Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Kapten yang Tak Mau Pergi dari Sisi Ranjang
Anindya tiba di RS Wira Medika Jakarta menjelang fajar dengan namanya sendiri tertera di gelang pasien.
Rumah sakit rujukan terdekat di Jawa Tengah telah menghentikan perdarahan awal, memasang transfusi, dan memastikan kondisinya cukup stabil untuk dipindahkan dengan pesawat medis. Selama perjalanan ke Jakarta, Arkana duduk di tempat yang sama di samping tandu.
Begitu pintu ambulans terbuka, tim trauma membawa Anindya masuk. Seorang dokter tinggi dengan kacamata tipis berjalan di sisi brankar sambil membaca laporan transfer.
“Saya dr. Sadewa Wirapati. Bu Anindya mengalami perdarahan di rongga perut, patah tulang bahu, dan cedera pada tungkai. Kami perlu operasi sekarang.”
Arka mengikuti sampai pintu ruang bedah. “Lakukan apa pun yang dibutuhkan.”
Dewa berhenti. “Tim kami akan melakukan tindakan sesuai kondisi medisnya, bukan karena perintah siapa pun. Saya perlu Anda memberi ruang.”
“Saya keluarga.”
Enggar yang baru tiba berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya langsung mengeras.
Dewa memandang noda darah pada seragam Arka, lalu gelang rumah sakit sederhana di tangannya sendiri. “Hubungan hukumnya?”
Arka terdiam.
Talak itu kembali kepadanya dalam bentuk satu pertanyaan singkat.
“Mantan suami,” jawabnya akhirnya.
“Kalau begitu, persetujuan tindakan darurat berjalan berdasarkan kepentingan pasien. Kami sudah menghubungi pihak yang tercatat sebagai kontaknya.” Dewa menoleh kepada Enggar. “Pak Enggar, Anda bisa menunggu di luar bersama yang lain.”
Pintu ruang bedah tertutup.
Sisi segera mengurus pernyataan untuk media dan memastikan rumah sakit tidak membocorkan rekam medis. Nama Anindya boleh disebut sebagai kopilot korban kecelakaan, tetapi kondisi klinis dan daftar pengunjung tetap dilindungi.
Arka berdiri di depannya dengan kedua tangan terbalut perban darurat. Darah Anindya telah mengering di bawah kukunya. Ia tidak mengganti baju, tidak duduk, dan tidak menyentuh air yang dibawa Fajar.
“Pak Arkana, tim teknis memastikan gangguan hidraulik berasal dari sambungan yang bergeser setelah guncangan,” lapor Fajar pelan. “Terpisah dari insiden tali. Basarnas juga sudah mengamankan lokasi.”
“Talinya disayat.” Suara Arka serak.
“Sisi punya foto. Kita tunggu pemeriksaan resmi sebelum menuduh siapa pun.”
“Cari orang yang memasangnya.”
“Sudah dilakukan.”
Arka kembali menatap lampu di atas pintu operasi.
Empat jam kemudian, Dewa keluar dengan masker diturunkan ke dagu.
“Perdarahan sudah dikendalikan. Bahunya ditangani, tungkainya tidak memerlukan amputasi, tetapi masa pemulihannya tidak singkat. Dua puluh empat jam pertama tetap kritis.”
Lutut Arka hampir kehilangan tenaga. Ia menahan dinding.
“Dia akan sadar?”
“Kami berharap begitu. Sekarang biarkan tubuhnya melewati fase ini.”
Anindya dipindahkan ke ICU. Arka duduk di kursi lorong sepanjang hari. Saat perawat memintanya pulang untuk membersihkan luka, ia hanya mengulurkan tangan agar perban diganti di tempat.
Malam kedua, Amara datang membawa kemeja bersih dan sekotak makanan.
“Arka, kamu belum pulang sejak kemarin.” Ia duduk di sampingnya. “Ibu Ratna terus bertanya. Keluarga juga harus membicarakan persiapan kita.”
“Bukan sekarang.”
“Anindya sudah ditangani dokter terbaik. Kamu tidak bisa melakukan apa-apa dengan duduk di sini.”
Arka menoleh. “Dia terluka dalam operasi yang saya pimpin.”
“Itu kecelakaan.”
“Bagaimana kamu tahu?”
Wajah Amara membeku sesaat. “Semua orang bilang longsor.”
“Talinya dipotong.”
Kotak makanan di tangan Amara bergeser.
“Mungkin rusak kena batu. Jangan membuat kesimpulan karena kamu sedang merasa bersalah.”
“Pulanglah.”
