Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ditepi sungai
Bima dirgantara. Ya, sebuah nama yang singkat, padat, sekaligus menyimpan kesan dingin yang mendalam. Dia memang Bima, seorang pria yang seolah sengaja menghapus seluruh identitas masa lalunya demi bisa menyatu dengan kesunyian alam.
Bagi orang-orang yang mendiami Desa Sukamaju—sebuah pemukiman agraris terpencil yang letaknya terisolasi di balik bentangan bukit dan dikelilingi hutan tropis lebat, dia hanyalah seorang pemuda asing berumur dua puluh lima tahun yang dikenal sangat pendiam. Sikapnya yang tertutup membuat penduduk desa segan untuk terlalu banyak bertanya. Kulitnya yang legam terbakar matahari khas daerah tropis serta kapalan tebal yang menghiasi telapak tangannya menjadi saksi bisu betapa kerasnya dia bekerja setiap hari di ladang. Pekerjaannya sekarang hanyalah seorang petani jagung biasa. Sebuah profesi bersahaja yang amat jauh dari hiruk-pikuk, ketegangan, dan karut-marut dunia modern di luar sana.
Kehidupan di Desa Sukamaju menawarkan sebuah rutinitas monoton yang berjalan lambat, sesuatu yang justru sangat Bima cari dan butuhkan untuk memulihkan jiwanya. Jika sedang tidak pergi ke area perbukitan untuk mengurus ladang jagungnya yang mulai menguning dan siap panen, dia pasti akan menghabiskan waktu berjam-jam duduk di tepi sungai yang membelah desa hanya untuk memancing. Kehidupan yang damai, tenang, atau jika ingin jujur secara objektif, sebuah pengasingan diri yang sengaja dia rancang dengan rapi untuk melarikan diri dari bayang-bayang masa lalu yang terus memburunya.
Siang itu, matahari musim kemarau bersinar dengan sangat terik di atas kepala, seolah membakar permukaan tanah hingga memunculkan riak gelombang panas semu yang bergoyang di udara. Namun, Bima memilih untuk berlindung di tepi sungai yang sejuk, tepat di bawah lambaian rindang sebatang pohon beringin tua berukuran raksasa yang akar-akarnya menghujam dalam ke tepian air. Angin sepoi-sepoi yang berembus pelan di atas permukaan air sungai perlahan-lahan membuat kelopak matanya terasa sangat berat dan sayu. Sembari menunggu pelampung umpannya disambar oleh ikan, fokus Bima mulai melonggar.
Pikirannya perlahan terbang menjauh dari realitas di sekitarnya. Jiwanya seolah ditarik paksa keluar dari raga petaninya saat ini, melintasi lorong waktu yang gelap, kemudian melemparkannya kembali ke masa beberapa tahun yang lalu ketika takdir hidupnya masih ditentukan oleh sebutir peluru.
Memorinya berputar kembali dengan sangat jelas ke masa-masa kelam saat tubuh tegapnya masih dibalut oleh seragam loreng tebal yang berat. Kala itu, dia memikul tanggung jawab besar sebagai seorang komandan regu pasukan khusus angkatan darat yang disegani. Bima ingat betul bagaimana atmosfer yang sangat mencekam, dingin, dan mengintimidasi mental pada hari operasi militer itu berlangsung. Telinganya seolah kembali mendengar pekikan bising dari rentetan tembakan senapan serbu yang memekakkan telinga, dentuman dahsyat dari ledakan granat yang menggetarkan permukaan tanah, serta bau gosong bubuk mesiu bercampur aroma anyir darah yang menyengat tajam ke dalam hidung.
Dia ingat dengan sangat detail bagaimana dia dan para anggota regunya bergerak dengan taktik tingkat tinggi, saling melindungi di bawah komando tegas yang dia teriakkan di tengah desingan peluru. Mereka menerobos barikade kawat berduri milik musuh, menghancurkan pertahanan garis depan dengan granat asap, dan menyerbu masuk secara agresif hingga berhasil menguasai jantung markas lawan. Secara perhitungan militer, mereka menang mutlak hari itu. Tugas negara berhasil diselesaikan dengan sangat gemilang, dan mereka berhak pulang sebagai pahlawan.
