Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17. Permintaan Maaf yang Canggung
Sejak lembaran tulisan rahasia itu terungkap, suasana di antara Kenzo dan Anisa berubah menjadi penuh kelembutan sekaligus kecanggihan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Segala sesuatu seakan menjadi berbeda, namun tak satu pun dari mereka berani melangkah lebih jauh atau mengucapkannya dengan terang-terangan. Terutama satu hal yang masih menggantung di udara—kata maaf yang seharusnya terucap sejak lama, namun selalu tertahan oleh rasa gengsi dan kecanggihan yang mendalam.
Pagi itu, setelah bel pulang berbunyi dan teman-teman sekelas perlahan meninggalkan ruangan, tinggalah mereka berdua yang membereskan sisa tugas kelompok di meja tengah. Udara terasa hangat dan hening, hanya terdengar suara gesekan kertas yang saling bersentuhan. Kenzo berdiri memungut buku-bukunya perlahan, namun matanya sesekali melirik ke arah Anisa yang sedang menunduk merapikan berkas. Bibirnya bergerak pelan, seakan hendak membuka suara berkali-kali namun selalu tertahan kembali. Jantungnya berdegup tak menentu, bukan karena marah atau kesal seperti dulu, melainkan karena gugup yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Bagaimana cara mengatakannya? Bagaimana memulai permintaan maaf yang sedemikian berat untuk diucapkan oleh seseorang yang selama ini terbiasa merasa paling benar?
Anisa pun merasakan hal yang sama. Ia sesekali melirik dari balik kelopak matanya yang tertunduk, menangkap raut wajah Kenzo yang tampak sedang bergumul dengan sesuatu. Ia tahu apa yang hendak dikatakan lelaki itu, karena di dalam hatinya pun tersimpan kata yang sama, yang sejak lama ingin ia sampaikan namun selalu tertahan oleh kecanggihan yang luar biasa.
Akhirnya, saat Anisa hendak menyambar tas dan beranjak pergi lebih dulu, suara Kenzo terdengar memecah keheningan dengan cepat seakan takut kehabisan waktu.
"Tunggu... Anisa."
Langkah kaki Anisa terhenti seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Kenzo yang kini berdiri tak jauh darinya dengan napas yang sedikit memburu dan wajah yang tampak berusaha tetap tenang namun jelas terlihat tegang.
"Aku..." Kenzo memulai kalimatnya, namun seketika terdiam. Ia membuang napas pelan, tangannya yang mengepalkan erat di sisi celana perlahan melemah. Tatapannya jatuh sejenak ke lantai sebelum kembali menatap mata Anisa dengan sorot yang jauh lebih lembut namun penuh kesungguhan. "Aku ingin... meminta maaf padamu. Atas segala hal sejak hari pertama kita bertemu."
Anisa terdiam di tempatnya, menahan napas pelan. Ia tak menyangka kata itu akan terucap begitu, begitu sederhana namun begitu berat terasa.
"Maaf karena selama ini aku selalu bersikap kaku," lanjut Kenzo perlahan, seakan setiap kata harus ia pilih dan keluarkan dengan hati-hati. Suaranya terdengar pelan, sedikit gugup, namun terdengar sangat tulus. "Maaf karena selalu menegur dengan nada yang kasar tanpa mau mendengar penjelasanmu lebih dulu. Maaf karena sering menuduhmu seenaknya, menyalahkanmu atas hal yang bukan kesalahanmu, dan bersikap seakan aku adalah orang yang paling benar di hadapanmu. Aku... terlalu memegang aturan hingga lupa menghargai perasaan orang lain. Terutama perasaanmu."
Kenzo berhenti sejenak, menelan ludah pelan. Telinganya perlahan memerah samar-samar, matanya berusaha tetap menatap Anisa namun terlihat jelas betapa canggungnya ia saat ini. Ia yang dulu tak pernah ragu sedikit pun saat berbicara atau memberi perintah, kini tampak begitu gugup dan tak tenang hanya untuk mengucapkan sepatah kata maaf.
"Aku sadar... baru belakangan ini aku menyadari betapa salahnya aku selama ini. Kamu bukan pembangkang seperti yang kukira dulu. Kamu hanya membela apa yang menurutmu benar dan adil. Sedangkan aku... terlalu sombong untuk mendengarkanmu. Jadi... maafkan aku. Sungguh, maafkan aku."
Suasana hening sejenak melingkupi mereka. Anisa menatap Kenzo lekat-lekat, melihat ketulusan yang terpancar dari matanya, melihat betapa canggung dan beratnya permintaan maaf itu terucap dari mulut yang selalu tegas dan tak pernah kalah itu. Hatinya terasa hangat sekaligus terenyuh. Matanya perlahan berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena terharu yang mendalam.
Anisa menarik napas panjang, lalu melangkah selangkah lebih mendekat. Ia menatap Kenzo dengan senyum lembut yang perlahan mengembang di bibirnya.
"Aku juga... minta maaf, Kenzo," ucap Anisa pelan namun jelas, membuat mata Kenzo sedikit membelalak seakan tak menyangka akan mendengar hal serupa. "Maaf karena aku selalu menantang perkataanmu tanpa memberi ruang untuk menjelaskan lebih dulu. Maaf karena terkadang aku juga bersikap keras kepala dan tak mau mengalah. Maaf karena aku juga sama-sama bersalah menilai dirimu dari luar saja, tanpa berusaha mengenalmu lebih dalam. Aku pun... seharusnya lebih bersabar dan tidak selalu menyanggah setiap ucapanmu."
Kini giliran Anisa yang menunduk sedikit karena canggung, jemarinya saling bertaut di depan perut. "Jadi... kita sudah sama-sama memaafkan?" tanyanya pelan sambil mendongak kembali menatap Kenzo, sepasang matanya bersinar jernih menunggu jawaban.
Kenzo menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu perlahan ketegangan di wajahnya luruh seketika. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang samar namun tulus, senyum yang begitu meneduhkan dan membuat canggung di udara perlahan lenyap berganti kehangatan yang tak terlukiskan. Ia mengangguk pelan, tegas namun lembut.
"Ya. Sama-sama saling memaafkan."
Pertukaran maaf itu terasa begitu canggung, penuh keraguan kecil, napas yang tertahan, pipi yang memerah samar, dan kata-kata yang terucap terputus-putus seakan takut salah. Namun justru kecanggihan itulah yang membuatnya terasa begitu tulus dan berharga. Karena itulah pertama kalinya gengsi mereka luruh, pertama kalinya mereka menunduk meminta maaf satu sama lain dengan hati yang bersih, tanpa kemarahan, tanpa pertentangan. Dan di ruangan yang mulai sepi itu, setelah kata maaf terucap dan diterima dengan hati yang lapang, terasa ada dinding tebal yang selama ini memisahkan mereka akhirnya runtuh perlahan. Menyisakan ruang yang luas dan terang, tempat di mana dua hati kini mulai berdiri berdampingan, bukan lagi sebagai lawan yang saling berselisih, melainkan sebagai dua orang yang saling memaafkan dan siap untuk saling mengisi kebaikan di masa yang akan datang.
BERSAMBUNG...