NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Matahari siang terasa sangat terik membakar kulit lengan Deni yang terbalut jaket oranye.

​Deni memarkirkan motornya di bawah pohon rindang sambil mengusap keringat di dahi.

​"Aduh panas sekali Jakarta siang ini, tenggorokanku sampai terasa kering," gumam Deni sambil meneguk air mineral kemasan.

​Ponselnya yang retak tiba-tiba bergetar keras di dalam genggaman.

​Ting!

​[Sistem Raja Kurir Mengingatkan: Waktu tugas harian tersisa dua jam lagi]

​[Peringatan: Risiko diare tiga hari berturut-turut semakin meningkat]

​"Iya tahu, ini juga aku sedang menunggu orderan masuk," seru Deni kesal pada layar ponselnya.

​Tidak lama setelah pesan sistem itu menghilang, bunyi notifikasi pesanan masuk berkumandang.

​"Ting tong! Pesanan baru masuk!"

​Deni langsung membuka aplikasi dan membaca rincian pesanan dengan teliti.

​"Satu kotak susu segar rasa cokelat dan satu bungkus roti tawar di Indomaret," baca Deni.

​"Alamat pengiriman Gedung Perkantoran Menara Gading lantai lima belas, atas nama Pak Bambang."

​Deni segera menyalakan mesin motor maticnya dan meluncur menuju Indomaret terdekat.

​Proses pembelian barang berlangsung sangat cepat karena tidak ada antrian panjang di kasir.

​Deni memasukkan belanjaan itu ke dalam tas thermal oranye di motornya dan bergegas menuju lokasi pengiriman.

​Gedung Menara Gading berdiri megah di kawasan pusat bisnis yang sangat padat.

​Deni memarkirkan motor di area parkir khusus kurir lalu berjalan menuju pintu masuk petugas.

​Seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun dengan kemeja ketat sudah menunggu di lobi lantai satu.

​Pria itu menatap jam tangannya berkali-kali dengan wajah yang sangat cemberut dan masam.

​"Kamu kurir yang namanya Deni ya?" tegur pria itu saat Deni berjalan mendekat.

​"Benar Pak, saya Deni. Ini pesanan susu dan roti tawarnya Pak Bambang," jawab Deni sambil menyodorkan kantong plastik.

​Pria bernama Bambang itu merebut kantong plastik itu dengan kasar tanpa mengucapkan terima kasih.

​Dia langsung membuka kantong tersebut dan mengecek tanggal kadaluarsa di kotak susu.

​"Lho, ini kok susunya dinginnya kurang menyengat!" bentak Bambang dengan suara melengking.

​Deni mengerutkan keningnya karena bingung dengan protes yang sangat aneh itu.

​"Maaf Pak, susunya tadi saya ambil langsung dari dalam kulkas minimarket," jelas Deni tenang.

​"Tapi kan perjalanan dari minimarket ke sini lima belas menit di bawah terik matahari!" seru Bambang semakin kencang.

​"Harusnya kamu pakai es batu tambahan di dalam tasmu biar susunya tetap dingin seperti di kutub!"

​Deni menahan nafasnya dalam-dalam agar tidak menyentil dahi pria paruh baya di depannya ini.

​"Pak Bambang yang terhormat, saya ini kurir pengantar barang, bukan kulkas berjalan," balas Deni sabar.

​beberapa karyawan kantor yang lewat di lobi mulai menoleh memperhatikan perdebatan kecil itu.

​"Ah tidak mau tahu, kamu melayani pelanggan dengan sangat buruk!" ancam Bambang sambil mengacungkan jarinya.

​"Aku akan kasih bintang satu di aplikasi dan melaporkanmu ke kantor pusat biar kamu dipecat!"

​Deni seketika teringat ancaman hukuman diare dari sistem jika tidak mendapatkan ulasan bintang lima.

​Wajah Deni yang tadinya santai berubah menjadi agak panik karena pertaruhan ini sangat penting.

​"Tunggu dulu Pak Bambang, jangan kasih bintang satu dong," bujuk Deni setengah memohon.

​"Kalau memang susunya kurang dingin, saya siap belikan yang baru atau saya ambilkan es batu sekarang juga."

​Bambang tersenyum licik melihat kurir di depannya ini mulai ketakutan.

​"Boleh saja, tapi kamu harus ambilkan es batu kristal satu kantong dan bayar pakai uangmu sendiri!" tuntut Bambang.

​Deni mengepalkan tangannya di dalam saku jaket karena merasa pria ini sangat tidak tahu diri.

​Namun demi menghindari buang-buang air selama tiga hari, Deni terpaksa menelan harga diriannya.

​"Baik Pak, tunggu di sini lima menit, saya akan belikan es batu di kantin belakang," ucap Deni pasrah.

​Deni berlari cepat menuju kantin belakang gedung dan membeli satu kantong es batu seharga lima ribu rupiah.

​Dia kembali ke lobi dengan nafas sedikit terengah-engah dan menyerahkan kantong es batu itu.

​"Ini es batunya Pak Bambang, sekarang susunya pasti sudah sangat dingin," kata Deni.

​Bambang mengambil es batu itu dengan senyum puas dan dada yang terangkat tinggi.

​"Nah begitu dong jadi kurir, harus mau berkorban demi kepuasan pelanggan," cetus Bambang sembrono.

​"Sekarang tolong beri saya ulasan bintang lima ya Pak di aplikasinya," pinta Deni memohon.

​Bambang mengetik sesuatu di layar ponsel pintarnya dengan gaya yang sangat sombong.

​"Sudah tuh, aku kasih bintang lima karena kamu mau menurut," jawab Bambang acuh tak acuh lalu balik badan.

​Ting!