Namun, senyum nostalgia yang sempat terukir sangat tipis di bibir Bima memudar seketika, digantikan oleh tarikan napas yang sangat berat dan melelahkan. Rasa bangga yang membuncah sebagai seorang prajurit itu langsung lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa sesak luar biasa yang menghimpit rongga dadanya saat bayangan wajah Joni melintas di benaknya. Joni adalah bawahannya yang paling setia di dalam regu, seorang penembak jitu berdarah dingin yang selalu bisa diandalkan dalam kondisi genting apa pun, sekaligus sahabat terbaik yang pernah dia miliki dalam hidupnya. Namun, Joni juga merupakan orang yang harus gugur dalam penyerbuan berdarah tersebut, mengorbankan nyawanya sendiri demi melindungi posisi Bima dari terjangan peluru senapan mesin musuh.
Bayangan ruangan rumah sakit lapangan militer yang dingin, steril, and pekat oleh bau cairan karbol mendadak terasa begitu nyata di pelupuk mata Bima, menepis keindahan pemandangan aliran sungai jernih di depannya saat ini. Saat itu, tubuh Joni bersimbah darah, dipenuhi luka tembus yang parah akibat rentetan peluru kaliber besar yang bersarang di dada dan perutnya. Berbagai jenis selang infus, alat bantu napas, dan monitor medis dipasang di sekujur tubuhnya yang melemah, mengeluarkan bunyi detak digital yang nyaring namun terasa seperti lonceng kematian yang menghitung mundur sisa hidupnya. Dengan napas yang tersengal-sengal, mencoba sekuat tenaga menahan sisa-sisa kesadaran yang kian meredup dan pandangan mata yang mulai kabur, Joni menggunakan seluruh sisa kekuatan ototnya untuk menggenggam erat lengan baju loreng Bima yang penuh noda tanah.
"Ketua... sepertinya... kita tidak bisa pulang dan minum bersama lagi kali ini," bisik Joni dengan suara yang sangat parau, lirih, dan terbata-bata, menahan rasa sakit luar biasa yang tak mungkin bisa dibayangkan oleh manusia biasa yang tidak pernah berperang. "Aku punya satu permintaan terakhir... Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain ibu dan seorang adik perempuan yang masih sekolah. Tolong... cari dan jaga mereka untukku."
Dengan sisa tenaga terakhir yang ada di ambang batas kematiannya, Joni merogoh saku seragam militernya yang sudah koyak dan basah oleh noda darah kering. Dengan jari-jari yang gemetar hebat menahan dingin, dia mengeluarkan selembar foto usang berukuran kecil yang sedikit terlipat di bagian sudutnya. Foto itu merekam senyum hangat Joni bersama seorang wanita paruh baya berwajah teduh dan seorang gadis remaja yang sedang memegang sebuah piala sekolah dengan bangga. Joni kemudian melepas kalung identitas militer dari pelat baja (dog tag) yang melingkar di lehernya dengan sisa kekuatan yang tersisa, lalu menyerahkannya langsung ke atas telapak tangan Bima yang ikut gemetar menahan bendungan air mata.
Aku sudah terlalu lama terpisah dari mereka karena tugas-tugas rahasia kita... dan sekarang, aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal kepada mereka secara langsung," ucap Joni sangat lirih, nyaris seperti bisikan angin malam sebelum akhirnya kelopak matanya menutup dan suaranya hilang sama sekali dari dunia.
Tak lama setelah kalimat terakhir yang sangat memilukan itu terucap, cengkeraman jari-jari Joni di lengan baju loreng Bima perlahan-lahan melonggar, lalu terkulai lemas tanpa daya di atas ranjang rumah sakit. Matanya perlahan tertutup rapat untuk selamanya, dan garis hijau di layar monitor jantung seketika berubah menjadi sebuah garis lurus statis yang berdenging panjang tanpa putus. Joni telah mengembus napas terakhirnya tepat di hadapan Bima. Sahabatnya itu pergi selamanya, meninggalkan sebuah janji suci yang kini terasa seperti bongkahan batu besar seberat berton-ton, menekan pundak sang mantan ketua regu itu setiap hari dengan rasa bersalah yang amat sangat.
