NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Suami preman

Saya cuma punya satu muka, Devi," jawab Devan dengan nada suara yang jujur dan tulus, menatap gadis itu yang masih berdiri kaku. "Muka yang menyesuaikan dengan siapa saya berbicara. Di depan orang tuamu yang sedang terpukul, saya wajib menjaga adab dan menghormati mereka. Di depan kakakmu yang protektif, saya harus menunjukkan bahwa saya bukan laki-laki penakut. Dan di depanmu ..."

Devan menggantung kalimatnya sejenak, menatap mata Devi yang berbinar di bawah pendar lampu kamar sepuluh watt.

"... di depanmu, saya cuma ingin kamu sedikit rileks. Saya tahu malam ini adalah malam paling menakutkan dan menghancurkan dalam hidupmu. Kamu dipaksa menikah dengan pria asing bertato yang tidak kamu kenal. Saya cuma tidak mau kamu pingsan atau serangan jantung karena terlalu tegang memikirkan nasibmu."

Kata-kata Devan yang meluncur tenang itu seperti gumpalan es yang mendadak menyiram hawa panas di dalam kamar tersebut.

Devi terpaku membisu. Bibirnya yang tadinya siap menyemburkan makian mendadak terkatung kaku. Pria di hadapannya ini ... ternyata memiliki tingkat empati yang sangat tajam. Semua godaan tengil dan candaannya sejak tadi rupanya hanyalah caranya untuk mencairkan suasana mencekam yang menghimpit dada Devi.

Sejak awal, yang ia lihat hanyalah seorang pria bertubuh tinggi besar, berkaus hitam, bertato, dengan tatapan tajam yang membuat siapa pun memilih menyingkir. Penampilan itu begitu identik dengan sosok preman yang kasar dan sulit diajak bicara.

Namun, beberapa menit terakhir berhasil mematahkan semua prasangkanya.

Di balik wajah sangar itu, ternyata ada ketenangan. Di balik tatapan tajam itu, ada perhatian yang begitu halus. Bahkan cara Devan memilih kata-kata terasa sangat sopan, seolah ia benar-benar memikirkan perasaan orang lain.

"Kenapa diam begitu?" tanya Devan sambil mengangkat sebelah alis. "Baru sadar kalau suami dadakanmu ternyata lumayan ganteng?"

Devi langsung mendelik.

"Ge-er sekali."

"Berarti bukan lumayan?" Devan mengusap dagunya pura-pura berpikir. "Oh ... mungkin levelnya sangat ganteng."

"Huh!"

Devi mendengus kesal, tetapi entah mengapa sudut bibirnya nyaris terangkat. Ia buru-buru membuang muka agar Devan tidak menyadarinya.

Pria itu terkekeh pelan.

"Nah, begitu lebih bagus."

"Apa?"

"Wajahmu tadi tegang sekali. Sekarang sudah mulai sewot. Artinya tekanan darahmu kembali normal."

Devi memutar bola matanya.

"Kamu memang aneh."

"Banyak yang bilang begitu."

"Bukan banyak lagi. Semua orang pasti bilang begitu."

"Syukurlah."

"Lho, kok syukur?"

"Soalnya berarti penilaian mereka seragam."

Devi benar-benar kehabisan kata.

Orang ini aneh.

Sangat aneh.

Ia baru pertama kali bertemu seseorang yang bisa menjawab semua sindiran dengan santai tanpa sedikit pun tersinggung.

Devan menegakkan tubuhnya

"Kamu masih takut sama saya?"

Devi ragu menjawab.

"Sedikit."

"Hanya sedikit?"

"Iya."

"Alhamdulillah. Berarti ada kemajuan."

Devi mengernyit.

"Kemajuan apa?"

"Tadi waktu pertama ketemu, wajahmu seperti melihat penjahat yang baru kabur dari penjara."

Pipi Devi langsung memanas.

"Ya ... habis penampilanmu memang begitu."

Devan menunduk melihat kaus hitamnya, lalu melirik tato di lengannya.

"Oh, ini?"

"Iya."

"Kamu kira saya tukang palak?"

"Sedikit."

"Bandar?"

Devi menggeleng cepat.

"Preman?"

Devi kembali terdiam.

Senyum Devan makin lebar.

"Nah, berarti benar."

Devi spontan menepuk dahinya sendiri.

"Kamu malah bangga."

"Bukan bangga. Lucu saja."

"Apa yang lucu?"

"Wajahmu."

"Wajahku kenapa?"

"Jujur sekali. Mau bohong juga tidak bisa."

Devi mendengus pelan.

"Tapi ..." lanjut Devan dengan suara yang lebih lembut, "jangan terlalu cepat menilai orang dari tampilannya."

Ucapan itu membuat Devi kembali menoleh.

Devan tidak lagi tersenyum lebar. Sorot matanya kali ini jauh lebih tenang.

"Dulu banyak orang menghindari saya hanya karena tato ini. Mereka bahkan belum sempat mengenal nama saya."

Ia mengusap lengan kirinya sekilas.

"Awalnya saya kesal. Lama-lama saya terbiasa."

Devi menelan ludah.

