"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : JEBAKAN & BAYANG - BAYANG DARI KEJAUHAN
Layar ponsel Angga menyala, memantulkan pesan dari Ami, adik bungsunya.
"Kak, nanti malam jangan lupa datang ya... Ini hari spesial buat aku, Ayah, dan Ibu. Jangan keterlaluan sampai terlambat lagi"
Angga memijit pelipisnya yang berdenyut. Merayakan ulang tahun Ami berarti harus berhadapan dengan orang tua dan Riko saudara tirinya yang menyimpan dendam kesumat padanya. Pikirannya kalut, Pergi berarti masuk ke kandang macan, tidak datang berarti menghancurkan hati Ami dan Ibunya.
Getaran panggilan telepon membubarkan lamunannya. Nama "Ibu" tertera di layar.
"Halo, Bu..." sapa Angga, suaranya mendadak melunak.
"Halo, Nak. Bagaimana kabarmu?" suara Bu Marni terdengar begitu hangat, namun sanggup meremukkan pertahanan Angga.
"Angga baik, Bu. Maaf... Angga belum sempat pulang. Angga terlalu pengecut untuk menampakkan diri di depan Ibu dan Papa" Suara Angga bergetar, matanya memanas.
"Kamu bicara apa, Nak?" Bu Marni menahan isak.
"Papa selalu menanyakanmu. Ami rewel ingin ketemu kakaknya. Ibu selalu mendoakanmu. Datanglah nanti malam... Ibu mohon, jadikan ini momen kita berkumpul kembali"
Keharuan melingkupi Angga hingga sebuah ketukan pelan di pintu membuyarkan atmosfer. Sosok wanita berkacamata dengan rambut terurai melangkah masuk.
Lulu.
"Ibu, nanti Angga telepon lagi, ya. Ada pekerjaan mendesak" pamit Angga terburu-buru, lalu mematikan sambungan.
Ia mengatur napas, menyapu sisa keharuan di matanya, dan kembali memasang topeng dingin nan intimidatif. Lulu berdiri kaku di depannya, menunduk dalam-dalam seolah menganggap Angga adalah monster yang siap menerkam.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" bisik Lulu pelan, memberanikan diri menatap mata sang manajer sekejap sebelum menunduk lagi.
"Ambilkan pesanan sarapanku di lobi" perintah Angga datar.
"Baik, Pak" Lulu berbalik cepat. Namun, baru dua langkah, suara Angga menghentikannya.
"Kamu sudah sarapan? Kalau belum... sarapanlah denganku di sini"
Kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Angga.
" Sial, apa yang baru saja kuucapkan?" batin Angga mengutuk dirinya sendiri.
Sementara Lulu membeku di tempat.
"Gila! Pak Angga kerasukan setan kantor apa bagaimana?! pikirnya ngeri.
"S-saya ambilkan pesanan Bapak dulu, permisi!" cicit Lulu, lalu melesat keluar ruangan secepat kilat.
Setelah mengambil pesanan di lobi, Lulu kembali memasuki ruangan Angga dengan hati berdebar. Ia meletakkan kantong berisi makanan di meja sudut.
"Saya izin kembali ke meja, Pak" ujar Lulu gugup.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar?" tebas Angga dingin. Ia berdiri, melangkah perlahan mengikis jarak di antara mereka. Tatapan matanya menusuk dan meneliti Lulu dari ujung kaki hingga kepala.
Gadis berkacamata ini sama sekali bukan tipenya culun, berpakaian Kuno, jauh dari kesan modis seperti Indah atau Vika. Namun, Lulu adalah kartu as-nya. Lulu cerdas, pandai berkomunikasi dan memiliki selera memilih barang yang sempurna. Angga membutuhkannya sebagai tameng di pesta nanti malam untuk meredam canggung saat berhadapan dengan Riko dan mengalihkan perhatian orang-orang.
"Ikut aku nanti malam" cetus Angga tanpa kompromi.
"M-maaf? Ke mana, Pak?" Lulu tersentak.
"Ke pesta ulang tahun. Dan aku butuh kamu membantuku memilih kado"
Seketika, kilas balik mengerikan menghantam pikiran Lulu. Dua tahun lalu, akibat ajakan jebakan dari Indah, ia datang ke pesta kantor dengan pakaian kusam milik Lastri. Di sana, ia menjadi bahan tertawaan, dipermalukan hingga memecahkan nampan minuman di depan ratusan orang. Keramaian pesta adalah trauma terbesarnya.
"Saya... saya tidak bisa, Pak" tolak Lulu, suaranya gemetar.
Bibir Angga terangkat, mengukir senyum tipis yang beracun.
"Oh, begitu? Kalau kamu keberatan, semua tugasmu akan dialihkan ke Indah"
Mendengar ucapan managernya itu, mata Lulu seketika membelalak.