Zzztt!
Lamunan masa lalu Bima buyar seketika menjadi serpihan kecil. Gagang joran pancing di dalam genggaman tangannya tiba-tiba saja bergetar dengan sangat hebat dan liar. Tali nilon pancing menegang lurus, ditarik oleh sesuatu makhluk air dengan kekuatan yang sangat besar menuju bagian lubuk sungai yang dalam. Sentakan mendadak yang kuat itu memaksa seluruh kesadaran mental Bima melompat kembali ke realitas masa kini. Dengan cekatan, efisien, dan menggunakan insting bertarung yang ternyata belum sepenuhnya tumpul oleh waktu, Bima langsung menahan jorannya kuat-kuat.
Dia memutar reel pancing dengan ritme yang konstan, bertarung sejenak melawan arus sungai yang deras dan tarikan liar dari bawah air. Setelah beberapa menit drama tarik-ulur yang cukup melelahkan fisik, seekor ikan gurame liar berukuran besar berhasil dia taklukkan. Ikan itu melompat keluar dari permukaan air, lalu mendarat dengan suara debukan keras di atas rumput tepi sungai, menggelepar-gelepar hebat mencoba mencari air.
Kenangan kelam, berdarah, dan penuh penyesalan tentang perang serta ruang rumah sakit militer itu perlahan-lahan mulai pudar kembali dari kepalanya, digantikan oleh realitas hidup yang tenang namun terasa hampa yang harus dia jalani hari ini di Desa Sukamaju.
Sore harinya, ketika langit di ufuk barat mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat, ikan hasil pancingannya siang tadi sudah selesai dibersihkan dari sisik, dibumbui dengan garam dan ketumbar seadanya, lalu digoreng di atas tungku hingga kering dan garing. Hidangan sederhana yang aromanya menggugah selera itu kini tersaji di atas meja makan kayu jati yang permukaannya sudah mulai lapuk, kusam, dan berlubang di sana-sini karena dimakan usia. Bima menyantap hidangannya dengan lahap dalam gigitan-gigitan yang sunyi tanpa suara. Dia mencoba menikmati hasil keringatnya hari itu di dalam rumah panggung kayunya yang sepi. Dia benar-benar hidup sendirian di rumah itu, hanya ditemani oleh suara ritmis dari jangkrik dan serangga malam di luar dinding bambu, seiring dengan kegelapan malam yang mulai turun menyelimuti seluruh area pedesaan.
Namun, setelah perutnya terasa kenyang dan keheningan malam yang pekat kembali melanda ruangan tengah, pikiran tentang Joni yang tadinya sempat teralihkan kini datang lagi menerjang. Pikiran itu menyerang pertahanan mentalnya dengan jauh lebih agresif dan bertubi-tubi. Bima perlahan meletakkan sendoknya, lalu menatap sisa-sisa duri ikan di atas piring tanah liatnya dengan pandangan mata yang kosong, redup, dan penuh dengan keputusasaan.
Berbagai pikiran logis dan analisis mulai berputar kacau di dalam kepalanya yang mulai pening. Jika dia hanya terus memilih untuk berdiam diri di desa terpencil yang sangat terisolasi dari arus informasi luar ini, bekerja bertani dari fajar hingga petang lalu memancing di sungai, bagaimana mungkin dia bisa mengabulkan janji terakhir kepada mendiang temannya? Menyimpan, meratapi, dan mengingat janji suci itu terus-menerus setiap hari tanpa melakukan sebuah tindakan nyata apa pun hanya akan membuatnya dihantui oleh rasa bersalah yang akan menggerogoti jiwanya seumur hidup. Dia akan tumbuh menjadi seorang pengecut yang gagal menjaga kehormatan sumpah seorang prajurit.
