NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.

Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.

Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Harapan Kecil di Tengah Ketakutan

Semilir angin siang berembus lembut, menggoyangkan dedaunan yang menaungi sekitaran taman yang terasa tenang. Hanya terdengar suara burung yang sesekali berkicau dan deru kendaraan dari jalan raya yang samar-samar sampai ke telinga.

Ainun duduk di bangku panjang yang berada di bawah pohon rindang. Sementara tatapannya lurus menatap tamat itu.

Di sampingnya, Pak Faizan duduk dengan jarak yang cukup sopan.

Tak satu pun dari mereka membuka percakapan. Keheningan itu justru terasa nyaman.

“Bu Ainun.”

Suara lembut Pak Faizan membuat Ainun menoleh.

“Iya, Pak?” sahutnya pelan.

Pak Faizan tampak sedikit gugup. Ia merogoh kantong plastik kecil yang sedari tadi berada di sampingnya, lalu mengeluarkan sebungkus cokelat.

“Ini...” ujarnya sambil menyodorkan cokelat itu. “Tadi saya beli minuman di minimarket. Kebetulan lagi ada promo, jadi sekalian saya ambil ini.”

Ainun berkedip pelan. Pandangannya beralih dari wajah Pak Faizan menuju cokelat yang disodorkan kepadanya.

“Untuk saya?” tanyanya pelan.

Pak Faizan mengangguk sambil tersenyum.

“Iya, Bu.”

Ainun menerimanya dengan hati-hati. Jemarinya mengusap pelan bungkus cokelat itu sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil.

“Pak tahu saya suka cokelat?” tanyanya penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, Pak Faizan tampak salah tingkah. Pria itu menggaruk tengkuknya sambil terkekeh pelan.

“B-benarkah?” ujarnya sedikit gugup. “Saya malah baru tahu Ibu memang suka cokelat.”

Ia tersenyum canggung.

“Kalau begitu nanti saya belikan lagi. Biar Ibu puas makannya.”

Ainun spontan terkekeh pelan.

“Jangan, Pak,” ucapnya sambil menatap Pak Faizan. “Saya malah nggak enak. Cokelat ini saja sudah mahal.”

Ia mengangkat cokelat itu sedikit.

“Nanti Pak Faizan malah rugi gara-gara sering beliin saya.”

Pak Faizan menggeleng cepat.

“Rugi bagaimana?” katanya sambil tersenyum hangat. “Saya justru senang kalau Ibu menerimanya.”

Kalimat itu membuat Ainun kembali terdiam.

Tatapannya turun pada cokelat yang berada di genggamannya.

‘Sudah lama... nggak ada orang yang memberiku sesuatu hanya untuk membuatku tersenyum.’

Namun, bayangan wajah Sagara kembali muncul di benaknya. Senyum di bibir Ainun perlahan memudar.

‘Astaghfirullah... aku nggak boleh larut seperti ini.’

Ia menarik napas pelan, lalu menggenggam cokelat itu lebih erat.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus. “Saya akan menyimpannya.”

Pak Faizan mengangguk pelan. “Sama-sama, Bu Ainun.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka.

Ainun memandang lurus ke depan, sementara jemarinya masih mengusap pelan bungkus cokelat itu.

Di balik senyum tipis yang menghiasi wajahnya, hatinya kembali dipenuhi kegelisahan.

‘Seandainya hidupku nggak serumit ini... mungkin aku bisa menerima perhatian sederhana seperti ini tanpa merasa bersalah.’

Ainun menundukkan pandangan, menatap cokelat yang masih berada di genggamannya.

Jemarinya mengusap pelan bungkus mengilap itu.

“Cokelat ini saja harganya sudah dua belas ribu,” gumamnya lirih. “Sayang sekali... padahal uang sebanyak itu bisa dipakai beli makanan yang lebih mengenyangkan.”

“Apa, Bu Ainun?”

Suara Pak Faizan membuat Ainun tersentak kecil.

Pria itu menoleh kepadanya dengan raut bingung.

“Maaf, saya kurang dengar.”

Ainun segera menggeleng cepat. “B-bukan apa-apa, Pak,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

Ia lalu mengangkat pergelangan tangan untuk melihat jam.

