Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Setelah memastikan riasan Lestari benar-benar sempurna, Anindiya memeriksa sekali lagi setiap detailnya.
Riasan dasar sudah menyatu halus dengan kulit. Warna lipstik terpoles rapi. Mahkota mungil terpasang kuat di atas sanggul, sementara veil transparan menjuntai indah menyapu bagian belakang gaun.
Anindiya mengukir senyum puas. "Hasilnya cantik sekali, Lestari."
Lestari ikut tersenyum lebar menatap cermin. "Terima kasih banyak ya, Mbak Anin."
Anindiya mengangguk pelan. "Sekarang kamu duduk manis dulu, jangan banyak bergerak. Nanti kalau sudah waktunya dipanggil keluar untuk akad, tinggal melangkah."
"Iya, Mbak."
Rina yang berdiri di samping pintu tetap memandangi Lestari. Entah mengapa, rasa tidak nyaman yang sejak tadi mengusik benaknya belum juga memudar. Ia sempat melirik ke arah jendela, lalu kembali mengawasi cermin. Semuanya tampak normal. Namun, hatinya terus dirayapi rasa gelisah.
Anindiya kemudian memberi isyarat pada Rina untuk keluar dari kamar. Mereka masih memiliki tugas lain—beberapa kerabat dekat Lestari sudah menunggu untuk dirias di kamar sebelah.
Begitu pintu kayu itu tertutup rapat, Lestari kini ditinggal sendirian.
Suasana kamar mendadak berubah menjadi amat tenang. Riuh suara para tamu di area luar rumah hanya terdengar samar-samar.
Lestari melangkah pelan menghampiri cermin berukuran besar di dekat lemari pakaian. Begitu menyaksikan pantulan dirinya, senyuman bahagianya kembali mekar. Ia benar-benar tak menyangka bisa tampil seanggun ini. Gaun pengantin putih gading yang melekat di tubuhnya membuat ia merasa bak seorang putri raja.
Ia memutar tubuhnya perlahan-lahan, mengamati lekuk gaun itu dari berbagai sudut. Setiap kali kain gaun itu mengibas, payet-payet kecil di permukaannya memantulkan pendar cahaya lampu dengan begitu memukau.
"Cantik banget..." bisiknya kagum seraya tersenyum manis.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja rias. Tanpa ragu, aplikasi kamera depan langsung ia buka.
Klik! Klik! Klik!
Lestari mengambil beberapa foto swafoto. Ia berganti-ganti pose—kadang tersenyum lebar, memiringkan wajah, hingga memamerkan detail sulaman di bagian samping gaunnya. Bahkan, ia sempat merekam video pendek untuk dikirimkan ke grup sahabat-sahabatnya.
"Sebentar lagi aku resmi jadi istri orang nih!" ucapnya seraya tertawa renyah ke arah kamera ponsel.
Seketika denting notifikasi ucapan selamat mulai membanjiri layarnya. Lestari membalasnya satu per satu dengan jemari lincah. Wajahnya benar-benar dipenuhi luapan kebahagiaan murni.
Di luar kamar, terdengar riuh panitia yang sibuk merapikan area prosesi. Tak lama lagi, ijab kabul akan segera dimulai.
Lestari kembali berdiri tegak di depan kaca. Tangannya terangkat untuk membetulkan sedikit posisi veil yang menutupi sanggulnya.
Namun... saat mata cantiknya sedang mengamati pantulan wajah di kaca...
Entah mengapa...
Ia menangkap ada sesuatu yang berkelebat di sudut cermin. Sangat cepat, mirip bayangan seseorang yang melintas.
Lestari langsung menolehkan kepala ke belakang.
Sudut kamar itu kosong melompong.
Lestari mengusap dadanya seraya terkekeh pelan. "Ah... paling cuma bayangan tirai yang tertiup angin."
Ia kembali berbalik menghadap cermin.
Namun hanya berselang beberapa detik...
Aroma bunga melati mulai berembus mengapung di udara kamar. Wanginya lembut pada awalnya, namun makin lama makin tajam dan tebal.
Lestari menghirup aroma itu pelan. "Harum banget..."
Ia mengira wangi tersebut bersumber dari bunga melati yang dipasang panitia di dekorasi luar rumah. Padahal... di dalam kamar pengantin itu tak ada setangkai bunga melati pun.
Tanpa pernah ia sadari...
Di sudut ruangan yang paling remang... perlahan-lahan muncul sesosok perempuan.