Untuk pertama kalinya ia melihat ada sedikit bayangan luka dalam tatapan pria itu.

Tanpa sadar, rasa bersalah mulai menyusup ke dalam hatinya.

"Aku ... maaf."

Devan langsung mengibaskan tangan.

"Eh, jangan minta maaf."

"Lho?"

"Kalau kamu minta maaf terus, nanti saya bingung."

"Bingung kenapa?"

"Soalnya saya sudah menyiapkan banyak bahan buat menggoda kamu."

Devi memijat pelipisnya.

"Kamu memang tidak bisa serius lebih dari lima menit, ya?"

"Bisa."

"Kapan?"

"Kalau ada yang traktir sate kambing."

Devi refleks tertawa kecil.

Begitu suara tawanya terdengar, keduanya sama-sama terdiam.

Devi buru-buru menutup mulutnya sendiri.

Astaga.

Ia benar-benar tertawa.

Di malam yang seharusnya menjadi malam paling kacau dalam hidupnya, pria asing yang baru beberapa jam menjadi suaminya justru berhasil membuatnya tersenyum.

Devan ikut tersenyum puas.

"Nah ... akhirnya keluar juga."

"Apa?"

"Tawanya."

"Itu bukan karena kamu lucu."

"Oh, jadi karena saya tampan?"

"Mas Devan!"

"Oke, oke. Berarti karena saya baik hati."

"Kamu memang hobi memuji diri sendiri?"

"Bukan. Saya sedang menjaga kepercayaan diri."

Devi menggeleng sambil menghela napas panjang.

Meski mulut pria itu tak berhenti melontarkan godaan dan candaan, kini ia mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia duga.

Di balik penampilan sangar yang membuat orang gentar, Devan ternyata menyimpan hati yang hangat, sikap yang penuh empati, dan cara unik untuk menghibur orang lain tanpa membuat mereka merasa dikasihani.

Entah mengapa, rasa takut yang sejak tadi memenuhi dada Devi perlahan mulai berkurang. Ia memang belum mengenal Devan sepenuhnya, tetapi satu hal mulai ia yakini.

Pria yang kini berdiri di hadapannya bukanlah sosok menyeramkan seperti yang ia bayangkan sejak awal. Justru, di balik tato dan wajah garangnya, tersembunyi seseorang yang mampu membuat malam paling kelam terasa sedikit lebih ringan.

Devi perlahan-lahan merendahkan tubuhnya, duduk perlahan di tepi kasur sebelah kanan,seberang benteng guling. Ia memeluk lututnya rapat-rapat, menyandarkan dagunya di atas lutut seraya menatap Devan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa ... kenapa kamu tidak menolak saja di balai desa tadi?" bisik Devi pelan, rasa penasarannya yang terpendam akhirnya membuncah. "Kalau kamu menolak dan melawan warga, kamu bisa lari. Kamu kan laki-laki, kamu pasti bisa lolos dari mereka. Kenapa harus mau mengorbankan dirimu terikat pernikahan konyol ini denganku?"

Devan menarik sarung tenun hijau milik Raka, merentangkannya di atas kakinya yang selonjoran di atas lantai ubin. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mengulas senyum tipis yang sarat akan teka-teki.

"Kalau saya lari malam tadi ..." suara Devan terdengar sangat halus, memantul lembut di dinding kamar, "... siapa yang bakal melindungi gadis polos yang menangis ketakutan di tengah balai desa itu? Wargamu tidak akan mengejar saya sampai luar kota, Devi. Tapi wargamu akan menghancurkan hidupmu sampai habis. Saya tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi di depan mata saya."

Jantung Devi berdegup kencang secara tidak teratur. Ucapan Devan merambat perlahan menembus pertahanan hatinya. Ada rasa hangat yang aneh, rasa terlindungi yang belum pernah ia rasakan dari pria mana pun selain Raka dan ayahnya.

"Sudah malam," potong Devan cepat sebelum suasana berubah terlalu emosional. Ia merebahkan tubuh tingginya di atas lantai ubin berselimutkan sarung hijau, berbantalkan bantal kecil yang dilempar Devi tadi. "Tidurlah. Saya janji tidak akan melewati Tembok Berlin ini satu milimeter pun. Tapi kalau kamu yang menyerang ke sisi saya ... saya tidak tanggung jawab ya."

"Gak akan!" serkas Devi cepat, meski nada bicaranya tak lagi sekeras awal tadi.

Devan mematikan sakelar lampu kamar yang berada di dekat jangkauan tangannya.

Seketika, kamar berukuran kecil itu tenggelam dalam kegelapan temaram yang hanya diterangi oleh sinar rembulan yang menerobos lewat ventilasi atas jendela.

Di dalam kegelapan itu, Devi merebahkan tubuhnya di sisi kanan kasur, memunggungi Devan dan benteng guling di tengah mereka. Napas Devan yang teratur dan tenang terdengar jelas di telinganya. Meski hatinya masih dibelit rasa cemas akan esok hari tentang bagaimana ia harus menghadapi pandangan tetangga dan warga desa, di dalam kamar sempit bersama pria bertato di sampingnya ini, Devi mendadak merasakan sebuah rasa aman yang tak terduga

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!