​[Sistem Raja Kurir: Tuan mendapatkan 3 dari 1000 ulasan]

​[Tugas Harian: Sisa 1 pesanan lagi untuk menghindari hukuman diare]

​Deni mendesah lega sampai bahunya terkulai lemas.

​"Baguslah, orang tua menyebalkan itu ternyata masih mau memberikan bintang lima," batin Deni bersyukur.

​Deni segera keluar dari gedung itu dan berjalan menuju parkiran motor.

​Sementara itu di lokasi terpisah, suasana di ruang rapat lantai teratas Gedung Grup Nirvana sangat menegangkan.

​Clara duduk di kursi utamanya dengan gaun formal berwarna merah marun yang sangat anggun.

​Di samping kirinya ada Siska yang sibuk mencatat dokumen, sedangkan di depannya duduk seorang pria paruh baya berjas mahal.

​Pria itu adalah Direktur Hendra, pimpinan jajaran pemegang saham minoritas di perusahaan tersebut.

​"Nona Clara, saya dengar semalam ada insiden kecil di apartemen Anda," buka Direktur Hendra dengan nada berpura-pura cemas.

​"Saya sangat khawatir dengan keselamatan Anda sebagai pimpinan tertinggi perusahaan kita."

​Clara menatap Hendra dengan tatapan mata yang sangat dingin dan tidak bersahabat.

​"Terima kasih atas perhatiannya Direktur Hendra, tapi itu bukan insiden kecil, itu percobaan pembunuhan," tegas Clara.

​Hendra menyandarkan punggungnya di kursi kulit sambil tersenyum tipis.

​"Ah masa sampai sejauh itu Nona Clara? Mungkin hanya kebocoran pipa gas biasa dari pengelola gedung," kelit Hendra santai.

​Siska yang berdiri di samping Clara mengepalkan tangannya karena tahu betul betapa jahatnya pria di depannya ini.

​"Polisi sudah menemukan tabung gas hidrogen sianida di ruang mesin, Direktur Hendra," potong Siska memberanikan diri.

​Hendra menatap tajam ke arah Siska dengan pandangan meremehkan.

​"Saya sedang bicara dengan atasanmu Siska, tidak sopan seorang asisten ikut campur," tegur Hendra pedas.

​"Sudahlah Hendra, tidak usah berbelit-belit," potong Clara langsung ke inti permasalahan.

​"Aku tahu ada pihak dalam yang ingin menyingkirkanku sebelum rapat pemegang saham minggu depan."

​Hendra tertawa pelan, suara tawa yang terdengar sangat berakting dan penuh kepalsuan.

​"Nona Clara terlalu banyak menonton film detektif rupanya," ejek Hendra.

​"Tapi mengingat keselamatan Anda sedang terancam, bagaimana kalau posisi CEO diserahkan sementara kepada saya demi kebaikan perusahaan?"

​Clara tersenyum sinis mendengar ambisi terselubung yang akhirnya keluar dari mulut paman tirinya itu.

​"Jangan bermimpi Hendra, posisi CEO ini adalah amanah mendiang ayahku dan tidak akan pernah aku serahkan padamu," jawab Clara tajam.

​"Lagipula aku sudah menyewa pengawal pribadi yang sangat hebat untuk menjamin keamananku."

​Hendra mengerutkan alisnya karena terkejut mendengar kabar tersebut.

​"Pengawal pribadi? Dari lembaga pengawal mana? Kenapa tidak lewat persetujuan dewan komisaris?" cecar Hendra.

​"Itu urusan pribadiku dan tidak butuh persetujuan siapapun," tegas Clara sambil berdiri dari kursinya.

​"Rapat hari ini selesai, silakan keluar dari ruanganku Direktur Hendra."

​Hendra berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah yang sangat besar.

​Dia merapikan jasnya lalu melangkah keluar ruangan rapat diiringi dua pengawal berbadan tegap.

​Saat berada di dalam lift pribadi menuju lantai bawah, Hendra mengeluarkan ponsel rahasianya.

​Dia menekan satu nomor dan menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.

​"Halo, ada masalah sedikit," ucap Hendra dengan suara berbisik yang penuh kebencian.

​"Perempuan sialan itu selamat dari gas semalam dan sekarang dia menyewa pengawal baru."

​Suara berat dan serak menjawab dari seberang telepon.

​"Siapa pengawal barunya? Apakah mantan anggota militer atau sabuk hitam karate?" tanya suara itu.

​Hendra mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​"Aku tidak tahu pasti, tapi cari tahu sekarang juga dan habisi pengawal itu dulu sebelum menyentuh Clara!" perintah Hendra kejam.

​"Baik Bos, serahkan pada kami, malam ini pengawal itu akan menjadi mayat di jalanan."

​Panggilan telepon terputus dan Hendra tersenyum penuh kemenangan di dalam lift yang sunyi.

​Kembali ke jalanan Jakarta, Deni sedang mengendarai motornya menelusuri daerah perkampungan padat penduduk.

​Matahari sudah mulai tenggelam di ufuk barat menciptakan warna oranye kemerahan di langit.

​Ting!

​Bunyi notifikasi pesanan terakhir hari ini akhirnya bergema dengan sangat nyaring.

​"Pesanan baru masuk! Pengiriman Martabak Manis Cokelat Keju!"

​Deni melompat gembira di atas jok motornya hingga motornya sedikit bergoyang.

​"Yesss! Pesanan terakhir hari ini!" teriak Deni penuh gairah.

​"Selamat tinggal diare, selamat datang ulasan bintang lima keempatku!"

​Deni langsung tancap gas menuju kedai martabak terdekat dengan hati yang sangat riang gembira.

​Dia tidak tahu sama sekali bahwa di kegelapan malam Jakarta yang mulai datang, beberapa mobil hitam sudah mulai mengintip pergerakannya dari kejauhan.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!