NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Serigala Berbulu Domba

Predator tidak takut mangsa mendekat.

Tetapi predator yang baik tidak langsung menerkam hanya karena mangsanya membuka pintu.

Keesokan siangnya, Hendry datang ke Menteng dengan Fortuner hitam yang sudah dicuci bersih. Ia mengenakan kemeja linen abu-abu, jam tangan sederhana, dan wajah seorang tuan muda yang tampak sedikit lelah karena terlalu banyak urusan bisnis.

Itu wajah yang tepat.

Kevin tidak boleh melihat pembunuh.

Kevin harus melihat sepupu yang masih bisa dipancing, ditekan, dan diarahkan.

Restoran yang dipilih Kevin berada di sebuah bangunan kolonial lama yang sudah diubah menjadi tempat makan mahal. Lantai kayu dipoles mengilap. Pelayan memakai seragam hitam. Di sudut ruangan, sekelompok eksekutif berbicara pelan di dekat botol wine yang harganya cukup untuk membeli satu motor.

Jakarta lama masih bekerja dengan aturan lama: siapa duduk di meja mahal, dia merasa lebih tinggi.

Hendry masuk lima menit lebih lambat dari waktu janji.

Sengaja.

Kevin sudah menunggu di meja dekat jendela. Wajahnya bersih, rambutnya rapi, senyumnya hangat seperti saudara yang benar-benar khawatir. Ia berdiri begitu melihat Hendry.

"Hen!" Kevin membuka tangan, setengah ingin memeluk.

Hendry membiarkan pelukan singkat itu terjadi.

Aroma parfum mahal Kevin masuk ke hidungnya.

Di kehidupan sebelumnya, aroma yang sama pernah bercampur dengan bau darah ketika Kevin mendorongnya keluar dari pintu villa.

Sekarang, tangan Kevin menepuk bahunya ringan.

"Gila, lu susah banget dihubungi beberapa hari ini. Om sampai pusing."

"Lagi banyak kerjaan," jawab Hendry sambil duduk.

"Kerjaan atau belanja?" Kevin tertawa, seolah itu hanya gurauan keluarga. "Hen, serius. Satu Jakarta denger kabar tuan muda Wijaya sapu gudang beras. Lu mau bikin negara sendiri?"

Hendry tersenyum.

"Kalau bisa untung, kenapa tidak?"

Kevin menatapnya sebentar, lalu tertawa lebih keras. "Masih sama. Sok santai."

Di kursi sebelah Kevin, seorang pria yang sejak tadi diam ikut tersenyum.

Ferry Lim.

Wajahnya lebih muda daripada yang Hendry ingat dari kehidupan sebelumnya. Rambut disisir rapi ke belakang, kacamata tipis, jas biru gelap, senyum sopan seorang konsultan yang tahu cara terlihat tidak berbahaya.

Namun Hendry mengenalnya.

Ferry adalah orang yang dulu menyiapkan draft surat pelepasan akses rekening. Ferry yang membawa Notaris palsu. Ferry yang menekan tombol rekaman ketika Kevin memaksa Hendry mengaku "tidak mampu mengurus aset keluarga".

Di kehidupan lama, Ferry tidak pernah mengangkat tangan untuk memukul.

Ia hanya menyediakan kertas.

Kadang, kertas membunuh lebih pelan daripada pisau.

Kevin menepuk bahu Ferry. "Oh iya, kenalin. Ini Ferry Lim. Temen bisnis gue. Dia bantu beberapa urusan legal dan struktur investasi."

Ferry berdiri sedikit dan mengulurkan tangan. "Senang bertemu, Pak Hendry."

Hendry menjabat tangannya.

Telapak Ferry kering. Cengkeramannya tidak kuat, tetapi terukur.

"Ferry," kata Hendry, seolah nama itu baru pertama kali masuk telinganya.

"Saya sering dengar tentang Bapak dari Kevin."

"Yang baik-baik, semoga."

Kevin tertawa. "Ya masa gue jelek-jelekin sepupu sendiri?"

Tentu saja tidak di depan orang.

Hendry duduk dengan tenang. Pelayan datang membawa menu. Kevin memesan steak wagyu, sup jamur, dan beberapa hidangan pembuka tanpa banyak melihat harga. Ferry memilih ikan panggang. Hendry hanya memesan air mineral dan nasi dengan rendang.

Kevin mengangkat alis. "Restoran begini lu pesan rendang?"

"Lagi ingin makan yang jelas-jelas bisa bikin kenyang."

