NovelToon NovelToon
My Rude Ice Queen

My Rude Ice Queen

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:358
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Ren dan Bumi saling berpandangan selama beberapa detik. Tak butuh waktu lama bagi Bumi untuk langsung menyambungkan titik-titik kejadian pagi ini. Sudut bibir Bumi perlahan terangkat, membentuk senyum geli.

​"Lo... habis nemuin Aery?" tanya Bumi tenang.

​Jasver hanya mengangguk pelan tanpa mengangkat kepalanya.

​"Terus lo sogok pakai PC limited edition lo biar dia ngga ember ke pacar lo?" tebak Ren dengan mata membelalak tak percaya.

Kali ini, Jasver mengangkat kepalanya, menatap Ren dengan pandangan berapi-api bercampur pasrah. "Gue terpaksa, Ren! Dia tau kartu as gue! Pas gue lagi nego, mata dia langsung ngunci ke balik case HP gue. Begitu gue tanya dia maunya apa buat tutup mulut, dia langsung nodong minta PC hologram itu! Kalau ngga gue kasih, dia ngancem mau nyamperin cewek gue saat itu juga!"

Ren terdiam selama tiga detik sebelum akhirnya...

​"HAHAHAHAHAHAHA!"

​Tawa Ren pecah begitu keras hingga beberapa anak di barisan depan refleks menoleh ke arah mereka. Ren bahkan sampai memukul-mukul meja dengan heboh. ​"Sumpah, Ver! Lo kena peras sama cewek yang tingginya cuma sepundak lo? HAHAHA! Kasihan banget, mana PC mahal lagi!" ledek Ren tanpa ampun.

​"Diem lo, kampret! Dada gue masih sesak nih!" gerutu Jasver, tangan kirinya dramatis memegangi dadanya sendiri. "Lima ratus ribu gue melayang demi kedamaian hubungan asmara."

Bumi hanya terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk bahu Jasver dengan gaya prihatin yang tidak tulus-tulus amat. "Tapi seengganya rahasia lo aman, kan? Anggap aja itu biaya asuransi pacaran."

​"Asuransi apaan yang preminya bikin nangis darah gini," sahut Jasver ketus.

​Ia kembali menatap punggung HP-nya yang kini kelihatan sangat hampa tanpa selipan kartu berkilau itu, lalu mengembuskan napas panjang. Bayangan Aery yang tersenyum manis saat menerima PC hologram tadi mendadak melintas di kepalanya. Sialnya, senyuman tipis gadis itu justru membuat jantung Jasver mendadak berdegup aneh lagi.

Jasver cepat-cepat menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba mengusir bayangan itu. Ngga, ngga. Dia itu pemeras berdarah dingin berkedok kepang satu, batin Jasver meyakinkan diri sendiri.

♧♧♧

Bel pulang sekolah berdentang, memicu gemuruh sorak yang langsung memenuhi koridor. Dalam hitungan menit, lautan murid berseragam putih abu-abu berhamburan menuju gerbang depan untuk mengejar jadwal transportasi umum. Karena aturan sekolah melarang keras anak kelas sepuluh membawa kendaraan pribadi, hampir seluruh murid angkatan mereka mengandalkan bus atau kereta komuter untuk pulang.

Di antara kerumunan itu, Jasver, Ren, dan Bumi berjalan beriringan dengan santai menuju gerbang luar. Jasver sudah terlihat sedikit lebih hidup, meskipun sesekali masih menatap belakang ponselnya yang melompong dengan tatapan nanar.

Langkah Bumi tiba-tiba melambat, lalu benar-benar terhenti di tengah koridor yang mulai lenggang. Matanya terkunci pada belokan lorong dekat ruang guru. Di sana, seorang gadis berkepang satu tampak berjalan dengan langkah sedikit kepayahan. Kedua tangannya mendekap tumpukan buku paket biologi tebal setinggi dagu. Dari arah jalannya, gadis itu tampaknya hendak menuju gedung perpustakaan tua.

​"Bum? Kenapa lo berhenti?" Jasver menoleh heran, ikut menghentikan langkahnya bersama Ren.

​Bumi mengalihkan pandangannya kembali ke kedua sahabatnya, lalu tersenyum tipis. "Kalian duluan aja ke stasiun. Gue ada urusan bentar."

​"Urusan apaan?" Ren mengernyit curiga, lalu matanya mengikuti arah pandang Bumi tadi. Sudut bibir Ren langsung terangkat jenaka begitu menangkap sosok Aery. "Oalah... paham, paham. Yaudah, aman. Kita duluan ya, Bum. Jangan sampai ketinggalan kereta senja!"

​"Gue duluan, Bum. Males gue liat pawang pemeras," gerutu Jasver pelan, meski matanya sempat melirik punggung Aery sekilas sebelum akhirnya berbalik pergi menyusul Ren.

