Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
Tiga Tahun Kemudian...
Gemuruh mesin pesawat yang mendarat memecah keheningan malam di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam Terminal Kedatangan VIP, atmosfer mendadak berubah menjadi tegang. Beberapa orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal tampak berdiri berbaris rapi. Mereka membentuk barikade kokoh, memisahkan area steril dari jangkauan publik seolah-olah sedang menunggu kedatangan seorang tokoh penting berskala internasional.
Tak lama kemudian, pintu kaca otomatis terbuka. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya melangkah keluar.
Seorang wanita berjalan dengan ritme langkah yang teramat anggun namun memancarkan ketegasan yang mutlak. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer bandara dengan bunyi yang konstan, seirama dengan detak jantung orang-orang yang menatapnya dengan takjub. Wanita itu mengenakan blazer berwarna merah marun yang dijahit pas membungkus siluet tubuhnya yang proporsional, dipadukan dengan celana panjang hitam yang elegan.
Rambut hitamnya yang tiga tahun lalu tampak kusam dan tak terawat, kini berkilau sehat di bawah terpaan lampu bandara. Potongan rambut gaya bob asimetris membingkai sempurna wajah cantiknya yang kini terlihat jauh lebih segar, tirus, dan memikat. Namun, perubahan paling mencolok ada pada matanya. Sepasang mata yang dulunya selalu berair dan penuh ketakutan itu, kini berubah menjadi sepasang manik mata yang tajam, dingin, dan sedalam samudra.
Dia bukan lagi Davira yang malang. Dia bukan lagi wanita lemah yang sujud menangis di kaki suaminya demi meminta sedikit belas kasihan. Kini, dia adalah Vira Mahendra, sang pengendali takdir baru yang siap mengguncang jagat bisnis ibu kota.
"Mobil jemputan sudah bersiap di lobi utama, Kak," bisik Reno yang berjalan selangkah di sampingnya. Penampilan Reno pun telah bertransformasi total. Tidak ada lagi kesan pemuda frustrasi; pria muda itu kini menjelma menjadi sosok direktur eksekutif yang matang, berwibawa, dan sangat protektif terhadap kakaknya.
Vira tidak langsung menjawab. Dia hanya membenarkan letak kacamata hitamnya sebelum menurunkan benda itu sedikit ke ujung hidung, menatap lurus ke depan. "Bagaimana laporan terakhir mengenai Narendra Group?" tanya Vira. Suaranya terdengar merdu, namun ada nada sedingin es yang menyusup di setiap suku kata yang diucapkannya.
Reno tersenyum licik, sebuah ekspresi yang memperlihatkan bahwa mereka telah menyiapkan jebakan ini dengan sangat matang. "Persis seperti dugaan kita, Kak. Tiga tahun tanpa kendali mendiang ayahnya, Arka terbukti tidak sekonsisten itu. Ditambah lagi, hasutan bisnis dari Sheila yang gila hormat membuat Narendra Group terjebak dalam investasi bodong di sektor pariwisata. Saham mereka terjun bebas minggu ini. Jika mereka tidak mendapatkan suntikan dana segar dari investor asing dalam waktu tiga hari, mereka harus menyatakan kebangkrutan massal."
Vira menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang menawan sekaligus beracun. "Mereka begitu mendewakan harta sampai tega mengorbankan nyawaku dulu. Mari kita lihat, sejauh mana mereka bisa bertahan ketika harta itu perlahan menguap dari genggaman mereka. Dan yang paling menarik... mereka sama sekali tidak tahu bahwa investor asing yang mereka dambakan bagai malaikat penolong itu adalah kita."
Langkah kaki Vira dan Reno terus berlanjut menyusuri lorong VIP. Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu keluar, perhatian Vira mendadak teralih oleh sebuah suara tangisan kecil yang terdengar begitu polos di dekat area ruang tunggu khusus.
"Papa... El bosan. El mau pulang sekarang. El tidak mau ikut rapat Papa lagi..."
Vira menghentikan langkahnya secara refleks. Pandangannya berputar ke arah sumber suara. Di atas kursi tunggu berbahan kulit premium, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun yang sangat menggemaskan. Anak itu sedang mengucek matanya yang memerah karena kantuk, dengan bibir mungil yang mengerucut sebal.
Bocah kecil itu berada di dalam dekapan seorang pria bertubuh tinggi tegap yang memiliki aura dominan yang luar biasa mengintimidasi. Pria itu mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna abu-abu gelap yang teramat mahal. Garis rahangnya tegas seolah dipahat dengan sempurna, didukung oleh sepasang mata elang yang mampu membuat nyali siapa pun menciut hanya dengan satu kali tatapan.