Bima akhirnya beranjak dari kursi kayunya yang mengeluarkan bunyi derit nyaring, berjalan lambat dengan langkah kaki yang terasa berat menuju ke dalam kamar tidur kecilnya yang pengap. Dia membuka laci meja kayu yang berada di samping tempat tidur tidurnya, lalu mengambil selembar foto usang yang kondisinya sudah mulai rapuh serta sebuah kalung militer pelat baja milik Joni yang selama ini dia simpan dengan sangat rapat dan hati-hati di sana. Pria itu kemudian duduk di pinggir ranjang, memandangi dengan sangat saksama setiap detail wajah Joni, wajah sang ibu, dan adik perempuan temannya itu di bawah temaram cahaya kuning dari sebuah lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang ditiup angin malam yang masuk melalui celah-celah papan jendela.
Namun, hantaman kenyataan pahit yang realistis langsung menampar logikanya dengan sangat keras. Jika dia nekat mengemas seluruh pakaiannya ke dalam tas ransel dan pergi meninggalkan desa ini esok hari untuk mencari mereka, dia harus melangkah ke arah mana?
Ke kota mana dia harus pertama kali memesan tiket bus?
Dunia ini teramat luas, dan negara kepulauan yang besar ini memiliki ribuan kota besar serta puluhan ribu desa kecil yang tersebar luas dari ujung sabang sampai merauke. Jika proses pencariannya hanya bermodal selembar foto tanpa ada secercah alamat rumah yang jelas, ditambah lagi dengan fakta bahwa nama sahabatnya itu adalah sebuah nama yang sangat pasaran di negeri ini. maka peluang untuk bisa menemukan keberadaan keluarga tersebut secara tidak sengaja hampir mustahil untuk terjadi.
Itu adalah sebuah analogi yang sama persis dengan mencoba mencari sebatang jarum kecil yang berkarat di dasar lautan yang sangat gelap, dalam, dan luas. Kalo hanya bermodal selembar foto lama dan nama panggilan saja tanpa adanya petunjuk spesifik lain, mereka tidak akan pernah bisa ditemukan sampai kapan pun, bahkan hingga Bima menua. Bima menghela napas panjang yang terasa sangat berat, merasakan gelombang frustrasi yang hebat di antara benturan sumpah setia seorang prajurit sejati dan realitas keterbatasan materi yang mengikat mati kedua kakinya di desa terpencil ini.
Bima membolak-balik foto itu berkali-kali di bawah cahaya kuning lampu minyak, berharap ada sebuah keajaiban kecil atau mungkin ada detail tersembunyi yang terlewatkan oleh indra penglihatannya selama bertahun-tahun ini. Matanya yang tajam, yang dulu dilatih keras sebagai seorang pengintai andalan dalam operasi malam, tiba-tiba saja menyipit fokus pada satu titik. Dia menyadari ada sesuatu yang janggal pada bagian belakang kertas foto yang warnanya sudah berubah menjadi kekuningan dan berbintik-bintik cokelat tersebut. Di pojok kanan paling bawah, terdapat sebuah cetakan cap pudar berukuran sangat kecil berwarna biru tua yang bentuknya hampir terhapus total oleh gesekan jari dan jalannya waktu.
Bima langsung bangkit berdiri dari ranjangnya, mendekatkan lembaran kertas foto tua itu sangat dekat ke arah lidah api lampu minyak, hingga hawa panasnya mulai terasa menyengat di ujung ibu jarinya. Tulisan pada cap berbentuk lingkaran yang samar-samar dan pudar itu kini mulai bisa dieja, disusun, dan dibaca dengan jelas oleh matanya yang membelalak lebar: "Studio Foto Abadi - Pasar Lama, Kota Barat".
Jantung Bima seketika berdegup dengan sangat kencang, memompa darahnya dengan cepat ke seluruh tubuh hingga menimbulkan sensasi desiran yang kuat. Rasa hangat menjalar dari dada hingga ke ujung-ujung jarinya. Rasa frustrasi yang mengungkungnya sejak tadi lenyap menguap begitu saja. Itu adalah sebuah nama tempat yang nyata di dunia fisik. Sebuah titik awal pencarian yang sangat valid dan logis. Langkah pertamanya untuk keluar dari pengasingan diri, melangkah kembali ke dunia luar yang bising, dan menepati janji suci pada mendiang sahabatnya baru saja terbuka lebar malam itu di bawah kesaksian malam yang sunyi.