​Bumi hanya terkekeh, lalu membalikkan badan. Dengan langkah lebar namun santai, dia berjalan menghampiri Aery yang baru saja menaiki satu anak tangga menuju perpustakaan.

Sret!

Beban berat yang sedari tadi menekan lengan Aery mendadak berkurang drastis ketika lebih dari setengah tumpukan buku itu berpindah tangan dalam sekejap. Aery tersentak kecil, refleks mendongak dengan tatapan waspada yang siap mengintimidasi.

​Namun, begitu melihat wajah tenang Bumi yang sedang tersenyum ramah di hadapannya, pertahanan Aery langsung melunak. ​"Bumi?" ucap Aery, sedikit terkejut.

​"Biar aku bantu," kata Bumi kasual, merapikan tumpukan buku di lengannya agar tidak menghalangi pandangan. "Buku paket sebanyak ini mau dikembaliin ke perpus semua?"

Aery mengerjap pelan, lalu mengangguk kecil seraya melanjutkan langkahnya menaiki tangga bersama Bumi. "Iya. Tadi Bu Amita minta tolong dikembalikan sebelum perpus tutup jam empat."

​"Untung pas aku lewat," sahut Bumi ringan. "Kalau ngga, besok subuh mungkin tangan kamu udah kram kayak Jasver kemarin lusa."

Mendengar nama Jasver disebut, sudut bibir Aery berkedut, membentuk senyum tipis yang tulus tanpa ada kesan judes sama sekali. "Temen kamu itu emang beneran seceroboh itu, ya?"

​"Jasver?" Bumi terkekeh pelan saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang perpustakaan yang sepi dan beraroma khas kertas lama. "Dia ngga ceroboh, Ry. Cuma emang kadang impulsif aja. Tapi anaknya baik kok, bertanggung jawab juga."

Mereka meletakkan tumpukan buku itu di atas meja pustakawan yang kosong. Setelah urusan selesai, keduanya berjalan keluar melewati gerbang sekolah, lalu melangkah bersisian menyusuri trotoar menuju stasiun kereta yang berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Udara sore itu terasa sejuk, menyapu sisa-sisa penat setelah seharian belajar. ​"Tapi makasih, ya," ucap Aery tulus saat mereka berjalan beriringan. "Buat bukunya... dan karena kamu ngga ikut-ikutan mikir kalau aku cewek aneh."

Bumi memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menyesuaikan ritme langkahnya yang panjang dengan langkah Aery yang lebih pendek. "Mikir kamu aneh? Memangnya aneh dari mana?"

​"Ya... karena aku langsung minta PC hologram temen kamu tadi pagi," gumam Aery, wajahnya sedikit merona tipis karena malu jika mengingat kelakuannya sendiri. "Aku cuma... udah nyari PC itu ke mana-mana tapi selalu kehabisan. Pas liat ada di HP Jasver, aku refleks aja."

Bumi tertawa renyah, suara tawanya terdengar hangat diantara bising jalanan sore. "Gapapa, Ry. Malah bagus, seengganya Jasver dapet pelajaran biar ngga asal rangkul orang lagi."

Aery ikut tersenyum. Suasana diantara mereka terasa begitu mengalir dan nyaman, sangat kontras dengan ketegangan yang selalu terjadi jika Aery berhadapan dengan Jasver.

​Begitu mereka sampai di stasiun, suasana peron sudah tidak sepadat saat jam pulang sekolah awal tadi. Angin sore berembus pelan di peron yang mulai lenggang ketika mereka berdiri berdampingan di belakang garis kuning.

Bumi menoleh ke arah Aery saat suara klakson kereta terdengar dari kejauhan. "Kita naik kereta yang sama, kan? Mau bareng aja?"

Aery terdiam sesaat, menatap Bumi yang sedang memberikan penawaran tulus tanpa ada maksud tersembunyi. Setelah menimbang beberapa detik, gadis kepang satu itu akhirnya mengangguk pelan. ​"Boleh... kalau ngga merepotkan."

​"Sama sekali engga," balas Bumi hangat bersamaan dengan pintu kereta yang perlahan terbuka di hadapan mereka.

​Di dalam gerbong kereta yang melaju membelah senja, mereka duduk berdampingan sambil terus mengobrol ringan. Dan di balik jendela kaca yang menampilkan siluet jingga kota sore itu, Aery merasakan sudut hatinya yang biasanya dingin perlahan mulai menghangat karena kehadiran cowok di sebelahnya.

♧♧♧

Malam harinya di sebuah kedai kopi berkonsep outdoor di dekat kompleks perumahan mereka tampak cukup ramai. Di meja sudut bawah pohon lampu, Jasver dan Ren sedang terlibat adu argumen yang sengit tentang taktik bermain game online di ponsel masing-masing. Suara seru dan ketukan cepat jari mereka di layar sesekali memecah keheningan malam.