Pria itu adalah Adrian Atmadja, kepala keluarga sekaligus pemilik tunggal Atmadja Group—imperium bisnis terbesar di Asia yang kekuasaannya bahkan mampu meruntuhkan sepuluh perusahaan sekelas Narendra Group hanya dalam satu kedipan mata.
Namun, di balik dinding kekuasaannya yang tak tertembus, Adrian menyimpan sebuah luka lama yang sunyi. Pria itu adalah seorang duda. Tiga tahun lalu, tepat di hari yang sama saat Davira menderita di rumah sakit, istri Adrian mengembuskan napas terakhir di ruang bersalin akibat komplikasi parah saat melahirkan putra tunggal mereka, Elvano Atmadja. Sejak tragedi itu, hati Adrian membeku total. Dia menutup rapat pintu hatinya untuk wanita mana pun, menjauhi segala bentuk skandal, dan mendedikasikan seluruh sisa hidupnya hanya untuk pekerjaan dan tumbuh kembang Elvano.
"Sabar ya, Jagoan. Sebentar lagi mobil kita sampai. Papa janji setelah ini kita langsung tidur," ucap Adrian. Suara baritonnya yang biasanya terdengar dingin dan berwibawa, mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang ketika berbicara kepada sang anak.
Pada saat yang bersamaan, sekretaris pribadi Adrian yang sedang berjalan terburu-buru sambil membawa tumpukan dokumen tidak sengaja menyenggol bahu Vira yang sempat berhenti mendadak. Akibat senggolan itu, beberapa berkas penting yang dipegang oleh Reno terlepas dan berhamburan di atas lantai marmer.
"Ah! Maaf! Saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja," ucap sekretaris itu dengan wajah panik, langsung berlutut untuk memungut berkas-berkas tersebut.
Melihat insiden kecil itu, Adrian menghentikan bicaranya pada El. Dengan gerakan yang tetap tenang meskipun sedang menggendong putranya, Adrian melangkah maju. Sepasang mata elangnya langsung beradu tatap dengan manik mata Vira.
Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar di koridor sunyi itu.
Adrian tertegun di tempatnya berdiri. Selama tiga tahun menduda, sudah tidak terhitung berapa banyak wanita, mulai dari kalangan selebritas hingga putri konglomerat, yang mencoba mendekatinya dan mengambil hati Elvano demi bisa naik takhta menjadi nyonya di kediaman Atmadja. Namun, wanita di hadapannya saat ini benar-benar berbeda. Vira tidak menatapnya dengan pandangan memuja atau menggoda. Justru, Adrian menangkap adanya sebuah luka yang teramat mendalam sekaligus kekuatan tameng yang luar biasa kokoh di dalam mata wanita itu. Luka yang entah kenapa, mengingatkannya pada sorot mata mendiang istrinya sebelum tiada.
"Saya meminta maaf atas kecerobohan staf saya," ucap Adrian, memecah keheningan dengan suara beratnya yang berwibawa.
Reno segera membantu memungut sisa berkas yang ada. Sementara itu, Vira tetap berdiri dengan tegak. Dia menerima kembali berkasnya dari tangan sekretaris Adrian dengan gestur yang teramat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pesona ketampanan atau nama besar Adrian Atmadja.
"Tidak apa-apa. Ini hanya masalah kecil," jawab Vira dengan nada suara yang datar dan profesional.
Namun, tepat ketika Vira hendak berbalik untuk melanjutkan langkahnya, anak kecil di gendongan Adrian, Elvano, tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari leher sang ayah. Tangan mungilnya yang bersih terulur ke arah Vira, seolah-olah ingin menggapai wanita itu.
"Tante... cantik..." gumam Elvano dengan suara polos khas anak-anak, sambil mengerjapkan matanya yang bulat menatap Vira.
Adrian seketika terperangah. Jantungnya berdesir aneh. Elvano adalah anak yang sangat pemilih, trauma akan kehadiran orang asing, dan biasanya akan langsung menangis histeris jika ada wanita asing yang mencoba mendekatinya. Ini adalah kali pertama dalam tiga tahun hidupnya, Elvano memuji dan menunjukkan ketertarikan spontan pada seorang wanita yang baru ditemuinya dalam hitungan detik.
