Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Telepon Rahasia di Balik Pintu Kamar
Pagi itu, suara piring dan sendok terdengar ramai dari arah ruang makan. Ziko dan Clarissa sedang sarapan sambil membicarakan urusan pekerjaan. Sesekali terdengar tawa renyah Clarissa yang ditanggapi dengan senyuman oleh Ziko.
Bu Rani juga ikut duduk di sana, sibuk menawarkan berbagai macam lauk kepada Clarissa seolah wanita itu adalah tamu paling penting di dunia.
Sementara itu, Mahira hanya berdiri diam di dapur. Tangannya sibuk menyabuni wajan dan panci kotor sisa memasak tadi subuh. Walau badannya masih agak lemas karena sisa demam kemarin, Mahira tetap mengerjakan semuanya tanpa mengeluh. Dia sudah terbiasa. Selama tiga tahun menikah dengan Ziko, dapur ini seolah menjadi teman setianya setiap hari.
"Mahira!" Suara panggilan Bu Rani dari ruang makan membuat Mahira menghentikan gerakannya membilas piring.
"Iya, Bu," sahut Mahira sambil mengelap tangannya yang basah ke celemek. Ia berjalan cepat menuju ruang makan.
"Kalau sudah selesai cuci piring, kamu sapu halaman belakang. Terus kolam ikannya dibersihkan sekalian. Airnya sudah butek, nggak enak dilihat. Nanti sore Clarissa mau duduk-duduk minum teh di sana," perintah Bu Rani sambil mengunyah makanannya. Tidak ada tatapan kasihan sedikit pun dari mata mertuanya itu.
"Baik, Bu," jawab Mahira pelan. Ia menunduk sopan, lalu kembali ke dapur.
Tidak lama setelah sarapan selesai, Ziko dan Clarissa bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Hari ini mereka ada jadwal rapat penting dengan calon pemberi modal untuk perusahaan Ziko.
Bu Rani ikut mengantar sampai teras depan, melambaikan tangan dengan wajah berseri-seri saat mobil Ziko keluar dari halaman rumah.
Begitu mobil suaminya hilang dari pandangan, suasana rumah yang besar itu langsung terasa sepi. Bu Rani kembali masuk ke kamarnya untuk menonton televisi, membiarkan Mahira menyelesaikan semua pekerjaan rumah sendirian.
Mahira memastikan keadaan benar-benar aman. Setelah selesai merapikan dapur, ia tidak langsung pergi ke halaman belakang. Mahira melangkah pelan menuju kamar tidurnya yang letaknya agak di ujung belakang rumah. Ia masuk, lalu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Suasana kamar itu sederhana dan sepi. Mahira berjalan mendekati lemari bajunya. Ia membuka pintu lemari, lalu membongkar tumpukan baju daster dan pakaian rumahannya yang ada di rak paling bawah. Di bawah tumpukan baju itu, ada sebuah kotak kayu kecil yang selama ini selalu ia sembunyikan dengan rapi.
Mahira membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah handphone berwarna hitam yang sudah tiga tahun tidak pernah ia nyalakan.
Ini bukan handphone murah yang sehari-hari ia pakai untuk membalas pesan Ziko atau menerima omelan Ibu Rani. Ini adalah handphone lama miliknya, satu-satunya alat komunikasi yang menyambungkan Mahira dengan kehidupan lamanya sebelum ia menikah.
Dengan tangan sedikit gemetar, Mahira menekan tombol power. Layarnya menyala. Tidak ada aplikasi macam-macam di sana, hanya ada daftar kontak yang isinya tidak lebih dari lima orang penting.
Mahira mencari nama "Jessi" di daftar kontak itu, sahabat baiknya sejak zaman kuliah dulu, yang sekarang bekerja mengurus perusahaan keluarganya, Grand Wijaya Group. Mahira menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya, lalu menekan tombol panggil.
Nada sambung berbunyi dua kali sebelum akhirnya panggilan itu diangkat.
"Halo? Siapa ini?" Suara Jessi terdengar tegas dan sibuk di seberang sana.
"Jes... ini aku, Mahira," ucap Mahira pelan.
Hening sejenak. Lalu terdengar suara kursi yang digeser dengan kasar dari ujung telepon, disusul suara Jessi yang setengah berteriak karena saking kagetnya.
"Mahira? Ya ampun, Mahira! Ini beneran kamu? Kamu ke mana aja, sih, tiga tahun ini?" Suara Jessi terdengar panik sekaligus lega. "Orang-orang di kantor pada bingung nyariin kamu. Pengacara ayahmu juga pusing. Sejak kamu nikah diam-diam itu, kamu beneran putus kontak sama kita semua."
Mahira tersenyum tipis mendengar omelan sahabatnya itu. Hatinya terasa hangat. "Aku baik-baik aja, Jes. Maaf ya, aku baru bisa ngabarin kamu sekarang."
"Kamu tuh kebiasaan, ya! Bikin orang jantungan," omel Jessi lagi. Tapi nada suaranya mulai melembut. "Terus, kamu gimana sekarang? Suamimu itu baik kan sama kamu? Dia nggak macam-macam, kan?"