Namun, pemandangan berbeda terlihat tepat di seberang mereka.

Bumi duduk dengan posisi santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi besi. Ponselnya digenggam dengan kedua tangan. Anehnya, alih-alih ikut larut dalam permainan atau membuka media sosial, ibu jari Bumi bergerak teratur mengetikkan sesuatu, diikuti dengan seulas senyum tipis yang terus bertahan di sudut bibirnya.

​Ting!

Sebuah notifikasi balasan masuk. Bumi langsung membacanya, dan senyumnya mendadak melebar menjadi kekehan tanpa suara.

​"Woi, Bum! Sini back up gue, malah diem aja lo–eh?" Ucapan Ren terhenti di tengah jalan. Mata sipitnya langsung menyipit lebih dalam, menatap Bumi penuh selidik.

Jasver yang karakter gamenya baru saja kalah pun ikut menurunkan ponselnya. Matanya bergulir menatap Bumi. "Bum, lo sehat?"

​Bumi mendongak sekilas, wajahnya langsung kembali tenang dalam sekejap. "Sehat. Kenapa?"

​"Muka lo mencurigakan," selidik Jasver sembari menunjuk wajah Bumi dengan sedotan es kopinya. "Dari setengah jam yang lalu lo cuma mandangin HP sambil senyum-senyum sendiri. Lo ngga lagi kesurupan penunggu perpus sore tadi, kan?"

Ren langsung mencondongkan badannya ke depan meja, menatap Bumi dengan mata membelalak heboh. "Jangan-jangan... lo lagi chatting-an ya? Demi apa seorang Bumi yang biasanya bales chat seiprit kayak konter pulsa, sekarang bisa senyum-senyum pas ngetik?"

Bumi hanya terkekeh pelan, berniat meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah. Namun, tampaknya semesta sedang tidak berpihak pada kerahasiaan Bumi malam ini.

​Ting!

Layar ponsel Bumi menyala sekilas tepat sebelum menyentuh meja. Sebuah pop-up notifikasi pesan muncul di layar kunci, menampilkan sebuah nama yang sangat familiar bagi telinga mereka.

Aery Brooklyn

Berkat tisu basah yang kamu kasih tadi, PC hologramnya udah ngga bau keringat Jasver. Thanks yah!

Suasana meja itu mendadak hening seketika. Mata Ren hampir melompat keluar dari kelopaknya. Sementara Jasver, cowok itu mematung dengan mulut setengah terbuka. Butuh waktu sekitar lima detik bagi otak Jasver untuk memproses apa yang baru saja dia baca lewat radar matanya yang tajam.

​"A-Aery?" Jasver terbata, suaranya naik satu oktaf. "Lo... chatan sama si penyihir kepang satu itu?!"

​"Hah?! Serius?!" Ren langsung merebut ponsel Bumi tanpa permisi meski layarnya sudah mati. "Bum! Lo sejak kapan punya nomornya? Terus kenapa dia bahas PC hologram si Jasver?!"

Bumi hanya mengembuskan napas pasrah, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabatnya, lalu mengambil kembali ponselnya dari tangan Ren dengan santai. "Tadi sore kan kita pulang bareng naik kereta. Pas di jalan, kita ngobrol banyak, terus tukeran nomor. Ngga ada yang aneh, kan?"

​"PULANG BARENG?!" pekik Jasver dan Ren kompak, membuat beberapa pengunjung di meja sebelah refleks menoleh.

​"Diem, suara lo berdua merusak ketenangan publik," tegur Bumi kalem sambil menyeruput es kopinya.

Jasver memegangi kepalanya dengan kedua tangan, wajahnya tampak sangat syok sekaligus dikhianati. "Bum... lo tega banget. Gue di sini lagi berkabung kehilangan PC kesayangan gue, dia di sana malah pamer ke lo?! Mana bawa-bawa nama gue lagi! Asal dia tau ya, keringat gue ngga bau!"

​"Tapi tunggu deh," sela Ren, matanya berkedip-kedip jahil. "Artinya... si cewek judes bin dingin itu kalau sama Bumi bisa luwes banget sampai bisa bercanda di chat? Wah, ada yang ngga beres nih."

Ren menyenggol lengan Jasver dengan heboh. "Ver, fiks. Temen kita yang satu ini emang punya pelet pemikat."

Jasver hanya mendecak, meski dalam hati dia merasa heran luar biasa. Bagaimana bisa gadis yang menatapnya seperti musuh bebuyutan itu bisa bertukar pesan dengan begitu kasual bersama Bumi?

​Jasver melirik Bumi yang kini kembali mengetikkan balasan di ponselnya dengan senyum tipis yang samar. Sialan, batin Jasver gemas. Kok bisa-bisanya si Bumi seberuntung itu, sedangkan gue dapet apesnya borongan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!