Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — ULANG TAHUN YANG TERLUPAKAN
Rabu, tanggal empat belas.
Sejak membuka mata di subuh hari, Naya sudah diam-diam menantikan ucapan manis atau kejutan kecil. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-18. Namun, sampai bel masuk sekolah berbunyi keras di SMA Garuda Bangsa, tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa hari ini adalah hari spesial baginya.
Saskia sibuk mengeluhkan tugas Sejarah yang menumpuk sejak jam pertama. Reno terseret diskusi sengit dengan anak-anak cowok di barisan belakang soal pertandingan futsal. Bahkan Ayah dan Ibu hanya menanyakan apakah uang saku bulanannya masih cukup saat Naya menelepon sebentar tadi pagi, tanpa menyebut-nyebut kata ulang tahun.
Semua orang tampaknya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.
"Nay, pinjam tip-ex dong," minta Saskia tanpa menoleh dari lembar tugasnya.
Naya menyerahkan cairan penghapus itu lemas. "Sas... lo ingat nggak hari ini tanggal berapa?"
"Tanggal empat belas kan? Mampus gue, tugas Bu Rini dikumpul jam sepuluh!" jawab Saskia panik tanpa menyadari kode di pertanyaan Naya.
Naya menghembuskan napas pendek, menopang dagu dengan tangan kirinya sambil menatap keluar jendela kelas. Nggak apa-apa, Naya. Lo kan udah gede. Masa ulang tahun aja harus dirayain heboh kayak anak SD? bisiknya menenangkan diri sendiri. Meski begitu, ada rasa hampa dan sedih yang menggelitik pelan di sudut hatinya.
Saat jam istirahat, Naya berjalan ke kantin sendirian karena Saskia harus menyusul ujian susulan. Di koridor utama dekat mading, Arka tampak berdiri bersama Dito dan Melisa. Seperti biasa, Arka terlihat begitu berwibawa, memegang papan jalan kayu sambil mendengarkan laporan kegiatan dari pengurus divisi.
Naya melewati mereka dengan langkah pelan. Ia sempat melirik ke arah Arka, berharap laki-laki itu—yang tinggal satu rumah dengannya dan memegang salinan berkas kartu keluarga mereka—ingat hari penting ini.
Arka menoleh saat merasakan kehadiran Naya. Pandangan mata mereka beradu selama dua detik. Namun Arka hanya memberikan anggukan kecil nan formal—khas perlakuan Ketua OSIS kepada siswi biasa di depan umum—lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada dokumen Melisa.
Naya menelan ludah yang terasa pahit. Ia mempercepat langkahnya menuju kantin dengan perasaan yang makin mencelos.
Bahkan si robot itu juga nggak ingat, batin Naya miris. Kenapa juga gue berharap sama dia?
Sore harinya, perjalanan pulang di dalam mobil Arka berlangsung dalam keheningan yang luar biasa tebal. Naya hanya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap rintik gerimis tipis yang mulai membasahi jalanan kota.
Arka beberapa kali melirik Naya dari sudut matanya. Ia menyadari bahu cewek itu yang terkulai lemas dan raut wajahnya yang tidak seceria biasanya. Tidak ada omelan, tidak ada celotehan ceriwis, juga tidak ada ejekan soal rapat OSIS.
"Kamu sakit?" tanya Arka pelan, memecah keheningan saat mobil berhenti di lampu merah.
Naya tidak memindahkan pandangannya dari kaca jendela. "Nggak. Cuma capek."
"Kalau capek, nanti malam tidak usah ikut bantu mengepel. Saya yang selesaikan," tawar Arka dengan nada suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Naya hanya mengangguk tipis tanpa minat. "Terserah."
Arka menggigit bagian dalam pipinya, merasakan ada atmosfer asing yang tidak menyenangkan di antara mereka, namun ia memilih tidak bertanya lebih lanjut sampai mereka tiba di rumah.
Malam harinya, rumah terasa sangat sepi. Tante Elena dan Om Adrian sedang menghadiri rapat asosiasi pengusaha hingga larut malam.
Pukul sembilan malam, Naya duduk di tepi tempat tidur di dalam kamar mereka yang temaram. Ia sudah mengenakan piyama longgar motif beruang, memangku kedua lututnya sambil menatap layar ponselnya yang sepi. Hanya ada beberapa notifikasi ucapan otomatis dari aplikasi belanja dan operator seluler.
Naya tersenyum kecel, mematikan layar ponselnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur, memunggungi sisi tempat tidur Arka. Ia menarik selimut hingga sebatas dada.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka menandakan Arka sudah selesai membersihkan diri. Langkah kaki cowok itu terdengar mendekati meja belajar. Naya memejamkan mata, berpura-pura sudah tertidur nyenyak agar tidak perlu berinteraksi.
Klek.
Suara gesekan kertas dan plastik terdengar samar di dekat nakas sisi tempat tidur Naya.
"Naya," panggil Arka pelan.
Naya tetap memejamkan mata, tidak bergerak sedikit pun.
