ketakutan yang menetes satu per satu.

Di dalam keheningan malam. Ia tidak akan pernah benar-benar bebas. Pengasingan Kenzo ke London bukanlah sebuah perpisahan.

Clara memeluk kedua lututnya rapat-rapat di sudut lantai kamar, membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara di tengah keheningan malam yang mencekam. Aroma parfum yang menyeruak lembut dari sarung tangan kulit di dalam kotak itu seolah menjelma menjadi sosok Kenzo sendiri, merengkuh lehernya, mengunci napasnya, dan membisikkan janji kepemilikan yang abadi tepat di telinganya.

Setiap detik yang berlalu kini terasa bagai siksaan yang merayap. Clara sadar, tindakan nekat Julian untuk menyelamatkannya justru telah menjadi tiket menuju kehancuran pria itu sendiri. Tidak ada ruang untuk bersembunyi, tidak ada tempat untuk berlari, dan tidak ada manusia di kota ini yang cukup kuat untuk melindunginya dari bayangan Kenzo.

Dengan jemari yang basah oleh air mata dan gemetar hebat, Clara perlahan merangkak mendekati tempat tidur, meraih ponselnya yang tergeletak di atas karpet. Layar ponsel itu memancarkan pendaran cahaya dingin di tengah kegelapan kamar. Clara menatap nama "Kenzo" yang tertera di daftar kontak teratasnya, sebuah panggilan yang kini menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan pembantaian lebih lanjut dari sang predator di benua seberang.

Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Clara menekan tombol hijau, membiarkan nada panggilannya membelah samudra menuju sang pemilik jiwanya.

Nada dering di seberang sana berbunyi dua kali sebelum akhirnya terhubung. Hening sejenak menyeruak, hingga suara berat Kenzo mengalun dingin membelah benua,

"Aku sudah menunggumu menelepon, Dear."

Clara memejamkan mata rapat-rapat, merasai tubuhnya melemah sepenuhnya saat menyadari bahwa setiap desah napas dan keputusasaannya telah diprediksi sempurna oleh Kenzo sejak awal. Kakak tirinya itu benar-benar gila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!