NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Jangan Jatuh Cinta Lagi, Altair

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Pernikahan Kilat
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.

Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.

Akankah dendamnya terbalaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Ciuman pertama mereka

Rumah mereka sederhana, cuma punya satu kamar.

Aquilla sendirian malam itu. Jam dinding menunjukkan pukul 12.48 malam, tapi Altair belum juga pulang. Suasana rumah yang sepi ditambah suara anjing dan jangkrik di luar bikin Aquilla makin merinding.

Di dalam kamar, Aquilla meringkuk di balik selimut sambil menggigit bibir. Ketakutan mulai menguasai dirinya. Altair tega banget sih ninggalin gue sendirian, nggak pulang-pulang lagi. Mana tadi sahabatnya, Saira, bukannya menenangkan lewat telepon malah makin menakut-nakuti.

Dengan tangan gemetar, Aquilla meraih ponselnya lalu mengirim pesan:

Aquilla: Al, pulang dong, gue takut.

Di tempat lain, Altair masih asyik ngobrol bareng sahabatnya, Steve. Notifikasi ponselnya berdering. Altair melirik layar, pesan dari kontak bernama "Perempuan Lemot".

"Rese nih cewek," pikir Altair.

Belum sempat diabaikan, pesan baru masuk lagi dengan nada panik:

Perempuan Lemot: ALTAIR! PULANG! GUE TAKUUUT!

Perempuan Lemot: GILA YA LO?! INI UDAH JAM BERAPA SIH? GUE KAN UDAH BILANG KALO GUE PENAKUT!

Altair terdiam. Dia mulai khawatir terjadi apa-apa di rumah. Cepat-cepat dia berdiri dan mengantongi ponselnya. "Gua balik dulu," katanya.

Steve tersenyum menggoda. "Pasti nggak tahan ninggalin dia sendirian, ya?"

"Bising lo," gerutu Altair kesal.

"Hati-hati di jalan, jagain dia baik-baik!" ledek Steve sambil tertawa.

"Besok lo gua tuntut beneran!" balas Altair sambil melangkah pergi.

"Sip! Kalau ada apa-apa lapor ya!" seru Steve dari belakang.

"Diam lo!" bentak Altair pelan. Dia langsung naik motor dan melaju pulang, meninggalkan Steve yang masih tertawa.

"Lama juga ya," gumam Altair di perjalanan. Dia yakin Aquilla pasti sudah ketakutan setengah mati.

Sesampainya di rumah, Altair menuntun motornya ke samping pagar. Karena sudah biasa lincah, dia melompati pagar rumah dengan mudah.

Sabar dikit, Aquilla, bisiknya dalam hati sambil melangkah ke pintu depan.

Dia mengetuk pintu tiga kali. Sayangnya, karena lupa menyebutkan namanya, ketukan itu justru makin menakutkan bagi Aquilla.

Di dalam kamar, Aquilla makin panik. Dengan jari gemetar, dia mengetik pesan lagi:

Aquilla: ALTAIR! TOLONG, PULANG SEKARANG! GUE BENERAN TAKUT!

Aquilla: ALTAIR! ADA YANG KETUK PINTU!

Namun pesan itu tak dibalas karena ponsel Altair tertinggal di dalam jok motor.

Ketukan di luar berubah menjadi gedoran keras. Jantung Aquilla berdegup kencang.

"Kok lama banget sih?" gumam Altair di luar. Karena tak kunjung dibuka, Altair memutuskan untuk mendobrak pintu.

BRUK!

Pintu terbuka dipaksa.

Mendengar itu, Aquilla nekat mengambil sapu di sudut kamar. Dia berlari ke ruang tengah dan langsung mengayunkan sapu itu secara membabi buta.

"MATI LO, ORANG ASING!" teriaknya histeris.

"Berhenti!" bentak Altair.

Karena Aquilla terus memukulnya, Altair yang kesal langsung merebut gagang sapu itu dan mematahkannya jadi dua.

"TOLONG!" pekik Aquilla putus asa.

Altair segera mendekat, menahan tubuh Aquilla dan membungkam mulutnya sebentar. "Diam," perintahnya tegas tapi tenang.

Lutut Aquilla lemas, tangisnya pecah. "Jangan..." bisiknya gemetar.

Altair memegang dagu Aquilla agar menatapnya. "Ini gua, Altair. Tenang, ya."

Mendengar suara suaminya, tangis Aquilla makin pecah. "Altair..."

Gak tega melihat istrinya begitu ketakutan, Altair langsung mendekapnya hangat. "Kenapa nangis? Gua udah pulang."

"Gue takut banget..." bisik Aquilla dengan bahu bergetar.

Altair memegang pipi Aquilla, mengusap air matanya lembut. "I'm here, don't be afraid." Dia membawa kepalanya ke dadanya agar merasa aman.

Aquilla yang masih kesal langsung mendorong dada Altair. "Lo jahat! Kenapa ditinggal lama-lama?! Lo tahu kan gue penakut! Mending tidur di luar aja sana!"