"Saya tahu kamu belum tidur," suara Arka kembali terdengar, kini berada tepat di samping tempat tidurnya.
Naya menghembuskan napas kasar, memutar tubuhnya perlahan dan mendudukkan diri dengan wajah cemberut. "Apaan sih? Gue ngantuk tahu!"
Arka berdiri di samping tempat tidur. Ia tidak lagi mengenakan seragam kaku, melainkan kaus oblong hitam dan celana santai. Tangan kanannya tersembunyi di balik punggungnya.
"Kamu kenapa dari tadi siang cemberut terus?" tanya Arka datar.
"Gak kenapa-kenapa! Kan gue udah bilang gue capek!" sembur Naya meluapkan sisa kekesalannya. "Udah ah, gue mau tidur!"
Arka tidak berpindah. Laki-laki itu justru menarik napas pendek, lalu mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Naya.
Sebuah paket persegi panjang yang terbungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru gelap dan pita perak polos terulur di depan mata Naya.
Naya membeku seketika. Matanya membelalak lebar menatap bingkisan di tangan Arka, lalu berpindah menatap wajah cowok itu.
"Ini... apaan?" bisik Naya bingung.
"Kado," jawab Arka singkat, tatapannya dialihkan ke arah rak buku di sudut kamar untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang wajahnya. "Buka saja."
Dengan jemari yang sedikit gemetar, Naya menyambar bingkisan itu. Ia merobek kertas kadonya dengan hati-hati. Di dalam bungkus biru itu, terbaring sebuah buku novel edisi terbatas ber-cover tebal bertajuk Karya Sastra Klasik Dunia yang pernah Naya lihat di toko buku bulan lalu—buku yang harganya cukup mahal dan sempat Naya keluhkan karena kehabisan stok.
Di selipan halaman pertama buku itu, ada selembar pembatas buku kayu kecil dengan tulisan tangan Arka yang sangat rapi dan simetris:
Selamat ulang tahun ke-18, Naya Aurelia. Semoga makin dewasa dan tidak perlu melompati pagar sekolah lagi.
Naya menatap tulisan tangan itu berulang kali. Tenggorokannya mendadak terasa begitu sempit, dan matanya merebak hangat oleh air mata yang tak bisa ditahannya lagi.
"Lo... lo ingat?" suara Naya bergetar hebat.
Arka berdeham kaku, mengusap belakang lehernya sambil bersedekap dada. "Tentu saja saya ingat. Berkas kartu keluarga dan dokumen nikah kita ada di meja kerja saya. Mana mungkin saya lupa tanggal lahir istri—maksud saya, teman satu rumah saya."
"Tapi tadi di sekolah lo cuek banget!" isak Naya pelan, sebutir air mata lolos membasahi pipinya.
Arka terkejut melihat air mata itu. Laki-laki yang biasanya selalu tenang itu mendadak panik. Ia berlutut di samping tempat tidur agar posisinya sejajar dengan Naya yang sedang duduk.
"E—eh, jangan menangis," ujar Arka canggung, tangannya terulur berniat mengusap air mata Naya namun tertahan di udara sebelum akhirnya memberanikan diri menepuk-nepuk pelan bahu cewek itu. "Di sekolah kan kita harus menjaga rahasia, Naya. Saya tidak bisa tiba-tiba memberikan kado di depan Melisa atau Dito."
Naya menyapu air matanya dengan lengan piyama, menatap Arka dengan bibir cemberut yang menggemaskan. "Gue pikir... gue pikir semua orang lupa."
"Saya tidak lupa," kata Arka pelan, nada suaranya berubah menjadi teramat tulus dan lembut. Manik mata hitamnya menatap lurus ke dalam mata Naya yang berkaca-kaca. "Selamat ulang tahun, Naya."
Keheningan yang amat hangat merayap di antara mereka. Naya meremas buku di pangkuannya erat-erat. Untuk pertama kalinya, rasa gengsi yang biasanya membohongi perasaannya luntur sepenuhnya.
Naya menyunggingkan sebuah senyum kecil—senyum tulus yang amat manis dan tanpa selubung kebencian.
"Makasih ya, Arka," bisik Naya pelan. "Buku ini... bagus banget."
Arka terpaku menatap senyum tipis itu. Binar mata Naya di bawah temaram lampu kamar membuat jantung Arka berdegup dalam ritme yang teramat asing dan tidak terkontrol.
Perlahan-lahan, bibir Arka yang biasanya selalu terkunci rapat dalam garis dingin kini terangkat. Sebuah senyum tipis yang amat tampan dan hangat terbit di wajah sang Ketua OSIS.
"Sama-sama," balas Arka pelan.
Malam itu, di dalam kamar yang menjadi saksi bisu pernikahan rahasia mereka, sebuah hadiah sederhana telah meretakkan tembok kebencian yang dulunya kokoh berdiri. Perasaan di antara mereka memang belum sepenuhnya bernama cinta, tapi malam ini... mereka berdua tahu bahwa satu sama lain telah menjadi sosok yang teramat berarti.