"Maksud Bapak, saya di nonjobkan?"
"Ya....Dan kamu tahu, karyawan yang tidak punya kontribusi akan sangat mudah dipecat oleh perusahaan" Angga menyesap kopinya dengan santai dan menikmati kepanikan yang menjalar di wajah bawahannya.
"Pilihan ada di tanganmu. Turuti perintahku malam ini, atau angkat kaki dari kantor ini"
Air mata Lulu menetes.
"Pak, tolong... jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini untuk keluarga saya..." tangisnya pecah, tersedu-sedu di hadapan Angga.
Melihat Lulu menangis sesenggukan, ada denyut penyesalan di dada Angga.
"Harusnya aku tidak mengancamnya sekejam ini" batin Angga iba. Namun, nasi sudah menjadi bubur.
"Turuti saja perintahku malam ini, maka posisimu di kantor ini akan aman. Mengerti?" tegas Angga melunakkan intonasinya.
Lulu hanya bisa mengangguk pasrah seraya mengusap air matanya.
...****************...
Pukul 17.30 WIB.
Lastri : "Lu, kamu udah jalan ke sini belum? Tadi dokter spesialis yang baru aja selesai rekam medis terakhir pasca operasku.
Lulu : "Aduh Las... Maaf banget, sepertinya aku akan telat ke rumah sakit sore ini. Lembur mendadak lagi sama Pak Angga. Maaf ya, Las 😭"
Lastri: "Hah?! Lembur lagi?! Kasihan banget kamu, Lu.."
Lulu: "Iya Las, aku nggak bisa nolak Nanti aku ke sana malam pas urusan Pak Angga selesai, ya. Titip salam sama dokternya, makasih banyak udah jagain kamu"
Lastri: "Sip, nanti tak sampaikan ke dokternya. Eh tapi aku belum tahu nama dokternya siapa, ramah banget tadi. Nanti aku tanyain lagi pas dia visit. Tapi Lu... kamu hati-hati ya, Jangan sampai pingsan di depan bos galakmu itu!"
Lulu menyelesaikan obrolan di ponselnya dengan Lastri sahabatnya yang sedang dirawat di rumah sakit usai operasi. Di rumah sakit itu pula, seorang dokter cantik nan anggun bernama Anna baru saja selesai memeriksa kondisi Lastri.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Lulu dari Angga.
"Segera bergegas. Tunggu aku di sudut persimpangan jalan belakang kantor. Jangan sampai ada yang melihatmu naik ke mobilku!"
Lulu menghela napas berat, meratapi nasib sialnya hari ini. Ia merapikan barang-barangnya, berpamitan pada Vika dengan alasan hendak menjenguk Lastri, lalu melangkah keluar gedung kantor yang mulai sepi.
Menjelang magrib, jalanan di belakang gedung kantor tampak remang dan lengang. Angin dingin berembus mengibarkan ujung rok kain Lulu. Ia berdiri sendirian di bawah pendar lampu jalan yang berkedip-kedip, menanti mobil Angga.
Lulu merapatkan jalanya, mendadak tengkuknya merasa meremang.
Ia merasa... sedang diawasi.
Beberapa meter di balik bayangan pepohonan rindang dan pilar bangunan tua, sebuah sosok pria tinggi tegap berdiri gemetaran dalam kegelapan. Pria itu mengenakan mantel hitam tebal dengan topi fedora yang menutupi separuh wajahnya.
Dari balik kegelapan, mata pria misterius itu menancap tajam ke arah Lulu. Tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit menggenggam erat sebuah kamera berlensa telephoto.
Cklik. Cklik.
Suara bisikan rana kamera tersamar oleh bisingnya lalu lintas jalan raya. Pria itu menyipitkan mata, mengamati setiap jengkal tubuh Lulu memperhatikan ketakutan gadis itu, air mata yang masih tersisa di pipinya hingga helai rambutnya yang berantakan.
Seringai tipis dan dingin mengembang di bibir pria misterius tersebut.
"Akhirnya... aku menemukanmu, Lulu" bisik pria itu dengan suara berat yang mengerikan.
Tepat saat itu, sebuah mobil SUV hitam milik Angga berhenti mendadak di depan Lulu. Pintu mobil itu terbuka.
"Masuk! Cepat!" perintah Angga dari dalam.
Lulu yang merasa ketakutan setengah mati tanpa tahu penyebab pastinya, langsung meloncat masuk ke dalam mobil. Mobil itu melaju kencang meninggalkan area remang tersebut.
Dari sudut kegelapan, pria misterius itu melangkah keluar perlahan. Ia menurunkan kameranya, menatap mobil Angga yang menjauh dengan tatapan penuh dendam dan obsesi yang gelap.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..