Sosok itu berdiri mematung. Tubuhnya dibalut gaun pengantin putih yang sudah kusam dan kotor, dengan bagian bawah kain dipenuhi noda kecokelatan mirip tanah basah. Rambut hitamnya yang panjang dan lengket terurai menjuntai menutupi hampir seluruh parasnya. Kedua tangannya tergantung kaku di samping tubuh.
Ia tak bersuara. Hanya berdiri diam. Tatapannya terkunci lurus pada sosok Lestari.
Hawa udara di dalam kamar perlahan-lahan menurun dingin. Tirai jendela bergoyang meliuk-liuk pelan, padahal tak ada hembusan angin yang masuk.
Lestari yang sedang asyik membolak-balik hasil fotonya sama sekali tak menyadari kehadiran wujud mencekam itu. Ia masih tersenyum sendiri seraya memperbesar tampilan foto di layar ponselnya.
"Bagus-bagus banget hasilnya..." gumamnya puas.
Sementara itu...
Perempuan di sudut kamar perlahan-lahan mendongakkan kepalanya. Helai-helai rambut yang menutupi wajahnya bergeser sedikit. Kulit wajahnya tampak amat pucat pasi bagai mayat membeku, dengan warna bibir kebiruan.
Lalu... sepasang mata hitam kelam tanpa selaput putih terlihat menatap lurus ke arah Lestari.
Tatapan itu memancarkan rasa dendam dan kebencian yang amat mendalam—tanpa ada sedikit pun belas kasihan.
Sudut bibir pucat milik sosok itu perlahan terangkat naik, membentuk senyuman tipis yang amat kaku. Senyuman dingin yang jauh lebih mengerikan ketimbang wajah yang sedang mengamuk.
Aroma melati busuk kini merebak memenuhi seluruh penjuru kamar.
Lestari kembali mengangkat kepalanya dari ponsel. "Lho... kok wanginya makin menyengat begini ya?"
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, namun tetap tak menemukan apa-apa.
Saat matanya kembali menatap kaca cermin...
Gerakan tangannya seketika terhenti kaku.
Di dalam pantulan cermin...
Sesaat...
Ia seperti melihat ada siluet seseorang sedang berdiri tepat di belakang punggungnya!
Lestari refleks memutar badannya secara spontan!
Kosong. Tak ada siapa-siapa di belakangnya.
Jantungnya mulai berdegup kencang, namun ia berusaha tertawa kecil untuk mengusir rasa takut. "Duh... kok aku jadi parno sendiri sih."
Ia kembali membalikkan tubuh menghadap cermin. Pantulan di dalam kaca sudah kembali normal. Lestari menghembuskan napas lega.
Ia sama sekali tidak tahu...
Bahwa sosok perempuan itu kini telah berdiri beberapa langkah lebih dekat di belakangnya. Tanpa suara. Tanpa getaran langkah kaki. Tetap menatapnya dengan pandangan kelam.
Perempuan itu perlahan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya kurus memanjang dengan kuku-kuku yang menghitam runcing. Ia mengulurkan tangannya menggapai kain gaun yang dikenakan Lestari.
Namun, sebelum kuku-kuku hitam itu sempat menyentuh kain...
Dari balik pintu kamar terdengar ketukan dan suara seorang kerabat. "Lestari... acara akadnya sebentar lagi mau dimulai ya, Nak."
"Iya, Bule!" sahut Lestari seraya mengumbar senyum.
Ia sama sekali tak menyadari bahwa hanya berjarak beberapa jengkal di belakang punggungnya... ada wujud mengerikan yang sedang menatapnya penuh kebencian.
Begitu terdengar sahutan dari luar, perempuan bermata hitam itu perlahan-lahan menurunkan tangannya kembali. Kepalanya sedikit miring ke samping, mata kelamnya tak pernah lepas mengunci Lestari.
Dengan desis suara yang amat lirih dan parau—hampir mirip tiupan angin malam—ia berbisik:
"...i...tu... gaun...ku..."
Bisikan dingin itu menguap lenyap bersama hembusan udara yang menyelusup lewat celah jendela.
Lestari tak mendengarnya. Ia masih sibuk merapikan tata letak mahkotanya di depan cermin, masih tersenyum membayangkan beberapa menit lagi ia akan berjalan menuju pelaminan bersama pria idamannya.
Tanpa pernah ia ketahui...
Bahwa kebahagiaan manis yang sedang memenuhi dadanya... perlahan-lahan telah berubah menjadi hitungan mundur menuju sebuah Tragedi Kelam yang sudah lama menagih giliran.