Matanya seketika membulat. ‘Jam sudah lewat pukul empat...’

“Ya Allah...” bisiknya pelan. “Kok nggak terasa sudah sore begini?”

Pak Faizan ikut melirik jam tangan yang dikenakannya.

“Ada apa, Bu Ainun?” tanyanya heran.

Ainun buru-buru memasukkan cokelat itu ke dalam tas selempangnya. Setelah itu, ia meraih tas tersebut dan berdiri.

“Maaf, Pak,” ucapnya pelan. “Saya harus pulang sekarang.”

Pak Faizan ikut bangkit dari bangku.

“Kalau begitu saya antar saja, Bu.”

Ainun langsung menggeleng.

“Eh... nggak usah, Pak.” Ia mengulas senyum sopan. “Saya sudah pesan ojek.”

Pak Faizan mengangguk pelan. “Baiklah.”

Ainun membungkukkan badan sedikit sebagai tanda pamit.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak.” Ia tersenyum tipis. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Pak Faizan sambil membalas senyumnya. “Hati-hati di jalan, Bu Ainun.”

“Iya, Pak. Terima kasih.”

Tanpa menunggu lebih lama, Ainun segera berbalik dan melangkah meninggalkan taman.

Semula langkahnya masih pelan.

Namun, semakin jauh dari pandangan Pak Faizan, langkahnya berubah semakin cepat.

Tas selempang yang menggantung di bahunya ikut bergoyang mengikuti langkah tergesa-gesa.

‘Ya Allah... semoga Mas Sagara belum pulang.’

Napas Ainun mulai memburu.

‘Aku harus sampai di rumah sebelum beliau.’

Rasa panik perlahan menguasai dirinya.

‘Kalau aku terlambat...’

Tubuhnya seketika menegang. Bayangan hukuman yang pernah diterimanya kembali berkelebat di benak.

‘Beliau pasti mengurungku di kamar selama dua hari... tanpa makan... tanpa minum.’

Jemarinya tanpa sadar mengepal erat.

‘Enggak... aku nggak boleh terlambat.’

Begitu tiba di tepi jalan, Ainun langsung melihat pengemudi ojek yang telah menunggunya.

Pria itu melambaikan tangan.

“Neng Ainun?”

“Iya, Pak.”

Tanpa membuang waktu, Ainun segera mengenakan helm lalu naik ke atas motor.

“Ayo, Pak,” ucapnya dengan napas masih memburu. “Tolong agak dipercepat. Saya benar-benar sedang terburu-buru.”

“Siap, Neng.”

Motor itu segera melaju meninggalkan taman.

Sepanjang perjalanan, Ainun terus menggenggam tasnya erat.

. . .

Lima belas menit kemudian, motor yang ditumpangi Ainun akhirnya berhenti di depan gerbang rumah.

Belum sempat pengemudi mematikan mesin, Ainun sudah lebih dulu turun. Ia melepas helm, lalu menyerahkannya kepada pengemudi ojek.

“Ini, Pak,” ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang. “Kembaliannya ambil saja.”

Pria itu menerima uang tersebut dengan wajah berbinar.

“Terima kasih banyak, Neng.”

Ainun hanya mengangguk tipis. “Iya, Pak.”

Setelah motor itu pergi, Ainun segera melangkah melewati gerbang.

Jantungnya masih berdegup cepat. Semakin dekat dengan pintu rumah, rasa cemas di dadanya justru semakin menjadi.

Baru saja tangannya hendak meraih gagang pintu.

Kling...

Suara notifikasi ponsel membuat langkahnya terhenti. Ainun menundukkan pandangan ke layar ponsel yang masih berada di tangannya.

Nama pengirim yang muncul membuat napasnya tertahan.

Mas Sagara.

Dengan jemari sedikit gemetar, ia membuka pesan itu.

{Saya akan lembur. Tidak pulang.}

Tatapan Ainun terpaku pada layar.

Beberapa detik kemudian, ia memejamkan mata sambil mengembuskan napas panjang.

“Kalau begitu...” gumamnya lirih. “Kenapa aku buru-buru begini?”