"Hen, lu makin aneh."

"Orang lapar memang aneh."

Kevin tertawa, tetapi matanya tidak ikut tertawa.

Percakapan dimulai dari hal ringan: kabar keluarga, rumor kantor, Om Hartono yang "terlalu banyak pikiran", rencana liburan Kevin ke Bali yang mungkin batal karena urusan perusahaan. Hendry menjawab secukupnya. Tidak terlalu dingin. Tidak terlalu ramah.

Ia memberi Kevin ruang untuk merasa sedang memimpin percakapan.

Setelah makanan pembuka datang, Kevin akhirnya menaruh sendok dan bersandar.

"Oke, Hen. Gue ngomong serius."

Hendry mengelap ujung jarinya dengan napkin. "Silakan."

"Om bilang lu keluarin hampir seratus miliar. Itu bukan uang kecil. Bahkan buat Wijaya Group."

"Masih dalam batas operasional."

"Batas operasional bukan berarti harus dipakai sampai mentok."

Ferry tersenyum sopan. "Pak Hendry, kalau boleh saya masuk sedikit, secara struktur perusahaan, transaksi sebesar itu bisa memicu pertanyaan dari direksi atau komisaris. Apalagi kalau underlying contract-nya belum lengkap."

Nada Ferry halus.

Bahasanya rapi.

Pisau pertama keluar.

Hendry menatapnya. "Anda bicara sebagai teman bisnis Kevin atau penasihat hukum keluarga?"

Ferry berhenti sepersekian detik.

Kevin cepat masuk. "Santai, Hen. Ferry cuma bantu lihat risiko. Kita semua keluarga."

Kita semua.

Ferry bukan keluarga.

Namun di mulut Kevin, kata "keluarga" selalu berarti "orang yang berada di pihak gue".

Hendry mengambil segelas air dan minum pelan.

"Risikonya saya tahu. Saya punya invoice, bukti transfer, dan draft kontrak distribusi. Kalau direksi tanya, saya bisa jelaskan."

"Tapi buat apa?" Kevin mencondongkan tubuh. Senyumnya tetap ada, tetapi suaranya lebih rendah. "Beras 80.000 ton? Daging ribuan ton? Genset? Obat? Solar? Hen, lu bukan buka supermarket. Lu kayak siap-siap perang."

Garpu Hendry berhenti di atas piring.

Satu kata itu jatuh di meja.

Perang.

Kevin tidak tahu betapa dekatnya ia dengan kebenaran.

Di luar jendela restoran, mobil-mobil mewah lewat di jalan Menteng. Orang berjalan sambil membawa kopi dingin. Seorang pengemudi ojek online berhenti di bawah pohon, memeriksa ponsel.

Tiga minggu lebih sedikit lagi, jalan ini akan menjadi jalur evakuasi gagal. Restoran ini akan pecah kacanya. Orang-orang yang hari ini makan steak akan berebut air dari toilet.

Hendry menurunkan garpu.

"Harga pangan akan naik."

Kevin mengedip. "Itu aja?"

"Itu cukup."

"Hen, lu pikir gue bodoh?"

Hendry menatap Kevin dengan lembut. "Tidak."

Justru karena kau tidak sepenuhnya bodoh, kau berbahaya.

Kevin menarik napas, lalu mengubah ekspresi menjadi khawatir. Perubahan itu sangat mulus. Kalau Hendry bukan orang yang pernah mati sekali karena senyum itu, mungkin ia akan percaya.

"Gue cuma takut lu dimanfaatin orang, Hen. Selama ini lu jarang turun langsung ke bisnis. Tiba-tiba lu belanja segede itu, semua orang kaget. Om juga bukan marah karena benci. Dia takut peninggalan almarhum orang tua lu rusak."

Nama orang tua lagi.

Mereka selalu suka memakai makam untuk mengunci orang hidup.

Hendry mengambil sepotong rendang, mengunyah pelan, lalu berkata, "Om sudah bilang itu."

"Karena itu benar."

Ferry menambahkan dengan suara rendah, "Ada opsi yang lebih aman, Pak Hendry. Untuk sementara, procurement authority bisa dipindahkan ke Pak Hartono atau tim gabungan. Bapak tetap bisa memberi arahan investasi, tapi eksekusinya melalui orang yang lebih berpengalaman. Secara dokumen, itu hanya surat kuasa terbatas."

Surat kuasa.

Di kehidupan sebelumnya, mereka juga memulai dengan kata itu.

Bukan perampasan.

Bukan pencurian.

Surat kuasa terbatas.