Mahira diam sebentar. Bayangan wajah judes Bu Rani, omongan pedas Clarissa, dan kasarnya sikap Ziko akhir-akhir ini terlintas di kepalanya. Tapi Mahira menahan diri untuk tidak menangis atau mengadu. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi kuat.
"Ada banyak hal yang terjadi, Jes. Tapi nanti saja aku ceritanya," kata Mahira pelan. "Sekarang, aku telepon kamu karena mau minta tolong."
"Minta tolong apa, Ra? Kamu butuh uang? Atau mau dijemput? Bilang aja, aku langsung ke sana sekarang," jawab Jessi cepat.
"Nggak usah, Jes. Aku cuma minta kamu tolong cek lagi aset-aset pribadiku. Rumah, tanah, sama tabungan yang dulu aku titipkan untuk dikelola sama perusahaan. Semuanya masih aman, kan?" tanya Mahira.
Terdengar suara ketikan keyboard komputer dari ujung sana. "Aman banget, Ra. Kan aku sendiri yang pegang laporannya. Tabungan dan hasil sewa properti kamu tiap bulan masuk terus, angkanya makin besar karena nggak pernah kamu pakai sama sekali. Kenapa tiba-tiba kamu nanyain ini? Kamu mau mulai ambil alih perusahaan lagi?"
"Belum sekarang, Jes," jawab Mahira. "Aku cuma mau memastikan semuanya aman. Oh ya, tolong dirahasiakan ya kalau aku telepon kamu hari ini. Jangan sampai ada orang luar tahu kalau aku mulai nanya-nanya soal harta keluarga."
"Siap, beres. Rahasia kamu aman sama aku," kata Jessi. "Eh, ngomong-ngomong, kebetulan banget kamu telepon. Aku baru aja mau cerita sesuatu yang lucu."
"Lucu gimana?" Mahira mengerutkan kening.
"Ini soal suamimu, si Ziko," kata Jessi dengan nada agak meremehkan. "Perusahaannya itu lagi ngajuin pinjaman modal besar ke Grand Wijaya Group. Katanya sih buat melebarkan sayap bisnisnya. Mereka ngotot banget minta dana segar ke kantor kita."
Mahira terdiam mendengarkan.
"Nah, yang lucunya lagi," lanjut Jessi, "ada cewek namanya Clarissa yang datang ke kantor. Dia ngakunya kenal dekat sama orang dalam Grand Wijaya Group, dan janji bakal bantu perusahaan suamimu itu biar gampang dapat suntikan dana. Padahal, aku aja nggak kenal dia siapa. Sok akrab banget cari muka ke jajaran direksi kita."
Mendengar nama Clarissa disebut, Mahira langsung tersenyum pahit. Pantas saja Ziko dan Bu Rani begitu memuja Clarissa akhir-akhir ini. Ternyata Clarissa membual kepada mereka bahwa dia punya kenalan orang dalam di Grand Wijaya Group, perusahaan yang diam-diam sebenarnya adalah milik keluarga Mahira.
"Mahira? Kamu masih di sana?" tegur Jessi karena Mahira lama terdiam.
"Masih, Jes," jawab Mahira. Suaranya terdengar jauh lebih tenang sekarang. "Jes, soal proposal pinjaman modal dari perusahaan Mas Ziko itu... tolong ditahan dulu ya."
"Ditahan gimana maksudnya? Ditolak aja sekalian?" tanya Jessi.
"Jangan ditolak, tapi jangan disetujui juga. Gantung saja dulu. Biarkan mereka merasa kalau mereka sebentar lagi bakal dapat uang itu. Biarkan Clarissa merasa usahanya berhasil," pesan Mahira.
Jessi tertawa kecil. "Aku nggak tahu apa yang lagi kamu rencanakan, Ra. Tapi nada bicaramu bikin aku merinding. Oke, aku bakal tahan berkasnya sesuai permintaanmu. Nanti aku kabarin lagi kalau ada perkembangan."
"Makasih banyak ya, Jes. Kamu memang sahabat terbaikku," kata Mahira tulus.
"Jaga diri baik-baik di sana, Ra. Kalau suamimu atau keluarganya berani macem-macem, kamu tinggal telepon aku. Biar aku yang datengin mereka," ucap Jessi sebelum menutup telepon.
Setelah panggilan terputus, Mahira memandangi layar handphone-nya yang perlahan menggelap. Hatinya kini terasa sangat lapang dan tenang. Rasa capek dan sakit hati yang menumpuk di dadanya seolah hilang.
Ziko, Bu Rani, dan Clarissa mungkin merasa mereka ada di atas angin sekarang. Mereka bisa menghina dan menyuruh-nyuruh Mahira sesuka hati karena mengira Mahira hanya perempuan miskin yang tidak punya apa-apa. Mereka tidak sadar, bahwa hidup dan mati perusahaan yang mereka banggakan itu, kini berada tepat di telapak tangan Mahira.
Mahira menyimpan kembali handphone itu ke dalam kotaknya, menumpuknya lagi dengan baju-baju di lemari. Ia merapikan jilbabnya di depan cermin, lalu berjalan keluar kamar untuk mulai menyapu daun-daun kering di halaman belakang. Hari ini, Mahira menyapu dengan senyum kecil yang terukir di bibirnya.