Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Ketika Arka Merindukan Rengekan
Jarum jam di dinding ruang keluarga besar keluarga Pratama menunjukkan pukul lima sore. Cahaya matahari senja menembus jendela kaca patri utama, memantulkan bayangan kemerahan yang panjang di atas lantai marmer yang mengkilap. Suasana di dalam rumah megah itu terasa sangat lengang, seolah-olah setiap sudut ruangan ikut bernapas dalam keheningan yang dipaksakan.
Di sofa beludru berwarna *navy* yang terletak di tengah ruangan, Arka duduk membeku.
Ia mengenakan kemeja kerjanya yang kini tampak sedikit kusut karena ia sengaja meninggalkan kantor jauh lebih cepat dari jadwal biasanya. Tidak ada dokumen perusahaan di pangkuannya, tidak ada laptop yang menyala, dan tidak ada panggilan telepon penting dari para kolega bisnis yang biasanya memenuhi sore hari seorang CEO muda.
Hari ini, Arka membiarkan ponselnya berdering di atas meja tanpa berniat mengangkatnya. Pikirannya sepenuhnya tersandera oleh satu hal: sebuah kerinduan yang kian hari kian menjelma menjadi candu yang menyiksa.
Di kepalanya, kenangan masa lalu berputar-putar dengan kejam.
Dulu, setiap kali jam dinding menunjukkan pukul lima sore, Arka tahu persis apa yang akan terjadi. Pintu depan akan terbuka, dan suara langkah kaki ringan yang terburu-buru akan menyambutnya. Kirana—dengan apron dapur yang masih melekat di tubuhnya, tangan yang mungkin sedikit belepotan tepung, dan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya—akan langsung bergegas menghampirinya.
Kirana akan mengambil tas kerjanya dengan sigap, membawakan segelas air dingin atau teh hangat, lalu mulai merengek manja menceritakan hal-hal kecil hari itu. Rengekan-rengekan kecil yang dulu sering dianggap Arka sebagai sebuah gangguan atau suara bising di tengah kepenatannya bekerja.
*“Arka, tahu tidak? Tadi tanaman mawar di halaman belakang hampir dimakan ulat, tapi untung sempat aku selamatkan! Dan malam ini aku masak menu kesukaanmu lho... jangan lembur lagi ya, temani aku makan di sini...”*
Suara itu, rengekan manja itu, perhatian hangat tanpa pamrih itu—dulu Arka membiarkannya pergi begitu saja, menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah dan akan selalu ada di sana tanpa batas waktu.
Sekarang, setelah semuanya hancur berkeping-keping, Arka baru menyadari betapa mahalnya harga sebuah suara bising yang dulu ia benci. Keheningan yang ada di sekelilingnya saat ini bukanlah ketenangan; itu adalah kuburan bagi kehangatan rumah tangga mereka.
*Ceklek.*
Suara pintu kecil di ujung koridor sayap barat terbuka.
Jantung Arka berdegup kencang secara spontan. Pria itu langsung menegakkan postur tubuhnya, menolehkan kepalanya cepat ke arah sumber suara dengan sepasang mata yang memancarkan secercah harapan yang rapuh.
Sosok itu muncul dari balik koridor.
Kirana melangkah keluar mengenakan kaus polos berwana abu-abu gelap dan celana bahan hitam panjang, rambut pendeknya dicepol rapi ke belakang. Di kedua tangannya, ia sedang membawa sebuah kardus *packaging* kue berwarna cokelat muda berukuran sedang yang tertata rapi, berisi pesanan kue kering pertama yang baru saja selesai ia panggang dari dapur belakang.
Langkah kaki Kirana terdengar tenang, teratur, dan sama sekali tidak tergesa-gesa.
Begitu ia memasuki area ruang tamu dan melihat Arka duduk terpaku di sofa beludru, langkah Kirana sempat terhenti sepersekian detik. Wajahnya tetap datar, tanpa senyuman, tanpa sapaan, dan tanpa sorot mata yang menyiratkan bahwa ia peduli pada kehadiran suaminya di tempat itu.
Arka bangkit berdiri dari sofa secara perlahan, seolah takut gerakan yang terlalu cepat akan memecahkan gelembung rapuh di hadapannya. Tenggorokannya terasa tercekat, dan dadanya bergemuruh hebat menahan rindu yang mendesak keluar.
"Kirana..." panggil Arka pelan, nyaris berbisik. Suaranya terdengar parau, sarat akan permohonan yang tak terucap. "Kamu... kamu pulang cepat hari ini?"
Kirana sama sekali tidak mengubah ekspresinya. Ia menatap Arka lurus-lurus dengan sepasang mata setajam es yang tidak memantulkan bayangan apa pun tentang masa lalu mereka.
"Saya tidak pulang, Arka. Saya memang berada di rumah ini, meskipun di tempat yang jauh dari jangkauan Anda," jawab Kirana dingin, suaranya mengalir datar tanpa emosi.
Wanita itu kembali melangkah maju, berjalan tepat melewati sofa tempat Arka berdiri, menuju pintu depan tempat seorang kurir pengiriman *online* telah menunggu untuk mengambil pesanan kue pelanggannya.
Jarak di antara mereka begitu dekat—hanya terpisah beberapa jengkal saja. Arka bahkan bisa mencium samar-samar aroma mentega manis dan vanila yang menguar dari tubuh Kirana, aroma yang sama yang dulu selalu ia abaikan di masa lalu.
Seketika itu juga, dorongan yang begitu kuat merajai dada Arka. Ia ingin merentangkan tangannya, meraih tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, menghirup aroma rambutnya, dan memohon agar Kirana kembali seperti dulu—marah, menangis, merengek, atau melakukan apa saja asalkan tidak memperlakukannya bagaikan angin lalu yang tak terlihat.
Namun, saat Kirana melangkah melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke kanan atau ke kiri, seolah-olah Arka hanyalah sebuah tiang atau patung pajangan di sudut ruangan, tubuh pria itu membeku kaku di tempatnya.
*Buka... tutup.*
Pintu depan terbuka dan tertutup pelan saat Kirana menyerahkan kardus kue tersebut kepada kurir pengiriman, lalu kembali masuk ke dalam rumah tanpa sudi melirik ke arah Arka barang sedetik pun.
Arka berdiri seorang diri di tengah ruang tamu yang luas. Kakinya terasa lemas, dan pandangannya mendadak kabur oleh genangan air mata yang tumpah begitu saja membasahi pipinya.
Ia tidak lagi merindukan kemewahan korporatnya, tidak lagi peduli pada kontrak bisnis miliaran rupiah yang menumpuk di meja kerjanya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah mendengar suara rengekan manja itu sekali lagi—suara yang membuktikan bahwa Kirana pernah begitu mencintainya, sebelum ia sendiri yang menghancurkan dan membunuhnya tanpa sisa.