Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Anak yang Tidak Pernah Mati
Rania Pradipta tidak pernah menyukai bau rumah sakit.
Bau antiseptik membuatnya merasa semua kebohongan bisa dicuci bersih, padahal kebohongan terbaik seharusnya tidak meninggalkan noda.
Malam itu ia berdiri di koridor belakang rumah sakit rujukan, memakai masker dan jaket longgar. Rambutnya disembunyikan di balik kerudung. Di tangannya ada tas bayi mahal yang dibeli Bu Mira sore tadi.
Bu Mira berdiri di sampingnya, wajahnya pucat.
"Kamu yakin, Rania?"
Rania menoleh. Matanya masih merah karena kurang tidur, tapi tidak ada ragu di sana.
"Mama mau aku masuk penjara?"
"Bukan begitu."
"Kalau bayi itu tetap di sini, suatu hari semuanya bisa terbongkar. Kak Naya bisa keluar dan menuntut kita. Arkan bisa tahu cincin itu bukan milikku."
Bu Mira menelan ludah.
Nama Arkan selalu membuatnya diam.
Keluarga Wiratama bukan sekadar kaya. Mereka bisa menyelamatkan Pradipta Group yang sedang berdarah. Sejak Rania menunjukkan cincin itu, keluarga Wiratama membuka pintu yang selama ini tertutup. Nenek Ratih, pemegang pengaruh terbesar keluarga itu, memang belum sepenuhnya percaya. Tapi bayi laki-laki yang lahir malam ini bisa mengubah segalanya.
Bayi Arkan.
Atau setidaknya, bayi yang akan mereka katakan sebagai bayi Arkan.
Seorang perawat keluar dari pintu samping. Wajahnya tegang. Ia membawa bundel kain biru.
"Cepat," bisiknya. "Yang laki-laki kuat. Yang perempuan lemah sekali."
Rania menatap kain biru itu.
Bayi di dalamnya merah, kecil, marah, menangis keras seolah menolak dunia.
Rania mundur setengah langkah.
Untuk pertama kali sejak rencana ini dibuat, ia merasa takut.
Bayi itu hidup.
Bayi itu bukan barang bukti. Bukan tiket. Bukan cincin.
Ia manusia.
Bu Mira mengambil bayi itu lebih dulu, lalu memaksanya ke pelukan Rania.
"Pegang."
Rania memegangnya dengan kaku.
Bayi itu berhenti menangis beberapa detik, membuka mata sedikit, lalu menjerit lagi. Suaranya tajam, menusuk telinga.
"Dia..." Rania berbisik, "dia mirip..."
Mirip siapa?
Arkan?
Naya?
Rania tidak mau menyelesaikan kalimat itu.
Perawat mengulurkan map.
"Dokumen sementara. Nama ibu sudah diubah sesuai permintaan. Tapi catatan lengkap di sistem lapas tidak bisa saya hapus malam ini. Butuh orang dari dalam."
Bu Mira menerima map. "Urus. Berapa pun."
"Yang perempuan?"
Rania langsung menoleh.
Perawat menurunkan suara. "Masih hidup, tapi kecil. Dokter bilang perlu inkubator. Kalau mau disingkirkan..."
"Jangan pakai kata itu," Bu Mira memotong tajam.
Perawat diam.
Rania menatap pintu ruang bersalin.
Di dalam sana Naya terbaring tidak sadar. Kakak yang baru ia kenal beberapa bulan lalu, tetapi sudah ia kubur hidup-hidup. Rania tahu seharusnya ia merasa bersalah.
Ia mencoba.
Yang muncul hanya ketakutan.
Kalau Naya keluar, semuanya selesai.
Kalau anak perempuan itu tumbuh, wajahnya bisa menjadi bukti.
Bu Mira berkata pelan, "Kirim ke panti. Buat seolah ibunya tidak mampu mengurus. Jangan sampai ada nama Pradipta."
Perawat mengangguk.
Rania menatap ibunya. "Kalau dia mati?"
Bu Mira menutup mata. "Maka itu takdir."
Rania memeluk bayi laki-laki lebih erat.
"Dan kalau hidup?"
Bu Mira tidak langsung menjawab.
"Maka dia bukan urusan kita lagi."
Di ruang pemulihan, Naya terbangun saat langit sudah terang.
Perutnya sakit. Seluruh tubuhnya seperti terbelah. Tenggorokannya kering. Tangannya meraba sisi ranjang.
Kosong.
"Anak saya?"
Perawat yang berjaga menoleh.
"Ibu sudah sadar?"
"Anak saya mana?"
Perawat itu memalingkan wajah. "Dokter akan menjelaskan."
Naya mencoba bangun, tetapi nyeri membuatnya jatuh lagi ke bantal.
"Saya dengar mereka menangis. Saya dengar. Anak saya dua. Mana mereka?"
Perawat itu tidak menjawab.
Tidak lama kemudian, seorang dokter masuk bersama petugas lapas. Wajah dokter itu terlalu profesional, terlalu rapi.
"Bu Naya, kami sudah berusaha."
Naya langsung menggeleng.
"Tidak."
"Kedua bayi lahir dengan kondisi buruk."
"Saya dengar tangisnya."
"Tangis sesaat tidak berarti mereka stabil."
"Saya mau lihat."
Dokter diam.
Naya menatapnya. "Saya ibu mereka. Saya mau lihat."
Petugas lapas memegang bahunya. "Naya, tenang."
"Jangan suruh saya tenang!"
Air mata akhirnya tumpah. Naya mencengkeram selimut. "Mana anak saya? Mana bayi saya?"