Sudut bibirnya tersenyum tipis, meski lebih menyerupai senyum lega.

“Bikin takut saja.”

Beban yang sejak tadi menekan dadanya perlahan terasa berkurang.

Setidaknya malam ini ia tidak perlu berhadapan dengan tatapan dingin Sagara.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Kling...

Notifikasi lain kembali berbunyi. Ainun kembali membuka layar ponselnya.

Kali ini, nama Ibu terpampang di bagian atas.

Ia membuka pesan tersebut.

{Jangan lupa nanti malam. Awas saja kalau kamu nggak datang.}

Ainun menggigit bibir bawahnya pelan.

‘Ibu masih menunggu kami...’

Jemarinya sempat menggantung di atas papan ketik.

Ia ingin membalas. Ingin menjelaskan bahwa Sagara tidak akan pulang.

Namun, pada akhirnya ia mengurungkan niat itu.

‘Lebih baik aku datang sendiri.’

Perlahan, Ainun mematikan layar ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Setelah menarik napas panjang, ia meraih gagang pintu dan membukanya.

Rumah itu kembali menyambutnya dengan keheningan yang terasa begitu asing.

Tanpa berkata apa-apa, Ainun melangkah masuk, lalu menutup pintu perlahan di belakangnya.

1
merry
jgn cepat ksh ainum ktmu dgn Sagara terlalu cepat biar orang saraf kyk Sagara nyesel,, 🙏🙏🙏
merry
iblis busuk km bini dan ank gk diksh mknn
merry
otak y gk tau di mn ya heran aku emang pendidikan tingginya bisa didik ank dgn baik blm tentu x pak justru blansak ia,, klo Sagara jodoh y ainum jgn ksh Sagara nikh sm liona ksh ajj penyesalan trs biar ainum Lhirinn ank solehah hebat genius buat bungkam mulut Bpk dan kakek ya yg jht itu
Nia nurhayati
dasar laki"gilaaa kamu sagara
Ais: nah bnr kak emang gila sagara ini
total 1 replies
Nia nurhayati
Sagara dan BP nya sama brengsekkk laki"kurang ajarrrr😡😡😡
merry
gila bini y gk. diksh mkn minum kata ya cinta marah bini y di dekati org,, emng dikurung tnp mkn minum blm lg memar muka tangan gk diobati,, moga kmu dan pelakor itu dpt karna ya 🙏🙏🙏🙏ainum jgn lemah donk jgn perempuan jgn minta maaf klo ngk salh hrs lawan ke jwb ke kan Sagara juga mau nikah kn sm lion lion itu sdgkn kmu ngk nkh ngk pcarann juga cm ddk bareng knp di perlakuan seperti penjahat,,, hrs disini Sagara salh besar loh dh mau nikah lg,,, kasar lg
merry
egois bgtt si,, istri di seret di tampar gk di akuin org mana tau klo ainum istri mu gara,,, emng org dukun tau ainum bini mu 🤭🤭🤭🤭
Ais
psikopat dan egosi sagara ini ternyata
Ais
wah plot twist banget thor ternyata selama ini sagara mencintai ainun tp knp kayak psikopat gn seh sikap dan kelakuannya apalag pas berhubungan suami istri yg disebut malah nama kakaknya istri mana yg ngak salah paham dan menganggap dirinya hny istri sementara ngak salah dong ainun bersikap dan berkata begitu
Ais: nah bnr kak emang psikopat si sagara ini mungkin dia panggil si musang betina pengen bikin ainun insecure sekaligus cemburu kak🤣
total 2 replies
Arra Bella
saat liona datang sagara tidak akan melepaskanmu ainun
Arra Bella
aku yakin liona bakal nyesel
Ais
semangat updatenya thor bagus alur kisahnya
Arra Bella
salam kenal kakak
Soviani
up lagi dong , ceritanya seru
Skyline Scribe
halo kak aku mampir,
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪
Inarrr Ulfah
gimna mau pergi hp Ainun aja di sadap
Inarrr Ulfah
setelah itu pergi yang jauh Ainun,, hidup bahagia bersama anak mu..
partini
pengantin pengganti nyesek Ampe ulu hati, happy nanti kalau suami udah sreg di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!