Lalu akses rekening berubah. Lalu aset dipindahkan. Lalu RUPS darurat dibuat. Lalu Akta Notaris muncul. Lalu Hendry berdiri di depan pintu rumahnya sendiri dan diberi tahu bahwa ia tidak lagi punya hak masuk.

Hendry menatap Ferry lama.

Ferry tetap tersenyum.

Kevin menyentuh bahu Hendry dari samping meja. "Hen, dengerin gue. Lu capek. Lu lagi impulsif. Kasih Om pegang dulu. Setelah semua jelas, ya balik lagi ke lu."

Kalau ini kehidupan lama, mungkin dada Hendry sudah panas. Mungkin ia akan berdiri, memukul meja, memaki Kevin sebagai pengkhianat.

Dan Kevin akan menang.

Karena orang yang marah terlihat bersalah.

Sekarang, Hendry hanya tersenyum.

"Menarik."

Kevin tampak lega, mengira pintu mulai terbuka. "Kan? Ini bukan buat ambil hak lu. Cuma supaya semua aman."

"Aman untuk siapa?"

Senyum Kevin berhenti di tengah jalan.

Hendry menatap gelas airnya. Permukaan air itu tenang. Di dalam bayangannya, matanya juga tenang.

"Maksud gue," lanjut Hendry, seolah baru memperbaiki kalimat sendiri, "aman untuk perusahaan, kan?"

Kevin tertawa kaku. "Ya jelas."

"Kalau begitu, saya pertimbangkan."

Ferry langsung berkata, "Kami bisa siapkan draft sederhana. Tidak perlu tanda tangan hari ini. Pak Hendry bisa pelajari dulu."

Cepat sekali.

Terlalu cepat untuk orang yang hanya "teman bisnis".

Hendry mengangguk. "Kirim saja."

Kevin menepuk meja ringan. "Nah, gitu dong. Gue cuma mau lu nggak jalan sendirian."

Hendry menatap sepupunya.

Sendirian?

Di dalam Ruang Dimensi, 80.000 ton beras tidur dalam gelap. Di kepalanya, dua belas tahun masa depan bergerak seperti peta. Di dadanya, nama Kevin sudah tertulis di daftar hari pertama kiamat.

Hendry tidak pernah merasa sesedikit itu sendirian.

Makan siang berakhir tanpa ledakan.

Kevin tetap memainkan peran saudara baik. Ferry tetap memainkan peran konsultan sopan. Mereka bahkan sempat tertawa ketika Kevin menceritakan cerita lama tentang Hendry yang dulu kabur dari acara keluarga karena bosan mendengar pidato komisaris.

Hendry ikut tersenyum di tempat yang tepat.

Ia membiarkan mereka merasa berhasil.

Di pintu restoran, Kevin merangkul bahunya lagi.

"Besok atau lusa kita ngobrol lagi, ya. Jangan bikin Om pusing terus."

"Nanti saya kabari."

Ferry menunduk sopan. "Saya akan kirim draft ke email Bapak."

"Saya tunggu."

Mereka berpisah di area parkir.

Kevin masuk ke Mercedes putihnya bersama Ferry. Sebelum pintu tertutup, Kevin sempat menoleh dan melambaikan tangan.

Hendry membalas dengan anggukan kecil.

Mobil itu pergi.

Baru setelah Mercedes hilang di tikungan, senyum Hendry lenyap sepenuhnya.

Ia masuk ke Fortuner, menutup pintu, dan dunia di luar langsung teredam.

Di dalam kabin yang sunyi, ia membuka catatan di ponsel.

Daftar Hari Pertama.

Di bawah nama Kevin Wijaya, ia menambahkan satu nama.

Ferry Lim.

Lalu ia menulis keterangan pendek:

Dokumen. Surat kuasa. Notaris. Jangan biarkan hidup melewati hari pertama.

Hendry menyimpan catatan itu.

Tangannya tidak gemetar.

Di luar, langit Jakarta masih biru, terlalu bersih untuk kota yang sudah dijatuhi vonis. Orang-orang masih percaya besok akan sama seperti hari ini.

Kevin juga percaya begitu.

Itu kesalahannya.

Hendry menyalakan mesin. Suaranya rendah, hampir hilang di balik dengung AC.

"Kevin, lu nggak tahu ya..."

Ia menatap jalan di depan, matanya dingin seperti ruang kosong di balik telapak tangannya.

"Dua puluh lima hari lagi, gue yang akan jadi orang terakhir yang lu lihat."

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!