Vira menghentikan langkah kakinya yang sempat terayun. Dia menundukkan kepala, menatap wajah polos Elvano yang bersih tanpa dosa. Pada detik itu, ada sebuah rasa hangat yang mendadak mengalir dan berdesir hebat di dalam dadanya—sebuah getaran insting keibuan yang sangat kuat dari seorang wanita yang rahimnya telah tiada. Vira merasa seolah ada ikatan tak kasatmata yang menariknya pada bocah kecil itu.
Perlahan, pertahanan dingin di wajah Vira runtuh sejenak. Dia mengulas seulas senyuman tulus yang sangat tipis namun teramat manis untuk Elvano, lalu memberikan anggukan sopan yang formal kepada Adrian sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi menuju pintu keluar bandara.
Adrian terpaku di posisinya, menatap punggung Vira yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam lobi bandara. Sementara itu, Elvano masih terus memandangi arah kepergian Vira dengan mata bulatnya.
"Cari tahu siapa wanita itu," perintah Adrian kepada sekretarisnya yang baru saja berdiri. Suara Adrian terdengar sangat rendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Aku ingin seluruh data pribadinya, latar belakangnya, dan tujuannya kembali ke Indonesia sudah ada di atas meja kerjaku besok pagi sebelum jam delapan."
Di belahan sudut kota Jakarta yang lain, kemegahan kantor pusat Narendra Group tampak kontras dengan kekacauan yang terjadi di dalam ruang kerja sang CEO.
Arka Narendra duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan penampilan yang sangat kusut. Setelan jas mahalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal-asalan serta dasi yang sudah dilonggarkan sejak sore tadi. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi guratan kelelahan dan stres yang mendalam.
Tiga tahun ini ternyata tidak berjalan seindah yang dia bayangkan saat mengusir Davira dulu. Sheila yang awalnya dia kira adalah sosok wanita suci, lembut, dan penuh pengertian, ternyata memiliki watak asli yang sangat manipulatif, boros, dan gila akan status sosial. Ibu dan adiknya, Siska dan Maya, juga tidak henti-hentinya menuntut fasilitas mewah dan uang bulanan yang kian membengkak, tanpa peduli bahwa kondisi keuangan perusahaan keluarga mereka sedang berdarah-darah.
Brak!
Pintu ruang kerja Arka mendadak terbuka dengan kasar tanpa ketukan terlebih dahulu. Siska melangkah masuk dengan wajah cemberut sambil membawa tas belanjaan bermerek.
"Arka! Bagaimana ini? Ibu baru saja dari butik dan pihak bank bilang kalau kartu kredit yang kamu berikan sudah mencapai batas limit! Maya juga mengeluh karena mobil sport barunya belum lunas!" omel Siska tanpa memedulikan guratan stres di wajah putranya. "Kamu itu CEO, masa bayar belanjaan ibumu sendiri saja tidak becus?!"
Arka memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. "Ma! Tolong keluar dari ruangan Arka sekarang! Arka sedang pusing memikirkan nasib ribuan karyawan dan mencari investor baru untuk menyelamatkan perusahaan kita dari kebangkrutan!" bentak Arka dengan suara meninggi.
Siska tertegun, terkejut mendengar bentakan putranya yang jarang terjadi. Dengan bersungut-sungut dan menghentakkan kakinya, wanita paruh baya itu akhirnya keluar dari ruangan.
Setelah kepergian ibunya, keheningan kembali menguasai ruangan luas itu. Arka menyandarkan kepalanya di bantalan kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Di tengah kesunyian dan tekanan mental yang luar biasa ini, sebuah bayangan masa lalu mendadak berputar di dalam benaknya.
Bayangan tentang Davira.
Dulu, setiap kali Arka pulang ke rumah dengan kondisi stres akibat pekerjaan, Davira tidak akan pernah menuntut apa pun darinya. Wanita itu akan menyambutnya di depan pintu dengan senyuman tulus, mengambilkan jasnya, dan diam-diam meletakkan secangkir teh herbal hangat di meja kerjanya tanpa mengeluarkan suara yang mengganggu. Davira selalu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus memberikan ruang untuknya, sangat berbanding terbalik dengan Sheila yang justru akan langsung mengomel jika Arka pulang tanpa membawa barang mewah.
"Di mana kamu sekarang, Davira...?" gumam Arka lirih ke arah kegelapan malam di luar jendela kantornya. Ada secercah penyesalan kecil yang sialnya mulai merayap di sudut hatinya.
Arka sama sekali tidak menyadari bahwa esok pagi, wanita yang telah dia hancurkan dan sia-siakan itu akan melangkah masuk ke dalam kantornya, bukan sebagai pengemis yang meminta haknya, melainkan sebagai sosok penguasa yang memegang penuh tombol kehancuran hidupnya.