Dokter mengeluarkan surat.
"Keduanya meninggal tidak lama setelah lahir."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Tidak ada petir. Tidak ada jeritan dari langit. Dunia tetap berjalan di luar jendela. Perawat masih melangkah. Troli masih berdecit. Orang-orang masih bernapas.
Hanya Naya yang berhenti.
"Bohong," katanya.
Dokter menatapnya dengan mata lelah. "Saya turut berduka."
"Saya mau lihat jasadnya."
"Sudah ditangani pihak keluarga."
Naya membeku.
"Keluarga siapa?"
Dokter tidak menjawab.
"Keluarga siapa?" suara Naya naik.
Petugas lapas menekan bahunya lebih kuat.
Dokter berkata pelan, "Keluarga Pradipta."
Naya tertawa.
Tawa itu pecah menjadi tangis.
Keluarga Pradipta.
Keluarga yang menjualnya, kini mengambil bahkan kematian anak-anaknya.
"Saya belum memberi nama," bisiknya. "Saya bahkan belum melihat wajah mereka."
Tidak ada yang berani menatapnya.
Hari itu, Naya kembali ke lapas tanpa bayi, tanpa foto, tanpa kain, tanpa makam yang bisa didatangi. Yang ia punya hanya bekas jahitan, dada yang sakit karena ASI datang untuk anak yang katanya sudah mati, dan dua suara tangis yang terus hidup di kepalanya.
Empat tahun berjalan seperti besi diseret di lantai.
Di luar, Rania Pradipta muncul dalam berita sosialita dengan bayi laki-laki keluarga Wiratama. Nama bayi itu Rayyan Wiratama. Media menulisnya sebagai pewaris kecil yang lahir dari kisah cinta tertutup antara Arkan Wiratama dan putri keluarga Pradipta.
Arkan tidak menikahi Rania.
Setidaknya belum.
Tapi ia tidak bisa menolak bayi itu. Cincin lama keluarga Wiratama ada di tangan Rania. Catatan kelahiran menunjukkan nama Rania. Dan Rayyan, sejak bayi, memiliki bentuk rahang yang terlalu mirip dirinya untuk diabaikan.
Nenek Ratih menerima bayi itu masuk rumah Wiratama.
Rania menerima status.
Bu Mira menerima keselamatan keluarga.
Hanya Naya yang menerima kubur kosong.
Sementara itu, di sebuah panti asuhan kecil di pinggir Bekasi, bayi perempuan yang dulu dianggap terlalu lemah justru bertahan.
Pengurus panti menamainya Lila karena ada gelang tali kecil dengan lonceng mungil di kainnya. Bayi itu jarang menangis keras. Napasnya sering sesak. Tubuhnya kecil. Tapi matanya besar, hitam, dan selalu mencari suara pintu.
Seolah menunggu seseorang yang tidak pernah datang.
Ketika Lila berusia hampir tiga tahun, sebuah keluarga datang mengadopsi. Mereka terlihat baik di depan pengurus. Sang istri menangis sambil berkata sudah lama ingin anak. Sang suami membawa bingkisan. Dokumen lengkap. Donasi juga ada.
Lila dibawa pergi.
Sebulan kemudian, istri itu hamil.
Dan Lila berubah dari anak yang diharapkan menjadi beban yang tidak lagi diperlukan.
Tidak ada yang memberi tahu Naya.
Tidak ada yang memberi tahu Arkan.
Tidak ada yang memberi tahu Rayyan bahwa saudara kembarnya hidup di rumah sempit, mencuci piring dengan tangan kecil, dan belajar diam karena setiap suara bisa mengundang tamparan.
Kebohongan itu tumbuh rapi selama empat tahun.
Sampai hari Naya keluar dari gerbang lapas.
Pagi itu ia berdiri dengan satu tas lusuh di tangan. Rambutnya lebih pendek. Wajahnya lebih tirus. Matanya tidak lagi mudah percaya.
Petugas menyerahkan surat bebas.
"Jaga diri baik-baik."
Naya menerima surat itu.
Ia tidak menjawab.
Di luar pagar, tidak ada keluarga Pradipta. Tidak ada pengacara. Tidak ada Rania yang dulu berjanji akan menjenguk.
Yang ada hanya udara Jakarta, panas dan berdebu.
Naya mengangkat wajah.
Empat tahun lalu ia masuk dengan dua kehidupan di perutnya.
Hari ini ia keluar dengan dua makam yang bahkan tidak pernah ia lihat.
Ia mengira hidupnya tidak mungkin lebih kosong.
Ia salah.
Karena di rumah sakit pinggir kota, Nenek Sari sedang menunggunya dengan tubuh yang hampir menyerah.
Naya baru tahu kabar itu dari tetangga lama, bukan dari keluarga Pradipta.
Nomor Nenek sudah tidak aktif. Rumah kebun jamu sudah dijual paksa untuk biaya berobat. Perempuan tua yang dulu menyembunyikan uang di kaleng biskuit kini terbaring di bangsal kelas tiga, menunggu cucu yang semua orang bilang tidak akan kembali.
Naya menggenggam surat bebas sampai kertasnya kusut.
"Alamat rumah sakitnya di mana?" tanyanya.
Tetangga itu menyebut nama jalan.
Naya berjalan tanpa menunggu ojek.
Ia belum punya uang, belum punya pakaian layak, belum punya tujuan.
Tapi ia masih punya satu orang yang pernah memilihnya tanpa syarat.
Kali ini, ia tidak akan terlambat.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