Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Yang Dipaksakan
Naomi menggeleng panik. Wajahnya semakin pucat. Dadanya naik turun menahan sesak yang terasa begitu menyakitkan.
"Tidak... aku tidak mau!"
Suara gadis itu terdengar parau. Kepalanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri, seolah berharap semua yang baru saja didengarnya hanyalah mimpi buruk.
Nathan menatapnya tanpa sedikit pun rasa iba. Wajah pria itu tetap dingin, bahkan sorot matanya terlihat semakin tajam.
"Aku tidak sedang meminta persetujuanmu."
"Tuan Nathan, saya bahkan tidak mengenal Anda," ucap Naomi dengan napas memburu. "Saya juga tidak mencintai Anda. Kenapa saya harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak saya pilih?"
Nathan sama sekali tidak menjawab. Tatapannya tetap datar, seolah apa yang dirasakan Naomi bukan sesuatu yang penting.
Naomi memalingkan wajahnya. Pandangannya beralih kepada Alan Wijaya. Secercah harapan masih tersisa di dalam hatinya.
"Tuan Alan... saya mohon. Saya benar-benar tidak bersalah."
Alan mengembuskan napas panjang. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Nak, terkadang keadaan memaksa seseorang mengambil keputusan yang tidak pernah diinginkan."
Jawaban itu membuat Naomi tersenyum getir. "Jadi... Bapak juga akan mengorbankan saya demi nama baik keluarga?"
Alan terdiam. Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Perlahan Naomi menoleh ke arah kedua orang tuanya. Matanya memerah, tetapi bukan karena takut. Ia hanya ingin melihat, apakah masih ada sedikit saja kasih sayang untuk dirinya.
"Papi..."
Tak ada jawaban.
"Mami..."
Merry hanya menangis sambil menundukkan kepala. Sedangkan Eric membuang wajah, seolah keberadaan Naomi benar-benar menjadi noda dalam hidupnya.
Hati Naomi seakan diremas. Selama ini ia selalu berharap suatu hari kedua orang tuanya akan membelanya. Namun kenyataannya, bahkan di saat dirinya berada di titik paling hancur, mereka tetap memilih diam.
Bibir Naomi bergetar pelan. "Jadi... beginikah rasanya menjadi anak yang tidak pernah dipilih?"
Kalimat itu membuat beberapa tamu saling berpandangan. Bahkan sebagian staf hotel tampak menundukkan kepala karena ikut merasa iba melihat keadaan gadis tersebut.
Namun simpati mereka tidak mampu mengubah apa pun. Nathan melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Waktu kita tinggal sedikit."
Ia mengangkat dagunya ke arah para pengawal.
"Siapkan gaun pengantin cadangan."
"Baik, Tuan."
Naomi membelalak. "Apa maksudnya?"
Nathan melangkah perlahan hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa senti. Wajah tampan pria itu kini terlihat begitu mengintimidasi.
"Mulai detik ini... kau akan menggantikan Alicia."
"Tidak!" Naomi mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. "Aku tidak akan menikah dengan siapa pun!"
Nathan tidak bergeming. Ia hanya mengangkat satu tangan sebagai isyarat.
"Dua orang berbadan tegap segera maju menghampiri Naomi."
Jantung gadis itu berdetak semakin cepat. "Jangan sentuh aku!"
Ia berusaha menghindar, tetapi kedua pengawal itu sudah lebih dulu mencengkeram lengannya.
"Lepaskan! Aku bukan barang yang bisa kalian paksa sesuka hati!"
Suara Naomi menggema memenuhi koridor hotel. Air matanya akhirnya jatuh, bukan karena ia lemah, melainkan karena untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari. Tak ada seorang pun yang akan datang menyelamatkannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Gaun pengantin berwarna putih gading membalut tubuh Naomi dengan sempurna. Rambut panjangnya ditata rapi, dipermanis dengan veil yang menjuntai hingga menyentuh lantai.
Siapa pun yang melihatnya pasti mengira hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Padahal. Di balik riasan yang menutupi wajahnya, kedua matanya sembap akibat terlalu banyak menangis.
Naomi duduk membisu di ruang rias. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Ujung jemarinya terasa dingin.
Seorang perias mencoba tersenyum. "Nona cantik sekali."
Naomi tidak menjawab. Cantik? Untuk apa cantik jika bahkan hidupnya sendiri bukan lagi miliknya?
Tok...
Tok...
Pintu ruang rias terbuka. Nathan masuk dengan setelan jas hitam yang membuat penampilannya semakin berwibawa. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.
Semua orang di dalam ruangan spontan menundukkan kepala. Nathan melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Naomi.
"Sudah selesai?"
Salah seorang perias mengangguk gugup.
"Sudah, Tuan."
Nathan mengalihkan pandangannya kepada Naomi.
"Berdiri."
Naomi tetap diam. Tatapannya kosong menembus lantai marmer di bawah kakinya. Bukan karena menyerah, melainkan ia sedang mengumpulkan keberanian untuk menolak takdir yang dipaksakan kepadanya.
"Aku bilang berdiri."
Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya.
"Kalau aku menolak?"
Nathan menatapnya beberapa saat. "Yang rugi bukan aku."
"Kalau begitu kenapa harus aku?"
"Karena hanya kau yang bisa menutup aib ini."
Naomi tersenyum pahit. "Jadi sejak awal aku memang hanya dijadikan penutup kesalahan orang lain."
Nathan tidak membantah. Baginya, yang terpenting saat ini hanyalah pernikahan tetap berlangsung. Ia mengulurkan sebelah tangan.
"Ayo."
Naomi menatap tangan itu cukup lama. Bukan tangan yang menawarkan kebahagiaan. Melainkan tangan yang akan menyeretnya menuju kehidupan yang bahkan tidak pernah ia pilih.
Dengan langkah berat, Naomi akhirnya berdiri.
Beberapa menit kemudian. Pintu utama gereja perlahan terbuka. Semua tamu yang telah memenuhi bangku gereja serentak menoleh ke belakang. Suara organ mulai mengalun memenuhi ruangan.
Bisik-bisik kembali terdengar.
"Itu bukan Alicia."
"Bukankah itu adiknya?"
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
Naomi berjalan perlahan menyusuri lorong gereja. Setiap langkah terasa begitu berat.
Veil panjang yang menjuntai di belakangnya seolah menjadi pengingat bahwa hari itu bukanlah awal dari kebahagiaan. Melainkan awal dari hukuman yang tidak pernah ia lakukan.
Di ujung altar... Nathan telah berdiri menunggunya. Pria itu tampak tenang. Seolah pergantian calon pengantin hanyalah bagian kecil dari rencana hidupnya. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Tidak ada senyum apalagi kehangatan di dalamnya? Yang ada hanyalah dua orang asing... yang dipaksa berdiri di altar yang sama.
Bersambung. ....