Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — MALAM YANG MEMALUKAN
Malam Minggu di kediaman keluarga Pradipta harusnya diisi dengan ketenangan. Kedua orang tua Arka sedang menghadiri acara jamuan makan malam bersama rekan bisnis di luar kota dan diperkirakan baru kembali menjelang tengah malam. Rumah megah dua lantai itu pun otomatis hanya dihuni oleh Naya dan Arka.
Sekitar pukul sembilan malam, saat Naya sedang berada di kamar mandi lantai atas seusai membersihkan diri, mendadak seluruh lampu di rumah padam.
Ctek!
Suara sakelar utama yang mati bergema pelan, disusul keheningan total. Pendingin udara mati, dan kegelapan pekat menyelimuti seluruh sudut ruangan dalam hitungan detik.
Naya—yang sejak kecil memiliki ketakutan luar biasa pada kegelapan—langsung membeku di depan wastafel kamar mandi. Napasnya tercekat di tenggorokan, tangannya gemetar hebat saat meraba-raba dinding porselen yang dingin.
"A—Arka?!" jerit Naya dengan suara bergetar. "Arka! Lampunya mati?!"
Tidak ada jawaban dari luar. Hanya ada suara angin malam yang meniup ranting pohon di luar jendela kamar.
"Arka! Lo di mana sih?! Jangan nakut-nakutin gue ya!" jerit Naya lagi, air mata panik mulai menggenang di sudut matanya.
Naya mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka lebar. Dengan mata yang berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan tipis dari sinar bulan yang menerobos jendela, Naya meraba-raba area lorong kamar. Ia berniat turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Arka atau sekadar mengambil senter.
Namun, ketakutan yang membumbung tinggi membuat langkah kaki Naya menjadi terburu-buru dan ceroboh.
Di saat yang sama, Arka—yang baru saja keluar dari ruang kerjanya di lantai dua usai mengambil lampu darurat—sedang berjalan menyusuri lorong menuju kamar mereka.
"Naya? Kamu di mana? Jangan panik, saya bawa—"
"Aaaak! Setan!"
Naya yang ketakutan setengah mati melihat seluet tubuh tinggi berjalan mendekat di lorong gelap mendadak histeris. Tanpa berpikir panjang, Naya melompat maju berniat menerjang atau menghindari sosor bayangan itu.
"Naya! Awas—!"
Brak! Brosss!
Naya menabrak dada Arka dengan kecepatan penuh. Benturan keras itu membuat Arka yang tidak siap kehilangan keseimbangannya. Lampu darurat di tangan Arka terlepas dan jatuh menghantam pot keramik hias di sudut lorong, memicu suara pecahan yang cukup nyaring di dalam rumah yang sepi.
Mereka berdua terhempas bersama ke lantai kayu lorong.
Dalam gerakan refleks demi melindungi Naya agar tidak terkena pecahan pot keramik, Arka menarik tubuh cewek itu ke dalam pelukannya dan memutar posisi hingga ia mendarat dengan punggung lebih dulu di atas lantai. Naya jatuh tepat di atas dada Arka, dengan kedua tangannya mencengkeram erat kerah kaus oblong cowok itu, dan wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter di dalam kegelapan.
"Aww..." ringis Arka pelan, memegangi belakang kepalanya yang sempat terbentur lantai.
"A—Arka?! Lo beneran Arka?!" tangis Naya pecah, membenamkan wajahnya di leher Arka tanpa peduli gengsi lagi. Tangannya meremas kaus Arka sekuat tenaga. "Gue takut banget... gelap banget, Arka..."
Arka yang tadinya hendak memprotes kecerobohan Naya mendadak menghentikan kalimatnya. Ia bisa merasakan tubuh Naya yang gemetar hebat di atas dadanya, serta napas hangat cewek itu yang memburu panik di lehernya.
Raut dingin Arka perlahan melunak. Tangan kanannya yang tadinya berada di lantai terangkat, mengelus pelan belakang kepala Naya untuk menangkas rasa takut cewek itu.
"Ssshh... iya, ini saya," suara Arka terdengar sangat lembut di kegelapan, bernada menenangkan yang teramat langka. "Sudah, jangan menangis. Cuma mati listrik sebentar."
"Tapi gelap banget!" isak Naya pelan.
"Ada saya di sini, Naya. Kamu aman," bisik Arka lagi, makin mempererat pelukannya di pinggang Naya.
Selama beberapa detik, di tengah kegelapan lorong dan aroma pecahan pot keramik, mereka berdua terdiam dalam posisi berpelukan erat di lantai. Naya mulai merasa tenang mendengarkan detak jantung Arka yang berdegup stabil di bawah dadanya.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Ctek! Sreeet!