Altair menyisir rambut Aquilla yang acak-acakan dengan tangan, cuma diam mendengarkan.

"Altair! Jawab dong!"

"Gua..."

"Gak usah ngomong! Emosi gue! Udah jam dua malam baru pulang! Gue mau tinggal di rumah Saira aja!"

Altair tersenyum kecil melihat kekesalannya yang malah kelihatan menggemaskan. "Kenapa ngerengek kaya anak kecil sih?"

"SERAH GUE! BUKAN URUSAN LO!"

Tanpa banyak bicara, Altair menarik leher Aquilla dan mendaratkan ciuman lembut di bibirnya. Aquilla yang kaget perlahan mulai tenang. Dia merangkul leher suaminya erat-erat hingga mereka rebahan di atas sofa. Ciuman hangat itu berlangsung beberapa saat sampai Aquilla menepuk dada Altair karena kehabisan napas.

Aquilla menatap suaminya dengan mata sayu. Gue udah gila kali ya...

"Gua pergi dulu ya," bisik Altair tiba-tiba.

Seketika Aquilla panik dan langsung memeluk serta melingkarkan kakinya di pinggang Altair. "Ngapain?! Lo habis cium gue mau ninggalin lagi?! Suami gila!"

"Gua cuma mau masukin motor. Minggir dulu," balas Altair datar.

"Ikut!"

"Nggak usah!" Altair melepaskan pegangan Aquilla lalu berjalan ke luar.

"GUE MAU IKUTTT!" teriak Aquilla sambil berlari mengejar.

"Aquilla, stop," tegur Altair.

Aquilla memajukan bibirnya, bergelayut di leher Altair sambil merajuk, "Ikuttt, sayaaang..." Dia meliuk-liukkan tubuhnya dengan gaya manja. "Ikut-ikut-ikut!"

Altair mendesis. "Suara setan!"

Aquilla tertawa puas. Sampai di luar, dia malah mendahului Altair, naik ke atas motor, dan memutar kunci kontak.

BRUM!

"Gue bisa bawa motor nih! Ayo salip!" celoteh Aquilla sambil bergaya seperti pembalap. "Gue menang!"

Altair cuma bisa menggelengkan kepala gemas. Dia ikut naik ke kursi penumpang di belakangnya.

Tubuh Aquilla refleks menunduk ke tangki motor. Saat tangan Altair ikut memegang setang motor dari belakang, posisi mereka jadi sangat dekat. Bau tubuh Altair bikin dada Aquilla berdebar keras.

"Biar gua aja yang bawa. Lu diam aja," kata Altair dengan suara rendah.

Aquilla mengalah, melepaskan setang motor dan menyandarkan punggungnya ke dada Altair. "Cepat bawa masuk," bisiknya.

Altair sempat terdiam merasakan betapa mungil tubuh istrinya, sebelum akhirnya memindahkan motor masuk ke halaman rumah.

"Cepat bisa gak sih? Gue gak nyaman nih," omel Aquilla lagi.

"Sstt! Bacot," tegur Altair pelan.

Setelah motor aman di dalam, Altair menggiring Aquilla masuk ke kamar. "Udah, sekarang tidur."

"Tapi lo..."

"Tidur." Altair langsung menutup pintu dari luar.

Aquilla mendengus, lalu menurut dan merebahkan diri di kasur. Di luar, Altair tersenyum kecil. "Cewek ribet."

Sekitar jam 02.25 dini hari, Altair mengecek kamar lagi. Aquilla tampak mulai terlelap. Altair mendekat dan mengusap kepala istrinya perlahan.

"Akhirnya tidur juga," gumam Altair pelan, hendak keluar kamar lagi.

"Lo mau ke mana?" suara Aquilla terdengar lirih.

Altair kaget. "Belum tidur lu?"

Aquilla menggeleng. "Belum... gue masih takut."

Altair memijat pelipisnya bingung. "Tidur ya, gua mau keluar sebentar."

"Nggak! Kalau lo keluar, gue nggak bakal tidur semalaman!" Aquilla berusaha bangun, tapi karena masih ngantuk, dia hampir menabrak meja samping ranjang.

Sontak Altair menahannya. "Lu gila, hah?!"

Aquilla menggigit pelan tangan Altair. "Gue mau ikut! Pokoknya nemenin gue tidur di sini!"

Melihat raut ketakutan di wajah istrinya, Altair akhirnya pasrah. "Iya-iya, baiklah."

Altair ikut berbaring di kasur sempit itu di samping Aquilla.

"Nggak apa-apa tidur di sini?" tanya Aquilla pelan, matanya makin berat.

"Iya, udah diam, tidur."

Tak butuh waktu lama, Aquilla benar-benar tertidur pulas. Melihat wajah istrinya yang tenang, Altair tersenyum tipis. Dia mendekat dan mengecup kening Aquilla dengan lembut.

"Selamat tidur, cewek ribet," bisiknya.

Dengan napas Aquilla yang teratur di sampingnya, Altair merapikan poni yang menutupi wajah istrinya, lalu ikut memejamkan mata menyusul Aquilla ke alam mimpi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!