“Arka, aku calon istrimu.”
“Dan dia hampir mati.” Suara pria itu naik untuk pertama kalinya di lorong ICU. “Jangan paksa saya memilih percakapan mana yang penting sekarang.”
Amara berdiri. Beberapa keluarga pasien menoleh. Ia meletakkan kemeja di kursi, lalu pergi dengan langkah cepat.
Sisi yang berjaga dekat lift memperhatikan tangannya. Jemari Amara gemetar hebat.
Hari ketiga, kondisi Anindya mulai stabil. Dewa mengurangi obat penenang dan memeriksa respons sarafnya berkali-kali. Ia mengingat bahwa tekanan darah Anindya turun setiap kali obat tertentu diberikan, lalu mengganti rencana pengendalian nyeri sebelum reaksi berikutnya terjadi.
“Anda tidak pulang lagi?” tanyanya kepada Arka setelah pemeriksaan malam.
“Saya menunggu dia sadar.”
“Kalau Anda jatuh sakit, pasien saya tidak menjadi lebih cepat pulih.”
“Saya baik-baik saja.”
Dewa melihat mata merah dan janggut tipis di wajahnya, tetapi tidak berdebat. “Lima menit. Jangan menyentuh alat medis.”
Arka masuk ke ICU dengan pelindung dan masker. Ia duduk di samping tempat tidur, memandangi wajah Anindya yang pucat di antara selang dan kabel.
“Aku sudah mengembalikan semua yang kamu tinggalkan,” bisiknya. “Tapi aku tidak tahu bagaimana mengembalikan hari itu.”
Kelopak mata Anindya tidak bergerak.
“Bangun dan marahi aku. Panggil aku Kapten dengan suara dinginmu. Apa saja.”
Monitor tetap berbunyi teratur.
Keesokan paginya, Anindya membuka mata.
Cahaya membuatnya menyipit. Tubuhnya terasa seperti tertindih batu yang masih berada di atasnya. Saat pandangan menjadi jelas, wajah pertama yang ia lihat adalah Arka tertidur dengan kepala di tepi tempat tidur, satu tangannya berada beberapa sentimeter dari jarinya.
Anindya menggerakkan tangan.
Arka langsung terbangun. “Nindya?”
Ia bangkit terlalu cepat hingga kursinya jatuh. “Panggil dokter. Dia sadar!”
Dewa dan perawat masuk. Setelah pemeriksaan singkat, Dewa meminta semua orang memberi pasien waktu. Arka tetap di dekat pintu.
“Bagaimana rasa sakitnya dari nol sampai sepuluh?” tanya Dewa.
“Delapan,” jawab Anindya nyaris tanpa suara.
“Kami tambah obat perlahan. Anda sempat mengalami penurunan tekanan darah terhadap obat sebelumnya.”
Dewa menjelaskan cedera dan rencana pemulihan tanpa memberi janji palsu. Bekas luka mungkin tertinggal pada bahu dan sisi perut. Untuk kembali terbang, ia harus melewati rehabilitasi, pemeriksaan medis penerbangan, dan evaluasi ulang.
Anindya mengangguk kecil.
Setelah dokter keluar, Enggar dan Sisi masuk bergantian.
“Identitas Bos aman,” kata Sisi pelan. “Media hanya tahu Anda kopilot Adiwijaya yang terluka saat menyelamatkan warga.”
“Tali?”
“Ada bekas potongan. Kami simpan foto dan menunggu laporan resmi.”
Anindya menarik napas pendek karena nyeri. “Jangan buka Klub Enggar. Jangan buka warisan. Tetap dua lapis itu.”
“Baik, Bos.”
Tatapan Anindya berpindah kepada Arka yang berdiri di luar kaca.
“Pernikahan Arka dan Amara,” katanya. “Sudah sampai mana?”
Enggar tidak sempat menjawab. Arka masuk setelah mendengar namanya.
“Kenapa itu yang kamu tanyakan?”
Anindya menatapnya beberapa detik. Lalu ia memalingkan wajah ke jendela.
Tak ada satu kata pun untuk lelaki yang telah menunggu berhari-hari.
Fajar datang satu jam kemudian membawa berkas operasi yang tak bisa ditunda. Ia akhirnya membujuk Arka pergi sebentar untuk mandi dan menyelesaikan keputusan darurat perusahaan.
Saat pintu tertutup di belakang Arka, jemari Anindya mencengkeram ujung selimut sangat pelan.
Dewa yang berdiri di ambang pintu melihat gerakan itu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyimpan pengertian tersebut di balik wajah profesionalnya.