Lampu utama rumah mendadak menyala kembali secara otomatis. Cahaya terang benderang dari lampu gantung kristal di atas lorong menyiram seluruh ruangan dalam sekejap.
Di saat yang persis sama, suara kunci pintu depan berputar.
"Arka? Naya? Tadi Ibu lihat dari bawah lampunya sempat mati—Lho?!"
Tante Elena dan Om Adrian yang baru saja melangkah naik ke lantai dua mendadak menghentikan langkah mereka di ujung tangga.
Mata Tante Elena membelalak lebar. Om Adrian yang berdiri di sebelahnya hampir saja menjatuhkan kunci mobil di tangannya.
Di atas lantai kayu lorong, Arka berbaring terlentang dengan kaus yang agak kusut dan pot keramik pecah di sebelahnya. Sementara Naya berada tepat di atas tubuh Arka, menindihnya rapat dengan wajah yang masih tertanam di leher Arka dan kedua tangan yang melingkar di bahu cowok itu.
Suasana di lorong lantai dua mendadak hening total selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad.
Naya kedip-kedip mata, menyadari cahaya lampu sudah menyala terang. Ketika ia mendongak dan melihat Tante Elena serta Om Adrian berdiri terpaku di depan mereka, wajah Naya seketika pucat pasi.
Arka ikut tersentak kaget, matanya membelalak lebar melihat kedua orang tuanya.
"A—Aduhh..." Tante Elena buru-buru menutup matanya dengan kedua telapak tangan, namun menyisakan celah kecil di antara jari-jarinya sambil tersenyum menggoda yang sangat lebar. "Aduhh! Maaf ya! Ibu sama Papa pulangnya kemalaman! Aduh, kalian kalau kangen nggak usah di lorong juga dong!"
"Bukan begitu, Bu!" jerit Naya histeris. Ia buru-buru berusaha bangkit berdiri, tapi karena panik, tangannya justru menekan dada Arka lebih keras.
"Aww! Naya, sakit!" ringis Arka.
"Eh, maaf! Maaf!" Naya makin gelagapan, akhirnya berhasil berdiri dengan wajah yang merona merah padam hingga ke ujung telinganya.
Arka ikut duduk dan berdiri dengan tergesa-gesa, merapikan kausnya yang berantakan dengan wajah yang biasanya tenang kini dipenuhi warna merah cerah di pipi dan lehernya.
"Ma, Pa... ini tidak seperti yang Papa dan Mama bayangkan," terang Arka cepat dengan nada suara yang sedikit panik—pemandangan yang teramat langka bagi seorang Ketua OSIS yang selalu sempurna. "Naya tadi kaget karena lampu mati, lalu tidak sengaja menabrak saya sampai potnya pecah."
"Iya, Om! Tante! Dia yang salah! Kenapa jalan nggak pakai lampu?!" tuduh Naya cepat, menunjuk Arka dengan jari gemetar untuk menutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.
Arka melirik Naya tak percaya. "Saya yang salah? Kamu yang lari-lari kayak kesurupan di lorong gelap, Naya!"
"Ya lo yang nggak nyaut pas gue panggil!" balas Naya tak mau kalah.
Om Adrian terkekeh pelan, mengusap kumis tipisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah, sudah... tidak apa-apa. Papa mengerti kok, namanya juga pengantin baru. Kalau mati lampu memang lebih enak pelukan."
"PAPA!" pekik Arka dan Naya serentak dengan nada protes yang sangat kompak.
Tante Elena tertawa renyah, melangkah mendekat sambil memeluk pundak Naya yang masih gemetaran karena malu. "Ya sudah, yuk Naya ikut Ibu ke bawah minum air hangat. Biar Arka yang sapu pecahan potnya."
"Lho? Kok saya, Ma?" protes Arka.
"Kan kamu suaminya, Arka! Masa istri kamu yang disuruh beres-beres setelah kaget begitu?" sahut Tante Elena santai, lalu menarik Naya pergi menuruni tangga.
Naya mengekor di belakang Tante Elena sambil menyembunyikan wajahnya yang masih terasa terbakar panas. Sebelum menuruni tangga, Naya sempat melirik ke arah Arka.
Arka berdiri di dekat pecahan pot keramik, memegang sapu dengan wajah pasrah yang paling dalam sepanjang hidupnya. Namun saat mata mereka beradu sekilas, Arka memberikan tatapan tajam yang seolah berkata: Awas kamu nanti di kamar.
Malam yang memalukan itu memang sukses membuat mereka diejek oleh kedua orang tua sepanjang sisa malam, namun di balik rasa malu yang luar biasa, Naya menyadari satu hal: di dalam kegelapan yang paling menakutkan sekalipun, dekapan Arka terasa teramat hangat dan aman.