Antara mencintai atau obsesi itu beda tipis nggak sih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My. dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Jagat
Ketukan pintu terdengar sayup sayup, “Den ini Bik Asih,” teriak Asih.
Jagat berjalan gontai ke arah pintu, lalu membukanya. Muka jengah nya langsung terpampang nyata saat melihat Arina yang berdiri di belakang Bik Asih sambil menunduk, Jagat mengkode Asih dengan tangannya agar meninggalkan nya saat ini.
“Masuk…!!” Perintah Jagat ke Arina.
Dengan ragu ragu Arina melangkahkan kakinya ke pembatas pintu.
“Gue udah bilang, gue ngantuk,” jelasnya.
“Jagat, tolong kerja samanya, ini demi beasiswa gue tetap berjalan,” jelas Arina dengan wajah seriusnya.
“Lu butuh uang sakunya kan, gue kasih,”
Arina tersenyum jengah, “Bokap Lu yang nyuruh gue kesini, dan boleh melakukan apapun asal Lu belajar.”
“Gue ngantuk Arina.”
“Ya udah gue tunggu,” kekeh Arina yang saat ini duduk di sofa kamar Jagat.
Mata Arina terbelalak sempurna saat melihat ke arah laptop Jagat yang saat ini memperlihatkan adegan dewasa dari sebuah film.
“Aaaaaa…. Dasar bocah mesum,” teriak Arina sambil menutup matanya.
Jagat yang kaget langsung refleks menutup laptopnya, dia baru ingat kalau dia baru saja ingin menonton film yang di kirim oleh Devan sahabatnya.
“Apa’an sih lebay…” cibir Jagat dengan wajah santainya.
“Lu masih anak sekolah Jagat, ngapain nonton kayak gitu sih?” Protes Arina dengan wajah kesalnya.
“Kita udah Dewasa Arina, 17 tahun.”
“Tapi itu kan adegan 18+.”
“Pas 18+ nya itu praktiknya, kalau sekarang belajar aja dulu, biar nggak kaget kaget amat pas adegan.”
“Lu kok malah mbahas hal nggak senonoh sama gue sih,” protes Arina kali ini.
“Ini kan juga namanya belajar bareng, Lu udah pernah emang?” tanya Jagat yang udah tanpa filter.
“Stop, nggak jelas banget.”
“Tinggal jawab jujur apa susah nya, kalau udah kan gue bisa belajar langsung sama Lu Ar,” ucap Jagat dengan tatapan nakalnya.
Tangan Arina mulai mengepal dengan sempurna, tatapan penuh amarah mulai menantang Jagat, nafasnya mulai tersengal. “Gue bukan cewe seperti yang Lu pikirkan,” tegasnya.
Entah mengapa Jagat malah suka ekspresi Arina saat ini, dia mulai tersenyum smirk. “Ya udah kita belajar bareng aja gimana?” Sebuah pertanyaan yang membuat Arina semakin geram.
“Kita batalkan saja kontrak nya, Bye….!!!” Ucap Arina yang langsung keluar dari kamar Jagat, dengan dada yang penuh dengan gemuruh.
Herlina yang melihat kepergian Arina dengan sekilas tanpa sempat untuk menyapa, dia langsung menghela nafasnya dengan berat.
“Kayaknya gagal lagi,” gumamnya dengan wajah kecewa.
“Ada apa Ma?” tanya Wijaya yang datang menghampiri Herlina, yang berdiri di atas balkon lantai tiga sambil menatap Arina yang sedang sibuk memesan ojek online.
“Kayaknya gagal lagi deh pa,” jawabnya sambil menoleh ke arah Arina.
“Kali ini papa yakin akan berhasil ma, Arina nggak bakalan membatalkan kontak, dan kalau bersama Arina Jagat akan terpantau terus setiap harinya.”
“Tapi pa,”
“Mama tenang aja, lihat saja, besok itu bocah balik lagi,” jelas Wijaya dengan senyum misterius nya.
“Semoga saja pa.”
“Aku akan melakukan yang terbaik untuk anak kita Ma,” jelasnya lagi sambil menenangkan istrinya.
“Makasih ya Pa,” Herlina memeluk Wijaya dengan senyuman bahagianya.
Sedangkan di tempat lain, Jagat tersenyum penuh kemenangan, “Baru juga sehari, udah risent aja itu bocah,” gumamnya sambil terkekeh. “Dengan begini papa nggak bakalan paksa paksa gue lagi, untuk nerusin bisnis Eyang.” Kekehnya.
...----------------...
...“Hai, semoga suka ya, bantu Like, koment dan Vote.”...